
Keesokan paginya, Anugrah yang masih betah menyendiri di kamar dikejutkan dengan kedatangan Doni. “Masuk, Dok.” Seru Anugrah.
Doni adalah satu-satunya teman yang bisa masuk ke kamar Anugrah itu karena hanya Doni teman dekat Anugrah. Selebihnya hanya teman biasa tapi untuk Tiara, gadis itu juga tidak pernah memasuki kamar Anugrah walaupun mereka pacaran. Cut selalu mengingatkannya untuk tidak melewati batasan.
Anugrah masih setia memeluk guling, “Aku udah dengar dari Tiara soal semalam. Jujur saja aku gak bisa ngomong apa-apa, A. Tidak ada solusi untuk perbedaan keyakinan kecuali salah satu dari kalian mau mengalah. Itu juga tidak mungkin, kan?”
“Don, sia-sia saja selama ini kami menaruh harapan dan impian tinggi untuk menikah. Aku tidak menyangka jika Tiara tidak mau mengikutiku. Dia mengatakan sayang padaku nyatanya dia tidak mau mengikuti keyakinanku.”
“Kenapa kamu jadi egois begini, A? Keyakinan itu tidak bisa berpindah sembarangan. Ini menyangkut hubungan kita dengan tuhan serta kepercayaan kita pada-Nya. Kenapa tidak kamu rubah menjadi sebaliknya? Kenapa bukan kamu saja yang mengikuti Tiara?”
Pertanyaan Doni seperti sebilah pisau yang menusuk jantungnya berkali-kali. Memang benar, ia terlalu egois dengan mengharapkan Tiara untuk mengikuti keyakinannya.
“Status kita sama, Don. Jomblo!!!” Anugrah berusaha menghibur dirinya tapi tetap saja ia merasakan sakit yang amat sangat.
“Mungkin ini bisa menjadi pelajaran buatku dan buatmu juga. Sebelum menjalani lebih serius lebih baik tanya dulu agamanya. Kalau berbeda berarti harus mengajukan pertanyaan tambahan, apakah bersedia pindah atau tidak. Kalau bersedia berarti lanjut kalau tidak ya say goodbye.” Ucap Doni.
“Ya sudah kalau begitu, aku mau ke rumah Tiara dulu. Kamu ada nitip apa buat dia?” tanya Doni.
“Kamu jangan membuatku tambah sedih, Don. Mana bisa aku nitip-nitip kayak dulu. Kami sudah putus!!!”
“Ya sudah, aku tinggal dulu. Tetap waras ya!” gurau Doni lalu keluar dari kamar Anugrah.
Saat Doni hendak memasuki mobilnya, Cut bergegas menghampiri teman putra itu.
“Ya, Tante. Kenapa?” tanya Doni panik saat melihat ibu dari temannya ini berlari menghampirinya.
Cut menarik nafasnya dalam-dalam lalu, “Nak Doni kenal keluarga Tiara?” tanyanya.
“Iya, Tan. Tapi tidak begitu dekat. Karena orang tuanya jarang di rumah. Kenapa, Tan?”
“Apa Tiara punya saudara laki-laki atau perempuan?” Doni tampak berpikir, “Ada Tan, Tiara punya kakak perempuan namanya Anindita. Tapi jarang di rumah, kalau tidak salah, kakaknya lagi kuliah sambil kerja di Jogja.”
“Kamu punya fotonya?”
“Tidak ada, Tan. Mungkin di akun media sosial Tiara ada. Sebentar, Doni buka dulu. Kalau boleh tahu, kenapa Tante penasaran sama kakak Tiara? Bukannya semalam Tante udah ketemu?”
Cut menatap Doni, “Tante tidak melihat anak perempuan lain di sana. Hanya Tiara sama orang tuanya saja. Tidak ada yang lain.
“Oh ini ada tapi kurang jelas, Tan.” Doni menunjukkan foto dari akun media sosial Tiara saat mereka merayakan natal.
Cut memperhatikan foto itu dengan saksama, “Kurang jelas ya?” Keluh Cut kecewa. Dia sangat penasaran dengan anak dari Shinta dan Fais. “Umurnya berapa ya, Don? Kamu tahu tidak?”
“Itu Doni gak tahu, Tan. Tante gak lagi pengen menjodohi Kak Dita sama Kak Is kan?” gurau Doni.
