CUT

CUT
Tree Mas Ketir...


__ADS_3

“Sudah dapat, Mas?”


Suara seorang wanita membuat wanita yang bertanya tadi melihat ke belakang Bang Adi tempat dimana wanita yang satunya berdiri. Bang Adi melihat sekilas Reni lalu menggelengkan kepalanya. Reni langsung menghampiri Bang Adi begitu wanita tadi pergi.


“Katanya menyukaiku tapi masih suka didekati wanita lain. Mau tebar pesona?”


Bang Adi kembali melanjutkan kegiatannya memilih buku lalu menunjukkan pada Iskandar. Walaupun bayi itu belum mengerti tapi dia sangat antusias ketika melihat gambar berwarna-warni yang diperlihatkan oleh Omnya. Reni berkacak pinggang karena kesal telah dicueki Bang Adi setelah ia membantunya dari kegenitan para wanita pengunjung toko buku.


“Pelit banget. Sudah dibantuin bukannya terima kasih.” Gerutu Reni yang dikeraskan hingga sampai ke teling Bang Adi.


“Saya tidak meminta bantuan. Kamu sendiri yang berinisiatif, apakah saya benar?”


Gleg…


Reni kalah telak. Ternyata laki-laki di depannya ini sangat sombong dan angkuh. Seraya menggerutu dengan makian yang tidak jelas terdengar, Reni pergi meninggalkan Bang Adi dan Rendra. Hati dan pikirannya tersulut emosi dan ingin sekali mencakar pria itu tapi sayang ada Iskandar dalam gendongannya.


Menggunakan kain gendong kangguru, Bang Adi tampil percaya diri di keramain toko sambil  menggendong Iskandar yang terlihat senang. Beberapa orang kerap menyapa Iskandar dan bayi itupun tertawa. Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat merindukan adik bungsunya yang hilang tanpa jejak. Sudah sekian lama, Faisal belum juga kembali. Untuk mengurangi kesedihannya, ia mencoba dekat dengan Iskandar dan lambat laun ia semakin menyayangi sang keponakan. Kakak serta kedua orang tuanya juga merasa hal yang sama.


Ada suatu kejadian dimana saat Iskandar mereka bawa ke rumah. Saat itu tanpa mereka sadari, Ibu Murni memanggil Iskandar dengan nama Faisal. Detik itu juga semua kesedihan yang hampir hilang tiba-tiba muncul kembali. Mereka belum bisa menerima kepergian Faisal walaupun mereka sendiri yang mengusirnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Anak yang dirindukan tidak kunjung pulang hingga hari berlalu berganti minggu dan kembali berlalu berganti bulan. Kenangan itu masih tersimpat rapat entah sampai kapan akan terwujud.


Setelah mengambil dua buku bergambar binatang dan mobil-mobilan. Bang Adi kembli melangkah kakinya menuju stand novel. Ia melihat sekilas wajah Reni yang ditekuk sambil berjalan menggandeng Faris. Sedangkan di sudut lain yang tidak jaug dari mereka ada sepasang anak manusia yang terlibat perdebatan antan karena apa tapi yang jelas jika melihat gerakan tubuh. Mereka seperti sedang berdebat tentang isi buku yang entah berjudul apa.


“Bang Adi memang begitu, Kak. Bukannya Intan sudah bercerita banyak tentang Bang Adi pada kakak semalam?” tanya Faris masih mengelilingi beberapa rak buku.


“Hufttt…dia ketiduran semalam. Cerita belum juga sampai setengah. Eh, tahunya dia tertidur.”


“Kamu saja yang cerita, adik kamu itu pasti akan sibuk berdebat dengan si ahli debat di kampusnya. Sepertinya Riko menyukai Intan deh. Sebagai saudara yang lahirnya Cuma beda dua menit setengah doang. Aku bisa membaca gestur Riko dengan mudah kalau dia sedang naksir adik kamu.” Jelas Reni panjang lebar seraya melihat Riko dan Intan yang sedang berdebat.

__ADS_1


“Kakak bisa baca gestur mereka. Kalau begitu coba baa gestur aku!”


Dua anak manusia yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti dan saling menatap satu sama lain. Reni menjelajah Faris dari bawah sampai kepala dengan saksama. “Kamu biasa saja!”


