CUT

CUT
Ceraikan Aku!!!


__ADS_3

“Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Cut masih tetap diam.


Tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia terusa melahap sarapannya sampai tandas. Karena untuk marah juga butuh energi dan Cut sedang membutuhkan banyak asupan kalori yang akan membuatnya tetap kuat menghadapi badai sekalipun. Dia sudah membuktikan jika tsunami saja tidak mampu membuatnya goyah.


“Kamu lagi marah ya?”


“Sayang, dosa tahu mengabaikan suami.”


“Kalau sudah makan lebih baik segera berangkat. Aku sedang tidak berniat untuk bicara banyak hari ini.” Ketus Cut.


“Tapi kenapa? Oh, aku tahu. Kamu lagi datang bulan ya? Eh, tidak. Semalam kita habis kerja mana mungkin kamu datang bulan. Ya sudah, Abang pergi kerja dulu ya. Asslamualaikum,”


“Walaikumsalam.”


Rendra hendak keluar lalu kembali menoleh ke belakang, “Gak diantar sampai depan?”


“Gak!”


“Cium?”


“Gak.”


Merasa jika istrinya memang sedang tidak bisa bercanda, Rendra memutuskan untuk berangkat kerja. Wajahnya sedikit muram hingga tanpa sadar menjadi perhatian rekan-rekannya.


“Kenapa?” bisik Wahyu.


“Entahlah. Cut tiba-tiba jadi dingin dan pemarah dari tadi.”


“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berbuat salah?” Rendra menggelengkan kepala.


“Lagi datang tamu ya?”


“Semalam kami bercinta bagaimana bisa datang tamu.” Keluh Rendra.


“Mungkin tadi.”


“Dia habis salat subuh, Yu.”


“Berarti ada pemicu yang lain. Coba kamu pikir-pikir.”


“Ini juga lagi mikir, Yuuuu.” Rendra sedikit kesal dengan ulah Wahyu hingga membuatnya semakin kesal.


Ting…


Wahyu membuka ponselnya lalu mengerutkan dahi melihat apa yang istrinya kirim.


“Ren, sepertinya aku tahu apa yang membuat istrimu marah.”

__ADS_1


Rendra yang sedang melihat beberapa daftar senjata yang baru masuk tiba-tiba berhenti. Ia menatap Wahyu lekat dan –


“Ini?”


Wahyu mengangguk pelan. “Tapi Cut tidak pernah bermain di jejaring pertemanan itu.”


“Memangnya kamu pernah melihat ponselnya?”


Rendra menggeleng, “Dia jarang memegang ponsel. Hpnya kadang ia letakkan di kamar bahkan sampai lupa di cas. Dan dia juga tidak punya akun media sosial.”


“Sebarapa yakin kamu dia begitu?” tanya Wahyu.


“Istriku mengatakan jika ia mulai tidak tenang saat melihat foto-foto kamu di ponsel ibu-ibu yang lain. Mereka sudah pasti mengenal Risma dan tentu saja mereka tahu bagaimana perawakan kamu. Apalagi dengan unggahan Risma kan kamu tadi malam. Ya tuhan, kamu sudah bermain api, Rendra.”


“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Risma. Kami hanya berteman sekedarnya dan aku hanya membantunya supaya dia terlihat punya pasangan. Itu semua untuk membuat para laki-laki brengsek yang sering menggajak Risma bertemu dan sampai ada yang mengajak tidur bersama. Gila kan?” jelas Rendra berapi-api.


“Tapi kamu tetap salah karena kamu menyembunyikan ini semua dari Cut. Ini, dia justru tahu dari orang lain. Apa kamu sudah hilang akal?” Wahyu ikut emosi melihat sahabatnya bertingkah sok naif.


Rendra dan Wahyu mengakhiri perdebatan mereka. Satu hal yang bari disadari oleh Rendra jika istrinya saat ini tengah cemburu dan berburuk sangka padanya. Maka, dengan semangat Rendra pulang ke rumah saat jam istirahat. Tidak lupa dia juga membelikan seikat bunga dan ketoprak untuk sang istri. Cut sedang bermain dengan Anugrah sambil menonton tv saat Rendra datang.


