CUT

CUT
Bicara...


__ADS_3

Dua hari berselang, Pak Cek Amir beserta istri kembali menjenguk Ridwan di rumah sakit. Ridwan adalah anak yang rajin serta ulet dalam bekerja. Ia sudah lama bekerja bersama Pak Cek Amir. Keluarganya bukan orang berada. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak dan ibunya berjualan kue setiap pagi.


 


Ridwan mulai bekerja setelah lulus SMP. Ia tidak lagi melanjutkan sekolah karena faktor biaya. Alasannya saat itu sangat unik. Menurutnya, sekolah tidak memberikannya uang. Sementara yang ia butuh kan adalah uang. Jadi dia memilih mencari pekerjaan.


 


Dan yang lebih unik lagi karena dia mengambil contoh dari orang Cina yang berada di Banda Aceh. “Orang Cina di sini tidak ada yang sekolah tinggi-tinggi tapi mereka semua kaya-kaya.”


 


“Kamu terlalu banyak makan mi jadinya pikiran kamu sama kayak mereka.” Ucap Pak Cek Amir saat itu.


 


“Apa hubungannya mi dengan orang Cina?”


 


“Karena mi berasal dari Cina. Kamu lihat mereka makan menggunakan lidi? Karena yang mereka makan itu mi, dan mi lebih mudah dimakan dengan lidi. Coba mereka makan beulacan  seperti kita pasti tidak bisa.”


 


“Jadi bagaimana? Saya boleh tidak kerja sama Pak Wa?” tanya Ridwan.


 


“Ya sudah, kalau kamu mau besok pagi-pagi langsung datang kemari. Dan jangan panggil saya Pak Wa. Apa saya setua itu di mata kamu? Panggil saja Pak Cek. Sepertinya kamu sebaya dengan keponakan saya di kampung.”


 


“Keponakan Pak Cek perempuan?”


 


“Kalau iya kenapa?”


 


“Siapa tahu berjodoh sama saya.” Seloroh Ridwan kemudian pamit pulang.


 


Beberapa tentara dan polisi juga sudah menemuinya untuk menanyakan tentang kronologi kejadian. Sepertinya memang tidak ada petunjuk apa pun.


 


“Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa masih terasa sakit?” tanya Pak Cek Amir.


 

__ADS_1


“Kadang-kadang masih terasa perih sedikit. Pak Cek tidak berjualan?”


 


“Pak Cek tidak bisa berjualan kalau tidak ada kamu. Penggemar kamu terlalu banyak, Pak Cek tidak sanggup menghadapi sendirian.” gurau Mak Cek.


 


“Setengah hari saja. Lepas siang sudah Pak Cek tutup. Toko sepi tidak ada radio rusak.” Seloroh Pak Cek.


 


“Wan, kamu yakin tidak punya masalah sama orang? Kamu bisa cerita ke kami jika kamu takut cerita ke polisi.” Kali ini raut wajah serius jelas terlihat dari wajah Pak Cek.


 


“Benar, Pak Cek. Hidup Ridwan sehari-hari di dekat Pak Cek. Semua yang Ridwan kerjakan Pak Cek juga lihat. Siangnya juga Ridwan selalu di warung kopi si agus. Tutup toko langsung pulang ke rumah. Sampai rumah, mandi terus tidur atau golek-golek di kamar. Habis magrib kadang keluar ke warung kopi terus pulang, tidur. Besok pagi berangkat lagi ke toko. Kapan Ridwan buat masalah sama orang?”


 


“Iya juga ya. Mungkin masalah perempuan. Apa kamu suka pacar orang atau istri orang?” tanya mamak Ridwan.


 


“Ya ampun, Mak. Ridwan ini anak saleh calon penghuni surga. Satu-satunya gadis yang Ridwan suka itu cuma Cut. Keponakan Pak Cek Amir.”


 


 


Ridwan langsung menutup kedua mulutnya dengan tangan. Kedua orang tuanya hanya bisa menghela nafas.


 


“Kamu menyukai Cut?” tanya Mak Cek.


 


“Sejak kapan?” sambung Pak Cek.


 


“Ya ampun. Suami istri ini kalau urusan begini kompak sekali.” Ridwan menyesali ucapannya di depan kedua bosnya.


