CUT

CUT
Cuma Pura-pura...


__ADS_3

Kota Banda...


 


“Cut, kamu tidak pergi kursus?” tanya Umi.


 


“Tidak, Umi. Cut seperti mau demam. Seluruh badan rasanya tidak enak.” Umi memegang kening sang putri.


 


“Tidak panas.”


 


Umi menatap lekat sang putri yang tengah asyik bermain dengan Rendra kecil. perasaan seorang ibu memang tajam. Umi merasakan ada sesuatu yang disembunyikan sang putri padanya.


 


Hari berganti, ada tiga kegiatan yang dilakukan setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu. Sudah empat hari Cut tidak pergi ke tempat kursus komputer dengan berbagai alasan. Umi sudah berusaha menanyakan hal tersebut namun, Cut selalu bisa menghindari pertanyaan Umi.


 


Kabar pertengkaran di tempat kursus akhirnya sampai juga ke telinga si bungsu Cut Intan. Ia juga salah satu pelajar di tempat kursus yang sama dengan Cut. Hanya saja, jadwal mereka berbeda. Jika Cut masuk pagi maka Intan masuk sore setelah pulang sekolah.


 


Bukan Intan namanya jika dia berdiam diri setelah mengetahui kabar tersebut dari teman-temannya. Apalagi ini menyangkut kakak sepupunya. Setelah magrib, intan langsung mengadakan rapat bersama kedua abangnya di rumah untuk mencari solusi dari pertengkaran tersebut.


 


“Jadi bagaimana ini? Terhitung hari ini berarti sudah seminggu Kak Cut tidak pergi kursus.” ucap Intan.


 


“Kenapa tidak bilang sama mamak saja? Siapa tahu mamak punya solusinya.” jawab Faris.


 


“Yee... masalah seperti ini kita coba selesaikan bersama dulu. Jangan libatkan mamak nanti jadi panjang urusannya. Apalagi ini urusan anak muda.” sela Razi.


 


“Yap... betul seperti Abang bilang. Bang Faris ini dikit-dikit mamak. Cemen...” ledek Intan yang mendapat cubitan pipi dari Faris.


 


“Awww... sakit, Bang.”


 


“Rasakan...”


 


“Sudah! Kalian mau cari solusi atau bertengkar? Abang capek dengarnya.”


 


Kedua bocah tersebut akhirnya diam dan memikirkan solusi supaya kakak sepupunya kembali ke tempat kursus tanpa rasa malu atau direndahkan.


 


Satu minggu kemudian...


 


Tit....tit....

__ADS_1


 


Suara klakson motor berhenti tepat di depan ruko Abu yang tengah sibuk melayani pembeli bersama Mae.


 


“Eh Pak Dokter. Mau beli apa?” tanya Mae.


 


“Mau jemput Kak Cut. Abang ke atas dulu ya Mae?”


 


“Abu! Bukannya Bang Razi lebih tua dari Kak Cut? Kenapa dia panggil Kak buat Kak Cut?”


 


“Iya, Razi memang lebih tua dari Kak Cut. Tapi Abu lebih tua dari ayah Razi. Jadi, dilihat dari nasabnya walaupun umur Kak Cut lebih muda, tapi Razi tetap harus memanggil Kak Cut dengan panggilan Kak.”


 


“Ooooo...”


 


Sementara di lantai atas, Cut yang tengah menyuapi Rendra kecil dibuat terkejut dengan kedatangan Razi yang terlihat sangat rapi.


 


“Ada apa, Zi? Kamu tidak kuliah?” tanya Cut sambil menyuapi Rendra.


 


“Razi mau mengantar Kakak ke tempat kursus. Kakak siap-siap ya! Biar Razi yang suapi Rendra.”


 


 


“Biar Mak Wa saja yang suapi Rendra.” Umi mengambil piring dari tangan Razi.


 


Gelagat Razi yang tiba-tiba menjemput Cut tentu tidak luput dari perhatian Umi. Selepas kepergian Cut ke kamar, Umi langsung bertanya pada Razi.


 


“Ada apa sebenarnya? Mak Wa sudah bertanya tapi kakak kamu tidak pernah mengatakan apa pun sama Mak Wa. Apa Cut punya masalah di tempat kursus? Kami selalu membayar uang kursus tepat waktu. Ada apa Razi?”


 


Menatap Mak Wa dengan rasa bersalah dan kasihan, akhirnya Razi menceritakan semua yang terjadi pada Cut. Umi sangat terkejut sampai berniat untuk memindahkan Cut ke tempat kursus lain.


