
Kata-kata penuh emosi yang Cut ungkapkan ternyata mengundang masalah baru untuk Cut. Kesal dan emosi karena cibiran yang didapat di dunia maya membuat Risma sakit hati hingga menaruh kebencian pada Cut. Alhasil, Risma menemui mantan ibu mertuanya lalu menceritakan perihal masalahnya pada Ibu Yetti.
Playing victim itulah peran yang Risma mainkan. Tentu saja tindakannya mendapat respon yang baik dari Ibu Yetti yang memang selama ini masih berhubungan baik dengan mantan menantunya walaupun Risma pernah mengkhianati putra mereka. Hubungan baik antara kedua orang tua mereka juga menjadi salah satu penyebab kenapa sampai saat ini Risma masih diterima dengan baik di sana.
Keesokan harinya, Ibu Yetti sudah sampai di kediaman Cut jam sembilan pagi. Ibu Yetti langsung masuk dan duduk di ruang tamu dengan wajah tidak bersahabat.
“Mau minum, Ma?” tanya Cut sedikit bingung karena melihat ibu mertuanya yang terlihat berbeda hari ini.
“Duduk! Mama mau bicara.”
“Ada apa dengan kamu? Risma sudah menceritakan semuanya pada Mama kemarin. Mereka hanya berteman dan kenapa kamu meminta Rendra menjauhi Risma?”
Cut tidak menyangka jika mertuanya akan bersikap seketus ini hanya gara-gara Risma. Permasalahannya dengan sang suami belum tuntas harus ditambah lagi dengan kedatangan ibu mertuanya sepagi ini.
Setelah menjawab telepon dari Risma, Rendra sedikit keberatan dengan kata-kata yang Cut ucapkan untuk mantan istrinya. Karena menurut Rendra, Risma tidak pernah menggodanya selama ini. Mereka murni berteman tapi respon yang Cut berikan terlalu berlebihan menurut Rendra. Alhasil, hubungan yang harusnya mulai baik malah kembali menegang bahkan sampai pagi tadi saat Rendra berangkat kerja, Cut sama sekali tidak mengucap satu patah kata pun. Cut sangat kesal karena Rendra membela perempuan itu dan membuatnya seperti seorang wanita yang tidak punya hati.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin menjelaskan apa-apa pada Mama?”
Cut tersentak saat sang ibu menaikkan satu oktaf suaranya. “S-saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar, Ma.” Lirih Cut.
“Kamu cemburu? Ya tuhan, mereka sudah saling kenal bahkan sebelum Rendra mengenal kamu. Dan apa yang membuat kamu cemburu? Risma hanya meminta Rendra untuk membantunya tidak lebih. Kalau ada temanmu yang meminta tolong, apa kamu juga akan membiarkannya?”
“Ma, pertolongan yang Bang Rendra berikan itu tidak wajar. Bahkan ibu-ibu persit yang melihat foto-foto mereka ikut bergunjing. Apa salah jika Cut menjaga marwah suami?”
“Apa Mama juga akan membiarkan jika Papa berbuat begitu untuk menolong teman wanitanya?”
“Cut!!! Kamu mulai kurang ajar sama Mama? Di mana adab kamu sebagai menantu?”
“Ma-“
Ibu Yetti mengangkat sebelah tangannya ke udara. “Saya baru sadar jika sikap tantrum dan urakan Iskandar ternyata turun dari kamu.”
Ibu Yetti pergi meninggalkan rumah tersebut dengan emosi yang membuncah. Ia membuka tasnya lalu menelepon seseorang.
“Pulang kerja mampir ke rumah Mama dulu. Penting!”
Tut…
Belum sempat Rendra bertanya, ibunya sudah mengakhiri terlebih dahulu. Menjelang magrib, Rendra mengendarai mobil menuju rumah ibunya. Sementara Cut hanya bisa menangis di rumahnya saat mengingat pertengakaran tadi pagi dengan sang mertua. Untuk pertama kalinya ia berdebat dengan mertuanya sampai memicu rasa benci dari mulut sang mertua. Ia merutuki mulut dan emosinya yang sulit dikendalikan saat itu.
Cut masih saja terus menangis terlebih foto-foto yang menampilkan sang suami dengan mantan istrinya masih terus terpajang di akun Risma.