“Ciri-ciri suami ketahuan selingkuh. Seikat bunga, satu hektar ladang bunga juga tidak akan membuat rasa percaya itu kembali.” Sindir Cut.


“Sayang, aku bisa jelaskan.”


Cut diam, dia tidak mau peduli lagi tentang apapun penjelasan sang suami. Kepercayaannya sudah hilang semenjak melihat foto yang diunggah tadi malam oleh Risma ditambah dengan menandai akun ‘Pak RW’


“Kalau tidak mau diganggu ya jangan main aplikasi itu. sudah tahu aplikasi itu memang seperti itu. sudah tahu banyak pria brengsek di sana tapi masih pajang foto seksi. Tentu saja pria-pria itu tertarik tak terkecuali PAK RW.”


Cut menyindir sang suami dengan lirikan sinisnya. “Sayang, kita menikah sudah berapa lama? Apa pernah selama ini Abang bermain di luar sana?”


“Mana aku tahu. Jangan bilang setia sama aku yang sudah pernah mengalami bahkan melihat sendiri bagaimana setianya kalian saat bertugas di daerahku.” Sindir Cut kembali.


“Tidak semua begitu, Sayang. Buktinya Abang masih setia sama kamu sampai akhirnya Abang tahu kamu telah menikah dan Abang juga harus melanjutkan hidup dengan menikahi Risma.”


“Dan sekarang kamu ingin mengulang kembali kisah manis kalian? Silakan, tapi sebelum itu, ceraikan aku!”


“CUT!!!” suara Rendra meninggi hingga membuat Anugrah terkejut dan ketakutan. Selama ini, Rendra tidak pernah meninggikan suaranya bahkan saat Iskandar berkelahi dia juga tidak pernah membentaknya.


Air mata Cut mengalir dengan sendirinya. Entah apa yang ia rasakan saat ini yang jelas hati dan pikirannya sangat kacau.


“Jangan pernah mengatakan kata itu lagi. Abang akan membawa Anugrah ke rumah Mama. Tenangkan diri kamu! Kita akan melanjutkan ini setelah saya kembali.”


Rendra mengambil Anugrah dan memasukkan beberapa perlengkapannya dalam tas yang sudah biasa ia bawa saat Anugrah mendatangi rumah neneknya. Cut menangis sendiri di rumah setelah kepergian Rendra. Ia kembali melihat foto yang Risma unggah dan itu semakin membuatnya hancur.


“Kamu jahat, Bang.”


Rendra sampai ke rumah orang tuanya. Melihat wajah anaknya yang tidak seperti biasa membuat rasa penasaran sang ibu ikut bergejolak.

__ADS_1


“Rendra titip Anugrah ya, Ma.” Ibu Yetti memperhatikan keadaan sang putra dengan saksama.”


“Ada apa?” tanya Ibu Yetti.


Rendra menghela nafasnya secara kasar. “Ada kesalahpahaman yang terjadi. Rendra butuh waktu untuk meluruskannya bersama Cut. Rendra titip Anugrah di sini ya, Ma.”


“Kesalahpahaman apa? Apa yang terjadi? Selama ini kalian baik-baik saja. Apa yang kamu lakuka hingga istrimu marah?”


“Maaaa, Rendra akan menyelesaikannya sama Cut. Rendra pulang dulu.” Setelah menyalami tangan sang ibu, Rendra kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Saat Rendra masuk, Cut sudah tertidur di kamar.


Rendra tidak ingin membuang waktu dan dia tahu jika istrinya pasti sedang berpura-pura tidur. Ia nik lalu memeluk sang istri dari belakang.


“Ayo kita bicara dengan hati dan pikiran yang tenang. Saya tahu bagaimana sakitnya dikhianati dan saya sudah berjanji tidak akan melakukan itu padamu saat kita menikah dulu. Apa yang saya lakukan itu salah. Saya minta maaf dan untuk membuat hatimu tenang, saya akan menghapus semua foto dan keluar dari akun tersebut. Apa lagi yang harus saya lakukan untuk membuat kepercayaan kamu terhadap saya tidak luntur?”


Cup…


Rendra memberikan kecupan-kecupan kecil di pundak, tengkuk hingga ceruk lehernya.


