CUT

CUT
Melati Berdarah...


__ADS_3

“Aisyah???”


Ya, gadis yang Iskandar lihat dalam mimpinya adalah Aisyah. Ia terbangun lalu menyapu pandangan di sekitarnya. Terlihat Aisyah sedang terlelap seperti yang lain dengan nyenyak dan tenang sampai Iskandar tersadar jika langit sudah gelap.


“Jam berapa ini?”


“Astagrfirullah.” Ia terkejut melihat jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Iskandar langsung membangunkan Dodik. Dan beberapa mahasiswa lain ikut terbangun entah karena suaranya atau memang sudah cukup tidur.


“Lho, Pak. Kok udah gelap?” pertanyaan yang hampir sama muncul lalu mereka memeriksa ponsel dan barulah serentak membelalakkan mata.


“Kenapa kita tertidur semua? Ini aneh.” Celutuh Dewi.


“Iya, rasanya juga baru sebentar kita tidur kenapa udah tengah malam aja?” tambah yang lain.


“Apa kita akan pulang ke kecamatan, Pak?” tanya Dewi.


“Tidak mungkin kita pulang tengah malam begini. Lebih baik berkumpul saja seperti ini sampai pagi.” Jawab Iskandar.


Sejujurnya, ia merasa khawatir dan aneh dengan kondisi saat ini. Ditambah dengan mimpi yang baru saja ia alami dan satu lagi pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah kenapa Aisyah ada dalam mimpinya?


Hujan mulai turun dengan derasnya. Suara petir bersahutan hingga terdengar ada yang berbunyi dari arah luar.


“Sepertinya ada yang tersambar petir.”


Seketika gelap…


Lampu mati dan jeritan mahasiswi terdengar semakin menegangkan para penghuni ruang kantor kepala desa itu. Mereka menghidupkan senter dari ponsel masing-masing. Iskandar panik, ia ingin menghubungi kepala koramil atau keluarganya tapi sayang, signal terganggu akibat hujan dan petir.


“Tenang, Allah selalu melindungi kita. Perbanyak zikir dan shalawat, semoga kita diselamatkan dari marabahaya.” Pinta Iskandar. Banyak panggilan masuk ataupun pesan dari keluarga masing-masing yang dikirim saat mereka tertidur tadi. Tapi sekarang sudah telat untuk membalas karena signal hilang. Di rumah masing-masing juga tidak kalah panik karena mereka tidak bisa menghubungi putra-putri yang sedang KKN di desa orang. Begitu juga dengan Rendra dan Cut. Anugrah yang mengetahui keadaan sang kakak juga ikut khawatir.


“Kalau besok masih tidak ada kabar, segera hubungi pihak kampus, Pa.” Pinta Anugrah.


“Iya, mungkin ada masalah dengan signal karena teman Papa juga tidak bisa dihubungi.”


Hujan petir serta angin kencang melanda kecamatan tersebut hingga membuat putusnya aliran listrik hingga mempengaruhi signal ponsel.


“Pak, saya kebelet.” Yuni berteriak di bawah besarnya suara hujan di atas genteng.


“Ya elah, kenapa mesti sekarang sih, Yun. Gak lihat apa situasinya seperti apa.”


“Mana bisa gue atur jadwal dia, Dewi.” Protes Yuni.

__ADS_1


“Ada yang lain? Biar sekalian perginya?” tanya Iskandar kembali.


Beberapa mahasiswa yang lain juga mengangguk. Sebenarnya, mereka sudah menahan ini dari tadi. Mereka sendiri tidak berani keluar.


“Tapi toilet di sini bau dan jorok, Pak.”


Iskandar kembali berpikir, bagaimana mencari solusi apalagi listrik mati otomatis mesin air juga tidak berfungsi.


Seraya berteriak untuk mengalahkan suara hujan, Iskandar bertanya “Apa kalian mau pakai air hujan?”


“Mau, Pak.”


“Ayo!” ajak Iskandar.


Mereka semua mengikuti sang dosen karena takut ditinggal di ruangan tersebut. Di salah satu sudut genteng, air hujan turun cukup deras dengan aliran air yang bersar seperti air terjun. Iskandar memberikan sebuah kain sarung pada mahasiswi yang ingin pipis.