 


“Jangan gegabah, Umi. Biar nanti Razi yang coba selesaikan dengan cara Razi. Mak Wa jangan susah hati, karena ini urusan anak muda biar anak muda juga yang selesaikan.”


 


“Tapi kalian jangan sampai pukul-pukul orang ya!”


 


Razi tertawa kecil, “Tidaklah, Mak Wa. bisa habis Razi kalau mamak tahu Razi pukul orang. Intinya, Mak Wa tenang dulu. Kami selesaikan secara baik-baik dengan cara kami. Jika nanti tidak berhasil beru kita cari tempat kursus lain.”


 


“Mak Wa, kalau bisa jangan cerita dulu ke Pak Wa. takutnya Pak Wa tambah pikiran. Takutnya lagi kalau ayah sama mamak tahu. Bisa panjang urusannya. Nanti Razi kasih tahu Mak Wa seorang bagaimana hasilnya, ya?”

__ADS_1


 


Umi mengangguk setuju. Setelah berpamitan pada Umi dan Abu, keduanya langsung menuju tempat kursus Cut. Dua ruko sebelum mencapai tempat kursus tersebut motor yang Razi kendarai tiba-tiba berhenti.


 


“Kenapa, Zi?” tanya Cut.


 


Razi turun dari motor lalu berdiri menghadap Cut. “Kak, aku sudah tahu apa yang terjadi. Tujuanku menjemput Kakak hari ini untuk menyelesaikan masalah dengan caraku. Lebih tepatnya dengan cara kami bertiga. Mulai dari sini sampai tempat kursus Kakak tidak akan aku panggil pakai sebutan Kak. Jangan tanya kenapa? Tapi bila sampai di sana ada yang bertanya aku siapa sama Kakak. Maka, Kakak harus jawab aku orang yang istimewa di hati Kakak. Dan jangan bantah bila ada yang bilang kalau aku pacar Kakak. Kalau dilihat dari umur dan penampilan, kita memang cocok jadi pasangan kekasih. Tapi sayang kita terlahir sebagai keluarga.” Ucapan Razi diakhiri tawa yang membuat Cut bingung serta heran.


 


“Kakak bingung ya?” tanya Razi kembali yang diangguki kepala oleh Cut.


 


“Kamu bicaranya terlalu cepat dan berputar-putar.” jawab Cut.


 


“Mulai dari sini sampai tempat kursus. Aku akan bersikap seperti pacar Kakak. Kakak tidak perlu berbuat apa-apa cukup panggil aku dengan panggilan Bang dan aku akan panggil Kakak dengan panggilan Dek. Selebihnya biar aku yang bereskan, karena kakak belum pernah pacaran jadi tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, serahkan semua ke aku. Oke!”


 


“Oh, maksud kamu kita pura-pura pacaran ya?”


 


“100. Sekarang Kakak mengerti kan?”


 


“Tapi untuk apa kita berbuat seperti ini?”


 


“Nanti biar Intan yang jelaskan di rumah. Kakak ikuti saja dulu apa yang sudah kami rencanakan. Sekarang kita ke tempat kursus dan kalau ada yang tanya aku siapa. Kakak senyum aja ya! Jangan jawab apa-apa. Kakak tidak ada tampang pembohong jadi susah kalau aku suruh bohong. Jadi senyum aja jangan jawab apa-apa.”


 


“Bagaimana, apa sekarang bisa di praktikkan?”


 


Dengan sedikit keraguan akhirnya mereka melanjutkan misi tersebut sampai ke tempat kursus.


 


Seperti dugaan Razi, ketika mereka sampai bayak perempuan yang menatap Cut dengan sorotan mata penuh kebencian. Cut terkejut saat tangan Razi menggenggam tangannya tiba-tiba. Keterkejutan Cut tidak sampai di situ karena Razi juga ikut masuk ke dalam tempat kursus yang sudah pasti menciptakan kehebohan saat itu.


 


Begitu juga dengan Feri yang tengah berbicara dengan pacarnya. “Yang mana pria itu?” bisik Razi dan lagi-lagi berhasil membuat Cut terkejut.


 


Razi menangkap sosok yang menjadi biang kerok dari masalah kakaknya. “Feri?”


 


Feri dan Winda menatap dua orang di depan mereka dengan raut wajah kebingungan. “Saya Razi, tunangan Cut Zulaikha. Saya sangat berharap peristiwa seminggu yang lalu tidak terjadi lagi pada tunangan saya. Dan saya berharap kamu bisa mengajar secara profesional dengan tunangan saya. Dan tolong bilang pada pacar kamu untuk menjaga ucapannya. Lebih baik lagi kalau dia mau minta maaf.” ucap Razi setelah berjabat tangan dengan Feri.


 


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2