CUT

CUT
Seperti Judul Novel...


__ADS_3

Di sinilah kedua pasangan itu duduk. Sebuah meja di pojokan kantin rumah sakit membuat keempat pasang mata saling menatap satu sama lain.


“Ada yang bisa menjelaskan ini?” ucap Anugrah.


“Aku tidak mau dijodohkan dengan Om-om sepertimu.” Celutuk Anggi membuat ketiga pasang mata menatapnya. Terjawab sudah kegundahan hati Aisyah.


“Jadi, gadis ini yang akan dijodohkan dengan Mas Rendra?” dokter Rendra mengedikkan bahunya mendengar pertayaan Aisyah. “Aku tidak tahu. Namamu Anggi anaknya Tante Ningsih?” tanya dokter Rendra kemudian pada gadis bercadar di depannya itu.


“Iya. Bilang sama orang tuamu untuk menolak perjodohan ini. Aku sudah menyukai pria lain dan pria itu ada di depanmu saat ini.”


“Hah….” Aisyah dan Iskandar kompak terkejut.


Aisyah menatap tajam ke arah Iskandar. “Kamu selingkuh, Mas?” kali ini Anggi dan Dokter Rendra yang terkejut.


“T-tidak. Dia adik dari sahabatku.”


“Kakak kenal dia?” tanya Anggia.


“Dia pria yang kamu cerita tadi sambil nangis bombai di ruanganku?” tanya Dokter Rendra pada Aisyah.


Iskandar dan Dokter Rendra kompak menghela nafas bersamaan lalu tersenyum. “Jadi ini bagaimana? Pertama, pria di depanku adalah calon suami dari adikku dan calon istriku menyukai calon suami adikku. Kenapa membingungkan seperti ini?” ucap Dokter Rendra seraya tergelak.


“Ai, dia kakak kamu?”


“Iya, kalau kamu mau menikahinya harus melewatiku dulu.” Ucap Dokter Rendra berlagak sebagai kakak waspada.


“Gak usah, Kak. Sama aku saja. Kakakku lebih baik dari Om-om gak laku ini.”


“Anggia, jangan berucap begitu. Itu tidak sopan.” Ucap Iskandar penuh penekanan hingga membuat Anggia menunduk ketakutan.


“Saya minta maaf untuk ucapan Anggia. Harap maklum saja, umurnya masih terlalu muda.” Ucap Iskandar bijak.


“Lalu bagaimana dengan adikku? Dia juga seorang gadis dan pasti cemburu melihat kedekatan kalian.” Dokter Rendra membela sang adik.


Lagi-lagi Iskandar menghirup nafas dalam-dalam. “Jadi ini bagaimana? Saya mendapat amanah dari orang tua Anggia untuk mempertemukannya dengan Dokter.” Ujar Iskandar lalu manik mata Dokter Rendra menatap gadis di samping calon iparnya itu.


“Sepertinya saya harus bicara sama kamu berdua, apa kita bisa pisah meja?” tanya Dokter Rendra menatap manik mata gadis bercadar di depannya.


“Kak,” rengek Anggia.


“Pergilah, Ini tempat umum. diperbolehkan bagimu untuk bertemu calon suamimu di tempat seperti ini tapi jangan buka cadarmu.”


“Sepertinya pilihan adikku tepat.” Sindir Dokter Rendra lalu beranjak pindah ke meja yang tidak jauh dari sana. Anggia mengikuti dari belakang dengan perasaan gelisah. Gadis berumur 19 tahun itu sedikit ketakutan karena jauh dari Iskandar. Dia juga baru kali ini berbicara dengan pria dewasa.


“Duduk!”


Nah, dugaan Anggia benar kan. Pria di depannya ini pasti berlagak sok dewasa dengan seenaknya memerintahkannya.


“Nama kamu Anggia Putri, umur 19 tahun?” Anggia mengangguk kecil.


“Kamu pasti sudah tahu nama dan umur saya sampai sampai kamu memanggil saya dengan sebutan om-om.”