“Pakai ini sampai sebahu lalu ambil ini untuk menampung air itu!”


“Kalian buat pagar dengan badan kalian supaya teman kalian tidak terlihat oleh kami.”


“Kalian balik badan!” pintanya pada para mahasiswa.


Pengalaman mengajarkan kita banyak hal begitu juga yang terjadi dengan Iskandar. Situasi darurat seperti ini bukan hal yang sulit untuk diatasi. Dari kecil dia sudah hidup mandiri di pondok jadi hal begini sudah biasa untuknya. Satu persatu dari mereka menunaikan hajatnya sampai yang terakhir adalah Aisyah.


“Ambil wudhu sekalian!” titah Iskandar.


Yang terakhir melakukannya adalah Iskandar. Di luar dugaan, Iskandar langsung berdiri di bawah guyuran hujan tersebut seperti sedang mandi di bawah shower. Iskandar tahu ada yang keluar saat ia bermimpi tadi dan untuk menghindari perasaan syak prasangka, ia memilih untuk mandi.


“Pak Is kok mandi ya?” bisik-bisik di antara para mahasiswi pun terjadi.


“Apa Pak Is mimpi basah? Kok bisa sih dalam keadaan seperti ini? Gak enak banget.” Aisyah terkejut, ia baru menyadari jika tadi ia bermimpi melihat dosennya sedang mencium ular besar. Seketika bulu kuduk Aisyah meremang mengingat mimpi itu.


Mereka melakukan salat isya kemudian mengganti salat magrib dan ashar yang tertinggal lalu melanjutkan salat tahajud dan di akhiri dengan witir. Tidak ada satu pun yang protes dengan banyaknya salat yang mereka lakukan tengah malam ini. Perasaan takut yang membuat mereka mau melaksanakan salat yang bahkan jika di suruh di lain waktu belum tentu mereka mau.


Iskandar melantunkan banyak doa disepertiga malam. Ia meminta keselamatan untuknya, para mahasiswa, keluarga serta kerabat hingga orang muslimin lainnya. Doa-doanya begitu khusuk dan di sudut hati yang lain. Aisyah juga meminta doa lain untuk dirinya sendiri.


“Ya Allah, izinkan hamba menjadi makmumnya sampai akhir hayat.”


Hujan dan petir berangsur reda tidak sederas tadi. Petir juga hanya sesekali terdengar dalam rentan waktu yang cukup lama tapi lampu belum juga menyala.


“Kalian tidur saja kalau mengantuk. Mau diskusi program juga tidak bisa karena lampu mati.” Ucap Iskandar.

__ADS_1


“Sudah kenyang tidur, Pak. Bapak gak mau lanjut tidur?”


“Tidak, saya juga kenyang tidur.”


“Pak, kenapa tadi Bapak mandi?” salah satu mahasiswa ternyata juga penasaran dengan sang dosen yang mandi tengah malam.


“Saya rasa kalian pasti tahu alasannya.” Jawab Iskandar datar.


“Pak, apa Bapak sering melakukan perjalanan jauh? Kami lihat persiapan Bapak sangat lengkap.” Tanya salah satu mahasiswi. Seumur hidup baru kali ini dia pipis menggunakan sarung dan membersihkan dengan air hujan.


“Papa saya seorang tentara. Banyak hal yang beliau ajarkan dan saya perhatikan. Bagaimana tentara menyesuaikan keadaan darurat yang bisa saja terjadi. Kebutuhan apa yang tidak boleh mereka lewatkan saat akan bertempur di medan perang atau dikirim ke daerah yang sulit. Semua sudah mereka prediksikan lebih dulu hingga saat berada di berbagai macam situasi. Mereka tidak akan kekurangan apa pun. Saya juga dari kecil sudah dibuang ke pesantren. Dari sana saya belajar hidup mandiri dengan mengandalkan otak untuk menemukan solusi dari setiap persoalan. Lama-lama ditempa kita pasti akan menjadi ahlinya di kemudian hari, kan? Begitu juga dengan saya. Setelah SMP saya melanjutkan pendidikan ke Yaman dengan bantuan beasiswa. Hidup di negara orang tidak mudah apalagi adat dan budaya mereka berbeda sekali dengan kita. Saya belajar cepat untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sana. Tiga tahun di sana saya lanjut ke Mesir. Di sana juga begitu. Selain kuliah, saya bersama teman-teman ikut berdagang Misoe, tempe dan lain-lain khas Indonesia. Yang beli sudah pasti mahasiswa dari Indonesia, Malaysia dan Brunai. Mereka yang lidahnya sama seperti kita. Tidak bisa makan roti hanya bisa makan nasi. Kalau belum makan nasi belum kenyang.”


