
Panik! Pasti.
“Tutup semua kaca!” pinta pak sopir.
Semua mahasiswa termasuk pak sopir ikut panik saat seekor ular sedang merayap di kaca bagian depan bus.
"Tenang, Pak. Coba arahin muka bus menuju ranting-ranting pohon!” pinta Iskandar.
Pak supir cukup paham dengan arahan Iskandar hingga beliau melajukan bus sedikit ke pinggir untuk menggapai ranting pohon supaya ularnya ikut tersangkut di sana dan tidak membutuhkan waktu lama, ular tersebut langsung tersangkut di sebuah ranting yang cukup besar walaupun agak menggores badan bus. Para mahasiswa serentak melihat ke belakang untuk memastikan jika ular tadi memang tersangkut di sana.
“Resiko berjalan di bawah pohon ya seperti ini kan, Pak?” Sopir bus mengiyakan ucapan Iskandar.
“Pak, kok serem banget sih dari tadi. Apa gak bisa batalin saja KKN di desa itu? Minta desa lain aja kenapa, Pak?” celutukan salah satu mahasiswa yang memakai bantal leher.
“Sudah terlambat. Kampus sudah menaikkan laporan serta surat-suratnya juga sudah selesai.” Jawab Iskandar.
“Kalau begitu kita KKNnya asal-asalan aja, Pak. Seminggu sekali saja kita ke sana.” usul mahasiswa yang lain.
“Itu sama saja kalian memecat saya.”
Mereka terdiam, perjalanan pulang kembali berlanjut dalam keheningan. Masing-masing dari mereka larut dalam pikiran masing-masing. Sebagian dari mereka memilih tidur untuk menenangkan hati dan pikiran. Bagaimanapun, perjalanan ke Desa Wengi sudah membuat mereka spot jantung beberapa kali.
“Pak, kita salat zuhur dulu di mesjid terdekat, ya!”
“Baik, Pak.” jawab Pak Sopir.
“Kenapa tidak di sana saja tadi, Pak?” tanya Dodik.
“Tadi saya lihat ada anjing yang tidur di teras surau. Untuk menghindar dari segala syak prasangka serta was-was lebih baik memilih salat di tempat lain. Walaupun sedikit telat lebih baik dari pada tidak disah, kan?” jelas Iskandar.
Sebuah mesjid sederhana menjadi pilihan mereka untuk melaksanakan ibadah salat zuhur bersama dengan Iskandar bertindak sebagai imam. Beberapa mahasiswa yang sebelumnya tidak pernah salat ikut salat bersama setelah mendengar perkataan Iskandar.
“Ayo, kita salat dulu. Keselamatan kita hari ini adalah wujud nyata dari pertolongan Allah. Cukup hal ini saja yang membuat kita berpikir apakah kita masih berlaku sombong dengan mengabaikan ibadah pada sang penolong kita. Coba bayangkan jika hari ini Allah tidak menolong kita, apa yang akan terjadi pada kita saat berada di Desa Wengi tadi? Nauzubilla semoga tidak ada lagi yang akan menyakiti kita dengan cara-cara yang sulit kita bayangkan. Salat dan mohonlah perlindungan pada Allah SWT, hanya pada-Nya bukan pada yang lain!”
Para mahasiswa mengikuti salat dengan khusuk sampai doa-doa sesudah salat mereka tetap di dalam shaf.
Dreet…
“Hallo, Assalamualaiku,” ucap Iskandar pada pemilik nomor yang tidak Iskandar ketahui.
“Walikumsalam, dengan Iskandar anak Komandan Rendra?”
“Iya, Pak. Itu saya.”
“Di mana posisimu sekarang? Ayahmu sudah bercerita dan saya sekarang menunggumu di kantor Koramil kecamatan.”
“Baik, Pak. Sebentar lagi kamu sampai. Saat ini kami baru keluar dari Desa Wengi.”
“Baiklah, saya tunggu di sini ya!”
__ADS_1
“Baik, Pak. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Bus tiba di kantor Koramil lalu Iskandar turun lebih dulu menyapa seorang pria seusia ayahnya yang sudah menunggu menggunakan seragam tentara.
“Bapak, Hasyim?” tanya Iskandar.
“Iskandar?” Mereka berjabat tangan sesaat disusul oleh Pak Sopir dan para mahasiswa.