Gleg…


Anggia semakin ketakutan hingga terus menunduk seraya menggigit bibir bawahnya di balik cadar. “Tadi kamu lantang sekali, kenapa sekarang diam?”


Dokter Rendra dengan santai menatap gadis di depannya yang terus menunduk. “Bicaralah, ini kesempatan terakhirmu sebelum perjodohan ini terjadi.”


Anggia mengangkat wajahnya lalu menatap wajah sang dokter, “Saya tidak mau mengikuti perjodohan ini. Tolong batalkan!”


“Berikan alasan terbaik dan logis untuk membatalkan perjodohan ini.”


“Pertama, saya tidak menyukai Dokter. Kedua, saya menyukai pria lain dan Dokter sudah tahu itu. Ketiga, saya tidak mau menikah sekarang. Saya masih muda dan belum siap untuk menjadi istri apalagi menjadi ibu. Membayangkan saja tidak!”

__ADS_1


“Lalu apa kamu punya ide untuk membatalkan perjodohan ini? Karena sejujurnya saya tidak punya ide sama sekali. Saya terlalu sibuk mengurus pasien hingga tidak sempat untuk memikirkan ide apa pun.”


Nah, keluar kan sifat sombongnya…


“Begini saja, buat apa saja yang menurutmu dapat membatalkan perjodohan kita. Aku ikut saja! Bagaimana? Cukup adil kan?” tawar Dokter Rendra membuat Anggia kebingungan. Bukan ini yang dia inginkan. Seharusnya dokter itu ikut menyumbang sedikit tenaga bukannya menunggu beres. Sementara dia yang harus berkerja keras sendiri.


“Mana bisa begitu. Kita yang ingin membatalkan perjodohan ini tapi kenapa saya yang bekerja sendiri? Ini tidak adil!” protes itu meluncur juga dari mulut Anggia.


Dokter Rendra tersenyum kecil, “Tidak ada kita! Yang ada hanya kamu. Yang ingin membatalkan perjodohan ini adalah kamu bukan kita.” Anggia terkesiap. Bagaimana dia bisa salah mengerti dengan perkataan pria dewasa di depannya ini.


“Dokter menyuruh saya mencari ide untuk membatalkan perjodohan ini. Itu artinya Dokter juga ingin membatalkan perjodohan kita kan?”


“Tidak, saya tidak bisa melawan kehendak orang tua saya. Kalau kamu ingin membatalkannya silakan! Saya tidak melarang.”


“Dokter kok cuci tangan begitu. Percuma saja kalau saya yang usaha sementara Dokter mau enaknya saja. Kita harus kerja sama supaya berhasil ini malah Dokter tunggu beres. Mana adil begitu.” Anggia kembali melayangkan protes.


Sementara mereka berdebat, di meja yang lain Iskandar justru sedang menggoda Aisyah yang ketahuan menangis gara-gara melihatnya berbicara dengan Anggia.


“Lain kali tanyakan dulu jangan langsung pergi begitu. Jadinya kan salah paham begini.” Ucap Iskandar.


“Lalu siapa gadis yang Mas temui di café kemarin?”


“Hem, itu calon adikku.”


Aisyah mengernyit menatap Iskandar. “Calon adik?”


“Nanti saya cerita untuk sekarang saya hanya perlu kamu percaya sama. Apa kamu bisa?” tanya Iskandar menatap manik mata gadis yang tidak lama lagi akan menjadi istrinya itu.


“Nenek dan Kakek saya ada di sini, saya ingin membawamu menemui mereka. Kapan kamu punya waktu?” Aisyah berpikir sejenak. “Kalau besok bagaimana?” tanya Iskandar lagi.


“Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?” Aisyah sedikit ragu.


Iskandar tersenyum, “Insya Allah selama niat kita baik. Allah akan mempermudahnya. Selain kakakmu, apa orang tuamu juga sudah tahu tentang saya?” Aisyah menggeleng.


“Mas bilang tidak perlu buru-buru. Jadi, saya belum memberitahukan mereka. Apa lagi mereka sedang mengurus perjodohan Kakak. Biar mereka fokus dengan itu dulu. Apa mereka tidak apa-apa? Sepertinya, gadis itu sangat menyukaimu, Mas.”


