
Rendra mengambil nasi bungkus tersebut dengan sedikit menganggukkan kepala. Lalu ia kembali mencari ruko Abu. Tidak jauh dari warung kopi, ruko Abu langsung terlihat dengan suara Mae yang khas saat melayani pelanggan.
Rendra langsung duduk di sana lalu membuka bungkusan nasi yang tadi ia terima. “Waduh, ini orang pagi-pagi sudah kena nasi bungkus. Saya yang dari tadi teriak baru kena kue lima, telur rebus dua dan segelas kopi. Jadi ingin nasi bungkus juga.” ucap Mae pada diri sendiri.
“Mae....” tegur Abu.
“Cabai murai....bawang murah....ayo ibu...ibu....sebelum kehabisan.” teriak Mae kembali.
Rendra menikmati nasi bungkusnya dengan lahap sampai bersendawa cukup keras yang membuat Mae meliriknya dengan tatapan kesal. Melihat banyaknya pelanggan, Rendra memilih menunggu di sana dengan pura-pura tertidur dengan merebahkan badannya ke dinding ruko.
“Habis makan tidur, macam ular.”
“Mae...” Abu kembali menegur Mae.
“Abu suruh tidur di terminal saja! Jangan di sini, mengganggu kita.” pinta Mae yang diabaikan oleh Abu.
“Biarkan saja.” jawab Abu.
Jam delapan sampai jam dua belas adalah waktu pasar lagi ramai-ramainya. Rendra masih menunggu situasi kondusif sehingga bisa bicara dengan Abu. Setelah menunggu cukup lama, waktu yang ditunggu datang juga. Jam makan siang sudah datang. Umi sudah menurunkan makanan untuk Abu dan Mae ke bawah. Di sana juga ada Rendra yang ikut turun mengikuti neneknya.
“Rendra, hati-hati!” teriak Mae seperti biasa.
Ada rasa iba saat Umi melihat pengemis yang masih duduk di rukonya. “Mae, ambil piring lain ya!” pinta Umi yang lagi-lagi membuat Mae kesel sama si pengemis.
Kemudian, Abu mengambil piring yang seharusnya untuk Mae lalu menaruh nasi serta lauk pauk.
“Ini, makanlah!” Abu menyerahkan sepiring nasi untuk si pengemis.
Beberapa tentara yang sedang duduk tidak jauh dari ruko Abu hanya bisa menghela nafasnya seraya saling melirik.
Setelah menghabiskan makanannya, Rendra berpura-pura ingin ke WC dengan isyarat tangan yang memegang pantat. Seolah mengerti dengan bahasa isyarat tersebut, Abu mengajak pengemis tersebut ke belakang.
“Abu!” panggil Rendra saat mereka sudah berada di depan toilet yang berada di bagian belakang ruko.
“Ini saya, Rendra.” Abu terkejut juga tidak percaya dengan penampilan pria di depannya. Tanpa sadar, mata Abu bergerak dari atas sampai ke bawah. Reaksi tersebut membuat Rendra tersenyum geli.
“Kalau ditolak jadi menantu ini pasti gara-gara penampilan.” batin Rendra.
__ADS_1
“Saya ingin bicara sama Abu, tapi kalau bisa jangan di sini.”
“Besok saya ke rumah sakit jiwa jam 8 pagi. Kita bisa bertemu di sana. Dan pakai baju biasa, jangan seperti ini atau pakaian dinas.”
“Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum.” Rendra mengulurkan tangannya, namun wajah Abu terlihat ragu untuk menerima uluran tangan Rendra apalagi dia sempat menggaruk seluruh badannya yang tidak gatal di depan Abu.
Rendra menarik tangannya kembali dengan sedikit kikuk lalu ia keluar dari ruko Abu dengan kembali beraksi seperti pengemis.
Setelah Rendra menghilang dari pasar, para tentara yang dari pagi sudah berada di sana mulai membubarkan diri dengan hati-hati tanpa menimbulkan kecurigaan warga.
Di sinilah Rendra sekarang setelah melewati lautan luas, bertempur dengan ketakutan, menahan malu dengan menjadi pengemis demi bertemu sang kekasih hati.
