
“Sayang, apa kamu tidak menikmatinya?” tanya Rendra setelah mengkahiri pergulatan panas namun terasa hambar bagi Rendra.
“Mama lelah, Pa.”
“Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini?”
“Bang, seharian ini Cut membantu di acara di rumah Mama. Badan Cut lelah sekali. Apa boleh kita istirahat dulu. Besok kan bisa kita lanjutkan?”
“Ada apa sama kamu? Kenapa kamu sekarang sangat dingin begini? Bukan malam ini saja, tapi dari beberapa bulan yang lalu saya merasa kamu seperti acuh tak acuh di atas ranjang. Apa kamu sudah bosan pada saya?”
Jiwa dan raga yang lelah ditambah dengan masalah baru seperti sekarang rasanya Cut ingin menjerit saja.
“Bang, selama ini Abang selalu pengertian. Saat ini badan Cut sangat lelah. Apa boleh kita lanjutkan besok?”
Rendra turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi dengan muka masam. “Tidurlah!” Cut menghela nafasnya sesat dan matanya sudah berat tidak sanggup lagi menghadapi perdebatan dengan sang suami. Cut tertidur di bawah selimut masih dalam keadaan polos.
Rendra duduk di teras rumah seraya merokok. Pikirannya kembali berkelana mengingat kapan terakhir kali dia bermain dengan panas bersama sang istri. Entahlah, dia lupa. Lambat laun dia pun mulai menyadari jika selama ini percintaan mereka bukan lagi tentang luapan rasa tapi hanya sekedar melepaskan nafsu semata. Rasa hambar mulai menyeruak dalam diri Rendra, ia mulai sadar jika selama ini sang istri juga sudah tidak bersemangat seperti dulu saat mereka baru menikah.
Rendra membuka akun jejaring pertemanan diponselnya lalu melihat-lihat sekedar ingin mengusir pikiran suntuk dan bosan. Sebuah foto dari akun yang sangat dikenalnya terlihat di halaman depan. Risma memajang foto profil saat mereka sedang berlibur dulu. Rendra ingat foto itu diambil saat ia dan Risma menikmati pemandangan matahari terbenam di Lombok.
Dalam foto itu, wajah Rendra tidak jelas karena ia terkena cahaya matahari yang sedang terbenam. Rendra dengan jelas ingat jika laki-laki di foto itu adalah dirinya. Dari postur tubuh, pakaian dan jam tangan militer yang saat itu ia pakai. Ia juga ingat pakaian yang Risma gunakan walaupun mereka sudah berpisah lama.
Rendra yang merasa penasaran akhirnya terpancing untuk melihat lebih banyak lagi foto-foto di dalam album milik Risma. Rendra cukup terkejut ternyata Risma menyimpan banyak foto saat mereka sedang bersama di sana. Bahkan, risma juga memotret saat mereka sedang di kamar hotel dengan posisi Rendra yang sedang tertidur sambil memeluknya. Walapun semua foto yang Risma unggah tidak menampakkan secara jelas wajah Rendra tapi Rendra sangat mengenal sosok itu.
“Risma?”
Sebuah pesan Rendra tinggalkan di akun tersebut. Tidak ada balasan dari si pemilik akun. Rendra masih menatap foto-foto itu hingga tidak terasa rokoknya sudah habis setengah bungkus. Rendra kembali masuk ke kamar dan mendapati istrinya yang sudah terlelap. Banyak pikiran yang membuatnya sulit memejamkan mata. Menjelang subuh, Cut sudah terbangun untuk menyiapkan segala keperluan sang suami karena hari ini adalah hari senin.
Setelah mandi dan salat subuh, Cut menggoyang pelan lengan sang suami. Dengan berat, Rendra membuka matanya lalu tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata sang istri yang sedang tersenyum.
“Sudah subuh, ayo mandi!” ucap Cut lembut.
