
Kebahagiaan Cut telah lengkap setelah kembalinya Iskandar. Walaupun Iskandar lebih dekat dengan Rendra tapi Cut tetap bahagia. Rumah yang awalnya sepi kini telah berwarna dengan kehadiran Iskandar. Balita itu tumbuh sehat dan ceria. Kebahagian yang Rendra rasakan juga sudah lengkap. Ia tidak pernah lagi mendapati wajah sayu, mata sembab atau isakan kecil di tengah malam. Kini, wajah istrinya hanya diliputi rasa bahagia penuh senyum. Bahkan, sampai tertidur pun istrinya tetap dalam keadaan tersenyum.
Setiap hari saat pertama membuka mata, Cut akan menciumnya dengan lembut lalu mengucapakan terima kasih berulang-ulang. Rendra begitu bahagia karena perubahan istriya begitu kentara. Kebahagiaan yang sulit untuk dipendam karena terlalu besar. Hari ini mereka telah bersiap untuk berangkat ke Aceh. Setelah dua bulan akhirnya, pihak keluarga dari Aceh sudah siap menyambut kedatangan mereka. tentu saja hari ini sangat membahagiakan bagi Cut. Untuk pertama kalinya setelah menikah ia kembali ke tanah kelahirannya lagi.
Rendra menggendong Iskandar. Mereka tidak membawa banyak baju karena di sana hanya sampai satu minggu. Satu tempat selain tempat acara yang menjadi daftar utama Cut setelah sampai di sana. Sebenarnya dia juga ingin mengunjungi makam almarhum abangnya di kampung tapi suasana pasca damai masih belum menentu ditambah lagi dengan kehadiran Rendra yang pernah bertugas di sana membuat Cut enggan menyampaikan keinginannya pada sang suami.
Menjelang sore, mereka mendarat di Aceh dan langsung dijemput oleh Pak Cek Amir di bandara. Mereka semua menginap di rumah yang telah dibangun oleh Bang Adi untuk Reni. Keluarga Mak Cek Siti juga sudah berada di sana untuk menyambut kedatangan mereka. Acara resepsi akan diadakan lusa.
Keesokan harinya, Cut mengajak Rendra dan Iskandar serta Pak Cek Amir untuk mengunjungi kuburan massal tempat yang diyakini sebagai tempat dimana Abu dan Umi dikebumikan.
“Assalamualaikum, Abu, Umi. Maaf karena baru datang sekarang. Cut datang bersama Iskandar dan juga Bang Rendra. Semoga Abu dan Umi bahagia melihat Cut sekarang. Cut sudah bahagia, Abu, Umi dengan lelaki yang insya Allah tepat sesuai dengan doa dan harapan Abu dan Umi semasa hidup.”
Hampir dua jam mereka berada di sana. Lalu setelah mengakhiri doa, mereka kembali ke rumah untuk mempersiapkan berbagai keperluan untuk besok. Pesta di rumah Bang Adi kali ini benar-benar meriah karena Bang Adi yang sudah memproklamirkan diri tidak akan menikah pada akhirnya menikah juga. Bahkan tidak tanggung-tanggung, wanita yang berhasil mencuri hatinya justru datang dari tempat yang jauh.
Setiap tamu yang mengetahui tentang Bang Adi khusus datang hanya untuk melihat seperti apa wajah wanita yang telah berhasil meruntuhkan balok es di hati Bang Adi. Ibu Murni sampai memotong kambing khusus sebagai bentuk pelepasan nazarnya karena sang putra akhirnya menikah.
Di hari bahagia adiknya, Kak Juli malah terlihat fokus dengan beberapa tamu undangan yang tidak lain adalah rekan-rekan di kantornya.
“Kamu kapan, Li?”
Walaupun jengah tapi daun telinga Kak Julie berusaha tetap kuat untuk mendengar pertanyaan yang sama hampir tak terhitung lagi.
“Tunggu kuda bertelur dulu.” Jawab Kak Julie jika teman-temannya yang bertanya.
“Satu muka ruko jadi kado, boleh?” jawaban Kak Julie jika yang bertanya keluarga dekatnya.
__ADS_1
“Tunggu anak ibu duda dulu.” Jawaban untuk para tetangga biang gosip.