__ADS_1
“Salat dulu, setelah makan malam kita bicara.” Ucap Ibu Yetti pada sang putra yang baru memasuki rumah.
Setelah menyelesaikan salat magrib dan makan malam, Ibu Yetti langsung mengajak sang putra untuk duduk di ruang keluarga.
“Seumur hidup Mama belum pernah merasa sesakit ini diperlakukan oleh menantu. Bahkan, Risma yang sudah mengkhianati kamu saja tetap memperlakukan Mama dengan baik. Tapi, tadi pagi Mama ke rumah kamu untuk bicara sama Cut tentang Risma. Dia malah marah-marah sama Mama. Apa Mama salah jika meminta dia untuk tidak bersikap berlebihan dalam urusan kamu dan Risma?”
Rendra hanya bisa menghela nafasnya. “Dari mana Mama tahu?” tanyanya pada sang ibu.
“Risma kemari lalu menceritakan perihal kalian yang sedang bermain peran di akun sosial media miliknya. Tapi saat istrimu tahu, kamu langsung menghapus foto-foto itu tanpa memberitahukan dia terlebih dahulu. Alhasil, dia mendapat olokan dari teman-temannya. Dan dia dituduh sebagai perebut suami orang.”
“Risma sangat sedih dan terguncang apalagi beberapa orang kantor di tempatnya yang baru juga ada di sana. Dia sangat malu sampai ingin mengundurkan diri dari Bank tersebut gara-gara ini. Apa kamu tidak mempunyai solusi untuk membantu Risma?”
“Ma, Rendra juga bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, Cut istri Rendra dan wajar jika dia cemburu saat melihat foto-foto kami yang sedang berbulan madu dulu. Dan Rendra juga malu karena istri-istri anggota ada juga yang melihat foto itu. Rendra tidak mau sampai masalah ini meluas dan membuat Rendra dipanggil ke kantor, Ma. Lebih baik jika Mama katakan pada Risma untuk menutup akun media sosialnya. Tidak perlu bermain di sana lagi kalau dia tidak tahan diolok.”
“Ma, yang dikatakan Rendra itu benar. Dia itu aparat negara, masalah seperti ini bisa mencoreng nama dan harga dirinya. Lebih baik Mama bicara sama Risma, Papa tidak mau kalau Rendra harus menerima hukuman dari kantor gara-gara hal seperti ini.”
Ibu Yetti terdiam, suara sang suami bagaikan titah yang sulit untuk dibantah. “Pulanglah, selesaikan ini baik-baik dengan istrimu! Ingat, saat ini siapa istrimu. Jangan terlalu dekat dengan Risma. Masa lalu tinggal masa lalu tidak akan menjadi masa depan kecuali kamu mau jatuh ke lubang yang sama lagi.”
Rendra berpamitan pada kedua orang tuanya lalu melajukan mobil menuju kediamannya. Raganya sudah lelah ditambah dengan masalah ini semakin menambah kelelahannya.
Tiba di rumah, lampu rumah sudah padam. Rendra bingung karena tidak biasanya lampu depan mati. Dia langsung membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Lampu di dalam rumah juga mati. Hanya lampu kamar yang sedikit temaram masih menyala.
“Sayang,”
“Maafkan, Abang.”
Rendra mengecup kening sang istri sekilas lalu pergi ke kamar mandi. Dia membersihkan diri lalu berganti pakaian. Rendra menaiki ranjang lalu memiringkan tubuhnya memeluk sang istri. Entah aa yang terjadi, apakah Cut kelelahan karena menangis atau ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
Mereka terlelap dalam keadaan saling berpelukan. Sampai suara azan subuh menyadarkan Cut yang terbiasa bangun pagi.
“Eh,” Cut terkejut saat tangan sang suami memeluk pinggangnya.
Cut melepaskan pelukan tangan sang suami lalu berbalik menghadap sang suami yang masih terpejam. Sebelah tangannya menyusuri garis wajah sang suami yang terlihat masih sama seperti sebelum mereka menikah.