Lalu keduanya kembali melanjutkan langkah sesekali Faris masih mencari buku yang menarik namun belum ia temukan.


Deg…


Faris tiba-tiba berhenti membuat Reni juga ikut berhenti. Reni mengikuti arah pandangan Faris dan –


“Kalau sekarang kamu sedang tidak biasa. Kamu sedang terpesona dengan gadis itu.Temui sana! Ajak kenalan lalu tanyakan alamatnya!”


Faris tidak bergeming. Dia hanya berdiri menatap dari jauh sosok gadis berbaju SMA tersebut. “Dilihat dari bajunya, sepertinya dia baru kelas satu SMA.” Ucap Reni kembali.


“Ayo, temui dia!” Reni menarik Faris yang dia anggap lambat untuk urusan cinta.


“Eh, hai juga, Kak. Em…lagi cari buku sains, Kak.”


“Oh, boleh kenalan? Namanya kamu siapa? Kalau aku, Reni dan ini adik aku namanya Faris.” Reni menjulurkan tangannya. Mereka berjabat tangan lalu saat gadis itu mengulurkan tangannya, Faris malah diam karena terpana dengan kecantika gadis tersebut.


“Dia sering bersemedi dalam gua jadi jarang melihat cewe cantik seperti kamu. Sekali melihat pasti langsung jatuh cinta. Lihat saja sekarang, dia sangat terpesona padamu. Ris, jangan malu-maluin deh! Cewe Malang memang cantik-cantik jadi tidak usah begitu banget lihatnya.”


Reni menarik tangan Faris untuk berjabat tangan dengan gadis itu. “Indah.”


“Cantik.”


Satu kata yang keluar dari mulut Faris dan mampu membuat sang gadis tersipu malu.

__ADS_1


“Kalian bicara saja! Ris jangan buat aku malu! Pergi dulu ya, senang berkenalan dengan kamu.”


“Sama-sama, Kak.”


Reni pergi meninggalkan Faris yang entah mampu atau tidak menaklukan gadis SMA itu. dia terus berjalan hingga sepasang matanya menangkap pemandangan yang membuat hatinya semakin panas. Bang Adi sedang berbincang dengan salah satu karyawan wanita di meja kasir sambil menuliskan sesuatu di kertas lalu menyerahkan pada kasir wanita tersebut.


“Cih, pandai merayu juga ternyata. Apa kamu juga menyukai wanita itu begitu melihatnya? Kamu laki-laki tidak punya prinsip. Kemarin kamu mengatakan suka padaku sekarang dengan mudahnya kamu memberikan alamatmu pada wanita itu. Dasar!!!”


Reni memilih duduk sendiri di bangku yang disediakan oleh toko sambil membaca sebuah buku yang terletak di atas meja. Hati dan pikirannya hari ini sangat mendidih oleh emosi. Ia ingin mencakar orang dan orang tersebut ternyata sudah duduk di sampingnya.


“Ini buat kamu!”


Reni terkesip saat sebuah buku diletakkan didepannya. Buku itu terbungkus rapi hingga Reni tidak dapat melihat judul buku tersebut. Ia menatap tajam namun yang di tatap ternyata sedang melihat bayi kesayangannya yang sedang terlelap dalam gendongan.


Reni melihat bagaimana lembutnya tatapan sang pria datar kepada Iskandar. Sangat berbeda ketika dia menatap dirinya. Tak bisa dipungkiri, Reni terpesona dengan tatapan itu. sangat menenangkan dan menyejukkan hati bahkan mampu membuat hatinya yang panas menjadi dingin kembali.


“Bisa tolong saya betulkan kain gendongan Iskandar?” tanya Bang Adi yang membuat lamunan Reni hilang seketika.


Gleg…


Reni membetulkan kain gendong kangguru mengikuti arahan dari Bang Adi. Tentu saja posisi keduanya sama-sama berdiri dengan cukup dekat hingga yang melihat akan berpikir jika mereka adalah sepasang suami istri yang sangat romantis.


Deg…


Jantung Reni berdegup kencang saat tangan Bang Adi tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit tangannya. Tentu saja itu pertama untuk Reni karena selama ini dia tidak berani begitu dekat dengan pria manapun karena selalu dihantui oleh ancaman ayahnya.


“Apapun yang kamu lakukan di luar sana, Papa selalu tahu.”

__ADS_1


***


__ADS_2