
Suara orang memberi salam terdengar saat kami sedang bersantai sambil melihat tingkah Teuku yang sangat menggemaskan.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.” jawab Abu dari dalam lalu beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
Dari suaranya aku tahu siapa lelaki di balik pintu tersebut. Ya, lelaki itu adalah Rendra. Pria itu datang sambil menjinjing sebuah kantung plastik hitam di dalamnya. Dari bau yang dikeluarkan aku bisa menebak jika isi dari plastik hitam tersebut adalah makanan.
Rendra membawa beberapa bungkus martabak telur. Dan bisa ditebak siapa yang paling lahap di sini. Dia adalah Rendra kecil yang sangat suka mengunyah. Rendra memangku Teuku dengan sebelah tangannya memegang piring berisi martabak yang dimakan Rendra.
“Cut, Wahyu bilang jika kamu ingin bertemu dengan mertua Khalid. Apa itu benar?”
“Iya. Apa saya bisa bertemu mereka?”
“Saya sudah meminta izin. Besok saya jemput kamu untuk menemui mereka.”
Aku mengangguk kecil seraya menatapnya sekilas matanya.
Deg...
Ternyata dia juga melakukan hal yang sama. Dengan cepat aku memalingkan wajahku. Kenapa rasanya begitu panas? Ada yang salah dengan tatapan matanya. Ah... aku benar-benar dibuat bingung oleh pria aneh ini.
“Abu, Umi, saya minta maaf karena hanya Cut yang bisa menemui mereka. Di sana bukan tempat yang baik untuk Rendra jadi, Rendra biar di rumah saja sama Abu dan Umi. Apa Abu tidak keberatan?”
“Tidak, Nak. Lebih baik begitu. Sampaikan saja salam kami pada mereka serta rasa terima kasih kami karena mereka telah membantu Cut dan Teuku selama di sana.”
Rendra mengangguk kecil kemudian dia berpamitan pada kami.
“Saya permisi dulu, besok sekitar jam 10 saya akan menjemput Cut.” ucapnya sesaat sebelum pergi meninggalkan rumah ini.
__ADS_1
Jam 10 pagi...
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Aku sudah bersiap dari tadi. Abu mengatakan jika tentara itu selalu tepat waktu dan tidak ada kata menunggu. Jadi, sedari jam 9 aku sudah siap menunggu kedatangan Rendra.
“Assalamualaikum.” suara sorang pria yang sudah aku hafal.
“Walaikumsalam.” jawab Abu yang juga ikut menunggu di ruang tamu.
“Saya minta maaf, Abu. Karena tidak bisa masuk lagi. Apa Cut sudah siap?”
Aku menghampiri Abu yang masih berdiri di depan pintu. “Cut, bawa ini. Bilang sama mereka dari Umi.” Umi menyerahkan sebuah kota yang dibungkus kain segi empat.
Aku tidak tahu apa isinya dan Rendra juga menatap bungkusan itu dengan penuh selidik. Bagaimanapun, dia tetap seorang tentara yang sedang bertugas di daerah konflik paling parah karena sudah bertahun-tahun tidak ada kata damai yang tercipta. Sehingga jiwa militer tentang kewaspadaan dan curiga melekat erat dalam dirinya.
Aku tersenyum kecil melihat dia menatap kotak tersebut kemudian kami langsung pergi setelah berpamitan pada Abu dan Umi.
Rasa canggung kembali menderaku saat ini. Kami sedang dalam perjalanan menuju tempat keberadaan orang tua Kak Limah. Dia terlihat berbeda saat ini. Aku tidak pernah melihat raut wajahnya seperti sekarang. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Apa ini? Sekalinya dia bicara malah tentang ini. Tanpa banyak kata dia menodongku dengan ajakan untuk menikah. Aku masih diam sambil berpikir tentang setiap kata yang dia ucapkan.
“Cut, jawab saya!” aku sedikit terkejut karena dari nadanya terkesan dia sedang memaksaku.
“Saya tidak bisa menjawab karena semua keputusan ada di tangan Abu.” aku mengelak supaya dia tenang. Dan sepertinya jawabanku cukup ampuh untuk membungkamnya.
“Maaf karena saya jarang memberi kabar setelah pulang kemarin. Saya langsung melanjutkan pendidikan dan kembali dikirim kemari beberapa bulan lalu. Saya sangat bahagia bisa bertemu kamu kembali. Saya yakin kamu adalah jawaban dari doa-doa saya.”
