
“Dek, Abang yang sudah membawa Cut kemari jadi Abang juga yang harus mengembalikannya ke sana. Abang tidak mau jadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Apalagi, almarhum abang Cut selalu berpesan untuk menjaganya.”
“Bagaimana perasaan Abang untuk Kak Cut sekarang?”
“Abang tidak tahu.”
“Abang tampan, kenapa Kak Cut tidak menyukai Abang?”
“Perasaan tidak bisa dipaksakan. Begitu jua dengan Cut. Ia tidak memiliki perasaan apa-apa sama Abang jadi untuk apa ia menerima Abang?”
“Bagaimana dengan Abang? Apa di hati Abang masih ada nama Kak Cut?” Khalid tersenyum getir.
“Menurut kamu bagaimana? Sudahlah, ayo kita pulang. Apa kamu tidak ingat kata Abu? Jika dua orang sedang bertemu maka yang ketiga adalah setan.” Khalid berdiri dari duduknya diikuti oleh Putro Ceudah.
“Bang!” panggil Ceudah.
“Kembalilah ke sini suatu hari nanti! Aku menunggumu.” Khalid mengangguk pelan seraya tersenyum manis. Mereka berjalan di bawah sinar rembulan dengan perasaan campur aduk.
Khalid menghadiri salat subuh berjamaah seraya mengucapkan terima kasih pada seluruh warga kampung yang selama ini sudah baik padanya. Kesembuhan Cut menjadi alasan dibalik kepergian mereka. Tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka selain keluarga Keuchik Banta.
Beberapa warga ikut mengantar mereka di dermaga kecil milik nelayan. Bang Mayed bersama beberapa nelayan lain sudah bersiap untuk berangkat.
“Jika ada kesempatan, datanglah berkunjung ke sini!” ucap istri Keuchik Banta.
“Insya Allah, Umi.” jawab Cut.
“Kalian bisa cari Abang di pelabuhan ikan. Tanya saja Bang Mayed Pulau Breuh! Mereka pasti kenal.” sahut Bang Mayed hendak menghidupkan mesin boatnya.
“Singgahlah ke ruko Kakak kalau kalian ke kota!” bisik Cut pada Putro tari saat memeluknya.
“Jangan takut. Aku tidak akan mengambilnya.” bisik Cut kembali saat memeluk Putro Ceudah.
Matahari di ufuk timur menerpa wajah Cut yang terus memandangi dermaga nelayan kota. Mereka hampir sampai setelah melewati dinginnya terpaan angin laut di subuh pagi.
“Hati-hatilah!” ucap Bang Mayed saat menjabat tangan Khalid.
__ADS_1
Kami berjalan mencari becak dan sepuluh menit kemudian, Cut sampai di depan ruko. Ia tersenyum saat mendengar suara Mae berteriak-teriak memanggil pelanggan.
“Bawang murah....cabai murah....tomat murah....mari...mari...” teriak Mae.
Cut turun dari becaknya lalu, “Assalamualaikum Mae.” ucap Cut seraya menepuk bahu Mae.
“Walaikumsa-lam. Kak Cut....”Abuuuuuu....Kak Cut pulang.” teriak Mae lebih keras dari sebelumnya.
Suasana pasar yang tadinya riuh oleh para pembeli kini kembali riuh dengan kedatangan Cut. Semua pedagang atau pembeli sudah mengetahui kejadian anak Abu yang hilang diculik oleh pemberontak. Dan ketika saat ini Cut kembali, mereka semua tersenyum senang. Umi yang baru turun dari lantai atas hampir pingsan begitu melihat Cut kembali. Air mata kedua orang tua tersebut tumpah begitu saja. Mae yang tadinya ceria juga ikut menangis sambil memeluk Rendra.
Hampir setahun Cut hilang dan harapan akan kepulangannya hampir sirna tapi pagi ini saat ia kembali seakan menghidupkan kembali pohon yang sudah mati. Kesedihan yang selama ini diderita oleh keluarga Abu sirna begitu saja dengan kepulangan Cut.
“Umi, bawa Cut ke atas! Abu mau menutup toko dulu.” ucap Abu.
“Kenapa di tutup, Abu? Sayang pembeli kalau Abu tutup lagi ramai begini.” tanya Cut.
“Sudah, ikut saja sama Umi ke atas. Rezeki sudah ada yang atur.”