 


Bos dan istrinya memang terkenal suka menjodohkan orang. Semua orang di pasar mengetahui itu bahkan Abu sendiri tahu jika adiknya adalah orang yang suka menjodoh-jodohkan orang lain. Banyak yang berhasil dari usaha mereka. Sehingga julukan tukang cah rauh  melekat pada keduanya.


 


“Jadi kamu benar-benar menyukai Cut?” tanya Pak Cek Amir kembali.

__ADS_1


 


“Iya, Ridwan juga sudah mengatakan pada Abu. Tapi Abu bilang untuk tidak menunggu Cut. Karena kondisinya tidak tahu kapan akan sembuh. Abu menyuruh Ridwan untuk meminta sama Pak Cek supaya dicarikan calon istri.”


 


“Boleh. Dengan senang hati kami akan mencari yang terbaik untuk kamu. Tapi, kapan kamu bilang sama Abu? Berani juga kamu melamar anak orang secara langsung sama bapaknya.” sela Mak Cek Siti.


 


“Urusan jodoh nanti saja kalau kamu sudah sembuh. Ada yang lebih penting dari jodoh. Apa kamu mengenal atau sempat melihat wajah orang yang menembak kamu? Dokter bilang sasaran tembakannya mungkin ke dada kamu seperti almarhum Razi tapi ini justru melesat. Bagaimana ceritanya?” semua orang di ruangan diam menanti jawaban Ridwan.


 


“Saat itu, Ridwan pulang seperti biasa selepas menutup toko. Ridwan berhenti di depan kios dekat jalan untuk membeli rokok. Setelah membakar rokok, Ridwan hendak menaiki sepeda kembali tiba-tiba Ridwan dipanggil sama pemilik kios buat karena lupa mengambil uang kembalian. Saat itulah Ridwan mendengar suara tembakan serta rasa sakit di lengan tepat saat Ridwan hendak berbalik ke arah kios. Setelah itu Ridwan tidak tahu lagi.”


 


“Allah masih melindungi kamu sehingga tujuan penjahat itu tidak tercapai. Tidak seperti Razi.” Ucap Mak Cek Siti.


 


“Jangan begitu, Ma. Razi sudah bahagia di sana. Jika sudah ajal, setiap manusia pasti akan mati. Tepat atau tidak waktunya menurut kita. Tapi semua itu sudah tertulis bahkan sebelum kita lahir. Yang bisa kita lakukan adalah ikhlas. Semua sudah takdir Allah. Tidak ada satu manusia pun yang bisa melawan takdir-Nya. Takdir Ridwan mungkin berkata lain.” Nasehat Pak Cek Amir untuk sang istri.


 


“Tapi, Wan. Pak Cek benar-benar penasaran dengan kejadian kamu dan Razi. Jika Razi mungkin ada masalah yang kami tidak tahu. Tapi kalau kamu, rasanya sangat aneh. Hari-hari kamu selalu bersama kami. Jadi apa yang membuat kamu jadi sasaran OTK?” ucap Pak Cek Amir.


 


“Semua orang juga penasaran, Pak Cek. Bahkan polisi sama tentara juga penasaran karena Ridwan bukan anak pejabat, anak aparat juga bukan. Berhubungan dengan mereka juga tidak. Kenapa Ridwan yang ditembak. Wajah juga tidak mirip Shah Rukh Khan. Badan juga tidak seperti Salman Khan. Kenapa Ridwan yang ditembak? Apa dia salah orang?”


 


“Itu bisa jadi, Wan. Wajah kamu kan wajah pasaran.” Gurau sang kakak yang sedari tadi menyimak obrolan tidak jelas antara bos dan anak buah.


 


Sementara itu, seorang wanita dengan tatapan mata memandang jauh ke depan sedang duduk di bawah pohon rindang di halaman samping rumah sakit jiwa. Ia di temani oleh seorang psikiater yang sudah dua bulan lebih menemaninya bicara. dr. Widia Pratiwi, Sp.KJ (K) yang menangani Cut selama ini dengan penuh ketekunan dan kesabaran.


 


Banyak hal yang dibicarakan oleh dr. Widia kepada Cut. Hal-hal ringan dan mudah dimengerti. Sebagai seorang ahli dalam menghadapi pasien dengan gangguan kejiwaan. Kondisi Cut termasuk hal yang biasa terjadi di kota-kota besar. Penanganan yang tepat membuktikan jika pasien dengan gangguan jiwa seperti depresi bisa disebuhkan.


 


  


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN....

__ADS_1


yang banyak ya....


__ADS_2