Cukup lama Rendra berbicara dengan Abu sekeluarga kemudian dengan dokter lalu psikiater sampai tidak terasa hari sudah menjelang siang. Abu membiarkan Rendra untuk menemui Cut. Dokter dan psikiater bersama keluarga Abu berdiri tidak jauh dari tempat Rendra untuk melihat bagaimana reaksi Cut saat melihat Rendra.
“Asoka, terus berbunga ya! Aku akan selalu menjaga bunga-bungamu biar tidak dipetik orang.” Cut berbicara dengan bunga yang ia tanam beberapa bulan lalu.
“Warnanya sangat cantik, apa dia juga wangi?” tanya Rendra mulai mendekati Cut.
“Oh ya? Pasti banyak kumbang yang datang untuk menghisap sarinya. Apa kamu juga pernah mencicipi sarinya?” tanya Rendra kembali.
“Aku tidak melihat kumbang di sini. Kamu mau mencoba mencicipi sarinya? Tapi sayang, kamu harus kembali besok pagi. Sarinya hanya ada saat pagi. Kalau sudah siang begini sarinya sudah kering terkena matahari.”
“Apa saya boleh datang lagi besok?”
“Silakan. Semua orang di sini baik-baik. Kamu pasti menyukai berada di sini.”
“Iya, kalau saja setiap hari saya bisa ke sini. Saya pasti akan senang sekali. Nama kamu siapa?”
“Cut.”
“Cut Zulaikha.” sambung Cut kembali.
“Kamu tidak ingin tahu nama saya?”
“Nama kamu siapa?”
__ADS_1
“Rendra.” Tiba-tiba Cut memalingkan wajahnya ke arah Rendra.
“Apa kita boleh berjabat tangan?’ tanya Rendra kembali seraya mengulurkan tangannya.
Cut menatap tangan Rendra dalam diam. Sesekali ia juga menatap wajah Rendra yang tengah tersenyum kepadanya. Lalu tatapan Cut turun ke dada Rendra.
“Apa kamu masih mengingat saya?”
“Baju ini?” tunjuk Cut.
Rendra sengaja memakai baju yang ada di foto yang dulu ia berikan pada Cut. “Apa kamu tidak mau berjabat tangan dengan saya?” tanya Rendra kembali.
Cut sedikit panik lalu mundur dan seketika itu ia berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit. Rendra hendak mengejarnya namun, isyarat dari dokter membuatnya harus menahan diri.
“Bagaimana, Dokter?” tanya Rendra gelisah.
“Kita harus menunggu reaksinya sejauh mana keinginan untuk mengingat atau melupakan kamu. Semua harus bisa bersabar menghadapi kondusinya. Semua tergantung pada keinginannya yang mau menerima atau menolak apa pun yang berkenaan dengan masa-masa sulit dulu.”
“Seperti yang Abu katakan tadi. Lupakan saja apa yang terjadi antara kalian. Kondisi Cut saat ini tidak menentu dan jawaban yang kamu harapkan sudah pasti tidak akan kamu dapatkan. Jangan membuang waktu hanya untuk menunggu Cut. Carilah gadis lain di pulau Jawa sana. Lupakan Cut, hiduplah dengan bahagia.”
“Tidak ada yang tahu pasti kapan penderita depresi berat seperti Cut akan sembuh total seperti dulu. Semua tergantung situasi dan kondisi pengobatan serta terapi yang ia jalani.” Jelas dokter.
Hari itu, Rendra menghabiskan waktu sampai sore hanya untuk melihat Cut dari jauh. Sementara itu, Abu sekeluarga sudah kembali begitu masuk waktu zuhur.
“Apa kamu sangat mencintainya?”
“Lebih dari sekedar cinta.”
“Berarti kamu siap menunggunya?” Rendra tidak menjawab, pandangannya terus ke depan di mana Cut sedang asyik menyiram tanaman di sore hari.
“Sepertinya kamu harus lebih berjuang untuk menaklukkan segala rintangan. Itu juga kalau kamu sanggup. Bukan maksud saya untuk meremehkan kamu. Tapi kenyataan kadang tidak sejalan dengan harapan. Selamat berjuang!”
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1