CUT

CUT
Keajaiban vs Harapan...


__ADS_3

Proses evakuasi terus dilakukan dengan berbagai alat bantuan yang tersedia. Para warga yang tidak terdampak juga ikut membantu dengan berbagai cara seperti mendirikan dapur umum untuk para pengungsi, menyumbangkan berbagai kebutuhan mendesak seperti pakaian dan lain sebagainya.


Bantuan dari negera-negara lain juga ikut berdatangan. Para pencari berita juga ikut turun ke Aceh. Dari media nasional hingga international. Dari liputan awak pencari berita itulah yang membuat seorang bintang sepak bola besar bernama Ronaldo medatangi Aceh untuk bertemu dengan anak yang selamat dari tsunami karena tersangkut dengan batang mangrove.


Saat dievakuasi, anak yang diketahui bernama Martunis itu memakai baju bola dengan nama Ronaldo di punggungnya. Tidak hanya Ronaldo, beberapa artis terkenal lainnya juga ikut berdatangan ke Aceh.


Mayat-mayat yang ditemukan semakin hari semakin banyak. Bentuknya juga sudah berubah, ditambah air tsunami yang panas tentu semakin cepat membuat mayat-mayat rusak. Bau busuk sudah mulai tercium oleh indera. Kantung mayat menjadi kebutuhan paling dibutuhkan selain obat-obatan saat itu karena banyaknya jasad yang ditemukan. Kebanyakan dari jasad itu sudah tidak dikenal atau diidentifikasi. Kecuali, para keluarga yang mencari memiliki ciri khusus sehingga memudahkan dalam proses pencarian.


Tak jarang, para keluarga menyerah saat mereka melihat banyaknya tumpukan kantung jenasah yang siap dikuburkan tanpa kain kafan. Beberapa tempat dipilih oleh pemerintah Aceh untuk menjadi tempat kuburan masal korban tsunami. Tanah kosong tersebut digali menggunakan alat untuk membuat lubang. tidak ada yang mengatur untuk mengahdap kiblat atau kepala dan kaki harus diarahkan kemana. Seakan berpacu dengan waktu, mereka menguburkan jsad-jasad tersebut seperti mengubur ayam.


Tenaga manusia tidak cukup untuk mengubur semua jasad tersebut. Mereka sudah kelelahan dalam mencari dan mengevakuasi mayat ataupun korban selamat yang tertimpa renrutuhan atau terhimpit oleh puing-puing.


“Assalamualaikum, Pak. Apa bapak kenal sama Abu yang punya ruko ini?”


“Walaikumsalam, oh Mae? Iya, saya kenal tapi saya tidak tahu dia di mana sekarang.”


“Kalau A-abu, apa bapak tahu?” tanya Rendra ragu-ragu.


“Abu dan keluarganya sudah tidak tinggal di ruko. Mereka tingga di daerah Lamkot dan daerah itu sudah rata dengan tanah.”

__ADS_1


“Lamkot itu di mana, Pak?”


Pria berpakaian loreng tersebut terus mencari seperti orang kesurupan. Seakan tiada lelah. Dia terus mencari, menyingkirkan puing-puing di depan matanya. Setelah melihat area pasar tempat dulu ia bertemu dengan Abu, kini dia beralih ke daerah di sekitar tempat Abu tinggal yang bernama Lamkot. Rendra merasakan sendiri apa yang orang-orang rasakan saat ini. Ketika semangat untuk mencari orang yang kita kenal justru tidak seimbang dengan tenaga yang kita miliki. Rendra terus mencari bahkan untuk memeriksa plastik mayat sudah tidak mungkin ia lakukan.


Terlalu banyak dan ia juga tidak mungkin mengenali wajah itu lagi setelah beberapa hari pasca kejadian. Gempa dan Tsunami menjadi musibah dan juga hikmat yang luar biasa bagi masyarakat Aceh. Di saat musibah tsunami hanya menyapu wilayah pesisir Aceh, tapi hikmah besar yang ia bawa mampu menyembuhkan luka seluruh masyarakat Aceh yang saat itu masih dalam keadaan konflik. Kedua belah pihak sepakat berdamai setelah musibah besar menghancurkan hampir setengah negeri.


