CUT

CUT
Iman Kita Berbeda...


__ADS_3

Restu yang mereka prediksi akan mudah didapat nyatanya berbanding terbalik dengan kenyataan. Shinta meminta Dika mengikuti keyakinan Dita namun sang putri justru mengucapkan kalimat yang membuat Shinta seperti kembali ke masa lalunya.


“Ma, aku ingin mengikuti keyakinan Mas Dika.” Shinta tersenyum sinis.


“Kamu mau mengulang masa lalu Mama? Kamu tahu kan hasil akhirnya seperti apa?” Sinis Shinta pada putrinya.


“Karena itu aku ingin membuat akhir yang berbeda dengan Mama. Untuk itu, tolong restui kami!” Pinta Dita. Saat ini, ia menggenggam kuat tangan Dika.


“Sudah Mama duga jika Faisal pasti akan mempengaruhimu untuk pindah agama.”


“Ma, Papa Faisal tidak sepicik itu. Bahkan negara saja memberikan hak bagi setiap warga negaranya untuk menganut agam masing-masing. Aku hanya ingin mengikuti keyakinan orang yang kucintai. Apa itu salah?”


“Atau Mama ingin aku mengulang tindakan Mama dan Papa dulu? Apa aku harus membuat Dita yang lain dengan Mas Dika baru Mama merestui?”


“DITAAA!!!” Hardik Shinta pada putrinya.


“Setahuku, kita boleh membantah walaupun dia orang tua jika itu menyangkut keyakinan yang benar!” lanjut Dita membuat Shinta semakin murka.


Dika meremas tangan Dita seraya menggeleng pelan menatap gadis itu.


“Maafkan Dita, Tante.” Shinta menatap Dika.


“Saya mohon, Tante. Tolong restui kami.” Ucap Dika saat matanya bertatapan dengan mata Shinta.


“Apa yang kamu sukai dari putri Om, Nak?” tanya Toni lembut. Dia sudah tahu bagaimana perjalanan hidup istrinya dulu. Wajar saja jika Toni tidak mau itu terjadi lagi.


“Saya bukan manusia sempurna, Om. Dan Dita juga. Tapi saya akan berusaha menjadi suami terbaik untuk Dita. Kami saling belajar dan menerima.”


“Kalau kamu berani pindah keyakinan, Mama akan menghapus kamu dari harta warisan. Kembalikan semua fasilitas dari Mama! Kamu bisa hidup tanpa itu kan? Cinta! Makan itu cinta!” Shinta bangun dari duduknya.


“Pergilah dari sini! Kamu sudah memilih pria itu, bukan? Sebelum itu, tinggalkan semua pemberian Mama!”


Tiara tidak bisa mencegah ibunya mengusir sang kakak. Setelah kepergian Shinta, Toni mendekati Dika lalu memeluknya. “Jaga Dita ya! Kalau kamu menyakitinya, Om akan hancurkan kamu!” bisiknya membuat nyali Dika menciut. Ancaman ayah sambung Dika tidak main-main untuknya.


“Papa tidak marah?” tanya Dita setelah mengurai pelukan sang ayah.


“Kalau kamu bahagia kenapa Papa harus marah? Menikah dan berbahagialah! Kalau kamu punya anak nanti, Mama pasti akan luluh juga. Kartu yang Papa berikan, kamu pakai ya! Jangan sampai Mama tahu.” Toni menaruh telunjuk di bibirnya seraya tersenyum kecil.


“Terima kasih, Pa. Dan maaf karena sudah mengecewakan Papa.”


“Papa akan kecewa jika kamu memilih pria berandal yang tidak jelas. Tapi melihat pria pilihanmu saat ini, Papa yakin dia bisa membuatmu bahagia walaupun tidak bergelimang harta. Setidaknya dia pria yang bertanggung jawab dan setia. Kalau dia menyakitimu, jangan segan menghubungi Papa dan selalu bera kabar pada kami. Papa dan adikmu pasti akan merindukan kalian.” Toni kembali memeluk putri sambungnya sebelum menyusul sang istri di kamar.

