
Keesokan harinya mereka berangkat menuju Desa Wengi kembali tapi sebelum itu mereka akan singgah di kecamatan untuk membereskan barang-barang keperluan selama dua minggu kedepan.
“Selamat pagi, Pak.” sapa para mahasiswa.
“Pagi, saya naik di mana?” tanya Iskandar pada Dodik.
“Sama saya saja, Pak.” Dodik membuka pintu mobilnya.
“Em, baiklah.” Sepanjang perjalanan, Iskandar terus memikirkan mimpinya tadi malam.
Ari yang tidur satu kamar dengannya ikut panik saat mendengar Iskandar berbicara lalu berteriak dalam tidur. “Selama kita tidur bersama, baru kali ini kamu bermimpi sampai keringatmu bercucuran begini.” Ucap Ari di depan teman-temannya yang ikut melihat kondisi Iskandar.
Setelah salat, berzikir dan mengaji. Iskandar belum bisa melupakan mimpinya tersebut. Badannya juga terasa panas tapi dia tidak demam. Mimpinya terlalu buruk untuk diceritakan hingga ia pendam sendiri.
"Bagaimana tidur kalian tadi malam?”
“Nyenyak, Pak.”
“Kenapa, Pak?” tanya Aisyah di jok belakang memberanikan diri.
“Tidak ada.” Iskandar tidak mungkin juga bercerita tentang mimpinya pada mereka. Dodik bisa berbelok tiba-tiba jika tahu betapa buruknya mimpi itu.
“Bapak baik-baik saja?” tanya Aisyah ragu.
“B-Baik.” Bohong Iskandar.
“Saya cerita ke orang tua tentang piring Bapak yang pecah saat dibaca doa. Papa saya bilang, kemungkinan itu ada sesuatu yang buruk di dalam sana.” ujar Aisyah.
Iskandar tiba-tiba tertarik dengan yang Aisyah katakan. “Sejak kapan Papa kamu jadi alih profesi jadi dukun, Ai?” tanya Dewi.
Aisyah tersenyum kecil, “Papa aku kan sering ke daerah-daerah terpencil dulu makanya tahu berbagai cerita begitu.”
“Papa kamu kerja apa, Ai?” tanya Dodik penasaran.
“Dokter, Pak Ketua. Orang tua Aisyah ini dua-duanya dokter.”
“Ouh…” sahut Dodik kemudian kembali fokus mengemudi.
“Maaf, Pak kalau saya lancang bertanya. Bapak ada merasa berat? Papa saya bilang kalau tubuh terasa berat padahal kita tidak melakukan apa pun bisa jadi ada yang mengikuti. Saya lihat Bapak hari ini berbeda. Saya takutnya Bapak memang diikuti.”
Sontak, Dewi dan Dodik yang berada dalam satu mobil melirik Iskandar. “Benar, Pak?” Dodik berusaha memastikan.
Iskandar diam dan itu sudah cukup untuk jadi jawaban bagi mereka. “Kalian jangan bilang apa-apa sama yang lain. Saya tidak mau ada kegaduhan.”
“Apa yang terjadi, Pak?” Akhirnya, Iskandar bercerita tentang mimpi buruknya pada mereka bertiga karena terlanjur ketahuan.
“Mungkin ada yang suka sama Bapak di sana.” celutukan Aisyah kembali terdengar dan entah kenapa walaupun malu-malu, dia merasa harus bicara dengan sang dosen.
“Ingat ya, ini hanya antara kita saja!”
“Iya, Pak. Kami ngerti kok.” Sahut Dewi.
Mereka tiba di Koramil kecamatan. Pak Hasyim menyambut mereka lalu mengantar menuju ruangan yang akan mereka gunakan untuk menginap selama mengikuti kegiatan KKN. “Kalau perlu apa-apa, bilang saja, ya!” Iskandar mengangguk.
Para mahasiswa memasukkan barang masing-masing. Mereka juga membawa kompor, tabung gas dan bahan pokok lainnya untuk dua minggu ke depan. Aisyah menghampiri Iskandar yang sedang membaca surat yasin di depan mess.
__ADS_1
“Pak, ini!” lirih Aisyah memberikan beberapa lembar daun sirsak. Iskandar mengerutkan keningnya menatap daun sirsak di tangan Aisyah lalu menatap gadis di depannya yang tengah menunduk.