Setelah ratusan ribu nyawa melayang karena tsunami, akhirnya mampu meruntuhkan keegoisan kedua belah pihak yang bertikai. Sepanjang masa darurat bencana, tidak ada lagi terdengar kontak senjata antara pasukan pemerintah dan para gerilyawan. Para tentara sendiri difokuskan untuk menjadi relawan dalam proses pencarian serta korban yang masih hidup atau sudah meninggal.


Nama-nama orang hilang terus bertambah dan dipajang di setiap tenda pengungsian.


Anak-anak di foto lalu ditempelkan di seluruh tenda pengungsian. Pek Cek Amir bersama Mae juga mulai mencari setiap tenda pengusian. Mak Cek Amir yang semula ingin ikut karena tidak mau ditinggal hanya bisa pasrah karena tidak mungkin berjalan kaki jauh lalu harus membawa Iskandar yang masih bayi. Faris si anak laki-laki ditugaskan untuk menjaga ibu, adik dan keponakannya.


“Kemana kita harus mencari mereka, Pak Cek? Beberapa mayat malah sudah dikuburkan.”


“Pak Cek juga bingung mau cari di mana? Ya Allah, bantulah kami.”


Mae hanya bisa menunduk dengan air mata bercucuran. Ia tidak sanggup membayangkan jikam harus kehilangan keluarga itu. Keluarga yang sudah merawatnya dengan baik walaupun tanpa ikatan darah dengannya.


“Yang kuat, tetaplah berdoa sambil berupaya mencari mereka. Ayo, kita cari mereka di tenda pengungsian dan rumah sakit. Kita tidak mungkin membuka kantong jenasah itu lagi.”

__ADS_1


Pak Cek mencoba menguatkan Mae yang terlihat sangat sedih ketika melihat tumpukan mayat tidak jauh dari pemukiman Abu. Setiap hari setelah sarapan pagi yang disediakan di tenda pengungsian berupa nasi dan mie instan. Keduanya langsung pergi mencari Abu dan kerabat lain dengan harapan mereka masih hidup walaupun kemungkinan itu kecil.


Namun, banyaknya cerita di luar nalar yang mereka dengar dari para pengungsi selamat membuat semangat mereka kembali bertambah.


“Saat saya dibawa air, saya seperti ada yang menarik ke batang kelapa. Sampai akhirnya saya sadar terjaga dan melihat ke bawah kalau saya memang di atas pohon kelapa.” ujar salah satu pengungsi.


“Saya bertemu galon air kosong, jadi saya berpegangan di situ.”


“Ada kakek-kakek yang mengajak saya untuk lari saat gempa. Kakek itu mengatakan jika sebentar lagi akan kiamat. Karena takut melihat gempa besar seperti itu. Saya ikuti saja si kakek lari dan sekarang, saya malah kehilangan beliau. Andai saja, saya tidak mendengar dan mengikuti beliau, mungkin sekarang saya juga akan jadi mayat.”


“Tidak ada yang tahu keajaiban apa yang akan menolong kita. Hanya Allah yang memiliki segala rencana jadi kita harus tetap semangat untuk mencari mereka. siapa tahu, keajaiban itu juga menghampiri Abu dan keluarga kita yang lain.” Pak Cek Amir berusaha menguatkan Mea.


“Masjid Raya itu contoh nyata jik Allah telah memberikan keajaibannya dengan melindungi mesjid dari air neraka tersebut. Saya di lantai dua ruko melihat sendiri bagaimana sosok putih besar mengarahkan air itu hingga tidak memasuki mesjid seperti tukang parkir. Kalian pasti tidak percaya dengan yang saya lihat tapi inilah kebenarannya. Saya orang cina tapi hari itu saya melihat sendiri keajaiban tuhan kalian.”


Semua mata menatap kesaksian dari pemuda cina etnis tiong hoa yang memiliki ruko tepat di depan Masjid Raya Baiturrahman di mana beberapa dari etnisnya ikut berlindung di sana dan alhamdulillah mereka selamat.


***


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2