
Relawan dari berbagai negara, LSM, NGO serta berbagai peralatan yang dibutuhkan terus berdatangan membantu masyarakat Aceh. Bencana yang tidak hanya melanda negara Indonesia juga beberapa negara yang berdekatan dengan Indonesia seperti Thailand, Malaysia, India dan Srilangka. Namun, pesisir barat Aceh lah yang paling berdampak karena letak pusat gempa yang cukup berdekatan dengan wilayah Aceh.
Hampir seminggu berlalu, bau sedap dari mayat-mayat yang belum terangkat di bawah reruntuhan bangunan mulai meyeruak ke permukaan. Mayat-mayat tersebut sudah tidak bisa dikenali. Berbagai alat berat dikerahkan untuk mengangkat puing-puing yang sudah seperti gunungan sampah baik di darat dan sungai.
Mak Cek Siti memperhatikan jika bayi-bayi yang sudah dilihat oleh relawan perempuan berambut pirang tersebut langsung dibawa oleh rekan-rekannya menuju truk berlambang + tersebut. Tak lama setelah itu, mereka mendatang Mak Cek Siti yang sedang menggendong Iskandar ditemani kedua anaknya. Mae dan Pak Cek Amir sendiri sedang mencari beberapa kerabat seperti Abu dan yang lainnya ke berbegai tenda pengungsian lain.
“Selamat siang, Ibu. Perkenalkan, nama saya Merlin dari petugas kesehatan anak. Kami ingin membawa Iskandar untuk diperiksa lebih lanjut di pangkalan kami.”
“Tapi dia baik-baik saja.”
“Dari data yang kami lihat, Iskandar kehilangan orang tuanya. Apa benar begitu?”
“Suami saya sedang mencarinya.”
“Baik, Ibu. Jadi apa bisa kami membawanya ke pusat medis untuk memeriksa kembali. Di sana, Iskandar bersama para petugas medis anak dengan pelayanan yang baik.”
“Kalau begitu kami akan ikut bersamanya. Saya sudah banyak kehilangan jadi saya tidak mau lagi jauh-jauh dari dia.”
Para petugas medis itu saling melirik. “Maaf Ibu, tapi tempat itu khusus menampung bayi. kalau untuk orang dewasa ada tempat tersediri.”
__ADS_1
“Kalau begitu saya tidak bisa memberikannya.”
Mak Cek Siti mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan hingga para petugas tersebut menyerah dan memutuskan pergi tanpa membawa Iskandar. Bayi-bayi yang mereka bawa kebanyakan tidak memiliki orang tua atau sanak saudara. Mereka banyak yang sakit selama tinggal di tenda pengungsian walaupun para tentara sudah berupaya untuk memberikan perhatian lebih kepada mereka.
Di salah satu pusat kesehatan darurat, sepasang suami istri sedang berbaring dengan infus yang tertancap di tangan masing-masing. Gurat kesedihan jelas terlihat pada keduanya. Sementara ke-dua anaknya sedang berusaha melakukan berbagai cara untuk mendapat pelayanan medis yang lebih baik. Bahkan berniat memindahkan kedua orang tuanya ke luar provinsi.
Bapak Fahri berupaya menyelamatkan diri dan istri saat air laut mengejar mereka dengan berlari hingga sebuah truk melewati mereka. Truk tersebut tidak mampu melaju dengan cepat karena semua berhamburan di jalan dan situasi saat itu serba panik. Melihat truk tersebut melambat, Bapak Fahri meminta pada sang istri untuk menaiki punggungnya lalu ia mencoba meraih besi di belakang truk dan bergelantungan di belakang truk tersebut.
Kecepatan air mengalahkan segalanya, walaupun truk besar tersebut terus melaju secepat mungkin namun air laut tersebut berhasil menerjang mereka dengan segala puing dan berbagai macam lainnya.