Bapak Hasyim mengajak mereka melihat tempat yang akan mereka tempati di samping kantor koramil tersebut. Ada dua kamar besar di mana biasa digunakan untuk menampung para anggota baru jika ada keadaan darurat. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju kampus. Matahari sudah kembali bersinar dengan cerahnya hingga para mahasiswa yang tadinya ketakutan kini mulai kembali ceria.
“Pak, kami mau buat grup. Kami masukkan Bapak, boleh?” tanya Dodik sebagai ketua kelompok.
“Oh iya, silakan!”
Iskandar memberikan namanya pada Dodik lalu masuklah pemberitahuan ke masing-masing ponsel mahasiswa. Mereka langsung membuka ponsel dan menyimpan nomer sang dosen dengan nama pemberian mereka masing-masing. Aisyah yang sejak tadi diam sambil mengamati dosennya itu membuka foto profil sang dosen yang berisi foto empat laki-laki sedang menghadap piramida. Tidak ada yang tahu rupa mereka tapi semua mahasiswa yang melihat foto profil tersebut yakin salah satu dari mereka adalah Iskandar.
“Bapak punya bestie juga ya?” celutuk Nuri dari belakang.
“Semua orang punya teman. Manusia adalah makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri.” jawab Iskandar.
"Maaf nih, Pak. Kalau kami kepo. Tapi melihat bapak tentara tadi menyapa Bapak. Pasti salah satu keluarga Bapak ada yang tentara ya?” tanya yang lainnya.
“Bapak Hasyim tadi satu angkatan dengan Papa saya.”
“O….”
“Malang.”
“Wah, sama dong, Pak. Saya juga di Malang. Bapak di daerah mana?”
Iskandar diam sejenak, “Maaf, itu privasi saya.”
Mahasiswa itu diam, ternyata untuk mendekati sang dosen tidak lah mudah walapun mereka satu daerah. Bus memasuki kampus lalu Dodik menyelesaikan pembayaran dengan sang sopir. Iskandar menyalipkan selembar merah ke dalam kantong pak sopir. Mereka saling berpamitan dan sepakat untuk melanjutkan diskusi melalui grup.
Iskandar langsung berjalan menuju mess dosen yang berada di belakang kampus. Cukup berjalan kaki sekita satu menit, ia sudah sampai ke mess.
“Assalamualaiku,” ucap Iskandar lalu memutar knop pintu dan-
“Walaikumsalammmm. Kejutan…” ucap sahabat till jannah yang sudah bergabung di dalam mess.
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Setelah beberapa minggu terpisah akhirnya mereka bertemu kembali.
“Kamu mandi dulu, kami sudah siapakan makan sore yang enak.”
Iskandar tersenyum lalu meninggalkan mereka yang sedang duduk di atas selembar karpet di ruang tamu. Mess dosen sendiri adalah komplek perumahan yang terdiri dari dua kamar dengan sebuah kamar mandi dan dapur kecil. Berbagai menu sudah tertata rapi di atas karpet hasil dari titipan sang ibu dari Ari.
“Kita satu mess kan?” tanya Iskandar yang sudah bergabung setelah membersihkan diri.
__ADS_1
“Kami minta mess yang sama dengamu waktu wawancara.” Celutuk Ari yang setujui oleh yang lainnya.
“Alhamdulillah.” Balas Iskandar.
“Gimana desa itu?” tanya Ari kembali.
Iskandar menatap mereka satu persatu. Ia menghela nafasnya sesaat. “Ya begitula!” sebagai sahabat till jannah, mereka cukup mengenal sang sahabat hingga jika Iskandar mengatakan seperti itu berarti ada yang tidak beres.
“Jadi bagaimana? Apa gak bisa ganti?” tanya Dwi.
Iskandar menggeleng, “Tidak bisa lagi. Kalau tahu dari awal mungkin bisa tapi kalian tahu sendiri kondisinya. Aku saja dipilihnya tiba-tiba karena dosen pertama hamil. Dosen yang lain sudah ada jadwal hanya aku yang kosong karena baru masuk.”
Mereka melanjutkan perbincangan setelah makan sore merangkap malam. Iskandar juga menerima telepon dari kakek dan dua orang tuanya. Anugrah juga menelepon untuk menanyakan perjalanan mereka. Mau tidak mau, Iskandar menceritakan semuanya pada sang adik tapi tidak pada kakek dan orang tuanya.
