CUT

CUT
CUAK...


__ADS_3

Hai,,,hai,,, Readers tercinta...


Ada yang kangen Cut? sorry ya baru bisa update. Author sibuk banget dua hari kemarin. Bukan sibuk yang penting hanya sibuk jalan-jalan. lebih tepatnya sering diajak jalan jadi ya gitu deh....


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang muslim....


Happy Reading....


***


Bommm....


Dor....dor....dor....


Malam ini kembali mencekam setelah upacara memperingati proklamasi kemerdekaan berhasil terlaksana dengan lancar di perbatasan kampung kami dengan kampung sebelah. Di tengah malam buta, aku mendengar banyak warga menjerit entah apa yang terjadi di luar sana. Rendra kecil yang tengah terlelap akhirnya terusik juga setelah beberapa kali suara ledakan dan rentetan senjata yang berasal dari pos dekat rumahku.


Aku tidur di atas tanah yang sudah digelar tikar sambil memeluk Rendra. Abu dan Umi menuju kamarku dengan merangkak seperti bayi. Aku berusaha menenangkan Rendra kecil dengan tetap tersenyum sambil menyanyikan shalawat. Aku mendekapnya erat supaya dia tidak terkejut.


Rendra kecil tidak lagi menangis ketika mendapatkan barang kesukaannya. Botol susunya dulu kini berubah menjadi botol air gula. Dia sudah lama tidak lagi meminum susu formula, tetapi badannya tetap saja tumbuh besar dan sehat. Dia akan menggigit dot botolnya begitu air gula habis. Hal itu cukup membuatnya senang dan tenang.


Malam ini kami kembali meringkuk di atas tanah sampai subuh. Aku terkejut saat mendapati beberapa selongsong peluru di dalam rumahku. Ternyata peluru ini bisa menembus dinding papan rumahku dengan mudah.


Setelah shalat subuh, aku membantu Umi di dapur. Sementara Abu membantu menjaga Rendra kecil yang masih belum tertidur. Suara bedil disertai ledakan masih terdengar dari jauh. Aku sudah tidak sabar menunggu pagi. Apa yang sebenarnya terjadi?


Matahari sudah terbit seperti biasa cerahnya. Abu mengintip melalui celah-celah jendela yang terbuat dari papan dengan sedikit celah di tengahnya. Belum sempat Abu membuka pintu, dari luar sudah ada yang mengetuk.


 


Ceklek...

__ADS_1


Mereka kembali mendatangi rumahku. Mereka langsung memeriksa rumahku tanpa permisi. “Mana KTP Merah Putih?” Tanya salah seorang dari mereka.


Abu segera mengambil tiga KTP Merah Putih yang disimpannya. “Jangan menerima siapapun jika dia tidak memiliki KTP ini! Atau keluarga kalian akan berakhir seperti para ‘Cuak’ kampung sebelah.”


Dia memperingatkan atau sedang mengancam kami? Ingin sekali aku bertanya. Dan siapa yang mereka maksud dengan ‘cuak’ kampung sebelah? Aku semakin penasaran saja. “Untuk sementara tidak ada warga kampung yang boleh turun ke kecamatan.” Ucapnya kembali. Seorang tentara keluar dari kamarku dengan membawa satu buku yang membuatku menatapnya dengan kesal. Buku tersebut ia serahkan kepada tentara yang memperingati kami tadi. Aku rasa tentara yang memperingatkan kami tadi adalah pimpinan mereka.


Ya Allah, aku melupakan satu hal dan...


Pimpinan mereka menatapku lalu menatap isi buku yang dia pegang. Dan dia tersenyum aneh kepadaku. Aku hanya berharap tidak ada foto Rendra di dalamnya. “Cut Zulaikha.” Kenapa tiba-tiba dia menyebut nama lengkapku?


“Saya senang akhirnya bisa bertemu dengan kamu.” Tambahnya kembali.


“Dia seperti bunglon rupanya, di depan saya dia terlihat garang tapi dengan kamu dia sangat manis.” Aku tidak menanggapi perkataannya karena aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia menyerahkan buku yang ternyata novel yang Rendra berikan untukku.


Mereka keluar dari rumahku lalu menuju ke rumah warga yang lain. Aku segera membawa novel itu kembali ke kamar sambil melihat Rendra. Abu ke luar dari rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Mae, sini dulu!” Anak yatim berumur tiga belas tahun itu sering pergi ke sawah untuk mencari telur puyuh.


