CUT

CUT
Rasanya???


__ADS_3

Segerombolan orang terlihat heboh begitu keluar dari Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. “Bibik, kita sudah sampai di tanah Sultan Iskandar Muda. Jadi harap sopan dan patuh ya kalau tidak mau ditangkap WH.”


“WH apa, Den?”


“Wilayatul Hisbah. Hampir sama dengan polisi hanya saja mereka tidak memegang senjata api dan mereka hanya menangkap para pelanggar syariat seperti pacaran di tempat-tempat tertutup, main judi, mabuk, pakai pakaian ketat bagi perempuan.” Jelas Iskandar.


“Ohhh…kayak hansip ya, Den?”


“Ya begitulah kira-kira.”


Tiga buah mobil Om Adi siapkan untuk menyambut kedatangan tamu istimewa. “Selamat datang kembali ke rumah.” Ucapnya memeluk sang adik yang tak lain Papa Faisal. Sebuah acara syukuran telah di gelar oleh keluarga besar Pak Fahri dan Ibuk Murni untuk menyambut kedatangan anak dan menantu mereka yang telah lama hilang sekaligus untuk merayakan pernikahan cucu mereka yaitu Iskandar.


Keluarga besar sudah berkumpul di rumah Bapak Fahri. Mereka menyambut dengan penuh suka cita. Mereka tidak menyangka akan melihat kembali sang anak yang telah lama hilang. Satu persatu keluarga memeluk Faisal.


“Kamu akhirnya pulang juga, Nak.”


“Alhamdulillah kamu selamat dari musibah itu.”


“Kamu kelihatan tua sekarang.”


“Sebuah keajaiban kamu masih hidup dan kembali ke sini.”


Dan berbagai kata pujian serta syukur terucap dari sanak keluarga yang hadir. Mereka menitikkan air mata saat melihat Faisal yang masih gagah namun sudah terlihat bapak-bapak.


“Katanya kamu pulang membawa istri? Mana istrimu?” lalu Faisal memperkenalkan istrinya pada seluruh keluarga besar. Dan betapa terkejutnya Ayu saat tangannya tiba-tiba dipenuhi dengan amplop. Ia melihat ke arah Faisal yang sedang tersenyum geli ke arahnya.


“Ini adalah bentuk mereka menerima kamu, Ma. Kalau kamu tidak mau, kasih ke Papa saja.” seloroh Faisal pada istrinya.


“Enak saja, keluarga Papa memberikannya untuk Mama, kenapa Mama mesti menolak. Ini namanya rezeki istri salehah.”


“Ibu direktur, apa rumah sakit sedang kekurangan dana sampai ampong aja Ibuk nikmati sendiri?” goda Faisal kembali.


“Saya mau membeli brangkar baru supaya pasien saya merasa nyaman tidur di sana.”


“Apa Ibu Direktur akan mengubah rumah sakit menjadi hotel?”


“Bagus juga ide itu, Pa. Ayo kita bangun hotel di dekat rumah sakit!”


“Ibu Direktur yang terhormat, bangun hotel tidak sama seperti membangun rumah-rumahan dari pasir. Butuh duit!”


“Ini duitnya!” mereka menikmati waktunya berdua seperti pasangan yang baru menikah. Beberapa kerabat merasa senang melihat bagaimana Faisal tertawa lepas dengan istrinya.


“Itu bukannya Cut, mantan istri Faisal?”


“Iya, itu Cut mantan istri Faisal. Dia juga sudah menikah lagi dan anaknya juga sudah besar. Sekarang lagi tugas di luar negeri.” Ujar Buk Murni.


“Itu suaminya?”


“Iya. Itu suaminya. Dulu suaminya Cut tugas di Aceh tepatnya di kampung Cut.”


“Saya pikir Faisal akan kembali dengan Cut ternyata mereka malah menemukan pasangan masing-masing.”