__ADS_1


Tiara dan Doni datang menghampiri mereka. Mata Tiara sudah berkaca-kaca hendak menangis. “Kak, kamu tanggung jawab sudah bikin istriku menangis. Dokter bilang, dia tidak boleh bersedih supaya cakupan susu untuk anak kami tidak terganggu.” Ucap Doni merangkul Tiara.


Dita mencibir Doni lalu memeluk Tiara. “Selamat ya, Kak! Kita tetap komunikasi ya! Jangan lupa undang kami di pernikahan kalian.”


Dita dan Dika masuk ke kamar masing-masing untuk membereskan pakaian mereka. Sementara Tiara dan Doni menunggu mereka di ruang tengah bersama sang bayi.


Di kamarnya, Shinta sedang meluapkan kemarahan pada Faisal melalui sambungan telepon. Toni hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut istrinya.


“Sudah kuduga, kamu pasti akan mempengaruhinya untuk mengikuti agamamu. Licik sekali kamu, Fais! Kamu buat hubunganku dengan Dita renggang. Kamu merebutnya dariku. Kamu bukan manusia, Fais! Kamu binatang!”


“Shin, jaga ucapanmu! Aku diam bukan berarti aku terima semua hinaanmu padaku. Aku tidak pernah memintanya untuk mengikuti keyakinanku. Kalaupun dia sampai akhirnya memilih mengikuti keyakinan yang sama dengan calon suaminya bukankah itu bagus. Kamu jangan mengulang kesalahan yang sama, Shin. Dulu kamu juga ingin mengikuti keyakinanku, bukan? Tapi orang tuamu yang tidak mengizinkan hingga kita berbuat dosa. Jangan sampai Dita mengalami hal yang sama, Shin. Biarkan mereka bahagia. Aku tidak akan membuatnya menderita seperti kita dulu.”


“Aku tidak akan membiarkanmu menguasai anakku, Fais. Dia anakku!”


Tutttt


Di lantai bawah, Dika dan Dita yang sedang menyeret koper mereka tiba-tiba berhenti.


“Dita! Kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini!” Dita dan Dika menoleh pada sang ibu yang baru turun dari tangga.


“Apa maksud Mama?” tanya Tiara bingung. Shinta masih berjalan hingga jaraknya semakin dekat dengan sang anak.


“Ma!!!”


“Apa? Kamu mau membantah Mama? Apa karena sekarang kamu memiliki rumah orang tua yang lain makanya kamu berani menentang Mama? Ingat, pria itu memang memiliki darah yang sama denganmu tapi Mama yang berjuang untuk melahirkan kamu. Dan kamu, jika kamu pria baik-baik. Kamu pasti tahu bagaimana perilaku seorang anak pada ibunya, bukan? Apa kamu mau melihat Dita menentang saya hanya karena cinta kalian?” Shinta menatap tajam ke arah Dika.


“Mas, ayo. Kita sudah janji untuk hidup berdua tanpa bantuan siapa pun.” Dita memelas tapi Dika masih menatap Shinta hingga akhirnya dia menghela nafas lalu menatap Dita dengan senyum yang sangat lembut dan manis. Tapi bagi Dita itu adalah senyum paling pahit dan menyedihkan yang pernah ia lihat dari wajah Dika.


Dika memegang lembut tangan Dita, “Dita, Mama kamu benar. Untuk melahirkan kamu, Mamamu harus mempertaruhkan nyawanya. Tanyakan pada Tiara, bagaimana susahnya mengandung dan sakitnya melahirkan. Kelak, kalau kamu bisa merasakan semua itu maka kamu akan bersujud pada Mamamu karena perjuangannya yang sangat berat saat melahirkanmu. Jangan membantahnya hanya karena aku. Jadilah anak baik untuknya, aku akan selalu mendoakanmu. Aku pergi ya!” Dika melepas genggamannya lalu tersenyum menatap Shinta dan Toni. Sementara Tiara sudah menangis dalam pelukan Doni.


