
Faisal melakukan tugas pertamanya sebagai seorang suami begitu juga dengan Cut. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk pertama kalinya walaupun harus mengeluarkan air mata karena terasa sakit yang amat sangat.
Penyerangan demi penyerangan Faisal lakukan untuk membobol pertahanan sang istri yang sangat kokoh hingga kesabaran Fais hilang yang akhirnya membuat Cut melepaskan air mata tertahan akibat paksaan sang suami.
Faisal tertidur pulas sementara Cut meringis dalam tangis. Kelembutan berubah jadi kebrutalan ketika keinginan sang suami tidak kunjung terpenuhi yang akhirnya membuat Cut harus menerima perlakuan paksa sang suami dalam membobol pertahanannya.
Bahkan, ia tidak menyangka jika Faisal akan menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia yang terlahir dan besar di kampung terpencil tidak pernah membayangkan jika malam pengantin yang akan dijalaninya akan seliar itu. Pikirannya terus mencerna dan bertanya apakah semua yang mereka lakukan itu boleh dalam agama? Apa memang seperti itu bentuk dan gerakannya?
Lagi-lagi, Cut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Potongan demi potongan kejadian terus berputar dalam dirinya. Sampai azan subuh terdengar sayup-sayup melalui jendela kamarnya. Pelan-pelan, Cut berusaha bangun dari tidurnya. Pakaian mereka berserakan di lantai, lagi-lagi Cut kembali teringat bagaimana buasnya sang suami ketika melepaskan pakaiannya tadi.
"Darah." gumamnya.
ia menoleh ke samping, sang suami tertidur nyenyak sambil memeluk bantal guling dan hanya ditutupi kain sepinggang. Cut merasa seolah seluruh badannya remuk tidak bertulang. Kakinya kaku, pahanya bergetar dan kewanitaannya terasa perih yang amat sangat.
“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.” ucap Cut setelah menyudahi salat subuhnya setelah sebelumnya berusaha untuk bisa melaksanakan mandi junub pertamanya.
“Bang, bangun sudah subuh!” Cut menggoyangkan kaki sang suami namun tidak ada jawaban. Matanya sudah tidak tertahan lagi hingga akhirnya ia tertidur di atas sajadah.
Suasana pagi masih terasa ramai di rumah Mak Cek Siti. Sementara sang pengantin justru larut dalam mimpi masing-masing.
“Kak, panggilkan Cut. Dia sudah jadi istri sekarang jangan dibiasakan bangun kesiangan.” ucap salah satu adik perempuan Umi dari kampung.
“Biarkan saja! Dari kemarin dia sudah capek. Biarkan saja dia bangun kesiangan. Lagian, suaminya juga masih tidur, untuk apa dia keluar kalau suaminya masih di dalam.” sanggah Mak Cek Siti.
Mak Cek Siti mulai tidak menyukai perangai beberapa kerabat dari keluarga Cut dari kampung. Ia yang berpikiran terbuka dengan kehidupan kota sangat bertentangan jauh dengan perangai kerabat dari keluarga Cut yang berasal dari kampung.
“Iya, biarkan saja. Kamu bereskan saja ini dulu.” sambung Umi seraya menunjuk ke arah bahan sayuran berbagai jenis untuk dimasak menjadi sayur Plik U. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tepat tengah hari namun sepasang pengantin baru tersebut benar-benar terlelap dalam mimpi masing-masing.
Drettt.....
__ADS_1
Suara getaran Hp yang terletak di dekat tempat tidur mulai mengganggu si empunya. Ditambah dengan cacing yang mulai menggerogoti perut hingga dengan terpaksa Faisal harus membuka mata.
“Hallo. Apa Kak, pagi-pagi sudah ganggu?” tanya Faisal tanpa sadar.
“Dasar tidak tahu malu. Ini sudah siang Fais. Kamu tidak malu dilihat sama keluarga Cut bangun kesiangan?” Faisal melihat jam tangannya yang masih terletak di atas meja. Dengan cepat, ia segera bangun dari tidurnya lalu melihat Cut yang ternyata sudah tidak ada lagi di kamar.
“Ada perlu apa Kakak telepon?” tanya Faisal sambil sesekali mengusap wajahnya.
