
Setelah acara doa bersama untuk almarhumah Ibu Murni selesai, para warga sekitar sudah berangsur kembali ke kediaman masing-masing. Setelah pagi harinya menggelar acara akad dan resepsi, malam harinya keluarga Pak Fahri tetap menggelar acara tahlilan di kediamannya. Para keluarga inti sudah berkumpul kembali termasuk besan mereka yaitu Shinta dan Toni.
“Malam ini, kami ingin berpamitan pada keluarga Bapak Fahri. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Kami juga ingin mengajak Dita beserta suaminya karena sebelum ke Jakarta kami akan mengunjungi kakek dan neneknya terlebih dahulu.” Ucap Toni.
“Kami juga tidak bisa melarang kalian lebih lama di sini, bukan? Walaupun kami ingin kalian lebih lama lagi di sini. Tapi saya juga paham dengan kesibukan masing-masing. Maafkan kalau sekiranya selama di sini, kami tidak memperlakukan sebagaimana mestinya. Dan kalian juga harus mendengar kata-kata tidak enak dari mulut keluarga saya.” Ucap Pak Fahri lesu.
“Kami maklum, Pak. Kami tidak merasa kekurangan saat berada di sini. Terima kasih untuk semua yang sudah Bapak dan keluarga berikan untuk keluarga kami terutama untuk Dita dan Dika.”
“Karena malam ini kita berkumpul semua, Bapak juga mau mengatakan jika Bapak dan Julie mau berangkat umrah setelah tujuh harian Ibu kalian.” Ucap Pak Fahri pada Adi dan Faisal. Mereka mengangguk setuju lalu Faisal menatap satu persatu keluarganya dan melihat Aisyah cukup lama. “Aisyah, sepertinya kita menemukan ibumu!” ucapnya kemudian membuat isi ruangan seketika hening beberapa detik.
“Apa kamu yakin? Jangan terlalu cepat percaya pada kata-kata orang. Buktikan lebih dulu.” Ucap Pak Fahri.
“Dari tanda lahir serta pakaian dan kalung yang dipakai Aisyah waktu bayi semua perkataannya benar. Kami akan menemui beliau lalu meminta sampel rambut untuk melakukan tes DNA setelah sampai di Surabaya.” Ujar Faisal mantap.
“Baiklah! Kamu tahu harus melakukan apa yang terbaik.”
“Aisyah, besok kita akan pergi melihat orang tuamu. Semoga saja ini benar-benar orang tuamu.” Ucap Faisal. Aisyah yang duduk di samping Iskandar hanya bisa mengangguk lemah. Harapannya untuk bertemu dengan orang tua kandungnya seakan sirna setelah sekian banyak telepon yang masuk ke ponsel sang ibu namun baru kali ini ada yang benar.
“Tenang saja, kalau memang rezekimu. Kita akan bertemu dengan mereka lagi.” Bisik Iskandar.
Keesokan harinya, mereka mengantar keluarga Dita dan sahabat till jannah ke bandara. Keluarga Dita akan terbang ke Medan untuk bertemu dengan orang tua Shinta. Sedangkan sahabat till jannah akan kembali ke Surabaya. Setelah melepas kepergian mereka, Faisal dan Ayu langsung mengajak Iskandar dan Aisyah menuju kediaman orang yang mengaku sebagai orang tua dari Aisyah. Cut dan Rendra juga ikut serta bersama Teuku.
Menurut alamat yang mereka berikan, keluarga Aisyah berada di sebuah kampung bernama Lamno. Setelah menempuh perjalana sekitar satu jam setengah. Mereka sampai di daerah Lamno yang merupakan salah satu kampung di dalam kabupaten Aceh Jaya tempat Aisyah ditemukan. Sesampai di SPBU, Ayu kembali menghubungi keluarga Aisyah.
“Kami sudah sampai di SPBU, bisa Ibu ke sini! Kami tidak tahu jalan.” Padahal di mobil Cut ada Faris yang ikut serta. Sedikit banyaknya ia tahu tempat itu tapi Ayu tidak mengatakan apa-apa hingga sebuah motor matik masuk ke arae SPBU lalu wanita berdaster itu terlihat menghubungi seseorang.
