
Hiks…
Suara iasakan tertahan itu terdengar sayup-sayup di belakang pondok. Beberapa hari ini dia sangat merindukan mamanya. Tepatnya setelah ia membaca surat yang Cut tinggalkan.
“Ma,”
Keempat temannya berdiri di belakang dengan rasa prihatin yang amat dalam. Selama setahun mondok bersama dalam satu bilik, mereka menyadari jika Iskandar bukanlah teman yang menyebalkan.
“Ayo, kita temani dia!”
Keempatnya berjalan lalu menepuk pelan pundak Iskandar.
“Ustad bilang, jika kamu merindukan ibumu maka berdoalah! Seperti aku yang selalu mendoakan ibuku di surga sana. Kamu beruntung masih bisa melihatnya tapi aku, aku hanya bisa melihat fotonya tanpa bisa merasakan lembut belaiannya di kepalaku. Ayahku lebih memilih ibu tiri dari pada aku. Makanya aku dibawa ke sini. Ibu tiriku tidak mau mengajakku bersama mereka.” Tutur Rezki.
“Aku malah tidak pernah bertemu ayahku. Fotonya saja aku tidak punya. Keluarga ayahku juga tidak pernah menghubungiku. Sementara ibu dari ayahku sekarang lebih menyayangi adikku karena dia anak dari ayahku yang sekarang.” Terjawab sudah bagaimana keluarga Iskandar.
Selama ini dia menutup rapat kondisi keluarganya tapi sekarang dia merasa harus bicara pada mereka. Dia tidak mau menyimpannya lagi. Dadanya terlalu sesak untuk menyimpan semua ini.
“Setidaknya ayahmu baik. Ayahku tiap hari selalu memukuli dan memarahiku. Makanya, ibuku membawaku ke sini dari pada diamuk oleh ayahku tiap hari.” ucap Dika.
“Kita lucu ya? Kita sudah tinggal setahun tapi baru sekarang cerita masalah kita. Kalian bagaimana? Apa kalian dari keluarga bahagia?” tanya Dika pada Dwi dan Ari.
Jika Ari tersenyum kecil tapi Dwi justru sebaliknya. “Kamu kenapa, Dwi?”
“Orang tuaku TKI, aku tinggal bersama kakek dan nenek. Mereka sudah tua jadi membawaku ke sini karena tidak sanggup lagi mengurusku. Mereka sudah mengurusku dari bayi dan saat aku besar dan sedikit nakal, mereka membawaku ke sini.” Ucap Dwi.
“Berarti Cuma Ari yang berasal dari keluarga bahagia ya?”
“Alhamdulillah, teman-teman.” Ari tersenyum kecil.
“Kenapa kamu dibawa kemari kalau kedua orang tuamu baik?” tanya Dika.
“Emm…Mama bilang biar aku tidak manja lagi dan hidup mandiri. Terus Papa bilang, Papa ingin aku yang memandikan dan mensalatkan jenazahnya kalau Papa meninggal nanti.”
“Hah??? Papa kamu lagi sakit?” tanya Dwi.
“Tidak, Papaku baik-baik saja. Papa dan Mama sering mengikuti pengajian. Dari sanalah timbul rencana memasukkanku ke sini.”
“Kamu gak protes?” tanya Iskandar.
Ari mengangguk pelam, “Sebelum dibawa kemari, mereka sudah menjelaskan terlebih dahulu. Jadi aku mengerti tujuan mereka apa dan aku mendengar sendiri dari ustad tempat orang tuaku mengaji. Jika anak laki-laki dimasukkan ke pondok pesantren makan suatu saat kedua orang tuanya akan bangga di akhirat. Kita tidak akan membuat orang tua kita masuk ke neraka. Justru kita bisa membuat mereka masuk surga. Karena amalan yang tidak putus dari orang tua adalah anak yang saleh seperti kita ini.”
“Aminnn.” Mereka serentak menjawab lalu tertawa bersamaan.
Sementara itu di kediaman Ibu Yetti sedang berlangsung acara arisan antara mantan ibu-ibu persit dimana mantan ibu mertua Rendra juga berada di sana. Sesuai interupsi sang ibu mertua, Cut datang ke sana untuk membantu kelancaran acara. Apalagi Ibu Yetti ingin memamerkan Anugrah pada teman-temannya.
Cut membantu asisten rumah tangga menyiapkan berbagai makanan yang sudah disiapkan untuk para tamu. Semenjak kejadian kemarin, Ibu Yetti tidak lagi terlalu sering ke rumah mereka. Cut merasa sedikit bersalah karena jika bukan karena dia. Hubungan sang suami dengan ibu mertuanya pasti baik-baik saja.
