CUT

CUT
Razi...


__ADS_3

Pagi ini, lantunan takbir berkumandang dengan lantang diikuti zikir serta hikayat Prang Sabil dari mulut penduduk Aceh yang berkumpul di pelataran mesjid raya Baiturrahman Kota Banda Aceh. Hampir dua juta penduduk dari berbagai golongan ikut serta dalam perhelatan akbar bertajuk “Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum Aceh”.


 


Pemuda, mahasiswa, santri termasuk Mae dan beberapa rekannya ikut bergabung dalam satu wadah yang diberi nama 'Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA)' dengan tujuan utama untuk mengakhiri konflik secara bermartabat atau dengan kata lain apakah Aceh tetap bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau berpisah (Merdeka). "Kami lelah hidup dalam perang."


"Kami ingin merdeka." Suara-suara teriakan dari mereka terdengar jelas.


 


Jakarta tersentak, dunia internasional juga ikut menyoroti aksi heroik tersebut. Para pencari berita dari dalam dan luar negeri berdatangan untuk meliput secara langsung. Truk-truk yang mengangkut warga dari kampung, kecamatan bahkan kabupaten lalu lalang di jalan nasional. Kata “Referendum” tertulis jelas di secarik kain pengikat kepala para pemuda. Dengan semangat membara entah tahu atau tidak makna dari kata 'Referendum' yang mereka gaungkan. Para pemuda dari berbagai penjuru menaiki truk-truk tersebut. Beberapa teman seperjuangan Khalid juga berada di dalam rombongan itu. Mereka adalah para pemberontak yang bersiap bila ada pasukan militer yang menghadang di jalan.


 


Semangat membara menuntut perdamaian yang tidak kunjung datang. Masyarakat sudah hidup dalam perang yang tidak kunjung usai. Pertemuan demi pertemuan baik terbuka maupun tertutup yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Masyarakat terus menunggu dengan ratapan air mata akan kehilangan sanak saudara ataupun ketakutan di saat malam menjelang.


 


Hari esok yang seharusnya cerah bisa berubah menakutkan hanya dalam sekali tarikan pelatuk senjata. Senjata dibalas senjata, kematian satu orang dibalas dengan pembakaran rumah, toko dan penembakan puluhan orang. Semua kejadian kejam itu terus terukir menjadi kenangan yang sulit dilupakan bagi setiap anak-anak Aceh. Semua terjadi di depan mata terukir dalam kenangan yang sulit dilupakan seperti yang Cut alami selama ini.


 


Bahkan, para wanita yang mengalami pelanggaran HAM terabaikan begitu saja. Pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, teror dilupakan begitu saja tanpa penyelidikan yang jelas. Arogansi yang ditujukan oleh pusat semakin menumbuhkan kebencian dihati setiap warga. Referendum adalah peristiwa puncak di mana kesabaran masyarakat Aceh sudah mencapai ubun-ubun. Karena hukum tidak berlaku di daerah ini.


 


Para tentara yang  bertugas tidak bisa berbuat banyak. Para pemberontak memobilisasi setiap truk untuk warga yang ingin mengikuti aksi tersebut. Dalam setiap truk yang berangkat terdapat satu atau dua orang pasukan pemberontak bersenjata lengkap guna menjaga warga supaya sampai ke pusat kota.


 


Jika dalam perjalanan ada tentara yang menghadang maka hanya ada satu kata “tembak!” kondisi ini semakin menambah semangat warga yang ingin ke Kota Banda Aceh.


 


“Banyak sekali yang hadir, Abu.” ucap Cut saat mengintip dari balik jendela ruko.


 


“Semoga acaranya lancar dan semua bisa kembali dengan aman. Mereka semua pasti ada yang menunggu di rumah.”

__ADS_1


 


“Orang kampung kita pasti ada yang ikut. Kalau saja Mae bisa ke sana pasti bisa bertemu dengan mereka.” sela Mae.


 


“Belum tentu bertemu, Mae. Orang banyak begini pasti susah mencarinya." Jawab Abu.


"Sudah Abu ingatkan jangan ke sana. Kamu malah tidak mendengarkan. Untung saja situasinya masih tenang saat kamu ke sana. Apa jadinya kalau saat itu terjadi kontak senjata?" Abu menceramahi Mae. Abu sangat panik saat tahu Mae bergabung dengan massa yang melakukan aksi demo di masjid. Abu segera menarik Mae untuk pulang ke ruko karena takut terjadi hal-hal yang tidak terduga.


 


Dari balik jendela ruko, keluarga kecil itu hanya bisa menatap sambil berdoa semoga tidak ada kontak senjata antara para pemberontak dengan pasukan pemerintah. Jika sampai terjadi kontak senjata maka, entah berapa banyak nyawa yang akan melayang.


 


Jauh di pulau Jawa sana, seorang laki-laki terus memantau berita tentang aksi massa menuntut referendum dari layar televisi.


