CUT

CUT
Popok...


__ADS_3

Anugrah tertegun menatap gadis di atas kursi roda yang sedang menyanyi penuh penghayatan. Teman-temannya juga terkesima tak terkecuali sepasang pengantin. Mereka menghayati setia bait lagu yang keluar dari bibir seorang gadis. Gadis yang semenjak tadi tidak bicara tapi saat ini suara merdunya mampu menyihir setiap hati penghuni ruangan tersebut.


“Gila! Suara istrimu merdu sekali, A.” celutuk salah satu teman.


Anugrah masih menatap wajah sang istri dalam posisi menyamping karena arah kursi roda Wulan yang tengah menghadap layar televisi. Sesekali, Tiara melirik ke arah Anugrah dan begitu juga sebaliknya. Ya, lagu ini sangat cocok dengan kondisi mereka saat ini. Setelah menyanyikan lagu milik Tulus itu, Wulan menyerahkan kembali mic kepada salah satu teman Anugrah.


“Hai, suaramu merdu juga. Sudah biasa nyanyi ya?”


Wulan tersenyum kecil lalu menggeleng, “Mau nyanyi di cafeku?” tawar pria itu lagi.


Ini pertama kalinya Wulan mendapatkan tawaran menyanyi. Dia memang hobi menyanyi tapi himpitan ekonomi membuatnya memilih membantu sang ibu dan bertahan dengan status penyanyi kamar mandi saja.


“A, istrimu boleh ya jadi penyanyi tamu di caféku? Aku yakin banget kalau kehadiran istrimu bakal membuat cafeku rame.”


Anugrah yang ditanya jadi bingung lalu menatap sang istri yang sedang membuang muka ke arah lain. “Maaf, gaeys. Dia masih harus menjalani pengobatan.” Hanya ini jawaban yang cukup diterima akal yang Anugrah miliki.


“Hai, cepat sembuh ya! Pintu caféku selalu terbuka untukkmu.” Ucap pria itu lagi.


Wulan hanya bisa mengangguk kecil. sekarang dia tahu kalau hobinya bisa mendatangkan uang dikemudian hari. Semangat untuk sembuh kembali membara dalam hatinya. Ia tidak akan berlama-lama untuk sembuh. Dia ingin pergi dan bercerai dari pria ini. Sudah cukup selama ini dia habiskan hidupnya di keluarga itu. Dia tidak akan menyerah lagi pada keadaan.


Selepas dari sana, mereka kembali pulang dan sepanjang perjalanan tidak seorang pun dari mereka yang bicara. Rendra sendiri memilih diam seraya memikirkan banyak hal setelah pertemuannya tadi dengan Anindita bersama sang istri.


Dita sengaja menghampiri mereka lalu menanyakan kembali soal Faisal dan hubungannya dengan sang mama. Dita masih penasaran dengan sosok Faisal hingga ia meminta Cut untuk bercerita tentang sosok yang ia yakini sebagai ayahnya.


“Aku tidak percaya jika aku adalah hasil one night stand.  Secara logika, tidak ada wanita yang mau memiliki hasil dari one night stand  dengan sembarang pria, bukan? Pria dia luar sana juga pasti memakai pengaman jika melakukan itu dengan wanita yang tidak dikenalnya. Aku pasti anak dari hasil cinta Mama dengan Papa Faisal. Mama pasti tidak tega membuangku karena aku selalu mengingatkannya dengan Papa Faisal.”


Rendra hanya mendengar saja setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu tapi pikirannya membenarkan perkataan itu. Cut tertegun saat itu dan kini dia juga meresa perkataan Dita cukup masuk akal. Dita bukan lah gadis polos dan bodoh yang percaya dengan mudah setiap perkataan ibunya. Walaupun selama ini, Papa Toni yaitu ayah dari Tiara sangat baik terhadapnya tapi dia tetap penasaran dengan sosok ayah kandungnya.


“Apa aku boleh menemui anak Tante bersama Papa Faisal?” tanya Dita saat itu.


Cut menatap sang suami, ia bingung harus menjawab apa. “Nanti Tante tanyakan dulu sama Iskandar ya!” Dita tersenyum sementara di atas panggung, Shinta begitu kesal melihat putrinya berbicara akrab dengan Cut.


“Ada apa?” tanya Toni memperhatikan Shinta seperti menahan emosi.


“Lihat itu, si Dita masih sok akrab dengan orang tua Anugrah.”


