CUT

CUT
OTK...


__ADS_3

Tugas negara membuat Rendra tidak bisa secepatnya menemui Abu sekeluarga. Saat ini saja ia tengah berada di salah satu objek vital tidak jauh dari pusat kota. Pasukannya mendapat tugas untuk mengamankan salah satu objek vital yaitu pabrik semen yang letaknya di dekat pesisir pantai.


 


Dengan memakai seragam lengkap ditambah dengan rompi anti peluru, Rendra dengan pasukan yang lain melakukan penjagaan dengan ketat. Pengamanan objek vital menjadi prioritas pasukan miiter saat ini karena mengkhawatirkan akan kejadian di kabupaten lain yang membuat objek vital menjadi sasaran empuk para pemberontak.


 


Sejumlah bangunan seperti asrama tempat tinggal keluarga Polri, asrama keluarga pegawai lembaga permasyarakatan, rumah tahanan serta aset rumah tahanan berupa satu mobil tahanan dan satu unit sepeda motor habis terbakar. Banyak dokumen penting juga musnah dilalap si jago merah.


 


Pendudukan mereka hanya berlangsung selama 14 belas jam. Setelah itu mereka berhamburan ke area perkampungan penduduk setelah digempur habis-habisan oleh pasukan TNI-Polri lewat darat dan udara. banyak yang menjadi korban dari aksi penyerangan tersebut. Rakyat sipil adalah sasaran empuk peluru yang berasal dari kedua belah pihak.


 


Para prajurit militer yang tidak mengenal dengan jelas mana lawan atau masyarakat apalagi saat kontak senjata terjadi tentu tidak bisa memilih atau melihat dengan benar karena para pemberontak yang terkadang tidak menggunakan seragam. Berbeda dengan para tentara yang selalu menggunakan seragam sehingga memudahkan mereka untuk dikenali dan menjadi sasaran empuk bagi para pemberontak.


 


Abu hanya bisa menghela nafasnya yang terasa semakin berat setiap kali membaca berita. “Kenapa Abu? Sepertinya ada yang sedang Abu pikirkan.” tanya Ridwan yang ikut duduk di warung kopi tersebut.


 


“Berita di koran semakin hari semakin parah saja. Bos kamu ke mana?”


 


“Pulang, Abu. Ini sudah waktunya makan siang. Abu tidak makan di rumah?”


 


“Sudah, ini lagi ingin minum kopi sekalian membaca berita. Kalau di toko takutnya dilihat sama Cut.”


 


“Oh iya, bagaimana keadaan Cut sekarang? Masih tetap ke rumah sakit kan?”


 


“Alhamdulillah sudah terlihat kemajuan walaupun baru sedikit. Pelan-pelan, Insya Allah akan membaik. Hanya perlu berdoa dan ikhtiar saja.”


 


“Iya, Abu.”


 


“Kamu tidak makan siang di rumah?”


 


“Tidak, Abu. Kalau lajang seperti saya lebih praktis makan di warung saja.”


 


“Segera menikah! Tidak baik lama-lama melajang. Gaji kamu sudah cukup untuk menafkahi seorang istri. Tunggu apa lagi.”


 


“Hehehe... belum bertemu jodohnya.”


 

__ADS_1


“Jodoh memang sudah ditentukan tapi kamu juga harus usaha. Kalau kamu tidak pandai mencari, minta bantuan sama Amir. Dia pandai memilih perempuan.”


 


“Kalau sama Cut, apa Abu menyetujui?”


 


Hug...


 


Abu tersedak saat minum kopi. “Kamu sudah tahu bagaimana kondisinya jadi Abu hanya bisa menyarankan kamu untuk mencari gadis lain yang sehat lahir batin. Tidak ada jaminan kapan Cut akan sembuh. Sia-sia saja jika kamu menunggunya. Kalau dia sehat dan mau sama kamu, Abu tidak masalah.”


 


“Carilah gadis lain yang bisa mengurusmu bukan kamu yang mengurusnya. Jangan membuang waktu untuk menunggu Cut karena abu sendiri tidak tahu kapan dia bisa sembuh seperti semula. Abu doakan semoga kamu mendapat yang lebih baik dari Cut.”