 


“Sepertinya terkendali dengan baik. Buktinya tidak ada kontak senjata.” ucap Wahyu.


 


 


“Amin. Semoga damai segera terwujud di Aceh supaya kamu bisa menemui sang kekasih.” Sebuah senyum terbit disudut bibir Rendra. Sejujurnya, hal itu yang sangat ia harapkan. Aceh damai lalu ia bisa ke sana untuk bertemu sang kekasih.


 


“Aceh memang unik. Berperang dengan mereka seperti main-main tapi kita baru sadar jika ada yang mati. Ternyata ini sungguhan. Mungkin gen mereka dipenuhi oleh gen nenek moyang mereka yang kebanyakan pejuang. Buktinya, Belanda saja bisa mereka usir. Tidak heran jika jiwa masyarakat Aceh keras dan tegas. Buktinya, gadis itu berhasil membuat kamu menderita kerinduan serta gundah gulana layaknya perempuan. Biasanya perempuan yang bersikap seperti ini.” sindir Wahyu.


 


“Itulah hebatnya dia. Pilihanku memang tidak pernah salah, Yu. Aku yakin dia cocok jadi istri sekaligus ibu untuk anak-anakku nanti.”


 


“Menurutmu, tidak dengan orang tuamu”

__ADS_1


 


Seminggu setelah aksi massa tersebut digelar. Suasana kembali kondusif di kota Banda. Pemerintah pusat meminta tenggat waktu kepada petinggi pergerakan di Aceh untuk merundingkan permintaan masyarakat Aceh selama enam bulan. Tapi aparat pemerintah tetap berjaga untuk menghindari serangan tidak terduga.


 


Dalam kurun waktu tersebut juga mereka bersepakat untuk melakukan gencatan senjata antara kedua belah pihak. Hal tersebut juga berhasil mendamaikan Aceh untuk sesaat. Dalam kurun waktu enam bulan, masyarakat tidak pernah lagi mendengar suara bedil atau bom. Untuk sejenak, masyarakat mulai tenang tapi apa setelah ini????


 


Para prajurit TNI masih tetap berjaga di pos-pos yang terletak di berbagai kampung seluruh Aceh. Namun, teror belum berhenti sampai di sini. Senjata boleh berhenti bersuara tapi orang hilang justru bertambah. Dan mayat-mayat tanpa identitas selalu ditemukan di tepi-tepi jalan. Teror ini lebih menakutkan dari kontak tembak. Dalam kesunyian dan gelapnya malam, seorang istri menjadi janda dan seorang anak kembali yatim.


 


Di kota Banda sendiri semunya cukup kondusif seperti sebelum terjadinya aksi massa tersebut. Cut kembali melanjutkan kehidupan seperti biasanya. Hari ini adalah hari pertama Cut bekerja di sebuah lembaga sosial masih dalam naungan Dinas Sosial Aceh yang melayani para tuna wisma.


 


Walaupun Cut tidak mengecap pendidikan formal secara resmi tapi ilmu yang selama ini ia dapat dari berbagai kursus selama setahun cukup membuatnya setara dengan mereka yang mengenyam pendidikan formal. Minatnya pada buku serta hobinya dalam membaca berbagai macam bacaan menjadikannya seorang wanita dengan wawasan tinggi serta berpikiran cerdas.


 


Setiap akhir pekan, ia bersama ketiga sepupunya serta Mae dan Rendra selalu menghabiskan waktu di pantai atau taman kota. Terkadang, Mak Cek Siti juga ikut bersama mereka.


 


Cut yang dulu hidup dalam ketakutan serta trauma yang mendalam kini sirna. Semua perubahan yang hadir dalam kehidupan Cut selama setahun ini mampu menyembuhkan segala penderitaan serta kesedihan yang pernah ia rasakan.


 


Waktu berlalu begitu cepat dalam kebahagiaan serta ketenangan. Hirup pikuk kota yang cukup besar seperti Banda Aceh mampu membuat orang lupa akan masa lalu. Kegiatan yang sudah terjadwal, akhir pekan yang menyenangkan juga kasih sayang dari keluarga. Semua itu mampu memenuhi ruang hati serta pikiran Cut.


 


Sampai suatu malam kabar buruk menimpa keluarga Pak Cek Amir. Mak Cek Siti histeris sampai jatuh pingsan. Tidak ada yang menyangka jika musibah ini menimpa salah satu keluarga mereka. Di depan dokter serta perawat, Cut sekeluarga berdiri kaku tanpa bisa berkata sepatah kata pun.


 


Razi terbujur kaku setelah sebutir peluru menembus dadanya. Tidak ada yang menduga dengan apa yang dilihat saat ini. Sosok dewasa dengan kecerdasan yang mumpuni kini telah pergi menghadap sang khalik.

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE....KOMEN....


__ADS_2