“Kenapa Mas beranggapan begitu?”


“Kenapa dia menyukai saya? Itu karena dia nyaman dengan pria dewasa. Jika dia bisa dekat dengan kakakmu, dia pasti akan merasa nyaman juga. Hanya butuh waktu.”


“Semoga saja.”


“Mana skripsimu?” todong Iskandar membuat Aisyah terkejut.


“Aku pikir kita akan menghabiskan waktu untuk bicara layaknya orang pacaran.”


“Aisyahhhhh….”


“Iya-iya.” Aisyah mengeluarkan skripsinya lalu memberikan pada Iskandar. Sementara di meja belakang, kedua anak manusia itu masih belum menemui kesepakatan hingga,-


“Perhatian kepada Dokter Rendra, Sp.N diminta ke UGD, segera!”


Rendra mengambil pulpen di saku jasnya lalu menarik tangan Anggia dan segera menulis nomer ponselnya di sana. “Hubungi saya untuk kelanjutan rencanamu!”


“Ai, Is, aku pergi dulu.” Dokter Rendra segera berlari menuju ruang UGD. Sementara Anggia masih terpaku di tempat menatap tangannya. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil tapi jantungnya tiba-tiba berdetak kencang seperti sedang lari maraton.


“Anggia, ayo pulang!”


“Dek,”


“Hah?” tepukan lembut dari tangan Aisyah menyadarkan Anggia dari lamunannya.


“Ada apa, Kak?” tanyanya pada Iskandar seperti orang kebingungan.

__ADS_1


“Ayo, pulang!”


“Ai, bisa tolong antarkan Anggia?” pinta Iskandar. Aisyah mengangguk kecil seraya tersenyum. Mereka berpisah di rumah sakit. Iskandar memilih pulang ke rumahnya. Ia ingin menemui Kakek dan Nenek.


Di rumahnya, sepasang suami istri baru terbangun jam dua siang. Mereka baru tidur setelah subuh dan terbangun dalam keadaan Wulan di atas tempat tidur dan Anugrah di lantai bawah. Suasana tampak canggung saat mereka terjaga dalam satu kamar. Kilasan tentang kejadian semalam sedikit membuat keduanya kembali ke mode hening. Memang tidak ada yang terjadi di antara mereka tapi kedekatan yang terjalin tadi malam menjadi sesuatu yang baru dan tentu saja canggung.


Anugrah bangun dari tidurnya lalu ke kamar mandi. Sementara Wulan tidak bisa berkata apa-apa hingga Anugrah menghilang di balik pintu kamar mandi. Wulan memalingkan kepalanya saat Anugrah keluar dari kamar mandi. Wulan berpikir akan melihat dada telanjang Anugrah tapi pikirannya salah. Anugrah sudah mengganti kaosnya dan memakai celana pendek di bawah lutut. Hanya rambutnya saja yang masih terlihat basah.


Wulan melihat beberapa bekas luka di lengan dan betis Anugrah. “Ayo, aku antar ke kamarmu!” Tanpa menunggu jawaban Wulan, Anugrah sudah menggendong Wulan seperti semalam lalu membawanya menuju kamar.


“Assala-mua-ala-ikum.” Ucapan salam terputus dari mulut Iskandar yang baru masuk ke dalam rumah. Pemandangan apa ini di siang hari dengan rambut sang adik yang basah.


Sementara Wulan yang berada dalam gendongan Anugrah merasa lalu dan tanpa sadar justru membenamkan wajahnya  dalam dada sang suami.


“Walaikumsalam, Kak.”


Iskandar masuk dan langsung menuju kamar kakek dan neneknya. “Sepertinya belum pulang.” gumamnya lalu melangkah kaki menuju dapur. Sedangkan di kamar Wulan, “Mau ke kamar mandi? Bibik gak ada, tadi Papa mengirim pesan kalau mereka sudah pergi ke kebun apel.”