“Apa kamu masih menyimpan rasa untuk mantan istrimu? Ibumu saja sampai segitu membelanya dari pada aku yang menantunya. Apa ibumu memang tidak menyukaiku? Jika kamu masih menyimpan rasa untuknya, maka aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan melepasmu, Bang. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang mantan istri dan masamnya muka mertua.” Batinnya.
Hari yang cerah tidak serta merta membuat penduduk bumi juga ikut merasakan hal yang sama. Wajah Cut redup, muram berbeda dari biasanya.
“Sayang, tolong kancingi.”
“Sayang, tolong ini.”
__ADS_1
Dan beberapa permintaan lainnya yang sengaja Rendra pinta untuk membuat sang istri berbicara dengannya. Tapi sayang, Cut masih betah dengan diamnya walaupun ia melakukan semua yang suaminya minta.
“Sayang, cium!” pinta Rendra setelah Cut mengencingi seragamnya.
Cut menatap sang suami yang sedang tersenyum nakal padanya. “Nanti malam saya mau bicara sama Abang.” Rendra terpaku dengan sederet pertanyaan dibenaknya. Setelah kepergian Rendra, Cut kembali melakukan rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. sesekali ia menyeka air matanya karena menangisi pernikahannya yang tidak jelas kemana arah tujuan.
“Aku harus kuat dan siap dengan segala kemungkinan terburuk. Tenanglah hati, bukankah kamu sudah pernah mengalaminya dulu. Semoga kali ini kamu kebal dan kuat. Kita sendiri di negeri orang, hati. Maka, kuatlah!” Cut berkata sambil menyeka air matanya.
Di kantor, Rendra terlihat tidak tenang. Dia memikirkan perkataan sang istri tadi pagi.
Puk…
“Ada apa?” tanya Wahyu menghampiri.
“Apa api yang lagi kamu mainkan sudah mulai menyebar dan sulit dipandamkan?” Rendra menatap sahabatnya lekat.
“Istriku memperlihatkannya semalam. Aku tidak menyangka kalian masih-“
“Yu, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Lihatlah, bahkan kami tidak bersentuhan langsung.” Kilah Rendra.
“Tapi satu hal yang pasti, kamu sudah melukai harga diri istrimu. Istriku cerita jika kemarin istrimu menjadi gunjingan para ibu-ibu persit lantaran foto-foto kamu dan Risma.”
Rendra semakin terpojok dan merasa bersalah dengan penuturan Wahyu. “Aku tidak habis pikir, kenapa kamu sampai menuruti keinginan Risma? Apa kamu masih memiliki perasaan sama dia?” tanya Wahyu kembali.
Ting…
Suara pemberitahuan pesan dari Risma di akun media sosialnya kembali muncul. “Ren, kamu tidak terlihat seperti laki-laki.”
Wahyu meninggalkan sahabatnya begitu saja. Sejujurnya, ia bosan dan jengah melihat Rendra yang kembali terjebak masa lalu. Padahal, masa lalu itu sudah pernah menyakitinya.
“Ren, gimana? Apa kamu mau bantu aku klarifikasi di akunku?”
“Klarifikasi apa?” balas Rendra.
“Kamu bilang saja kalau aku bukan perebut suami orang dan hubungan kita baik-baik saja. Soal kamu menghapus foto, kamu bilang saja kalau kamu tidak suka memperlihatkan kemesraan di dunia maya. Bisa kan Ren?”
“Maaf, Ris. Aku tidak bisa membantumu lagi. Kamu bisa minta tolong sama teman-teman laki-lakimu yang lain. Dan tolong hapus foto-fotoku saat kita bersama dulu. Aku tidak mau menyakiti hati Cut gara-gara melihat foto itu.”
“…”
Risma tidak membalas lagi. Sementara Rendra segera menyelesaikan tugasnya untuk dapat pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri untuk meminta maaf. Ia bahkan mengirim pesan romantis untuk Cut.
__ADS_1
“Sayang, maaf karena Abang bodoh mengiyakan permintan Risma. Tapi kamu ingat kan janji Abang saat kita menikah? Jangan pernah melakukan kesalahan yang pernah dilakukan pasangan sebelumnya. Abang tidak mau kehilangan kamu, Sayang. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidup Abang. Bahkan bermimpi pun jangan! Karena kamu tidak akan pernah Abang lepaskan.”
***