“Ingat, Dek. Jangan bilang-bilang ke rumah. Awas kamu!”
“Siap! Seseram itu ya? Di sini saja yang banyak orang dayaknya tidak seram begitu.” tanya Anugrah masih sulit percaya dengan semua cerita yang didengarnya dari sang kakak.
“Iya,”
“Hati-hati, Kak. Jangan lupa baca doa! Bawa yasin juga. Peluru yang Papa berikan masih ada kan?”
“Iya, masih.”
Cut yang memang berasal dari kampung percaya jika bayi diikatkan dengan peluru di badannya maka tidak akan diganggu oleh makhluk halus. Alhasil, baik Iskandar maupun Anugrah memakai kalung yang dibuat ayahnya kemanapun dari kecil. Kalung berupa tali dari benang halus lalu matanya diberi sebutir peluru yang telah diletuskan. Rendra sendiri tidak percaya dengan itu tapi saat Cut mengatakan, “Apa tentara pernah kesurupan saat bertugas di hutan, rawa atau tempat-tempat yang sebenarnya angker?” tanya sang istri saat itu. Rendra menggeleng pelan. Memang seingatnya tidak ada tentara yang kesurupan bahkan saat teman-temannya ada yang tertembak atau meninggal saat menjadi sandra dengan kondisi mengenaskan. Tidak satupun temannya yang kesurupan atau melihat penampakan.
“Tapi itu kan musyrik.” Sahut Rendra kala itu.
“Jangan meyakini peluru ini sebagai pelindung tapi anggap dia sebagai obat. Obat atau dokter juga jangan diyakini sebagai penyembuh. Hanya Allah yang maha menyembuhkan dan menolong bukan barang atau jimat tapi biarkan peluru ini bertindak sebagaii obat. Yang melindungi tetap Allah.” Begitulah kira-kira Cut mengecoh sang suami hingga kalung itu terpasang indah di leher Iskandar saat bayi. Setelah Anugrah lahir, karena ada ibu mertua, dia tidak berani memakaikan dalam bentuk kalung melainkan dimasukkan dalam kaos kaki Anugrah.
Sampai sekarang Iskandar dan Anugrah masih membawa peluru itu dalam dompet. Sementara Anugrah justru membuat gelang sehingga semakin menambah kegagahan badannya di mata para gadis. Peluru itu bukan lagi sebagai penangkal atau apa pun itu yang ibunya maksud melainkan sudah berubah fungsi. Bagi Iskandar, peluru itu adalah kenang-kenangan dari sang ibu sementara bagi Anugrah, peluru yang sudah dibuat gelang itu sebagai ajang gaya-gayaan.
Setelah perbincangan berakhir, ia memilih merebahkan diri. Seharian ini terlalu banyak kejadian yang menguras pikiran serta ototnya.
Seorang gadis sedang tersenyum menatap prianya. Gadis yang sedang menanam bunga itu tersenyum sangat manis membuat si pria kesusahan menelan salivanya sendiri apalagi pakaian sang gadis begitu cantik dan seksi. Gadis itu memakai kembem dari batik dengan bawahan rok panjang tapi terbelah panjang sampai ke paha.
“Mas, sini!” panggil gadis itu dengan suara manjanya.
Gadis itu berdiri dengan membawa setangkai bunga kembang sepatu berwarna merah. Ia berjalan begitu seksi dengan dada membusung ke depan sehingga menampilkan ukuran dadanya yang sempurna dibalik kembem.
“Mas, kenapa diam saja?” senyum dan tatapannya sungguh menggoda hingga si pria harus menelan salivanya berulang kali sampai tenggorokannya mulai tercekat akibat ulah tangan nakal sang gadis yang mulai menyentuh dadanya secara perlahan.
“Mas, aku cantik tidak?”
Gadis itu mulai memeluk mesra sang pria dan anehnya si pria justru tidak bisa menolak. Tubuhnya seakan kaku. Pria itu ingin memberontak tapi sulit. Lidah pria itu seperti terkunci hingga sulit untuk bersuara. Akhirnya, si pria membaca surat alfatihah dan berzikir dengan hatinya secara sungguh-sungguh. Ia mengabaikan sentuhan yang diberikan oleh si gadis berkembem itu.
Tiba-tiba gadis itu menjerit dan, -
“Astagrfirullahalazim."
__ADS_1
***
Coba tebak, apa yg dilihat????