“Assalamualaikum, Ibu di mana? Saya sudah ada di SPBU menggunakan daster hijau.” Tanpa menjawab, Ayu segera turun lalu menghampiri wanita itu.
“Ibu Mala?” tanyanya.
Wanita itu mengangguk mereka bersalaman. Para penumpang yang menyaksikan dari dalam mobil ikut turun lalu bersalaman dengan perempuan bernama Mala tersebut. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada gadis yang sedang berdiri di samping seorang laki-laki. “Putroe?” ucapnya menghampiri Aisyah. Ia menatap lekat wajah Aisyah memperhatikan dengan saksama.
“Ayo kita ke rumah supaya lebih enak berbicara!” ajaknya kemudian. Wanita itu langsung mengendarai motornya diikuti oleh mobil Faisal dan Rendra.
Sebuah rumah yang merupakan rumah bantuan tsunami namun sudah dilebihkan dari bagian belakang hingga terlihat lebih besar. Di seberang jalan rumahnya adalah laut lepas. Inilah yang membuat daerah ini paling terdampak tsunami karena jaraknya dengan laut sangat dekat.
“Silakan masuk!” ucap wanita itu. Mereka semua masuk ke dalam lalu duduk di atas selembar tikar anyaman khas Aceh.
“Sebentar, saya tinggal ke dapur dulu.” Ucap Mala lalu meninggalkan mereka di sana.
“Assalamualaikum,” ucap seorang pria baru datang. Ia menenteng beberapa durian di tangan kiri dan kanannya.
Pria itu meletakkan begitu saja duriannya saat menatap Aisyah. “Putroe?” nama itu kembali terdengar oleh telinga mereka.
“Saya tinggal ke kamar mandi dulu. Semalam menginap di kebun durian.”
__ADS_1
“Silakan, Pak.” Ucap Faisal serentak dengan Rendra.
Mala datang membawa nampan besar berisi gelas-gelas dan dua piring kue timphan khas Aceh. “Silakan diminum dulu.” Ucapnya. Cut tersenyum lalu menyambar sebuah timphan. “Kue kesukaan Mama.” Lirihnya pada sang suami. Bukan Cut saja yang menyukai kue khas daerahnya tersebut, Rendra yang berasal dari Jawa saja menyukai kue tersebut saat baru bertugas di Aceh. Bukan gadis Aceh saja yang membuatnya jatuh cinta, makanan khas Aceh juga berhasil merebut cinta seorang komandan.
Pria yang membawa durian tadi kembali. Wajah dan badannya sudah terlihat bersih dan wangi dengan pakain yang lebih rapi dari pada tadi saat baru pulang dari kebun. Pria itu bersalaman dengan para tamu lalu duduk di samping istrinya tapi tatapannya langsung tertuju pada Aisyah.
“Ini suami saya, ayah dari Putroe.” Ucap Mala.
“Nama saya, Ibrahim. Mala sudah mengatakan jika hari ini putri kami akan pulang. Tapi saya tidak menduga jika akan datang secepat ini makanya saya masih tetap ke kebun semalam. Saat tsunami terjadi, saya juga berada di kebun malam itu karena menunggu durian jatuh dan saya akan pulang ke rumah di jam-jam segini setelah mengumpulkan semua durian. Dan saya tidak menyangka jika saat kembali, rumah kami sudah rata.” Kenang Ibrahim.
“Saat itu, rumah kami bukan seperti ini. Rumah kami dari kayu. Lalu setelah tsunami kami mendapat rumah bantuan dan ini lah rumahnya. Di belakang kami tambah sendiri karena masih ada tanah.” Berkali-kali mereka melirik ke arah Aisyah.
“Tidak ada yang tersisa saat itu. Jadi kami tidak bisa membuktikan apa-apa jika putri ibu adalah anak kami. Hanya tanda lahir di tubuhnya yang saya ingat dengan jelas sampai detik ini.” Ucap Mala.
“Tidak hanya Putroe yang hilang saat itu. Kakaknya dari suami pertama saya juga hilang. Saya sendiri ditemukan sehari setelahnya karena tersangkut di pohon mangrov.” Kenang Mala.