“Maafkan saya, Om, Tante. Saya pamit dulu.” Dika menenteng tasnya lalu keluar dari rumah Tiara dengan perasaan yang sama dengan Dita.


“Masuk!” tatapan tajam Shinta dibalas dengan tatapan penuh benci yang diberikan putrinya. Dita langsung membawa kopernya kembali ke kamar.


“Tunggu!”


“Apa lagi?” Raung Dita membuat mereka terkesiap.


“Ponselmu, uang dan kartu kredit!” Dita melempar semua itu ke lantai. Ia tidak peduli dengan ponselnya yang pecah. Saat ini, rasa benci terhadap ibunya sudah melewati ubun-ubun.


Dika tidak langsung terbang ke Surabaya. Ia memilih mengunjungi tempat usaha temannya dulu saat di Jakarta. Dia masih memiliki masa cuti. Sayang jika harus dilewati begitu saja.

__ADS_1


Dreet...


“Assalamualaikum, Om.” Sapa Dika saat menerima panggilan dari Faisal. Setelah berbicara dengan Shinta, Faisal tiba-tiba merasa khawatir dengan putrinya. Tapi saat ia ingin menghubungi Dita, ponsel gadis itu malah mati.


“Kamu lagi di mana? Bagaimana dengan Dita? Apa dia bersamamu sekarang?”


“Dita di rumahnya, Om. Tante Shinta melarang dia ikut bersamaku. Setelah itu kami tidak berkomunikasi lagi.”


“Maaf ya. Semua ini gara-gara saya. Andai saja dulu saya tidak menoreh luka di hati Mama Dita pasti sekarang kalian bisa bersama.” Sesal Faisal.


“Semua sudah terjadi, Om. Kita tidak bisa mengulang masa lalu, bukan? Aku berharap Tante Shinta mau berdamai dengan masa lalu kalian tapi sepertinya itu mustahil.”


“Ya, Om rasa juga begitu. Mungkin luka yang Om torehkan tidak bisa disembuhkan hingga membuat Mama Dita begitu membenci Om hingga berdampak pada hubungan kalian. Apa kamu akan pulang ke sini lagi?”


“Sepertinya tidak, Om. Cutiku masih sisa tiga hari lagi. Lusa aku akan langsung terbang ke Bali.”


“Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, Om minta maaf ya!”


“Sudah, Om. Tidak ada yang salah hanya takdir yang tidak berpihak pada kami.”


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Faisal. Dika kembali termenung sendiri sampai sebuah tepukan di bahu menyadarkannya.


“Cinta ditolak duku bertindak!” ucap teman Dika.


“Bukan karena ditolak tapi iman yang berbeda.” Ucap Dika meniru salah satu bait lagu.


“Kalo perkara itu, aku tidak punya solusi Mas Bro!” Jawab teman Dika enteng.


“Sama.”


Sementara di kamarnya, Dita yang sedang menangis belum juga keluar kamar padahal hari sudah mulai malam. Ia tidak mau melihat ibunya yang kejam itu. Seraya menatap langit-langit, Dita teringat sesuatu. Ia masih menyimpan mukena pemberian Dika saat dirinya ikut ke mess dosen kala itu.


Dita bangun dari duduknya lalu menuju kamar mandi. Dia terlihat berpikir sejenak kemudian mengambil air dan mulai mencuci tangannya lalu berkumur dan mencuci muka, lengan kulit kepala, telinga hingga kaki. Ya, Dita memang sedang mempraktikkan tata cara berwudhu yang biasa dilakukan oleh orang rumah Faisal. Bahkan saat ia mengikuti kakaknya ke kampung Dika. Saat mereka main di sungai, kelima pria itu dengan kompak mengambil wudu lalu salat berjamaah sementara Dita memilih untuk memperhatikan setiap gerakan mereka dengan teliti.


“Astaga!”


 


***


Kemarin up awal tapi lulusnya lama. Ini gak tahu apa bisa lolos cepat.... Happy reading...

__ADS_1


__ADS_2