 


“Amin, terima kasih Abu.”


 


Tanpa mereka sadari, seseorang yang duduk tidak jauh dari meja mereka ikut mendengar pembicaraan tersebut.


 


“Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu maka laki-laki lain pun tidak.”


 


Hari berganti minggu tapi Rendra belum juga bisa menemui keluarga Abu. Di sana ia bertugas tapi pikirannya tertuju kepada Cut. Sementara itu, Cut masih terus mengikuti terapi dan pengobatan sesuai anjuran dokter.


 


 


Mereka juga tidak pernah lagi keluar setelah magrib. Ditambah dengan situasi yang tidak kondusif baik di pusat maupun di kampung-kampung membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anak-anak mereka. Tidak terkecuali Mak Cek Siti.


 


Tok...tok....


 


Suara ketukan pintu mengejutkan keluarga Mak Cek Siti yang tengah menikmati makan malam.


 


“Siapa ya?” tanya Pak Cek Amir.


 


“Jangan langsung dibuka, Yah. Intip dulu.” jawab Intan cepat.


 


Pak Cek Amir diikuti Mak Cek Siti dan kedua anaknya berjalan pelan menuju jendela di ruang kamar depan.


 


“Laki-laki, siapa ya?” bisik Pak Cek.

__ADS_1


 


“Tidak tahu, Yah. Tidak usah dibuka saja. Mamak takut.” balas Mak Cek Siti dengan raut wajah penuh ketakutan. Kedua anaknya juga ikut mengangguk. Alhasil, malam itu mereka semua tidur di dalam satu kamar.


 


Teror seperti ini sangat sering terjadi di masa konflik. Banyak pedagang yang menjadi sasaran mereka untuk mendapatkan sejumlah uang. Jika tidak diberikan maka, nyawa menjadi taruhan. Bila kedatangan mereka diketahui oleh pihak berwajib maka, sang pedagang akan ditangkap oleh tentara karena telah membantu pasukan pemberontak.


 


Kehidupan masyarakat Aceh layaknya buah simalakama. Kalau dimakan, Ibu mati. Kalau tidak dimakan, Ayah yang mati. Begitu juga para pedagang yang menjadi sasaran para pemberontak untuk mendapatkan sejumlah uang.


 


Keesokan harinya, Pak Cek Amir berjalan menuju toko seperti biasa. Ia dikejutkan dengan berita yang mengatakan bahwa Ridwan yang membantunya di toko sedang dirawat di rumah sakit karena ditembak oleh orang tidak di kenal saat magrib.


 


Setelah bertanya pada salah satu rekan Ridwan di toko sebelah, Pak Cek Amir langsung menutup kembali pintu ruko yang sudah terbuka sebagian. Ia bergegas kembali ke rumah untuk memberitahukan kepada sang istri.


 


Pagi itu juga, Pak Cek Amir beserta istri dengan mengendarai sepeda motornya menuju rumah sakit umum daerah untuk menemui Ridwan.


 


Di sana sudah ada orang tua dari Ridwan beserta kakak dan adiknya.


 


“Assalamualaikum, Pak Hasan.”


 


“Walaikumsalam, Pak Cek dan Mak Cek.”


 


“Bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana ceritanya kenapa bisa di tembak? Apa yang terjadi?” tanya Mak Cek Siti panik. Pernah mengalami hal serupa tentu masih tergambar jelas di ingatannya.


 


“Alhamdulillah, semalam langsung dioperasi. Dokter bilang tidak berbahaya karena peluru hanya mengenai lengannya. Dokter mengatakan kemungkinan besar sasarannya adalah dada namun meleset. Sehingga yang terkena lengannya saja. Semalam suami kakaknya saya suruh ke rumah Pak Cek tapi dia bilang tidak ada orang.”


 


“Jadi yang semalam itu suami dari kakaknya Ridwan? Maafkan kami karena merasa ketakutan jadi kami tidak berani untuk membuka pintu.” jawab Pak Cek.


 


“Tidak apa-apa. Semua orang mengerti dengan keadaan daerah kita yang seperti ini.”


 


 


***


LIKE YANG BANYAK...UDAH CRAZY UP INI...


komen juga ya....


makasih....

__ADS_1


__ADS_2