
Sepasang suami istri sedang terlibat pembicaraan serius. Setelah pembicaraannya tadi dengan sang ibu. Rendra berniat membicarakan hal tersebut lebih lanjut dengan sang istri. Setelah menidurkan Anugrah, keduanya sudah berada di atas ranjang.
“Bagaimana Sayang?” tanya Rendra setelah menjelaskan niatnya pada sang istri.
“Apa tidak sebaiknya kita tanyakan dulu pada Is, Bang?” tanya Cut ragu.
“Sayang, seorang anak tidak akan tahu yang terbaik untuknya. Kita sebagai orang tualah yang mengarahkan dan membimbingnya. Mungkin sekarang dia akan membenci kita tapi suatu saat nanti percayalah, dia akan berterima kasih pada kita.”
“Mama bingung, Pa.”
“Sayang, sudah berapa kali kita dipanggil ke sekolah karena dia berkelahi? Apa kamu mau sampai dia SMP bahkan hingga SMA dia akan terus begitu?”
“Lalu, apa dia tidak akan berkelahi di asrama nanti?”
“Didikan asrama beda, Sayang. Kalau kamu setuju, saya sudah menemukan asrama yang cocok untuk Iskandar. Di sana juga ada berbagai ektra kurikuler dan Papa yakin dia pasti akan berubah.” Cut menatap manik sang suami. dalam hati sebenarnya dia setuju dengan ide sang suami tapi entah mengapa ada rasa tidak rela untuknya berpisah dengan Iskandar.
Seburuk-buruknya anak, bagi seorang ibu. Dia tetaplah anak yang tidak akan tergantikan. “Bagaimana Sayang?” tanya Rendra kembali.
“Sekolahnya bagaimana?”
“Bisa urus surat pindah, Sayang.”
Dengan berat hati, Cut menyetujui ide sang suami. Selama seminggu, Iskandar masih tetap bersekolah hingga pada hari terakhir yaitu hari sabtu. Dia dikejutkan dengan ucapan perpisahan dari teman-temannya. Dia sangat terkejut bahkan hampir tidak percaya jika hari ini adalah hari terakhirnya sekolah.
Muka Iskandar merah padam. Dia marah, dadanya bergemuruh. Rendra datang menjemput ke sekolah. Setelah teman-temannya memberi ucapan perpisahan diikuti oleg wali kelasnya. Iskandar langsung pergi. Dia bahkan tidak menghiraukan panggilan sang ayah yang terus mengikutinya dari belakang.
“Is, tunggu Papa!”
Iskandar terus berjalan sampai ke gerbang. Wajahnya sangat merah dengan kepalan tangan yang terus tergepal. Dia pulang dengan berjalan kaki tanpa menghiraukan Rendra yang terus mengikuti dengan motor.
__ADS_1
Rendra sengaja menjemputnya karena tadi dia juga yang mengantar. “Ayo, naik!”
Iskandar tidak peduli. Hampir setengah jam dia berjalan kaki hingga sampai ke rumah. Iskandar masuk tanpa mengucap salam. Di pintu sudah berdiri sang ibu sambil menggendong adiknya. Ibunya tersenyum nalmun justru mendapat tatapan tajam dari sang putra.
“Kenapa Mama mau ngusir aku? Apa karena sudah ada dia?” tunjuk Iskandar penuh kebencian pada sang adik.
“Is, bicara yang sopan dengan Mama!” sela Rendra.
“Aku masih punya kakek dan nenek kan di Aceh? Telepon mereka suruh jemput aku!”
“Is, kamu?” suara Cut tercekat ditenggorokan.
“Kenapa? Benar kan aku masih punya kakek dan nenek di Aceh? Kenapa selama ini mereka tidak menghubungiku? Atau Mama memang tidak berniat mempertemukanku dengan mereka?”
“Is, jaga bicaramu!”
Rendra membentak Iskandar. “Kenapa kamu marah? Kamu bukan Papaku.”
Sebuah tamparan terdengar. Cut menampar putranya walaupun tidak terlalu keras tapi cukup melukai perasaan Iskandar saat itu.
Mata Iskandar merah. Dadanya dipenuhi emosi. “Jangan harap aku mau masuk asrama. Telepon keluargaku di Aceh. Suruh mereka menjemputku. Di sini bukan lagi rumahku. Aku tidak sudi tinggal di sini.”
Iskandar membanting pintu dengan keras. Cut sudah berurai air mata. Untuk pertama kalinya ia menampar sang putra. Orang tua Faisal memang masih hidup tapi mereka jarang menghubungi karena mereka sudah terlalu tua dan sibuk dengan cucu-cucunya yaitu anak dari Bang Adi. Ditambah saat ini. Reni kembali hamil anak ke tiga. Lambat laun kedua orang tua itu pun mulai jarang menghubungi. Selama Cut melahirkan hingga anak keduanya sudah berumur tiga tahun, kedua orang tua Faisal seperi lupa akan cucunya yang bernama Iskandar.
