CUT

CUT
Genjer...


__ADS_3

Hari-hari yang Cut lalui berjalan dalam kesedihan pasca perpisahan dengan keluarga dan sang putra. Walaupun mereka kerap kali bertelepon tapi hati Cut tetap merasa sedih. Cut yang tidak pernah pergi jauh kini justru sedih berkalung rindu pada keluarganya. Dia merindukan banyak hal terutama makanan Aceh yang biasa dia makan. Sementara di tempat yang baru, dia harus menyesuaikan diri untuk memakan makanan yang belum pernah dimakan sebelumnya dengan rasa yang jauh berbeda dengan masakan Aceh.


Rendra yang semula tidak ingin membebani Cut untuk memasak karena dia ingin menikmati waktu berdua saja dengan sang istri selagi masa cutinya masih ada harus rela ketika Cut memintanya untuk menemani ke pasar. Cut tidak selera dengan masakan yang Rendra beli setiap mereka keluar. Demi sang istri yang beberapa hari ini terlihat murung dan sedih, Rendra menuruti permintaan sang istri dengan menemaninya belanja ke pasar. Di sanalah, Cut terlihat senang saat memilih ikan yang dia mau, sayur-sayuran serta beberapa bumbu dapur lainnya yang tidak tersedia di rumahnya.


Ada yang lucu saat mereka berbelanja ke pasar tradisional itu. Cut melihat banyak orang yang membeli genjer bahkan hampir berebutan karena masih segar.


“Abu biasa kasih itu untuk bebek. Kami tidak ada yang makan itu.” bisik Cut pada sang suami. Dan ketika pulang, Cut malah mendapati adik iparnya ke rumah dengan menenteng satu cup genjer tumis titipan sang asisten rumah tangga di rumah Bapak Wicaksono.


“Ini Bibik buat khusus buat Kak Cut. Jangan sampai tidak dimakan ya?” Rendra menahan senyum tatkala sepiring genjer terletak di depan sang istri.


Sementara Reni yang tidak tahu perkara dengan santai mengambil piring lalu menaruh nasi dan genjer di dalamnya. Ia memakan genjer itu dengan lahap di depan Cut tanpa canggung.


“Kenapa cuma dilihat, Kak? Ini enak lho. Pasti di Aceh tidak ada kan?” tanya Reni kembali.


“Di Aceh, yang makan ini bebek bukan orang.” Sahut Rendra yang membuat Cut sontak menatapnya terkejut.


“Uhukkkk…”


“Makanan seenak ini yang makannya bebek? Wah…berarti aku seperti bebek ya? Ko dikasih ke bebek sih, Kak. Ini kan sehat. Pantas saja bebeknya sehat semua. Makannya makanan sehat juga.”


Perbincangan seputar genjer pun berakhir setelah Reni menyelesaikan makananya. Cut melihat lagi genjer yang belum tersentuh lalu pelan-pelan memasukkannya dalam mulut. Cut merasa, mencerna dengan pelan hingga, “Enakkan?” bisikan kecil dari sang suami membuatnya menelan genjer tersebut.


“Apalagi ditambah nasi panas dan ikan goreng, wihhh mantap tenan…” Rendra sudah siap dengan sepiring nasi dan genjernya. Duduk berhadapan dengan Cut yang masih mencicip-cicip pelan makanan baru hingga akhirnya habis.


Prokkkk….prokkkk…


Reni bertepuk tangan dari belakang. “Kakak suka apa doyan?” tanyanya kembali.


Cut tersenyum malu karena baru kali ini dia memakan makanan yang tadi sempat dia ejek sebagai makanan bebek. Namun, sekarang dia malah memakannya.


“Mau tambah?” ledek Rendra.

__ADS_1


“Tidak. Ini sudah cukup.”


“Jangan malu-malu, Kak. Malu-malu lapar.” Sahut Reni.


Setelah keduanya menyelesaikan makan yang entah bisa disebut siang atau belum karena jam 10 belum bisa dikatakan siang. “Ada apa, tumben kamu kemari?” Tanya Rendra pada sang adik.


“Nganterin titipan bibi.”


“Jangan beralasan. Pasti ada sesuatu kan? Katakan, ada apa?”


“Ih, Kakak ini. Oke, aku sebenarnya mau bicara sama Kak Cut. Lebih tepatnya –“


“Lebih tepatnya mau tanya sama Cut kalau Adi itu pria seperti apa, ya kan?” potong Rendra.


Melihat sepasang kakak beradik, Cut kembali merindukan dua orang yang sudah pergi lebih dulu. Dua-duanya dipanggil oleh yang kuasa dengan cara yang sama yaitu tertembak. Ya, Cut menyeka ujung matanya sekilas dan itu tertangkap oleh penglihatan Rendra.


“Kenapa, Sayang? Kamu kok menangis?”