Bukan tanpa alasan Wulan terbangun. Selain karena lapar, dia juga mau buang hajat tapi haruskan ia minta bantuan pada Anugrah? tapi sama siapa lagi dia minta bantuan, tidak mungkin sama Iskandar kan???


“Em, aku mau kemar mandi.” Lirih Wulan.


Anugrah langsung mendorong kursi roda Wulan menuju lemari, “Pilih baju gantimu!” Wulan mengambil baju ganti termasuk bahan dalamnya. Anugrah kembali mendorong kursi roda sang istri menuju kamar mandi. Ia mengambil pakaian istrinya lalu meletakkan di tempat yang mudah dijangkau. "Apa di sini sampai?” Wulan mengangguk.


Anugrah tahu apa yang istrinya pikirkan. Ia mengambil sehelai kain lalu menutupi pinggang sampai kaki. “Aku bukan bajingan yang akan mengambil keuntungan darimu. Bisa pegangan di leherku supaya ini cepat selesai?” ucap Anugrah sedikit menunduk hingga wajah keduanya berhadapan.


Secara perlahan, Wulan menautkan tangannya di leher Anugrah lalu dengan sedikit mengangkat, Anugrah berhasil menarik pakaian bawah sang istri. Kain yang sudah diikat di pinggang Wulan mampu menutupi bagian tubuh Wulan dengan sempurna. Tapi apakah Anugrah baik-baik saja?


Secara naluri laki-laki mungkin dia sedang tidak baik-baik saja tapi jika mengingat bagaimana kebencian dari Wulan terhadapnya. Maka membayangkan saja, Anugrah tidak berani. “Pakaian atas bisa kamu atasi sendiri kan?”


Wulan mengangguk, “Setelah aku keluar, tutupi kain itu sampai ke bahumu. Lalu mandilah! Panggilakan aku jika sudah selesia!”


Anugrah keluar dan menunggu Wulan di depan kamar mandi. Sambil menunggu Wulan, ia asyik berselancar di dunia maya.


“A, apa istrimu sudah berubah pikiran?” sebuah pesan dari teman SMAnya yang memiliki sebuah café.


“Belum dan kurasa bukan waktunya saat ini. Dia akan fokus ke penyembuhannya terlebih dahulu.”


“Oke, aku masih menunggunya.”


“Sip…”


“Kamu sudah siap?” suara ketukan mengejutkan Anugrah.


Ia membuka pintu dan terlihatlah Wulan yang sudah berganti baju dengan pakaian terusan hingga tidak memerlukan Anugrah untuk memakaikan pakaian bawahnya hanya saja Wulan melupakan sesuatu. Ia belum memakai kain segitiganya.


Anugrah tahu ada yang ingin Wulan sampaikan, ia juga melihat kain segutiga yang disembunyikan dalam genggamannya.


“Biar aku bantu!” Anugrah mendekat lalu kepalanya tepat berada di samping kepala Wulan hingga keduanya seperti orang berpelukan. Satu tangan Anugrah meraih benda keramat di tangan Wulan lalu mencoba mengukur dengan tengannya supaya tidak terbalik.


Jantung Wulan kembali trantrum, dadanya begitu sesak hingga harus menarik nafas dalam-dalam hingga membuat dadanya naik turun. Berkali-kali, keduanya menelan saliva dengan susah payah. Berada dalam kondisi ini membuat keduanya sangat menderita dan serba salah.


Benda segitiga itu sudah terpasang sempurna dan baju bagian belakang juga sudah dirapikan oleh Anugrah.


“Ayo, kita makan!”


Anugrah mendorong kursi roda Wulan menuju dapur. Suami istri tersebut dikejutkan dengan pemandangan menakjubkan di mana sang kakak sedang memakai appron dan dengan tangan kekarnya sedang bergelut indah di atas kompor.


“Kalian lapar kan? Si Bibik tega banget tinggalin kalian tanpa makanan. Duduklah! Sebentar lagi siap.”


“Ada angin apa, Kak?”


***

__ADS_1


Hayoooo.....kalau kalian jadi Wulan, apa yang kalian lakukan????


JANGAN SKIP IKLAN YA....TERIMA KASIH....


__ADS_2