Tenggorokanku tercekat mendengarnya. Pria aneh ini sedang meluapkan perasaannya padaku sekarang. Aku memilih menjadi pendengar yang baik. Lagi pun aku juga tidak tahu harus menjawab apa.
“Setiap saat saya selalu memandang fotomu sambil memanjatkan doa supaya Allah menjodohkan kita dunia akhirat. Saat saya melihat kamu pertama kali di dalam gua, saya hampir tidak percaya. Wanita yang saya rindukan berada tepat di depan mata saya dengan kondisi memprihatinkan. Perasaan saya antara senang dan takut. Saya senang bisa bertemu kamu dan saya takut saat melihat kamu terbaring tidak sadarkan diri. Saya takut jika harus melihat kamu dan melepaskan kamu dalam waktu bersamaan. Saya tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu di depan mata saya.”
Aku masih diam tanpa sepatah kata pun. Jauh dari lubuk hatiku terbesit rasa aneh mengetahui perasaannya padaku. Namun, aku bingung harus bagaimana. Apa yang patut aku ucapkan? Apa aku menyukai pria aneh ini? Apa ini rasanya suka pada lawan jenis? Apa begini perasaan seorang wanita jika mendengar perkataan pria padanya? Apa yang Miftah rasakan juga begini. Sebenarnya, apa aku menyukai pria aneh ini?
__ADS_1
Ah.... rasanya aku ingin teriak saja.
“Cut, apa kamu tidak menyukai saya?” aku terkejut bukan karena perkataannya tapi karena genggaman tangannya yang tiba-tiba.
Pandangan kami bertemu sebentar sebelum dia memutuskan lebih dulu karena sedang mengendarai mobil.
“Cut, jawab yang jujur. Apa sedikit pun kamu tidak pernah memikirkan saya ataupun suka sama saya? Kamu harus jujur setidaknya pada dirimu sendiri.”
“Bukan mahram.”
“Ayo, saya jadikan mahram.” sebelah tangannya masih menggenggam tanganku dengan erat padahal aku sudah berusaha untuk menariknya.
“Bagaimana, apa kamu pernah memikirkan saya sebentar atau saya pernah terlintas di pikiran kamu walau cuma sesaat?”
Bagaimana aku menjawabnya. Aku bingung ditambah dengan tangannya yang menggenggam tanganku dari tadi. Rasanya dadaku sangat sesak dan sulit bernafas. Kenapa jantungku juga berdetak kencang? Apa begini rasanya suka sama seseorang? Kenapa perasaan begini tidak hadir saat aku bersama Khalid? Ah...aku bingung.
Mobil yang kami naiki tiba-tiba berhenti. Aku menatap ke arah yang sama. Rendra membuka kaca jendela mobil lalu beberapa tentara lain memeriksa isi mobil dan barang pertama yang mereka periksa adalah bungkusan yang Umi berikan untuk orang tua Kak Limah.
Ternyata isi dari bungkusan itu adalah kue kaleng. Betapa kagetnya aku saat mereka membuka kaleng tersebut lalu memeriksa sampai ke dalam kaleng yang berisi biskuit tersebut. Mereka juga memeriksa tasku yang isinya hanya sajadah serta sebuah dompet kecil yang isinya hanya beberapa lempar rupiah yang Umi berikan.
Aku menatap sekilas pada Rendra yang tengah mengamati barang-barangku. Setelah memeriksa semuanya, kami kembali masuk ke dalam mobil. Pelan-pelan, Rendra melajukan mobil tersebut ke dalam sebuah area yang jika di daerahku di sebut markas tapi ini dalam ukuran besar. Aku melihat begitu banyak pria berbaju loreng di sini. Truk-truk mereka juga banyak dan berbagai jenis.
“Pengamanan di sini sangat ketat. Siapa yang kemari tetap diperiksa walaupun tentara seperti saya karena saat ini saya membawa warga sipil dan masih ada hubungannya dengan para pemberontak itu. Makanya, saya tidak bisa mencegah mereka supaya tidak menggeledah kamu. Apalagi banyak tentara yang ikut membelot dan ikut bergabung dengan para pemberontak.”
Aku hanya bisa mengangguk mendengarkan penjelasan Rendra. Mobil berhenti di samping sebuah bangunan berwarna hijau.
“Ayo turun! Kita sudah sampai.”
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...