“Dari saya tinggal di pondok waktu itu saya baru kelas empat entah lima SD sampai ke Kairo tidak pernah pulang sekalipun. Saya baru pulang setelah lulus S2 di Kairo. Begitulah tekad saya. Mama saya juga berkata supaya saya harus sukses baru saya bisa pulang dengan kepala tegak bukan menunduk. Saya fokus belajar walaupun rindu keluarga, rindu masakan ibu saya tapi semuanya saya tahan untuk sebuah kesuksesan. Saya ingin Mama saya bangga ketika saya pulang dalam keadaan sukses. Saya harap kalian juga begitu.”


Mereka semakin takjub saja dengan sang dosen. Tidak hanya mahasiswi tapi para mahasiswa juga merasa senang bersama dengan Iskandar.


“Pak, boleh tanya gak?” tanya salah satu mahasiswa yang sedang berbaring.


“Kenapa Bapak tidak seperti dosen-dosen lain? Kebanyakan dosen muda itu kalau tidak sombong ya killer. Kami diberikan mata tugas gak berhenti terus menjaga imej. Kalau disapa juga hanya mengangguk dan masih banyak lagi.”


Mereka terkekeh termasuk Iskandar. “Saya mengikuti dosen saya di mesir. Mereka adalah para profesor yang ilmunya tinggi-tinggi sekali tapi mereka sangat ramah, hangat dan penuh kasih pada mahasiswanya. Seorang pembimbing thesis saya pernah mengatakan pada saya untuk tidak menyombongkan diri dengan ilmu yang kita miliki karena ilmu itu milik Allah dan Allah tidak menyukai sifat sombong pada manusia. Yang boleh sombong itu hanya Allah karena Allah yang maha segalanya. Kita? Dikasih petir saja sudah menjerit-jerit. Makanya, mau jadi apa pun kalian ke depan, bersikaplah ramah dan hangat pada siapa saja. Bagikan ilmu yang kalian miliki tanpa pamrih karena semakin banyak kalian berbagi ilmu maka semakin banyak pula ilmu itu mendatangi kalian.”


“Pak, kriteria memilih suami yang baik seperti apa? Bagi tipsnya, Pak. sebentar lagi kan kami lulus kuliah, kamu harus banyak mengumpulkan informasi dari orang yang tepat seperti Bapak untuk menemukan suami idaman.” Celutuk Dewi.


“Panjang amat, Wie. Tanya saja dengan jujur, Bapak ada teman yang masih jomblo gak yang kayak Bapak?” sahut Dodik membuat suasana yang semula menakutkan penuh ketegangan kini berubah hangat walaupun dalam gelap. Bahkan suara tawa mereka terdengar sampai ke telinga seseorang yang sedang duduk di depan meja yang penuh dengan melati dan kuali kecil berisi darah ayam.


“Kalau itu saya tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa karena jodoh itu sifatnya fleksibel. Bagaimana kita begitulah jodoh kita. Seorang pria saleh akan mencari gadis yang saleh juga. Secara logika, coba kalian tanyakan ke diri sendiri. Jodoh seperti apa yang kalian inginkan?”


“Seperti Bapak.” Jawab Dewi cepat.


“Berarti kamu juga seperti saya makanya menginginkan orang seperti saya. Ingat, janji Allah itu pasti! Pria yang baik akan bertemu dengan wanita yang baik begitu juga sebaliknya.”


di salah satu kamar tidak jauh dari sana, seorang wanita sedang melumuri melati dengan darah ayam sambil berkomat-kamit.


“Kamu akan jadi milikku, Mas!”


 


***


VOTE, LIKE, KOMEN...

__ADS_1


Bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN...


Makasih....


__ADS_2