Cut tertawa kecil lalu menggeleng pelan, “Tiara aja gagal sama Anugrah apalagi kakaknya.”
__ADS_1
Setelah merasa cukup, Cut mengakhiri perbincangannya. Ia juga tidak mau membuat dua putranya menaruh rasa curiga melihat gelagatnya bersama Doni.
Bukan hanya Anugrah yang bersedih dan mengurung diri di kamar, Tiara juga melakukan hal serupa. Dari semalam dia terus menangis sampai terlelap dengan sendirinya. Sampai pagi menjelang, ia yang terbiasa bangun pagi untuk bekerja kembali menangis saat terbangun. Bahkan ia hanya beranjak ke kamar mandi untuk buang hajat lalu kembali merebahkan diri sambil menangis.
Ia menatap ponsel berharap Anugrah akan menghubunginya tapi sampai detik ini Anugrah tidak mengirim pesan padanya. Selama ini dia terbiasa dengan perhatian dari Anugrah kini semua itu hilang dalam sekejap mata.
Tok…tok…
“Non, ini ada Den Doni.”
“Suruh masuk aja, Bik!” teriak Tiara masih memeluk gulingnya dengan mata sembab.
“Kalian berdua sama saja. Di sana A juga sedang memeluk guling. Di sini juga kamu memeluk guling. Aku heran sama kalian, kenapa tidak mengalah aja lalu menikah.” Ucap Doni seraya meletakkan nampan berisi bubur ayam untuk mereka berdua. Doni sengaja menghampiri Bibik di dapur sebelum masuk ke kamar Tiara. Setelah mendengar dari Bibik jika Tiara belum makan sedikitpun dari semalam membuat Doni berinisiatif meminta Bibik membelikan bubur ayam untuk mereka.
“Makanlah, ini masih hangat! Aku juga lapar gara-gara kalian membuatku seperti seorang dokter pribadi yang harus memeriksa pasiennya satu persatu. Ayo makan, kamu harus kerja setelah libur cuti. Ingat, ini tidak gratis!” ucap Doni menunjuk ke arah buburnya.
Dengan malas Tiara bangun lalu mengambil mankuk bubur itu, “Punya teman tapi perhitungannya minta ampun.” Cibir Tiara lalu menyuapkan bubur itu dalam mulutnya.
Rasa lapar memang tidak bisa berbohong bahkan saat hati sedang sakit dan kecewa. Rasa lapar memiliki jalurnya sendiri hingga hujan badai angin ribut, lapar itupun tetap ada tidak peduli seberapa buruk kondisi si pemilik perut.
“Apa rencanamu hari ini?” tanya Doni setelah menyelesaikan makannya. Ia senang melihat bubur di mangkuk Tiara hanya tersisa sedikit.
“Aku mau tidur saja seharian.”
“Eit…jangan begitu. Kita cuti setahun sekali. Ayo gunakan keluar! Rugi saja kalau cuti dihabiskan untuk tidur-tidur gak jelas. Apalagi menangisi sesuatu yang kalian bisa ubah menjadi tawa tapi kalian tidak mau.” Doni menarik tangan Tiara yang hendak merebahkan dirinya lagi.
Bibik tersenyum menerima nampan dengan isi mangkuknya hanya tersisa sedikit. “Tiara lagi mandi, Bik. Doni tunggu di sini saja ya?” pinta Doni lalu menarik kursi di ruang makan tersebut.
“Den, kalau boleh Bibik tahu. Den Doni ini agamanya apa?”
Uhukkk…
Doni tersedak minumannya sendiri. Ia menatap si Bibik yang nyaman dengan pertanyaan tersebut. “Bibik mau tahu apa mau tahu banget?” goda Doni untuk menetralisir perasaan tidak nyaman sang bibik.
“Maaf, Den karena udah gak sopan tanya-tanya agama Den Doni.”
Doni justru tertawa kecil, “Saya sama kayak Tiara, Bik. Memangnya dia tidak cerita? Kami kan sering menghabiskan natal berdua di tempat kerja.”