__ADS_1


“Sudah jodohnya begitu, Da.” Jawab Buk Murni.


Beberapa kerabat Faisal menghampiri Cut yang tengah duduk dengan Rendra dan Bibik serta Bapak Wicaksono.


“Cut, apa kabar kamu?”


“Baik, Mak Wa. Oh iya, ini suami Cut. Ini Bibik dan ini Bapak mertua.”


Para kerabat Faisal bersalaman dengan Rendra, Bibik dan Bapak Wicaksono.”


“Eh, Da. Masa lupa. Ini kan besannya si Wak Murni. Beliau adalah ayah dari Kak Reni istrinya Bang Adi.”


“Oh…iya. Maafkan saya. faktor usia suka memperlambat daya ingat.” Mereka berbincang bersama sampai akhirnya Reni datang dengan lima oran anaknya.


“Pa, apa kabar? Maaf, aku baru keluar.”


“Baik. kamu bagaimana? Kayaknya makin subur saja badanmu.”


“Ya begitulah, Pa. Padahal udah diet tapi tetap saja gemuk begini.”


Mereka berbincang panjang lebar hingga langit mulai malam dan Cut sekeluarga mehon pamit untuk kembali ke rumah Mak Cek Siti. Mereka akan menginap di sana malam ini. Sedangkan di Bali, Dita tengah berbunga-bungan setelah aksi heroik Dika malam itu yang menariknya secara paksa untuk pulang saat ia tengah duduk bersama Chandra. Dan di depan pria itu juga, Dika dengan lantang mengatakan bahwa Dita adalah pacarnya.


Tok…tok…


Dika membuka pintunya dengan malas karena ini sudah malam. Entah kenapa dia merasa menyesal setelah pengakuannya waktu itu. Dita semakin hari semakin menjadi walaupun tingkahnya hanya di tempat kos. Sementara jika mereka sedang bekerja, mereka kembali ke mode perang dingin tak saling kenal.


“Eh, pacar. Cari makan yok!” ajak Dita dengan suara manja nan menggoda.


“Biarkan dia curiga! Kak Eko apa kabar? Apa dia tidak bertanya kenapa kamu selalu mengajakku keluar?”


“Bukan aku yang mengajak tapi kamu.”


“Dia sedang keluar dengan pacarnya.”


“Ih, enak banget jadi pacarnya Kak Eko. Tiap malam keluar, makan bareng, tidur bareng, eh?” Dita menutup mulutnya seraya menatap Dika yang tengah menatapnya dengan tajam.


Dika memasangkan hhelm di kepala Dita. Mata gadis itu tidak berhenti berkedip saat melihat kekasih pujaannya dalam jerak dekat begini.


“Mas Dika.” Panggilnya lalu


Cup…


Dita pikir berhasil menggapai bibir laki-laki itu tapi sayangnya Dika sudah memundurkan lebih dulu badannya kebelakang. “Jangan ngarap!” Ucap Dika seraya mendorong kening Dita dengan jari telunjuknya. Dika dan Dita sama-sama menikmati terpaan angin malam di tubuh mereka. Dita memeluk erat pinggang sang kekasih dengan perasaan bahagia.


Mereka berhenti di sebuah café pinggir pantai lalu menikmati makan malam bersama tanpa banyak bicara. Setelah makan, Dita mengajak Dika untuk duduk di batu pemecah ombak seraya menikmati indahnya cahaya bulan.


Dari tempat mereka berada ada sebuah spot yang sedang mengadakan acara lamaran. Mereka dengan jelas melihat bagaimana pria dan wanita itu bertukar cincin lalu saling berciuman mesra. Seketika jantung keduanya ikut berdetak kencang. Melihat adegan romantis begini di samping pasangan tentu bukan sesuatu yang bagus untuk hormon masing-masing.


Dika sedikit gelagapan saat Dita dengan berani mendekatinya lalu mengalungkan lengan di lehernya. “Dita, jangan macam-macam!” ucapnya tegas.