Sedangkan dengan mertuanya, Cut belum sedekat itu. Apalagi, setelah menikah dan setelah keluarganya pulang ke Aceh. Rendra tidak pernah lagi mengajaknya ke rumah sang mertua. Hanya Reni yang sering bolak-balik ke rumah mereka kadang mengantar makanan titipan si bibik atau hanya sekedar bermain untuk menghilangkan rasa kesal acap kali berseteru dengan saudara kembarnya.


“Ya gitu deh, Kak. Jalan di tempat aja biar sehat.” Jawab Reni penuh makna.


“Kita kan sebagai cewe harus nunggu. Nah, kalo yang ditunggu-tunggu gak datang-datang ya berarti cari lain dong. Ya kan? Kayak Kak Cut nunggu Kak Rendra. Kak Rendra gak datang, Kak Cut nikah sama yang lain.”


“Reni…” suara Rendra sedikit menyeramkan.


“Lha, benar kan? Aku juga gitu. Kalo si pria aneh itu tidak datang bulan depan. Maka, say good bye. Nagapain nungguin orang yang gak pasti. Perempuan harus yang pasti-pasti aja.” Kilah Reni kembali.


“Kami mau istirhat dulu, kamu mau di sini atau pulang?”


“Kakak ngusir aku? Dulu aja suruh aku ini itu. giliran dah kawin malah aku diusir. Tega hati Kakak.” Reni mendrama gara-gara Rendra mengusir adiknya. Rendra kenal betul bagaimana karakter adik yang satu ini. Oleh sebab itu, dia tidak mau Cut terlibat pembicaraan yang berujung menyakiti hati sang istri nantinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Reni, kedua suami istri itu memilih beristirahat di kamar. Keduanya menikmati istirahat sambil mendekap satu sama lain.


“Dari tadi kamu kelihatan banyak pikiran? Apa kamu sedang merindukan mereka?” tanya Rendra sambil sebelah tangannya mengusap surai indah milik Cut.


“Saya merasa jauh dengan mereka. Mungkin karena sudah terbiasa jadi giliran mereka tidak ada saya jadi sedih.”


“Setelah saya mulai aktif ke kantor, nanti kamu akan banyak kegiatan dan setelah itu saya yakin kamu akan merasa lebih baik. Berkumpul dengan sesama ibu-ibu persit yang lain dari berbagai daerah. Ada juga yang dari Aceh. Nanti saya kenalkan kamu secara personal ya?”


Cut mengangguk pelan. Lalu keduanya terlelap karena kelelahan setelah berkeliling pasar tradisional. Rendra tidak menyangka jika sang istri sangat menyukai pasar hingga ia harus berkeliling hanya untuk melihat-lihat kondisi pasar tersebut.


Di saat yang sama, orang tua Rendra sedang bertamu ke sebuah kediaman yang dulu cukup hangat untuk putra mereka sebelum palu pengadilan diketuk. Mereka mendapat undangan makan siang di rumah sahabat Bapak Wicaksono. Dan ternyata di sana juga Risma, mantan istri Rendra.


“Apa kabar, Nak?” tanya Ibu Yetti berbasa-basi.


“Seperti yang tante lihat.” Jawab Risma datar.


“Biarkan saja dia. Dia sudah mendapat karmanya dan sekarang dia sedang melihat bagaimana cara tuhan meruntuhkan kesombangan hambanya.” Sindir Bapak Wahid pada kedua sahabatnya itu. mereka meninggalkan Risma lalu bergabung ditaman belakang. Walaupun mereka mantan besan tapi hubungan keduanya tetap baik. Karena bagi Bapak Wicaksono, tidak ada pertemanan yang istimewa selain saat mereka sama-sama bertempur dan saling menjaga satu sama lain di bawah rongrongan peluru.


“Bagaimana kabar pengantin baru? Mereka masih tinggal di rumah besar?” tanya Ibu Risna.


“Mereka baik. Sekarang sudah tinggal di rumah sendiri. Rendra sudah membeli rumah lain yang masih satu komplek dengan para tentara lain juga. Tapi bukan asrama.” Jelas Buk Yetti.


“Kamu tidak menjenguk anak mantumu, Yet?”


“Belum, kami belum ke sana. Hanya Reni saja yang sering ke sana. Biarkan saja, mereka pasti ingin menghabiskan waktu lebih banyak berdua setelah berpisah lama.”


“Kasihan ya nasib mereka itu. harus bercerai dulu baru menemukan jodohnya.”


“Jalan takdir tidak ada yang tahu, Ris. Begitu juga kita, mungkin menurut pencipta, kita lebih cocok jadi teman dari pada besan, ya kan Wahid?” pertanyaan di sela-sela senda gurau itu menjadi hangat dan ceria.


“Apa yang terjadi dengan Risma? Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja?”

__ADS_1


***


__ADS_2