Bukan tidak ada yang mau dengan Kak Juli tapi posisi dia sebagai jaksa dengan seragam dinas dan penampilannya yang wah membuat para lelaki segan untuk mendekati. Ditambah dengan kecerdasannya, sulit untuk Kak Julie menemukan pendamping yang tepat sesuai dengan keinginannya.
Cut bertemu dengan banyak kerabat yang turut hadir ke pesta. Semua keluarga dekat tahu posisinya saat ini sudah berganti. Dia bukan lagi menantu di keluarga Bapak Fahri tapi justru menjadi kakak ipar untuk Adi.
“Dunia memang aneh ya? Dulu Adi jadi abang iparmu sekarang malah kebalikannya.” Ucap salah satu keluarga.
Cut menanggapinya hanya dengan senyum. Kenyataan memang seperti yang mereka ucapkan tidak ada yang perlu disanggah.
“Kami dengar kamu tidak bisa hamil lagi ya? Coba berobat ke tukang urut. Siapa tahu kmu bisa hamil lagi.” Saran dari salah seorang kerabat yang lain.
“Benar itu. anak saya juga gitu dulu. Dokter bilang dia sulit hamil. Terus saya suruh berobat kampung eh ternyata, 3 bulan berobat dia sudah hamil.” Lanjut kerabat yang lain.
“Iya, Nak. Kasihan suami kamu masih muda. Dia juga pasti ingin punya anak sendiri. Keluarganya juga pasti menginginkan cucu darinya. Apa kamu tidak kasihan pada suamimu?” tukas yang lain.
Cut hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana dia sanggup menghadapi begitu banyak suara sumbang yang terus menggrogoti dirinya seperti rayap menggrogoti kayu. Dia butuh udara untuk segar untuk menyeimbangkan dirinya kembali. Berbagai nasehat itu kembali terdengar dari berbagai mulut hingga suara itu terhenti karena kedatangan Rendra.
Rendra selalu datang di saat yang tepat. Ia tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya lebih lama jika Rendra tidak datang membantunya.
“Ibu-ibu, saya bawa Cut sebentar ya.”
Rendra merangkul bahu sang istri lalu mengajaknya pergi meninggalkan segerombolan wanita paruh baya yang memiliki mulut lebih tajam dari peluru.
“Jangan pikirkan apa kata mereka! Hidup kita, kita yang tentukan.”
__ADS_1
“Tapi yang mereka katakan ada benarnya. Bukankah kita diharuskan untuk berusaha? Apa salahnya kita mencoba siapa tahu Mama masih bisa hamil, Pa.”
Rendra menatap lekat sang istri. Di bawah tenda keduanya duduk berhadapan. Untuk pertama kalinya, Cut mengucapkan hal yang tidak pernah mereka bicarakan selama ini.
“Pa-“
Cut kembali memanggil suaminya. Selama keberadaan Iskandar dalam hidup mereka. Panggilan keduanya telah berubah karena Iskandar yang cepat sekali menangkap setiap kata-kata yang ia denagr. Untuk melatih Iskandar, maka mereka sepakat untuk mengganti panggilan jadi ‘Mama’ dan ‘Papa’
“Sayang, selama ini rumah tangga kita baik-baik saja. Jadi jangann mengundang perkara yang akan membuat kita saling berselisih seperti ini.” Rendra mulai menasehati dengan lembut.
“Apa Abang tidak mau memiliki anak sendiri? Mama senang karena Papa mau menganggap Iskandar sebagai anak sendiri tapi Mama juga mau mengandung anak Papa.”
“Sayang, udaranya panas sekali. Tolong ambilkan minum, ya?”
Akhirnya, Rendra menyerah. Dia tidak bisa melanjutkan perdebatan ini. Mereka kemari untuk menghadiri acara resepsi adiknya.
“Ya Allah, jauhkan segala masalah dalam kehidupan rumah tangga kami.”
Di saat Cut sedang mengambil minum untuk sang suami. Seorang kerabat tiba-tiba mendekatinya.
“Saya masih menyimpan obat dan doa-doa yang dulu diamalkan sama si Nur sebelum dia hamil. Apa kamu mau?”
***
__ADS_1