Setelah bangun tadi, Cut mencoba mengoreksi diri sendiri saat menatap sang suami yang tengah terlelap. Ia paham jika selama ini banyaknya pikiran membuatnya bersikap acuh dan dingin di atas ranjang. Cut bukanlah istri bodoh, dia tahu bagaimana harus memanjakan sang suami terlebih setelah kejadian tadi malam. Cut yang biasa menggunakan baju kebangsaan para ibu yaitu daster kini tampil berbeda. Cut menggunakan gaun malam yang dulu sering ia pakai saat baru menikah. Semenjak memiliki anak, Cut seolah lupa untuk berdandan dan memperseksikan diri di depan suami.
Cup…
“Bangunlah! Sebelum Anugrah bangun dan membuat waktu Mama tersita untuknya.”
Bukannya bangun, sang suami jutsru menarik tubuh sang istri hingga jatuh ke atasnya.
“Wangi, sudah mandi? Kenapa tidak tunggu saya?”
“Kejutan untuk suami biar semangat kerja.”
Dan dengan panas dan liarnya, Cut membangunkan sang suami sekaligus berolahraga pagi berdua. Keduanya kembali melanjutkan di kamar mandi dalam tempo singkat karena takut Anugrah terbangun. Anak itu memang sering bangun pagi mengikuti jejak ayahnya.
Selesai menyiapkan sarapan lalu mereka makan bersama. Senyum Rendra terus terukir hingga sifat manjanya tiba-tiba muncul. Cut diminta untuk memakaikan baju seragam sang suami lalu mengancingnya juga.
"Saya rindu suasana romantis seperti ini.” Ucap Rendra saat Cut mengancing bajunya.
“Mau romantis tiap hari tapi minta tambah anak. kapan bisa romantisnya?” sindir Cut.
“Tapi saya tidak mau kamu masuk KB lagi.”
“Iya. Kan udah tidak minum dari semalam.”
__ADS_1
“Semoga cepat jadi, ya!”
“Jangan protes ya kalo nanti jadi terus saya gak bisa hot lagi karena kelelahan ngurus anak.”
Keduanya berdiri berhadapan dengan tangan sang suami merangkul erat pinggang sang istri yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang tidak kalah seksi dari baju tidur tadi. Cut menggunakan baju tidur yang lain. Baju tidur tampa lengan dengan tali kecil serta belahan dada rendah yang panjangnya di atas paha bahkan dengan sedikit jongkok akan terlihat jelas isi di dalamnya.
“Hari ini saya malas ke kantor.”
“Jangan macam-macam! Ayo, saya antar sampai pintu.”
Cut tidak lagi bisa berkata saat tangan nakal sang suami justru sedang memainkan gunung kembarnya. “Banggg, tadi kan sudah.”
“Masih mau,” rengekan manja sang suami membuat Cut tersenyum senang.
Untuk sejenak ia berhasil melupakan pahitnya perkataan sang mertua kemarin. “Bangghhhh, jangan menggoda saya. Nanti seragamnya kusut lagi.”
“Tugas dulu, nanti pulangnya kita main lagi.”
“Janji?”
“Iya, kalau Anugrah tidak bangun.”
“Nanti tidurkan dia cepat ya! Nanti saya hubungi kalau mau pulang.”
Cut menepuk jidadnya. Beginilah aslinya Rendra jika sudah digoda oleh sang istri. Tidak akan cukup sekali dua. Ia akan meminta lebih. Sadar bajunya tidak layak, Cut mengantar Rendra sampai pintu bagian dalam. Biasanya, ia akan mengantar sang suami jika Anugrah tidak rewel tapi karena pakaiannya yang tidak layak. Cut memilih mengantar sampai ruang tamu.
Kecupan demi kecupan Cut berikan bahkan sampai sang suami menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.
“Tunggu saya!”
Sesampai di kantor, Rendra langsung mendapat serangan karena bekas lipstik sang istri menempel d lehernya. Rendra dan Cut tidak sadar karena mereka terlalu sibuk bermesraan.
“Apa mulai program lagi?” tanya Wahyu.
“Insya Allah. Mudah-mudahan jadi.” Jawab Rendra yang membuat rekan-rekannya tersenyum.