“Sebelum menikah dengan Bang Him, saya pernah menikah dengan seorang pria dan saat itu kami tinggal di pulau Breuh. Lalu terjadi musibah dan suami saya meninggal. Saat Bang Khalid meninggal, istri ke duanya melahirkan. Dan setelah itu, Tari, istri keduanya mengalami gangguan jiwa hingga tidak bisa merawat anak tersebut. Saya sendiri tidak memiliki anak saat menikah dengan almarhum Bang Khalid dan keluarga dari istri keduanya juga tidak bisa merawat anak tersebut karena istri pertamanya juga akan melahirkan. Saya meminta izin pada keluarganya untuk merawat bayi itu lalu setelah itu saya bertemu dengan Bang Him dan beliau mengajak saya menikah. Karena saya berpikir jika saya memiliki masalah dengan kandungan saya jadi saya bertanya pada Bang Him apakah beliau mau menerima saya dengan Nyak Tari, anak dari istri kedua Bang Khalid dan saya bersyukur ternyata Bang Him menerima anak yatim itu. Kami pun pindah ke sini karena Bang Him awalnya seorang nelayan lalu beliau mengatakan akan merubah mata pencahariannya menjadi tukang kebun. Saya mengikuti beliau dengan Nyak Tari lalu setelah itu tanpa saya duga, Putro hadir dalam kandungan saya.” Mala cerita panjang lebar namun satu orang wanita yang mendengar cerita itu merasa sesak di dadanya.
“Kak Mala, apakah Kakak istri dari Bang Khalid dan istri pertama dan keduanya adalah Putro Ceudah dan Putro Tari anak Keuchik Banta di Pulau Breuh?” tanya Cut membuat semua orang berkerut termasuk Rendra.
“I-Iya. Kakak kenal mereka?” Mala tidak kalah terkejut.
Cut bangun dari duduknya lalu duduk di depan Mala. “Saya Cut, wanita yang datang bersama Bang Khalid dan tinggal di rumah Keuchik Banta.” Mata Mala membesar seketika.
“Cut, wanita yang dicintai Bang Khalid?” mendengar itu, telinga Rendra sontak memerah. Cut mengangguk pelan, Mala langsung memeluk Cut.
“Saya ibu mertua dari pria yang menikah dengan gadis yang kemungkinan anak Kak Mala.”
“Jadi kita besan?” Tanya Mala dengan binar bahagia.
“Kemungkinan begitu.” Lirih Cut.
“Jadi suami Putro adalah anak yang saat itu Tari dan Ceudah hadir di pernikahan Kak Cut? Saat itu mereka tengah hamil dan saya baru menikah dengan Bang Khalid.”
“Iya dan beliau juga yang menemukan dan marawat anak Kak Mala saat itu bersama istrinya. Tepat sebelum terjadinya tsunami, saya dan ayahnya Iskandar bercerai. Dan setelah itu saya menikah lagi dan itu suami saya, kalau yang itu mantan suami saya, ayahnya Iskandar.”
“Saya bingung Kak Cut!” Celutuk Mala dengan polosnya membuat mereka terkekeh.
“Bang Faisal menikah dengan Ibu Ayu lalu merawat Putro bersama setelah bercerai dengan saya. putri yang sekarang diberi nama Aisyah menikah dengan anak saya yang bernama Iskandar yang bapaknya adalah Bang Faisal, ayah angkat dari Putro.” Jelas Cut perlahan lalu Mala tersenyum kaku.
“Bagaimana kabar keluarga Keuchik Banta?” tanya Cut kemudian.
“Terakhir kami pulang ke Pulau Breuh, Keuchik Banta dan istrinya sudah meninggal. Di sana tinggal Putro Ceudah yang sudah menikah lagi dan juga merawat Tari seorang diri.”
“Kenapa tidak dimasukkan ke rumah sakit?”
__ADS_1
“Tidak tahu, Kak Cut. Sekarang Tari di kurung di kamarnya supaya tidak lari.”
“Apa Bang Khalid meninggal karena ditembak?” tanya Cut kembali.