“Ya mana tahu kayak Den Anugrah kan gitu juga. Merayakan natal berdua, tahu-tahunya malah lain.” Doni memaklumi perasaan si Bibik karena memang nyatanya mereka begitu. Tidak ada perbedaan yang Anugrah tunjukkan saat ia dan Tiara melaksanakan hari raya mereka. Begitu juga dengan mereka yang merayakan hari raya Anugrah. Semua yang mereka lakukan selama ini atas nama toleransi akhirnya tidak berhasil menyatukan Tiara dan Anugrah. Rasa toleransi tidak mampu membuat keduanya menuju jenjang pernikahan.
Doni benar-benar menjadi pernghibur yang baik untuk Tiara. Mereka menghabiskan waktu cuti dengan menonton dan berkeliling pusat perbelajaan hanya untuk melihat-lihat. Beberapa kali mereka juga singah di café-café yang baru buka dan viral lewat sosial media. Tiara yang menggunakan kaca mata fotocromic sedikit bisa melupakan kesedihannya.
Hal yang sama juga berlaku pada Anugrah. Iskandar yang mengetahui jika sang adik masih berbaring di kamar padalah matahari sudah mulai menjulang tinggi akhirnya memutuskan untuk membangunkan sang adik dengan sedikit paksaan.
“Kak, sebenarnya mau kemana sih?” tanya Anugrah yang sudah duduk di depan motor.
__ADS_1
“Aku ingin mencari sahabatku saat di pesantren dulu. Ini alamatnya, ayo! nanti keburu malam.”
“Kenapa tidak naik mobil saja, sih?”
“Jangan, kita naik motor aja.”
Ke duanya bergegas meninggalkan rumah setelah berpamitan. Mereka menggunakan kaca mata hitam lalu helm untuk melindungi kepala dan tentunya menghindari razia polisi. Ada rasa lega yang terpancar di wajah Anugrah saat memboncengi sang kakak. Ia sedikit dapat mengalihkan pikirannya dari Tiara dengan menikmati perjalanan pertama bersama sang kakak. Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang tertera seperti di alamat.
“Assalamualaikum,” sapa Iskandar begitu turun dari motornya.
“Walaikumsalam,” ucap seorang ibu-ibu berpakaian daster menyembul di balik pintu.
“Cari siapa ya?” tanya si ibu kembali.
“Apa benar ini rumah Dika?” tanya Iskandar kembali.
“Oh berandal itu? Dia tidak tinggal lagi di sini. Sudah lama dia pindah ke Jakarta. Mau mengadu nasib katanya. Kalian siapa?”
“Saya teman satu pesantrennya dulu, Buk. Maaf, Ibu ini siapanya Dika?”
“Saya tantenya. Rumah ini saya yang urus setelah ayahnya masuk penjara.”
Anugrah dan Iskandar kaget, ayah Dika memang terkenal pemarah dan suka memukulnya dulu. Tapi mereka tidak menyangka jika ayah Dika akan masuk penjara.
“Maaf, Buk kalau boleh tahu kasus apa ya?” kali ini Anugrah yang penasaran.
“Rampok rumah orang. Dika tidak tahan karena warga sini ikut mengejeknya apalagi kerjanya di sini tidak jelas. Kadang ia suka main sama preman pasar makanya para warga ikut mengatainya. Akhirnya ia pergi ke Jakarta buatt ngadu nasib. Entah gimana nasibnya di sana sekarang?”
“Ibu punya no hp atau alamatnya?”
“Ada, sebentar!”
Ibu tersebut memberikan nomer hp milik Dika, “Alamatnya tidak ada karena dia tinggal tidak tentu.” Iskandar memberikan dua lembar uang seratus ribuan untuk si ibu lalu ke duanya pamit pulang. si ibu yang tadinya ketus kini tersenyum lebar pada mereka setelah menerima lembaran uang tersebut.
“Besok-besok datang lagi ya!” teriaknya.
Setelah menempuh perjalaann hampir dua puluh menit, Anugrah menghentikan laju motornya di samping penjual es kelapa muda. Ke dua kakak beradik itupun turun. Mereka duduk di salah satu warung penjual kepala muda seraya menatap jalanan. Banyak sekali lalu lalang mobil dan motor, itulah yang Anugrah lihat sampai sebuah mobil melintas pelan dengan kaca yang mampu menembus ke dalam hingga terlihat jelas sosok yang sedang berada di dalamnya.
“Apa rencanamu selanjutnya?”
***
__ADS_1
Mana nih LIKE, KOMEN DAN VOTEnya???