“Bagaimana rasanya memiliki dua anak laki-laki, Nak?” tanya Bapak Wahid pada mantan menantunya.
__ADS_1
“Sedikit repot, Pa. Tapi cukup membuat bersemangat apalagi tingkah mereka yang mulai beragam.”
“Apa anak pertamamu sudah mulai bertingkah hingga kamu pusing?” goda Bapak Wahid kembali.
Para lelaki yang memilih duduk di taman belakang tertawa kecil mendengar gurauan Bapak Wahid.
Sementara di dalam, para ibu-ibu lebih tepatnya para ibu-ibu yang sudah menjadi nenek juga sedang bergosip ria. Ketika Cut datang menghidangkan piring berisi kue-kue yang sudah disiapkan. Semua mata nenek-nenek itu memandangnya dari atas hingga bawah.
“Ini istri Rendra ya?” tanya salah satu teman Ibu Yetti.
“Iya, Buk.” Ucap Cut lembut seraya tersenyum kecil.
Dia sudah biasa hadir dalam acara perkumpulan bersama ibu-ibu persit tapi saat ini posisinya sebagai menantu sangat membuatnya tidak nyaman. Apalagi saat melihat tatapan para ibu-ibu tersebut.
“Anak pertama kamu mana?”
“Sudah dimasukkan pesantren, Jeng. Anaknya nakal sekali suka berantem di sekolah.” Jawab Ibu Yetti cepat.
“Bagus itu. anak kalau susah diatur di rumah lebih baik masukkan saja ke pondok. Dari pada bikin pusing. Kenapa tidak kamu kirim saja ke keluarga ayahnya?”
Deg…
Cut merasakan nyeri di dadanya. “Nenek dan kakeknya juga tidak akan sanggup ngurus kalau bandelnya sudah kelewatan begini. Mereka lagi senang-senangnya main sama anaknya Reni. Tiap hari mereka menjemput anak-anak Reni untuk dibawa jalan-jalan. Reni seperti tidak punya anak di sana karena mereka selalu dibawa oleh mertuanya.” Jelas ibu Yetti penuh semangat.
“Namanya juga cucu ya, pasti kita juga begitu kalau sama cucu sendiri.” jawab ibu yang lain.
“Lalu kapan kamu akan memberikan Anugrah adik? Jangan terlalu jauh jaraknya biar mereka bisa akrab. Anugrah udah empat tahun, harusnya udah bisa program lagi.”
“Lho, kok begitu? Kami para orang tua sudah lebih dulu menjalani apa yang kalian jalani. Jadi untuk hal itu kami sudah berpengalaman. Kami merawat anak-anak dengan baik bahkan sekarang sudah bisa punya anak kembali. Jangan membantah kalau orang tua memberi saran, kami tidak akan memberi saran yang jelek untuk anak-anak kami.” Seorang Ibu memberikan nasehat pada Cut namun yang Cut rasakan justru seperti hujaman peluru dikala perang.
“Sudah ibu, jangan terlalu dinasehati. Nanti malah suaminya yang marah sama saya karena terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Saya jadi bingun kan, ibu-ibu? Selaku orang tua, saya ingin yang terbaik untuk mereka tapi malah disalah artikan. Ya sudah, mulai sekarang saya diam saja.” Keluh Ibu Yetti kembali. Lirikan mata bernada sinis menghujam dari berbagai penjuru.
“Saya ke dapur dulu, Ma.”
“Gemes ya jeng punya mantu kayak gitu? Kalau mantu saya kayak gitu sudah lama saya suruh ceraikan.” Lanjut seorang ibu dan ucapan tersebut sampai ke telinga Cut.
Hari sudah malam dan semua tamu arisan sudah pulang. Kini hanya tinggal Cut di rumah itu sedang membantu membereskan rumah. Cut juga membantu mencuci piring bersama asisten rumah tangga di sana.
“Ibuk kan menantu di sini, kenapa ikut mencuci piring? Biar saya saja yang kerjakan.”
“Tidak apa-apa. Kalau berdua begini kan cepat siap. Bibik juga bisa cepat istirahat.”
Sayup-sayup, Cut mendengar perbincangan sang mertua dengan suaminya.
“Jadi kapan kalian akan memberikan Anugrah adik?”
Cut hanya menghela nafasnya. Ternyata ibu mertuanya begitu cepat termakan perkataan orang lain.