“Biarkan saja! Untuk apa saling membenci, anak-anak juga sudah saling memaafkan. Lihatlah, mereka sudah menemukan jalannya masing-masing!” Shinta diam, suaminya tidak tahu tentang apa yang  terjadi antara dia dan Cut termasuk kedatangannya ke Aceh untuk menjemput Dita kemarin.


Shinta berjanji akan membuat perhitungan dengan putrinya itu nanti setelah selesai pesta. Setiba di rumah, Bibik terlihat berjalan sambil menenteng satu plastik di tanganynya. Kepulangan mereka tepat dengan waktu kepulangan Bibik dari warung bakso langganannya.


“Lho, Bibik tidak jadi nginap di rumah temannya?” tanya Cut saat turun dari mobil.


“Tidak jadi, Buk. Saya tunggu Ibu sama Bapak pulang saja.”


“Lalu bunga-bunga itu bagaimana?” tanya Rendra.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Saya lupa. Saya tidak berani, Pak.”


Anugrah yang kebingungan langsung bertanya pada sang ayah, “Ada apa sih, Pa?”


“Tidak ada. Papa hanya penasaran dengan bunga-bungan yang Bibik beli tadi. Apa masih segar kalau dipakai besok untuk ziarah.” Rendra berkata seraya melirik Bibik sekilas. Diam-diam, Wulan memperhatikan interaksi Rendra dan Bibik yang sedang berdusta pada anak mereka.


Wulan menghentikan Bibik yang hendak ke kamarnya, “Bik, malam ini tidur di sini lagi kan?” pinta Wulan.


“Kenapa, Non?”


“T-tidak ada, senang aja kalau Bibik tidur sama aku.” Dalih Wulan sementara si Bibik sedang berjoget riang dalam hati.


“Tidak percuma mengikuti ide gila si Bapak.” Batin Bibik menatap Wulan.


“Bik, kok malam bengong? Mau ya malam ini tidur lagi sama aku?” pinta Wulan kembali. Sebenarnya hati Bibik ingin tapi mengingat misinya dari si Bapak membuat Bibik harus menolak permintaan gadis itu.


“Maaf, Non. Bukannya Bibik tidak mau tapi malam ini Bibik ingin tidur di kamar tercinta. Sudah lama, Bibik meninggalkannya dan kata orang tidak boleh meninggalkan kamar kosong terlalu lama. Nona minta Ibu saja!” Wulan menggeleng, bagaimana mungkin dia meminta wanita yang sudah ia caci maki untuk menemaninya tidur.


“Kalau tidak, kenapa tidak minta suami Non aja. Den Anugrah pasti mau.” Wulan menatap horor mendengar ide si Bibik.


“Bibik ke kamar dulu ya, Non. Oh iya, di kulkas ada bakso. Kalau Non lapar tengah malam bisa Non panaskan.” Si Bibik beranjak pergi tinggallah Wulan sendiri.


Ia segera menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Entah kenapa ia merasa aura tidak enak malam ini di kamarnya. Wulan berusaha mengingat momen-momen indah di pesta tadi untuk menyingkirkan ketakutannya.


Usahanya berhasil walaupun harus menunggu satu jam kemudian. Menjelang tengah malam, ia kembali terjaga. Usahanya untuk tidak minum banyak di tempat pesta supaya tidak terjaga di tengah malam ternyata sia-sia. Bukan hanya kebelet ke kamar mandi tapi cacing di dalam perutnya ikut berontak karena kurang asupan. Wulan tidak makan banyak saat di pesta supaya mengurangi rasa haus berlebihan.


Ia mendesah berat dan mau tidak mau harus pipis dalam popok. “Aku harus cepat pulih. Gak enak banget rasanya bergantung sama orang. Menyebalkan sekali!” gerutu Wulan seraya mengeluarkan hajatnya di dalam popok.


Rasa lega terpancar dari wajahnya. “Sungguh menjijikkan kemana-mana harus membawa najis begini.” Wulan terus menggerutu. Sekarang yang ia pikirkan adalah cara mendapatkan makanan. Ia melirik meja dan ternyata kosong.


“Kenapa tidak minta Bibik saja tadi untuk membawa makanan kemari?” Wulan  kembali menggerutu merutuki nasibnya. Sejujurnya, ia merasa takut setelah tanpa sengaja mendengar pembicaraan ayah mertuanya dengan si bibik.