Saat jam istirahat, Rendra kembali membuka akun media sosialnya dan –
Ting…
Sebuah balasan pesan terlihat di sana.
“Iya, Ren.”
“Kenapa kamu masih memajang foto kita?”
“Ternyata kamu masih mengenalinya ya? Maaf, jika membuatmu tidak nyaman. Aku sengaja melakukannya untuk membentengi diri dari pria-pria gatal di sini. Kalau kamu terganggu, aku akan hapus fotonya.” Sejenak ada rasa tidak enak menghinggapi Rendra.
"Tidak masalah. Wajahku juga tidak terlihat jelas.”
“Terima kasih, Ren. Tapi sepertinya aku memang harus menghapus foto-foto ini. Aku tidak mau istrimu melihatnya lalu kalian berantem.”
“Hehehe…kami bukan anak remaja yang cemburu hal begini. Istriku juga tidak main sosial media jadi dia tidak akan bermasalah dengan ini.”
“Makasih, Ren. Kamu lagi di mana ini?”
__ADS_1
“Di kantor, kamu?”
“Aku juga. Sekarang aku kerja di salah satu Bank tidak jauh dari kantor kamu.”
“Oh…”
“Pegawai Bank bisa punya waktu untuk berbalas pesan?”
“….”
Risma tidak lagi membalas pesan Rendra. “Cari makan yok!” ajak Wahyu.
Keduanya meninggalkan kantor lalu menuju sebuah warung ketoprak. Tempatnya cukup bagus dan bersih hingga mengundang banyak pelanggan dari berbagai kalangan bersedia makan di sini.
“Rendra…” suara seorang wanita memanggil Rendra dari arah dalam. Dari suaranya, Rendra tahu siapa wanita itu.
Setelah memesan, ia dan Wahyu berjalan menuju meja tempat di mana Risma dan temannya duduk.
“Gabung sama kita saja, tidak apa-apa kan? Atau kalian ada yang ingin dibicarakan serius?” tanya Risma santai.
“Tidak. Kami kesini hanya buat makan. Kalau bicara serius kami bisa lakukan di kantor.” Jawab Wahyu.
“Jangan lirik-lirik, mereka sudah punya istri dan anak di rumah.” Ucap Risma pada temannya.
“Kenalin, ini Desi teman satu kantor.” Lanjut Risma kembali.
Kedua pria berseragam militer itupun bersalaman dengan teman wanita yang bernama Desi. Pesanan ketoprak Rendra dan Wahyu akhirnya datang. Mereka makan dengan lahap karena memang sudah kelaparan. Setelah makan, Rendra terlihat mengetik pesan di ponselnya.
“Ehem…yang lagi puber ke 2.” Goda Wahyu.
“Pulang saja kalau sudah tidak tahan!” sela Risma yang membuat Rendra dan Wahyu terkejut lalu menatapnya.
“Kenapa? Benar kan? Suami istri yang sedang mengalami kasmaran memang seperti pengantin baru.” Ucap Risma kembali.
“Mbak Risma seperti pernah nikah saja.” Celutuk Desi yang membuat Wahyu dan Rendra seketika menatap Risma penuh tanya. Risma menggeleng kecil pada mereka berdua.
“Kamu seperti tidak pernah nonton film saja.” Balas Risma.
“Tapi, foto-foto Mbak sama pacar Mbak itu romantis sekali. Apa tadi juga dia yang berkirim pesan pada Mbak?”
“Ih…rahasia!”
Tingg…
“Pa, Anugrah dibawa Mama. Katanya nanti malam baru dibawa pulang.”
Rendra tersenyum lebar, “Yu, -“
“Iya, pulang sana! Jangan lupa balik siang!”
Rendra bergegas keluar dari warung lalu melajukan mobil menuju kediamannya. Sementara Risma menatap punggung Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Bahagia banget wanita yang jadi istrinya teman Mas itu. Aku jadi penasaran seperti apa sih wajahnya???"
***
__ADS_1