“Coba Bapak remas-remas sampai keluar airnya lalu basuh ditengkuk Bapak. Usaha itu wajib dibarengi doa, bukan?”
“Terima kasih.”
Aisyah hendak memutar badannya tapi Iskandar kembali memanggil, “Ini tinggal saya remas sampai keluar airnya kan?” Aisyah mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Iskandar bersama daun sirsak di tangannya.
Dengan membaca kalimat basmallah, Iskandar memolehkan air remasan daun sirsak di tengkuknya. Ia terus berdoa dengan hati yang lapang penuh permohonan pada sang Rabbi yang maha mengetahui lagi maha mengobati segala macam penyakit. Bibirnya terus berucap shalawat dan zikir hingga secara perlahan dengan izin Allah, tubuh yang tadinya berat mulai ringan. Keringatnya mulai bercucuran kembali disekitar pelipis dan dadanya.
“Pak, ini di minum dulu.” Aisyah kembali datang membawa segelas air hangat.
Tanpa banyak bertanya, Iskandar langsung meminum air tersebut sampai tandas. “Terima kasih, Aisyah.” Ucap Iskandar menatap sekilas gadis yang sang menunduk itu.
“Sama-sama, Pak.” balas Aisyah lalu mengadahkan tangannya pada Iskandar.
“Gelasnya, Pak.”
“Oh, iya. Maaf.” Iskandar gelagapan sendiri.
Sepeninggalan Aisyah, Dodik menghampiri Iskandar yang tengah membaca surat-surat penangkal dari gangguan jin dan setan.
“Bapak baik-baik saja? Sudah pakai daun sirsak yang Aisyah kasih?” Iskandar menghentikan bacaannya lalu menatap Dodik.
“Saya yang petik karena dia tidak sampai. Pohonnya cukup tinggi.”
“Terima kasih.”
Setelah menyiapkan makan malam, mereka serentak mengundang bapak-bapak koramil untuk bergabung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menginzinkan mereka tingga di sana. Setelah makan malam dan salat berjamaah, mereka sepakat untuk mendiskusikan kembali rangkaian kegiatan selama di sana.
Malam kian larut, semua sudah mengambil posisi masing-masing begitu juga dengan Iskandar. Dia memilih tidur di salah satu kamar di rumah dinas Pak Hasyim yang bersebelahan dengan kantor koramil.
Iskandar kembali terjaga tapi kali ini dia tidak sampai berbicara dalam tidur. Hanya dadanya saja yang naik turun saat mengingat bagaimana penampakan gadis berkembem itu berubah menjadi nenek-nenek menyeramkan.
Azan subuh mulai terdengar sayup-sayup dari arah mesjid yang tidak jauh dari kantor koramil. Iskandar bangun untuk mandi dan membangunkan para mahasiswanya. Saat hendak menuju mess, Iskandar menatap satu sosok yang sudah menggunakan mukena. Sosok itu tersenyum ke arahnya, “Bapak mau ke mesjid? Saya ikut ya? Dodik sama yang lain juga ikut.” Ucap Aisyah lembut.
Tidak berselang lama, Dodik sama yang lainnya sudah keluar. Mereka berjalan pagi menuju mesjid. Pemandangan pertama yang dilihat oleh warga kecamatan di saat subuh. Baru kali ini mesjid kecamatan itu ramai saat subuh. Di dalam mesjid hanya beberapa orang sepuh yang sudah bersiap untuk melaksanakan salat. Satu orang sepuh yang hendak menjadi imam tiba-tiba memanggil Iskandar.
“Nak, jadilah imam salat selama di sini.” Pintanya lembut.
Iskandar mengiyakan lalu mereka kembali melaksanakan salat berjamaah. Beberapa orang di sekitar koramil sudah mengetahu tentang keberadaan mereka. Banyak dari warga yang senang karena mesjid mereka terlihat hidup dengan banyaknya mahasiswa yang melaksanakan salat berjamaah di sana. Sementara bagi mahasiswa terutama yang sebelumnya malam salat menjadi rajin salat setelah kejadian demi kejadian yang mereka lihat kemarin di Desa Wengi. Ada ketakutan yang mengghinggapi mereka hingga membuat mereka enggan jauh-jauh dari Pak Dosen.