“Tidak ada. Aku hanya mau membangunkanmu.”
Titttt....
Telepon langsung ditutup oleh Kak Juli. Faisal duduk lalu matanya menangkap pemandangan lain dan senyumnya terbit begitu saja. Ia berjalan santai lalu mengambil handuknya menuju kamar mandi. Kedua kakinya tiba-tiba berhenti ketika mendapati sang istri yang tengah tertidur pulas di lantai beralaskan sajadah.
Melihat istrinya yang tertidur dengan kilasan kejadian tadi malam kembali membuatnya bergairah hingga tanpa sadar ia membuka ikatan kain yang digunakan sang istri. Aksi jahilnya memang keterlaluan sama seperti senjatanya yang ikut-ikutan beraksi ketika tangannya pelan-pelan mengelus kaki hingga mencapai inti sang istri.
Cut yang tengah menikmati tidurnya merasa aneh nan nikmat. Tanpa sadar, ia mulai mendesah ketika sesapan lembut dan nikmat semakin dalam hingga ia tidak sadar jika tangannya justru menekan lebih kuat kepala sang suami ke dadanya. ******* yang keluar semakin menambah gairah Faisal untuk memainkan inti di bawah sana hingga akhirnya Cut membuka mata lalu ia hampir berteriak tatkala melihat kepala sang suami di depannya.
Mulutnya yang ingin berteriak tertahan oleh bibir sang suami yang meraupnya dengan cepat tanpa jeda.
"Buku bibirmu!” bisik Faisal.
Tanpa aba-aba, Faisal yang sangat lihat melucuti apa yang melekat pada sang istri kembali berhasil membobol pertahanan sang istri. Kali ini, ritme yang ia jalankan lebih santai karena fokusnya untuk melonggarkan pertahanan berbeda dengan yang terjadi semalam.
“Istirahatlah! Biar aku ambilkan makanan ke sini.” ucap Faisal setelah mencium sekilas bibir Cut setelah percintaan panas di siang hari.
“Jangan! Cut yang harus layani Abang bukan sebaliknya.” jawab Cut hendak bangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Istri harus menurut perkataan suami. Ini perintah, kalau kamu keluar berarti kamu berdosa.”
“Tapi-“
“Tidak ada tapi-tapi. Sekarang istirahat atau mau ikut mandi bersama?” goda Faisal langsung dibalas geleng-gelang kepala oleh Cut.
Setelah menyelesaikan ritual mandi junubnya, Faisal mendekati Cut yang sedang melipat seprei bekas percintaan mereka. “Sini, biar aku yang bawa keluar. Kalau kamu yang bawa pasti malu.”
“Langsung mandi dan dandan yang cantik, aku ambilkan makanan dulu.”
“Bagaimana kalau kita makan di luar saja.” usul Cut.
“Kamu yakin bisa jalan?” Cut kembali menggelengkan kepala.
“Tunggu di sini!” Faisal keluar dengan santai lalu menemui Mak Cek Siti yang tengah berada di ruang keluarga.
“Fais, kamu mau makan? Ada sayur Plik U di meja. Cut mana?” tanya Mak Cek Siti lagi.
“Kami makan di kamar ya? Hmm...ini taruh di mana, Cek?”
Seluruh keluarga menatap seprei yang dipegang Faisal dengan pikiran masing-masing. “Taruh saja di ember belakang.” beberapa anggota kerabat hanya bisa menggelengkan kepala dan yang lainnya menghela nafas melihat kelakuan si pengantin baru.
Umi menyiapkan talam untuk sang putri yang ia tahu pasti susah berjalan melihat bagaimana sang menantunya secara fisik sangat proporsional. Faisal membawa talam tersebut ke kamar sementara para kerabat yang berasal dari kampung merasa aneh dengan kelakuannya.
Pandangan tidak suka dari para kerabat tidak luput dari pandangan Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir. Di saat Mak Cek Siti sedang menulis daftar barang bawaan untuk antar dara baro Cut yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tiba-tiba, Pak Cek Amir datang membawa satu gelas sirop dingin untuk sang istri.
“Terima kasih banyak, Ayah.” ucap Mak Cek Siti lembut yang dibalas senyuman manis dari Pak Cek Amir.
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...SHARE...
makasih....