“Iya, setelah beberapa bulan bersembunyi. Para tentara itu berhasil menemukannya dalam keadaan kurus kering karena kekurangan makanan. Setelah tentara menduduki Pulau Breuh, para warga tidak bisa membantu Bang Khalid karena kalau ketahuan oleh tentara, kami akan ditangkap dan disiksa di depan umum.” Cut menarik nafas dalam-dalam membayangkan apa yang terjadi pada Khalid. Sementara Rendra memilih membuang muka saat mendengar bagaimana sepak terjang para prajurit seperti dirinya saat bertugas di Aceh dulu.
“Untuk masalah Putro, saya serahkan pada Bang Faisal dan Mbak Ayu.” Ucap Cut pada mantan suaminya. Setelah selesai bernoltalgia, Faisal mulai membuka pembicaraan serius dengan Mala dan Ibrahim.
“Saya minta maaf sebelumya, tapi untuk memperjelas status Aisyah atau Putro. Kami akan melakuakn tes DNA antara Bapak dan Aisyah. Supaya tidak ada keraguan ke depannya. Untuk itu, kedatangan kami ke sini untuk meminta sampel rambut Bapak Ibrahim untuk diuji dengan milik Aisyah. Dari hasil tes tersebut akan melihat apakah kalian benar-benar anak dan ayah atau bukan. Sekali lagi saya minta maaf jika permintaan kami ini tidak berperasaan tapi itu yang terbaik untuk menghilangkan keraguan. Bagaimana Pak, Buk?” Mala menatap suaminya.
“Apa tesnya perlu bayar?” tanya Ibrahim.
“Tidak, Pak. kami hanya perlu rambut Bapak saja.”
“Rambut saya perlu juga? Saya kan ibunya?” mereka tersenyum kecil, “Tidak, Buk. Hanya bapaknya saja. Kalau ibu tidak perlu tes lagi karena ibu yang melahirkan tapi kalau Bapak punya istri lain baru perlu di tes.” Gurau Faisal.
“Tidak, Pak Faisal. Istri saya hanya Ibu Putro saya.” Mala tersenyum kecil melirik suaminya.
Mala langsung menggunting rambut suaminya di depan semua orang lalu memasukkan dalam plastik yang sudah disediakan oleh Faisal.
“Kapan hasilnya kami ketahui?” tanya Mala antusias.
“Kalau nanti hasilnya sudah keluar dan kalau memang Aisyah adalah Putro maka dia sendiri yang akan kemari dengan suaminya untuk mengatakan secara langsung pada Bapak dan Ibu. Tapi kalau bukan, kami akan mengabari Bapak dan Ibu melalui telepon.” Jawab Faisal tegas.
Wajah Ibrahim dan Mala terlihat lesu, “Kalau Aisyah adalah Putro, dia pasti kembali ke kalian. Semoga penantian kalian membuahkan hasil ya!” Cut mencoba memberi semangat untuk wanita yang pernah ia kenal dulu.
Sepasang suami istri itu mengangguk lemah, “Besok kami akan langsung kembali ke Surabaya untuk melakukan tes secepatnya. Kalau begitu kami mohon pamit karena harus bersiap untuk kepulangan kami besok.” Ucap Faisal.
“Em, Apa kami boleh berfoto dengan Putro? Kami sudah sangat lama menunggunya dan saya juga ingin melihat tanda lahirnya. Apa boleh?” pinta Mala.
Aisyah menatap Faisal dan Ayu, “Ayo saya temani tapi hanya Ibu yang boleh melihatnya untuk saat ini.” Ucap Ayu lembut. Mala mengangguk lalu membawa Aisyah dan Ayu ke kamar kosong. “Mata Mala melebar saat melihat tanda lahir Aisyah di dekat pusar dan di bawah ketika gadis itu.
“Ini memang Putro, tangis Mala pecah lalu dengan cepat memeluk gadis yang ia yakini sebagai putrinya yang hilang itu.
Ayu membiarkan wanita itu memeluk Aisyah beberapa saat sampai Aisyah sendiri yang mengurai pelukan itu. “Tapi kita harus melakukan tes lagi ya, Buk!” Mala mengangguk lalu mereka keluar dari kamar itu.
“Dia memang Putroe, Bang.”
***
VOTE...LIKE...KOMEN...
Jangan SKIPP IKLAN ya...
__ADS_1
TERIMA KASIH....