CUT

CUT
Bulan Sabit...


__ADS_3

“Jangan mengharapkan saya! Kamu pantas mendapat yang lebih baik.” ujar Khalid lalu mencium tangan Abu Syik serta Umi.


 


“Saya mohon diri, Abu. Doakan saya! Assalamualaikum.” Khalid pergi meninggalkan rumah Abu Syik.


 


Tidak mudah untuk menerima gadis lain dalam hidupnya saat ini. Kepergian Halimah serta kecewa karena ditolak oleh Cut membuat Khalid menjadi pria berhati dingin. Rasa bersalah yang timbul di hatinya semakin besar tatkala melihat kondisi Cut di rumah sakit jiwa. Ingatannya saat almarhum Ilham masih hidup semakin menambah rasa bersalah serta penyesalan yang tak kunjung hilang.


 


“Kamu harus menjaga adikku dengan baik. Jangan biarkan dia bersedih atau menangis. Dia itu sangat baik hati dan akhlaknya. Dia adalah orang ketiga yang sangat aku sayang. Ingat itu! Aku akan memutuskan persaudaraan kita jika sampai kamu mengecewakannya.” kata-kata Ilham semasa hidup terus menghantuinya.


 


“Aku tidak pernah semua ancamanmu, Ham. Lebih baik aku tidak menikahi adikmu dari pada kehilangan saudara sepertimu. Aku merindukan semua gurauanmu, kawan.” Khalid berucap pada dirinya sendiri.


 


Langkah kakinya terhenti di dermaga kecil milik nelayan. Ia menunggu Bang Mayed yang akan membantunya menyeberang ke kota.


 


“Banyak dapat, Bang?” sapa Khalid saat Bang Mayed turun dari boat.


 


“Alhamdulillah. Ada siseik dalam keranjang, ambillah!”


 


Khalid tersenyum seraya membantu Bang Mayed mengikat boatnya. Bang Mayed bekerja sebagai nelayan yang menjual ikan ke kota. Setelah salat subuh, ia berangkat sampai sore baru kembali.


 


“Bang, apa boleh kami menumpang boat Abang besok pagi?” tanya Khalid.


 


“Kamu mau ke kota?”


 


“Iya Bang. Saya mau mengantar Cut.”


 


“Boleh saja. Setelah subuh kita berangkat.” Khalid mengangguk lalu mengambil satu ekor ikan siseik dalam keranjang untuk dibawa pulang.


 


“Terima kasih, Bang. Assalamualaikum.”


 


“Walaikumsalam.”


 


Makan malam di rumah Keuchik Banta malam ini terasa hambar. Masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri.


 


“Apa kalian berangkat sama Mayed?” tanya Keuchik Banta memecah keheningan.

__ADS_1


 


“Iya, Abu. Kami berangkat selepas subuh.”


 


“Hati-hatilah kalian! Semoga suatu hari kita dipertemukan kembali dalam keadaan sehat.” Ucap Keuchik Banta tulus.


 


“Amin...” sahut penghuni rumah.


 


“Sampaikan salam Abu kepada orang tuamu, Cut!” ucap Keuchik Banta kembali.


 


Cut mengangguk pelan. Sesungguhnya Keuchik Banta terasa berat melepas kepergian mereka. Namun, ia juga tidak mungkin menahan keduanya di sini. Apalagi setelah mengetahu kebenaran tentang mereka.


 


Jam 9 malam sudah terasa seperti tengah malam di pulau. Hanya suara riak di pantai yang membuat suasana pulau jauh dari kata hening.


 


Keuchik Banta bersama sang istri sudah terlelap di kamar mereka. Sementara Putro Tari sedang mendengar banyak kisah dari Cut di kamar mereka. Lain halnya dengan Ceudah. Saat yang lainnya sedang berada di kamar mereka, ia malah keluar dari rumah.


 


Putro Ceudah duduk di batang kelapa yang sudah tumbang. Sehelai kain panjang menutup kepalanya. Semilir angin pantai terkadang menggodanya sehingga anak-anak rambut yang halus justru keluar dari balik kain.


 


Malam ini bulan terlihat indah berbentuk sabit. Putro Ceudah sangat menyukai bentuk bulan yang seperti itu. Senyumnya terkadang terbit tanpa ia sadari saat menatap bulan sabit.


 


 


“Apa Abang akan kembali ke sini?” Putro Ceudah menatap Khalid penuh pengharapan.


 


Keduanya saling menatap menyemai ke dalam pikiran serta hati masing-masing. Untuk pertama kalinya mereka bertemu seperti ini. Dan untuk pertama kalinya juga Khalid menuruti ajakan Putro Ceudah.