“Bagaimana ini, Bang?” tanya Cut seraya menenangkan Anugrah.
Rendra mengambil Anugrah dalam gendongan sang istri lalu menenangkan bocah itu. “Tetap pada rencana semula, Sayang. Biarkan dia membenci kita saat ini tapi di masa depan dia akan berterima kasih pada kita.”
Iskandar melakukan mogok makan dan tidak keluar kamar hingga hari yang dibenci akhirnya datang juga. Tepat di hari senin, Iskandar dibawa oleh Rendra dan Cut menuju sebuah pesantren terpadu di salah kabupaten sebelah. Iskandar cukup gigih tapi Rendra tidak akan meyerah begitu saja pada anak sambungnya itu. semua pakaiannya dia masukkan ke dalam tas. Perlengkapan dan lain sebagainya semua Rendra yang urus.
__ADS_1
Benci? Hanya itu kata yang bisa digambarkan oleh Iskandar pada keluarganya saat ini. Iskandar tidak mudah menyerah, dia masih tetap memberontak. Rendra menarik tangannya hingga masuk ke mobil. Pakaian yang dipakai Iskandar masih pakaian tidur. Rendra sudah menyuruhnya berganti tapi Iskandar tidak bergeming.
“Dia benar-benar keponakan Pang Sagoe.” Celutukan Rendra membuat sang istri menghadiahi tatapan tajam untuk sang suami.
Sadar dengan keadaan yang tidak kondusif, Cut menitipkan Anugrah di rumah mertuanya. Sampai di rumah Ibu Yetti, Iskandar memilih duduk diam di dalam mobil sampai Riko ikut menggoda dan tentu saja tetap tidak ada balasan.
“Nanti Om akan datang menjengukmu dengan membawa banyak makanan.” Iskandar tidak bergeming. Ibu Yetti dan Bapak Wicaksono ikut melihat melalui kaca mobil yang sengaja dibuka oleh Rendra.
“Baik-baik di sana ya, Nak. Nanti nenek dan kakek akan datang menjengukmu.”
“Tidak perlu. Jenguk saja cucumu!” jawaban ketus diberikan Iskandar pada Ibu Yetti.
“Is, kamu tidak sopan sama nenek.” Ucap Cut.
“Aku tidak punya nenek di sini.”
Mereka tidak lagi memperpanjang perdebatan. Setelah menitip Anugrah, Rendra langsung melajukan mobilnya menuju kabupate sebelah. Sepanjang perjalanan tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Iskandar. Sementara Rendra dan Cut sesekali terlibat pembicaraan ringan. Cut sendiri tidak lagi menasehati Iskandar. Dia tidak mau berdebat yang ia tahu kemana akhirnya.
Dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah pesantren yang cukup asri karena letaknya di pinggir sawah. Hamparan sawah terbentang luas di sekitar pesantren. tidak ada rumah warga di sekitar sini. Dari jalan utama mereka lalu menuju jalan yang tidak terlalu besar dan khusus menuju ke pesantren.
Konon katanya, pesantren ini khusus menampung anak-anak dengan tingkat kenakalan yang luar biasa. Di sini hanya menerima anak laki-laki sementara cabangnya yang ada di kabupaten lain menerima khusus anak perempuan. Beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Para pria berpeci dan bersarung terlihat ramah. Rendra berjabat tangan dengan mereka sementara untuk Cut, mereka hanya mengangguk kecil.
Iskandar menatap tajam ke arah pria berpeci yang ternyata para ustad sekaligus pengurus pesantren. Bagi mereka, bertemu dengan anak seperti Iskandar bukanlah hal baru. Segala prosedur pesantren sudah lebih dulu diselesaikan oleh Rendra. Jadi, hari ini mereka hanya akan mengantar Iskandar sampai ke biliknya.
Satu bilik atau kamar kecil dihuni oleh lima santri. Mereka sampai di sana dan betapa terkejutnya Cut saat melihat kondisi bilik yang akan ditinggali oleh putranya. Hanya ada kasur dan sebuah lemari kecil khas anak lajang. Ada rasa khawatir dan ragu yang menghinggapi hati Cut. Ia melihat sang suami dan Rendra hanya mengangguk pelan.
“Masuklah! Silakan berkenalan dengan teman-teman sekamarmu sekaligus akan menjadi saudaramu nanti selama di sini.” Ucap salah satu ustad.
“Selamat datang di neraka!”
__ADS_1
***