Cut meremang hingga memejamkan mata. Ia tak dapat memungkiri jika kecupan dan kata-kata lembut Rendra sedikit meluluhkannya. Tangan Rendra mengusap-usapa dada hingga perut naik turun saat Cut tidak merespon perkataannya.


“Kamu adalah cinta yang lama Abang nantikan. Bahkan harus bertaruh nyawa untuk mendapatkanmu. Apakah dengan mudahnya Abang bisa melepas kamu dan pergi ke hati lain? Kalau mau, dari dulu sudah Abang lakukan. Bahkan saat Abang dikirim bertugas, Abang masih setia sama kamu. Tidak sekalipun Abang melepas cincin pernikahan kita. Bagaimana kamu bisa berpikir kalau Abang akan kembali ke wanita yang jelas-jelas dulu sudah mengkhianati Abang?”


“Pikirkan dengan kepala dingin dan tenang, Sayang. Cerai bukan solusi untuk menyelesaikan masalah. Dan Abang harap ini pertama dan terakhirnya kamu mengeluarkan kata-kata itu. Abang tidak akan mampu melepasmu dan anak-anak kita. Kamu bisa saja meminta itu pada mantan suamimu tapi jangan harap kamu bisa mendapatkannya dari saya.”


“Saya akan menghubungi Risma dan kamu bisa bertanya sendiri padanya jika tidak percaya sama saya.”


Rendra bangkit hendak mengambil ponsel dalam saku celananya tapi Cut menahannya. Cut berbalik lalu menatap lekat sang suami. Keduanya saling menatap dalam diam. Cut mencari kebenaran dalam manik mata sang suami dan dia tidak menemukan kebohongan di sana.


“Aku akan berusaha percaya walaupun sulit. Tapi aku mau Abang menghapus foto-foto itu dan menjelaskan pada semua yang berkomentar di situ. Aku tidak mau para ibu-ibu persit menggungjing tentang pernikahan kita. Mereka mengenal Risma dan pasti tahu jika itu Abang. Suruh Risma menghapus foto saat kalian masih menikah. Rasanya tidak pantas jika dia memajang foto itu lagi. Kalian sudah mantan bukan lagi suami istri.”


“Nanti Abang akan bilang pada Risma. Tapi, sejak kapan kamu bermain aplikasi itu?” tanya Rendra penasaran.


“Sejak mengetahui jika suamiku bermain peran bersama mantan istrinya dan aku adalah satu-satunya istri yang paling bodoh karena tidak mengetahui apa yang suamiku lakukan di luar rumah.”


Perdebatan siang itu berakhir dengan perang panas antara keduanya. Walau hatinya masih panas tapi tubuhnya tidak  mampu menolak rayuan maut sang suami. Lupakan masalah dapur dan makan siang karena keduanya tengah sibuk dengan makanan yang lain.


Makan siang bersama dengan ketoprak menjadi pilihan yang tak terelakkan apalagi mengingat begitu ganasnya Rendra menyerang hingga membuat lutut dan kaki Cut masih saja gemetar. Dengan rambut sama-sama basah, keduanya menikmati ketoprak tersebut. Makan dalam diam namun Rendra terus melirik sang istri dengan ekor matanya.


Rendra tersenyum penuh kemenangan dalam hati saat melihat banyak jejak yang ia tinggalkan ditubuh sang istri. Belum lagi bibir sang istri yang bengkak akibat ulahnya. “Selesai di atas renjang!” batinnya.


Getaran ponsel menyadarkan keduanya. Cut melirik ke arah ponsel sang suami. “Kenapa tidak diangkat? Siapa, mantan?” sindiri Cut.


Sementara Rendra bingung harus menjawab atau melupakan. Dalam pikirannya dia sudah menebak apa yang akan Risma bicarakan hingga meneleponnya secara langsung.


“Ren, kenapa kamu menghapus foto-foto kita tanpa mengatakan lebih dulu? Mereka terus mendesakku untuk menjawab pertanyaan mereka dan akun Toni itu malah mengataiku yang tidak-tidak. Ren, kamu dengar aku kan?”


“Saya dan suami sedang makan. Apa ada hal yang sangat mendesak sampai Mbak Risma mengganggu waktu makan siangnya?”

__ADS_1


***


__ADS_2