Suara merdu Iskandar saat melantunkan ayat-ayat suci membuat banyak hati tersentuh hingga beberapa dari mereka ada yang mengeluarkan air matanya saat salat. Begitu juga dengan gadis cantik bernama Aisyah. Ia sangat menikmati lantunan merdua suara Dosennya hingga membuatnya ingin mengulang kembali salat berjamaah bersama. Aisyah sengaja memasang alarm dengan volume yang keras untuk membuatnya terjaga. Ia juga mengatakan hal-hal aneh pada teman-temannya supaya mereka mau pergi salat berjamaah.
“Kita mau KKN di desa Wengi, kalian yakin tidak mau berdoa meminta pertolongan sama Allah supaya dijaga dari makhluk-makhluk tak kasat mata di sana.” Sontak semua teman-temannya ikut bangun untuk mengikuti salat berjamaan.
“Segarnya udara di desa.” Celutuk Dewi ketika mereka pulang dari mesjid dengan berjalan kaki bersama.
“Jam berapa kita berangkat, Pak?” tanya Dodik.
“Setelah sarapan kita sudah bisa ke sana.” Jawab Iskandar.
Aisyah yang berada di barisan belakang ingin sekali bertanya tentang kondisi sang dosen tapi urung dilakukan karena banyak teman-temannya di sana.
Sementara itu, di Malang. Cut sedang dibuat terpana hampir tidak percaya dengan tamu yang sedang berdiri di depannya saat ini. Lidahnya seakan kelu dengan perasaan resah yang menyelimutinya. Wanita cantik di depannya ini sangat mirip dengan Faisal.
__ADS_1
“Tante ibunya Anugrah?”
Deg…
Cut gelagapan, “Apa saya boleh masuk?” tanya wanita itu lagi.
“Silakan!”
“Silakan duduk, saya buatkan minum dulu. Oh iya, mau minum apa?”
“Apa saja, Tante.”
Cut melangkahkan kakinya menuju dapur sembari memegang dadanya. “Ya Allah, apa dia benar-benar anaknya? Kenapa wajahnya sangat mirip bahkan lebih mirip dia dari pada Iskandar.” Gumam Cut lalu membawa nampan berisi dua cangkir teh menuju ruang tamu.
“Silakang diminum!” Wanita muda itu mengangguk.
Cut terus memperhatikan wajah di depannya dengan saksama. “Apa wajah saya mengingatkan Tante pada seseorang?”
Gleg…
“Saya, Anindita. Kakak dari Tiara mantan pacar Anugrah.”
Deg…
“Kamu?-“ Tenggorokan Cut seakan tercekat. Ia seperti kehilangan kata-kata.
“Ya, saya anaknya Mama Shinta tapi Papa Toni bukan Papa saya.”
“K-kamu tahu dari mana?”
“Ck, saya ini sudah dewasa, Tante. Wajah kami saja beda jauh. Selama ini saya diam bukan karena saya tidak tahu. Tepat saat saya mendengar pembicaraan Tante dengan Mama di halaman samping rumah malam itu. Saya jadi penasaran dengan rahasia kalian berdua. Saya yakin rahasia itu ada kaitannya dengan saya, bukan?”
“Kenapa tidak tanyakan pada Mamamu?”
“Saya tidak mau mendengar kebohongan, Tante. Makanya saya diam-diam ke sini menemui Tante langsung. Saya ingin tahu yang sebenarnya.”
Cut diam, ia bingung harus bicara apa pada wanita muda ini. Ia tidak mau salah mengambil keputusan. “Apa yang akan kamu lakukan kalau sudah mendapat apa yang kamu cari?”
“Saya ingin bertemu dengan Papa kandung saya jika masih hidup kalau tidak-“ Dita menjeda ucapannya seraya menatap lekat Cut. “Mungkin dengan selembar foto sudah cukup menjawab rasa penasaran saya.”
“Apa Papa kandung saya masih hidup?”
“Kamu tidak penasaran dengan hubungan saya dengan Ibu dan Papa kandungmu?” Cut bertanya balik.
“Itu masa lalu kalian. Saya hanya ingin melihat wajah Papa kandung saya.”
“Apa yang ibumu katakan selama ini? Kamu pasti menanyakannya, kan?”
Anindita menghela nafasnya menatap wanita dewasa di depannya ini. “Kenapa Tante begitu menyebalkan?”
“Jawab dulu pertanyaan saya! Apa yang ibumu katakan tentang ayah kandungmu?”
__ADS_1
***
Selamat weekend para pembaca setia...tetap bahagia...dan jaga kewarasan...🙃