 


Selama ini, Putro Ceudah selalu mengirim secarik kertas yang berisi ajakan untuk bertemu. Namun, Khalid tidak pernah menanggapi ajakan tersebut. Ia tidak mau mencoreng kehormatan serta kepercayaan yang diberikan oleh Kechik Banta.


 


“Abang tidak tahu.” jawab Khalid.


 


Suasana serta keadaan sangat mendukung untuk berbuat lebih tapi apa daya, Khalid berusaha untuk tidak merusak sesuatu yang bukan haknya. Jiwa laki-lakinya tentu berontak apalagi gadis ini sangat cantik di bawah cahaya rembulan dengan surai-surai rambut melayang diterpa semilir angin.


 


“Baru kali ini Abang memenuhi ajakan aku. Apa karena Abang akan pergi besok? Mungkin Abang akan mengucapkan salam perpisahan secara langsung.”


 


“Tepat seperti dugaanmu. Abang juga mau minta maaf kalau selama ini ada salah atau khilaf yang Abang sadari atau tidak. Abang tidak mau meninggalkan luka di hati siapa pun di sini.”

__ADS_1


 


“Tapi aku terluka. Hatiku sangat luka karena aku menyukai Abang tapi tidak berbalas. Lalu, orang yang aku sukai tiba-tiba akan pergi begitu saja. Aku harus bagaimana mengatasi luka hatiku ini? Tidak ada yang dapat menyembuhkannya. Hatiku sakit, terluka karena merasa menjadi gadis yang paling buruk.”


 


Jantung Putro Ceudah berpacu, nafasnya naik turun. Tenggorokannya seakan kering saat tanpa diduga Khalid menggenggam tangannya. Keduanya saling menatap lekat seakan harapan itu kembali datang.


 


“Apa dengan begini semua luka hatimu akan sembuh? Jangan berharap banyak pada Abang! Jika suatu hari kita bertemu dan kita berdua masih belum memiliki pasangan dan masih ingin satu sama lain. Maka kita bisa mencoba memulai dari awal lagi.”


 


“Dan jangan menganggap ini janji. Terlebih lagi, jangan menunggu waktu itu. Terimalah lelaki mana saja yang datang untuk melamar asalkan laki-laki itu baik serta bisa menjadi imam untuk kamu. Jangan menunggu Abang karena bisa jadi kamu akan kecewa atau terluka. Dan mungkin umur Abang tidak akan lama. Kamu tahu sendiri siapa Abang.”


 


Deraian air mata tanpa terasa membasahi pipi Putro Ceudah. “Kenapa menangis?” jari-jari Khalid mengusap pipi Putro Ceudah seraya tertawa kecil.


 


Khalid merengkuh Putro Ceudah dalam pelukannya. “Jangan menangis! Tidak enak jika Abu dan Umi melihat kamu besok. Nanti dikira Abang sudah menyakitimu. Hapus air matamu setelah itu kita pulang. Sudah malam, apa kamu tidak takut duduk di pinggir laut malam-malam.”


 


Bukan jawaban yang keluar dari mulut Putro Ceudah. Ia malah memeluk Khalid semakin erat seakan enggan berpisah.


 


Khalid tertawa kecil kemudian keduanya larut dalam diam seraya berpelukan. Hampir lima menit waktu mereka berpelukan tapi setelah itu Khalid sudah tidak sanggup menahan diri. Ia mengurai pelukan itu secara paksa.


 


“Ayo pulang! Kamu sudah mulai nakal.” ajak Khalid namun langsung mendapat gelengan kepala dari Putro Ceudah.


 


“Abang saja kalau begitu. Aku mau duduk di sini sampai besok.” Putro Ceudah merajuk.


 


“Abang dengar kalau tengah malam ada yang suka menangis di sini.” Khalid mencoba menakuti Putro Ceudah.


 


“Memang ada. Malam ini, aku akan menamani dia menangis di sini.” jawab Putro Ceudah berani. Padahal hatinya takut tapi ia terlalu gengsi di depan Khalid.


 


Khalid yang sudah berdiri terpaksa duduk kembali. “Ayolah, Abang sudah mengantuk.”


 


“Katanya pejuang tapi jam segini sudah mengantuk.”


 


“Iya, karena Abang kurang tidur makanya waktu pertama kali kemari badan Abang kurus kering. Apa kamu lupa? Selama beberapa bulan di sini, tidur cukup dan enak, makan dan pergi ke mana pun juga tenang. Kamu tidak lihat bagaimana badan Abang sekarang?”


 


“Makanya jangan kembali ke kota. Kalau di sini hidup Abang pasti enak dan tenang.”


***

__ADS_1


*Siseik adalah ikan tuna dalam bahasa Aceh.


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2