“Dasar cacing tidak tahu waktu. Bisa gak sih puasa sebentar sampai besok subuh.” Ego para cacing mengalahkan ego Wulan. Ia tidak tahan lalu menarik kursi rodanya lebih dekat hingga-


Bugh…


“Awww”


Wulan menjerit kecil, ia juga mengaduh karena terjatuh ke lantai. Kursi rodanya bergeser saat Wulan hendak menaiki dan terduduklah Wulan di lantai seraya mengaduh.


“Kenapa bisa terjatuh?”


“Setan!” refleks Wulan berucap lalu mengadah hingga terlihatlah wajah Anugrah yang ikut berjongkok di depannya dalam temaramnya lampu kamar itu.


“Kamu pipis?” pertanyaan Anugrah membuat Wulan mati kutu. Egonya seperti runtuh seketika di depan pria yang paling dibencinya itu.

__ADS_1


“Kenapa diam saja, ayo aku antar ke kamar mandi.”


“Jauhkan tanganmu dariku! Jangan sok peduli, semua yang kau lakukan tidak akan membuatku memaafkanmu.”


Anugrah menghela nafasnya sesaat, “Aku tahu tapi sekarang apa kamu akan tidur dalam keadaan kotor seperti ini. Apa kamu nyaman?” Wulan tidak bisa menjawab. Sejujurnya ia sangat tidak nyaman saat ini. Ingin sekali ia merobek popok dewasa itu tapi apa daya.


“Ayo, aku antar ke kamar mandi.”


Anugrah tidak lagi menuruti perkataan Wulan, dia mengangkat Wulan ke atas kursi roda lalu mendorong kursi roda tersebut ke kamar mandi.


“Tunggu, aku mau ambil pakaian dulu.” Anugrah kembali mendorong kursi roda itu ke arah lemari.


“Jangan lihat-lihat!” ketus Wulan seraya tangannya mencari bahan dalamnya. Setelah selesai, Anugrah kembali mendorong kursi roda ke kamar mandi.


“Keluar sana!” usir Wulan. Padahal tanpa diusir pun Anugrah memang akan keluar. Dia tidak serendah itu untuk memanfaatkan kesempatan pada gadis yang sudah sah menjadi istrinya.


Walaupun kesusahan, Wulan akhirnya berhasil membuang popok bau pesing itu kemudian membasuh dengan sedikit air baru setelah itu memakai celana baru.


“Sudah siap?” tanya Anugrah dari balik kamar mandi.


“Em,”


“Sudah apa belum?” tanya Anugrah lagi.


“Sudah!” ketus Wulan.


Anugrah kembali masuk lalu mengangkat Wulan dari atas closet dan mendudukkannya di atas kursi roda. Jangan tanya bagaimana tubuh Wulan bereaksi saat keduanya kembali beradu dalam jarak yang sangat dekat. Ini adalah kali keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat seperti kejadian sebelumya dimana Anugrah mengangkatnya saat terjatuh tadi.


Anugrah menghentikan kursi roda di dekat ranjang. Ia hendak membantu Wulan untuk turun tapi sebelah tangan Wulan terangkat ke atas.


Anugrah mengerti lalu dia memilih keluar dari kamar. Kakinya terus melangkah menuju dapur, sudah menjadi kebiasaan jika ia kesulitan tidur maka ia akan mencari sesuatu di kulkas untuk menemaninya sampai tertidur kembali.


Anugrah sedikit terlonjak saat menutup kulkas ternyata Wulan sudah berada di sana. Wulan tidak bicara, ia menatap Anugrah sekilas lalu kembali mendorong kursi rodanya menuju pintu kulkas yang sudah ditutup oleh Anugrah. Wulan mencari bakso yang dibilang oleh Bibi tadi dan –


“Ketemu!”


Wulan mengeluarkan plastik bakso lalu membawanya ke atas meja, Ia menatap ke arah kompor bingung. Anugrah yang tadinya sudah meninggalkan dapur ternyata kembali dan langsung menghidupkan kompor. Ia mengambil panci lalu tanpa tanpa kata ia mengambil plastik berisi kuah bakso dan memasukkannya ke dalam panci.


Wulan hanya melihat semua yang Anugrah buat, ia tidak bisa berkata apa-apa. Sebuah mangkuk berisi kuah, mie dan bakso sudah tersaji ke depan Wulan lengkap dengan garpu dan sendok. Caba, saus dan kecap juga tersaji lengkap di sana. Anugrah juga meletakkan sebuah gelas berisi air di sana lalu ia meninggalkan Wulan sendiri di sana.


“Jangan harap aku akan memaafkanmu!”


“Aku tahu.”


***

__ADS_1


Sorry gaeys...telat....


__ADS_2