Puing-puing yang dibawa air laut tersebut akhirnya menghantam badan beberapa orang yang bergelantung di badan truk termasuk Pak Fahri dan istri. Cinta tidak mengenal usia mungkin tepat untuk menggambarkan keadaan mereka saat itu. Di mana, Pak Fahri masih mengingat sang istri dalam keadaan genting sekalipun.
Kak Julie dan Bang Adi yang memiliki posisi di istansi pemerintah akhirnya mendapat bantuan untuk perawatan kedua orang tuanya yang terlihat tidak dalam kondisi baik-baik saja. Bapak Fahri sebagai seorang kepala sebuah instansi pemerintah langsung mendapat perawatan begitu juga dengan sang istri.
Dibalik luka di tubuh, mereka masih tetap memikirkan putra bungsu yang entah kemana rimbanya.
Beberapa kali, Ibu Murni memanggil namanya dalam tidur hingga membuat Bang Adi dan Kak Julie ikut prihatin. Sementara sang ayah justru bertanya tentang Iskandar. Akhirnya, setelah medapat perawatan yang layak, mereka berjanji untuk mencari Iskandar dan membawa pada mereka.
Setelah berupaya dan menghubungi beberapa kerabat ibunya, akhirnya Bapak Fahri dan Ibu Murni dibawa menuju kota Medan untuk mendapat perawatan yang layak serta penyembuhan untuk jiwa mereka yang ikut terguncang. Tinggallah Kak Julie dan Bang Adi yang akan mencari keponakan serta sang adik yang pergi entah kemana.
__ADS_1
Di sebuah ruang perawatan intensif rumah sakit militer, seorang wanita sedang terbaring lemah dengan alat deteksi jantung dan infur terpasang di tangan. Kepala dan beberapa bagian wajahnya masih tertutupi kain kasa. Kaki hingga tangan juga banyak terdapat luka jahitan. Ia masih belum sadar setelah melewati operasi kemarin karena kepalanya terbetur benda tumpul saat terbawa air. Kondisinya cukup kritis karena tidak langsung mendapat penanganan ketika ditemukan. Kurangnya tenaga medis dan obat-obatan membuat banyak korban tak terlayani dengan baik hingga bantuan dan relawan dari berbagai negara tiba.
Sementara Rendra masih sibuk membantu para relawan untuk mengevakuasi korban yang masih selamat di sela-sela timbunan puing dibantu alat berat. Setiap langkahnya, ia selalu berdoa untuk dapat menemukan Cut. Bekerja siang malam dengan sedikit waktu untuk beristirahat membuat beberapa dari mereka ikut tumbang dan langsung dibawa ke rumah sakit militer. Rendra masih terus mencari dengan menggantungkan harapan serta doa-doa yang terus terpanjat dalam hati pada sang pencipta.
Seorang dokter dengan postur tinggi, putih dan rambut kecokelatan dengan manik mata hazel tersebut terus memantau pasien pertamanya begitu mendarat di Aceh. Dokter Guney yang berasal dari Turki tersebut bergabung dengan Palang Merah International yang keudian mengantarnya sampai ke sini dan pasien pertamanya adalah Cut.
“Apa kakinya bisa kembali seperti semula, Dokter?” tanya salah satu asistennya dalam bahasa inggris.
“Insha Allah.”
Dokter Guney tersenyum seraya berucap, “Insha Allah.” Ia melanjutkan pemeriksaan kembali ke berbagai pasien yang dirawat di sana. Dokter muda dengan wajah tampan dan senyum menawan mungkin akan digilai oleh banyak pasien jika dalam keadaan normal. Keadaan tersebut tidak berlaku saat ini di sini.
Pasien korban gempa dan tsunami memiliki kondisi yang berbeda. Raut wajah kesedihan, trauma, rasa kehilangan, kesedihan yang sulit diungkapkan membuat banyak pasien terlihat seperti mayat hidup. Tidak jarang mereka kadang tertawa, menangis atau menjerit begitu saja. Oleh karena itu, banyak dari korban yang membutuhkan dukungan dari psikiater. Banyak jiwa dan mental yang terganggu setelah melewati bencana besar seperti tsunami.
***
__ADS_1