Cut mengikuti Umi sambil menggendong Rendra yang sudah lama ia tinggalkan.
“Tidak apa Umi. Cut sangat merindukan dia.”
Dari kejauhan, seorang pengendara becak yang sedang mengantar penumpang tersenyum bahagia. Lalu, ia kembali menjalankan becaknya menuju tempat yang dirasa aman untuknya.
Berita kepulangan Cut menyebar begitu cepat. Pak Cek Amir sekeluarga langsung datang begitu berita itu sampai ke telinganya.
Cut bercerita banyak hal pada keluarganya. Bagaimana kehidupannya saat di pulau termasuk kebaikan Khalid yang mengantarnya kembali sampai ke kota. Suasana ruko semakin riuh sampai malam karena kedua sepupunya ikut hadir di sana.
“Tan, Kak Cut mau ziarah ke kuburan Razi.” Intan tersenyum seraya mengangguk pelan.
“Iya Nak, nanti kita sama-sama ke sana ya!” jawab Mak Cek Siti.
Kembalinya Cut ternyata sampai juga ke telinga para jurnalis hingga para tentara dan polisi. Cut menjadi orang yang paling ditunggu oleh aparat keamanan karena almarhum Ilham serta keterkaitannya dengan pemberontak paling di cari seantero Aceh.
Malam itu juga, beberapa tentara kembali berjaga di sekitar pasar. Keesokan harinya tentara yang datang jauh lebih banyak. Seorang berpangkat lebih tinggi turun dari mobil.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Bapak. Saya mendapat tugas untuk menjemput putri Bapak untuk memberikan keterangan di kantor. Saya mohon kerja samanya.” ucap tentara tersebut.
Abu mulai gelisah. Beberapa wartawan terlihat hadir di depan tokonya.
“Mae, panggilkan Pak Cek Amir!” dengan langkah seribu, Mae berlari menuju toko Pak Cek Amir.
“Assalamualaikum, Pak Cek disuruh datang ke ruko Abu. Kak Cut mau dibawa sama tentara.” ucap Mae tanpa Jeda.
Pak Cek Amir segera menghubungi sang istri, “Ma, telepon Dokter Widia. Cut mau dibawa lagi sama tentara.”
“Baik, Yah.
“Ridwan, tutup toko!” titah Pak Cek Amir panik lalu ia bergegas menuju toko abangnya.
Sementara itu, Abu berusaha menjelaskan kondisi putrinya yang baru kembali. Namun, sayangnya para tentara itu tidak mendengar.
Penuh intimidasi, Abu terpaksa mengizinkan Cut dibawa setelah dokter Widia datang bersama suaminya. Cut bukanlah anak pejabat atau orang penting di Aceh namun keterkaitannya dengan Khalid menjadikan posisi Cut tak kalah penting dari pejabat tinggi. Keterangan yang Cut berikan sangat penting bagi pihak militer dalam membasmi para pemberontak.
Kedatangan dokter Widia sekalipun tidak bisa membantu Cut. “Pak, pasien saya baru kembali. Bapak tidak bisa membawanya sekarang.”
“Maaf, Dokter. Kami hanya menjalankan tugas. Ini menyangkut keamanan negara.”
Dokter Widia menatap sang suami namun ia harus kembali kecewa dengan gelengan kepala sang suami. Jika menyangkut pemberontak, siapa saja tidak bisa sembarangan bertindak. Apalagi status darurat di Aceh masih berjalan. Semua kendali keamanan lebih diprioritaskan pada militer.
Cut menuruni tangga diikuti oleh dua orang tentara serta Umi yang terlihat menangis sambil menggendong Rendra. Cut sendiri terlihat gelisah dan ketakutan.
“Saya harus mendampingi pasien!” ucap Dokter Widia lalu ikut naik dalam mobil tentara tersebut. Sementara sang suami mengikuti dari belakang bersama Abu, Pak Cek Amir, serta Mak Cek Siti.
“Umi, doakan Cut. Abu pergi dulu ya!” Umi mengangguk lalu mencium tangan sang suami.
“Mae, jaga Rendra dan Umi. Tutup saja tokonya.”
“Iya Abu.”
Awan gelap yang tadinya hilang kini kembali menyelimuti ruko Abu sekeluarga.
__ADS_1
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...