“Anugrah lagi aktif-aktifnya, Ma. Bagaimana bisa kasih adik. Cut pasti kerepotan apalagi Rendra tidak selalu ada di rumah.” Jawab sang anak.
__ADS_1
“Halah… alasan kamu sangat tidak masuk akal. Banyak perempuan diluar sana yang suaminya tentara tapi bisa punya anak dua sampai tiga. Malah ada yang berdekatan lagi lahirnya. Mereka aman-aman aja tuh. Pintar-pintar istrilah mengatur dan menjaga anak mereka. Jangan terlalu jauh jaraknya, nanti malah kejadian seperti Iskandar. Cemburu sama adik sendiri.”
“Perkataan mama ada benarnya. Anak itu penerus keturunan jadi tidak salahnya kalau lebih dari satu. Pulang dari sini langsung programkan untuk hamil lagi. Jangan terlalu lama KB.” Ucap Bapak Wicaksono.
“Nah betul kan, Pa. Papa saja setuju sama Mama. Minimal kamu punya tiga anak seperti kami. Ya kan Pa?”
Bapak Wicaksono mengangguk, “Kami sudah punya dua, berbarti tinggal tambah satu lagi.” Gurau Rendra.
“Iskandar itu bukan darah daging kamu. Walaupun kamu menganggapnya anak sendiri tapi darahnya tidak mengalir darah kamu. Papa tidak bisa mewariskan harta untuk anak yang bukan darah daging kamu.”
“Pa, jangan keras-keras. Tidak enak jika Cut mendengarnya.
“Itu fakta, Rendra! Lagi pun, Iskandar sudah mendapat warisan dari keluarga ayah kandungnya. Jadi, tidak masalah jika dia tidak mendapat dari kami. Dan kami pun tidak mau memberikan warisan kami pada anak yang bukan keturunan kami.”
Air mata Cut jatuh dengan sendirinya. Walau berusaha menahan sekuat tenaga tapi air mata itu tetap terjatuh hingga membuat Cut terisak.
“Sabar ya Buk.”
Asisten rumah tangga yang sedang mencuci piring hanya bisa mengucapkan kalimat itu. hati sang bibik juga ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Cut.
“Saya tidak apa-apa, Bik. Terima kasih.” Ucap Cut berusaha tersenyum walaupun getir. Ia menghapus air matanya lalu kembali mencuci piring hingga selesai.
Setelah membereskan semua pekerjaan di dapur bersama asisten rumah tangga. Rendra mendatangi Cut yang sedang menyesap the bersama si Bibik.
“Ma, ayo pulang! Anugrah sudah mengantuk.”
Cut mengangguk lalu berpamitan pada Bibik di dapur. Cut menyalami tangan kedua mertuanya. “Cut pulang dulu, ya Ma.”
“Iya, terima kasih sudah bantu-bantu di rumah. Jangan lupa, pulang dari sini segera lepas KB biar Anugrah ada temannya.”
“Iya, Ma.”
Mobil melaju meninggalkan komplek perumahan. Cut diam dalam pikiran yang terus menerawang mengingat semua perkataan ibu mertuanya.
“Sayang, malam ini jangan minum pil lagi ya! Papa pikir, ucapan Mama ada benarnya.”
“Iya,”
Rendra tersenyum senang karena sang istri akhirnya setuju untuk memulai program kehamilan. Selama ini, dia sudah mencoba tapi Cut selalu meminta waktu karena Anugrah sangat aktif dan membutuhkan perhatian lebih.
Setelah sampai di rumah, Cut langsung menidurkan Anugrah yang sudah terlelap semenjak di dalam mobil. Cut merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Dengan malas Cut berucap, “Mama ke kamar mandi dulu,”
Rendra melepaskan pelukannya, “Jangan lama-lama!”
Cut mengangguk malas tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Kenyataan seorang istri memang digunakan untuk hamil dan melahirkan.
Cut keluar dari kamar mandi lalu dengan cepat Rendra mengukung tubuhnya. Memberikan ciuman-ciuman panas disekujur wajah hingga tubuh sang istri. Dengan semangat, Rendra melakukan kewajibannya sementara Cut hanya memberikan tubuhnya tapi dalam hati, ia meraung ingin mencakar sang suami. Hatinya terlalu sakit hingga kenikmatan yang diberikan sang suami tidak mampu menghilangakan sakit hatinya. Sebulir air bening jatuh di ujung matanya saat Rendra tengah bersemangat di atas tubuhnya.
“Apa kamu tidak menikmatinya, Sayang?”
__ADS_1
***