“Mas, aku penasaran dengan rasanya. Bolehkah aku mencoba sekali dengamu?”

__ADS_1


“Tidak ada yang istimewa dengan itu. Untuk apa kamu penasaran.”


“Kalau tidak ada yang istimewa kenapa banyak orang yang melakukannya bahkan saat suami istri baru menikah, pendeta juga menyuruh mereka berciuman. Pasti itu sesuatu yang menyenangkan dan manis, bukan?”


Dika menatap lekat gadis di depannya, “Mas, kalau kamu tidak membantuku. Aku mau minta sama yang lain saja. Tidak apa-apa kan kalau aku berciuman dengan yang lain. Kamu bilang itu tidak isti-“


Dita tidak bisa meneruskan kata-katanya karena Dika sudah menarik tengkuknya mendekat lalu ******* bibir mungil itu dengan lembut nan menuntut. “Sudah kan?” tanya Dika begitu melepas ciumannya.


“Terlalu terburu-buru, aku tidak menikmatinya. Aku anggap ini tidak berlaku. Biar aku yang mencari rasa itu.” Dita mengecup singkat bibir Dika lalu mengulang beberapa kali seraya berpikir seperti seseorang yang sedang mencicipi makanan. Dita terus mengulang sampai beberapa kali sampai Dika tidak sabar akhirnya memberikan ciuman seperti yang gadis itu mau. Lembut dan tidak tergesa-gesa. Ciuman yang penuh dengan penghayatan serta perasaan sampai Dita benar-benar menikmatinya dengan mata tertutup. Suara pecahan kembang api di langit-langit menghentikan aksi keduanya. Dika tersenyum menatap gadis aneh yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Sudah tahu rasanya?” Dita mengangguk lemah.


“Rasanya susah diungkapkan. Lalu kenapa Mas mengatakan tidak ada rasa?”


“Seperti katamu barusan jika sulit untuk diungkapkan. Makanya aku bilang rasanya tidak ada yang istimewa.”


“Tidak. Ini tidak sama dengan yang Mas Dika katakan. Ini berbeda, ini indah dan nikmat serta membuat orang yang merasakannya seperti terbang melayang dan bikin kecanduan ingin melakukan lagi.”


“Bilang saja mau lagi.”


“Mas, ma-“


“Tidak!”


“Kalau nanti aku mau lagi berarti aku bisa minta sama siapa saja ya!”


“Minta saja sama tukang sapu atau satpan hotel.”


“Ih, jangan sama mereka juga. Sama tamu hotel dong. Lebih bagus lagi  kalau bisa dapat tamu luar negeri yang tampan. Beuh…aku jadi penasaran dengan gaya ciuman mereka.” Dika yang sudah duduk di motornya langsung menarik tengkuk Dita dan menciumnya dengan beringas tanpa ampun. Dika menghajar bibir Dita dengan rakus tanpa jeda hingga membuat tangan Dita memukul punggungnya beberapa kali.


“Itu gaya ciuman orang luar. Sudah tahu kan?”


“Aku bodoh banget ya, Mas. Umur udah segini tapi ciuman saja tidak pernah.”


“Tidak perlu rendah diri begitu. Kamu tetap istimewa bagi aku.”


“Mas tidak takut dosa udah mencium anak gadis orang?”


“Yang minta siapa?”


“Tapi aku kan tidak memaksa.” Dika mendelik tajam ke arah gadis yang sedang ia pakaikan helm tersebut.


“Mas, malam ini nginap di hotel yok!”


“Yok, di hotel prodeo kan?” Dita tertawa lalu menaiki motor Dita dengan tangannya sudah melingkar indah dipinggang sang kekasih.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menatap penuh marah ke arah mereka.


“Awas kamu!”


***

__ADS_1


Happy Reading....jangan lupa LIKE!!!


__ADS_2