“Si Wan yang jual kopi?” Abu mencoba mencari kepastian.


“Eh, Dek Rendra. Ayo, ke sawah sama bang Mae!” Bukannya menjawab pertanyaan Abu, dia malah memanggil Rendra yang sedang berjalan dari arah pintu. Aku tersenyum menatap Mae. Anak laki-laki yang menjadi yatim dan bernasib sama seperti Rendra kecil. Hanya saja, Mae lebih beruntung karena bisa mengenal wajah ayahnya. Umur Mae sekitar sepuluh tahun saat ayahnya meninggal tertembak saat kontak senjata tidak jauh dari rumahnya. Saat itu, Ayah Mae sedang mengendap-ngendap untuk pulang ke rumah bersama teman-temannya.


Mae dan ibunya saat itu sedang turun ke kecamatan. Aparat keamanan sangat hafal dengan rumah warga yang turun ke kecamatan. Mereka dengan mudah mengidentifikasi jika suatu hari ada kejadian yang terjadi. Aparat menaruh curiga tatkala melewati rumah ibu Mae yang mereka ketahui sedang turun ke kecamatan. Mereka juga tahu jika ayah Mae adalah seorang pemberontak.


Aparat keamanan mengepung mereka. Terjadilah kontak senjata di sana dan tentu saja ayah Mae bersama teman-temannya kalah jumlah serta perlengkapan. Aparat keamanan yang mengepung sudah lebih dulu meminta bantuan ke markas mereka. Sebelum terjadi kontak senjata, pihak aparat keamanan sudah lebih dulu meminta ayah Mae untuk menyerah. Namun bukanya menyerah, mereka malah menembak salah satu tentara yang sedang mengepung dan membuat tentara yang lain murka.


Untungnya saja rumah Mae tidak di lempar bom oleh para tentara, sehingga rumah tersebut masih bisa digunakan walaupun banyak lubang di dindingnya.


“Kamu belum jawab pertanyaan Abu.” Ucapku seraya tersenyum kepadanya.

__ADS_1


“Hehehehe...maaf Abu. Cek Wan bilang rumahnya dibakar sama pemberontak karena tidak mau kasih uang untuk mereka. Habis bakar rumah Cek Wan mereka ketemu bapak-bapak tentara dan akhirnya mereka tembak-tembakan.” Jawab Mae.


Abu merasa tidak puas dengan cerita Mae dan di saat yang tepat salah satu warga kampung sebelah ada yang lewat dan langsung dipanggil oleh Abu.


“Abu, minta buah rambutannya, ya?” Tanpa menunggu jawaban Abu, Mae sudah naik ke atas pohon rambutan dan itu membuat Rendra kecil tertawa. “Dek Rendra cepat besar biar kita panjat rambutan ini sama-sama.” Ucapnya setelah sampai di atas pohon rambutan.


Abu menatapnya sekilas sambil geleng-geleng kepala. Mae memang seperti itu pada setiap warga kampung. Melihat Mae membuatku sadar bahwa seorang anak tetap membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang tua mereka terutama dari seorang ayah. Namun, Mae tidak mendapatkannya, sehingga dia senang mencari perhatian dari orang lain. Salah satunya Abu.


“Apa yang terjadi sama si Wan, Suf?” Tanya Abu.


“Rumahnya dibakar semalam, Abu.”


“Terus suara bom dari mana?”


“Para tentara yang mengejar mereka terkena lemparan bom dari atas bukit tempat mereka sering membawa warga yang mereka culik.”


“Sekarang bagaimana situasinya?”


“Si Wan sudah pergi ke rumah sakit karena anaknya ada yang terluka. Rumahnya juga habis terbakar. Di sana juga masih banyak tentara yang berpatroli sampai ke bukit. Saya saja harus bawa KTP untuk ke sawah.”


“Tidak ada yang meninggal kan?”


“Tidak tau, Abu. Tapi semalam ada mobil dari rumah sakit yang datang. Satu lagi, tetangga si Wan ikut dibawa oleh tentara. Katanya ‘Cuak’.”


***


*Cuak adalah sebutan untuk warga yang menjadi mata-mata pihak pemberontak.


LIKE....LIKE....LIKE....

__ADS_1


 


 


__ADS_2