CUT

CUT
Dukun...


__ADS_3

Pesta telah usai menyisakan kebahagiaan dan kelelahan bagi mereka si empunya acara. Di saat yang ain sedang berkumpul sambil bercengkrama setelah melepas penat tadi siang. Cut mengendap-gendap keluar dari rumah menuju salah satu rumah yang tidak jauh dari sana. Cut mengetuk pintu lalu muncullah seorang perempuan yang tengah hamil besar. Perempuan tersebut tersenyum lalu mempersilakan Cut untuk masuk.


“Kamu sudah datang ternyata. Mak Wa pikir kamu tidak akan datang karena dilarang sama suamimu.” Ucap seorang perempuan paruh baya yang menawarkan obat hamil tadi siang di pesta.


“Saya juga mau hamil, Mak Wa. Cuma selama ini saya tidak berobat kemana pun. Si Abang juga tidak pernah membicarakan masalah anak.” jawab Cut.


“Laki-laki memang seperti itu. Dia tidak ingin memiliki anak tapi saat nanti dia ingin dan umur kita sudah tidak memungkinkan maka dengan mudah dia berkata izinkan aku menikah lagi. Lalu saat itu datang, kamu akan berbuat apa? Semua sudah terlambat. Umur tidak bisa diobati tapi penyakit bisa. Hanya tinggal mau atau tidak.”


“Benar Kak Cut. Kita perempuan punya batas umur jadi kalau bisa sekarang kenapa harus ditunda? Saya aja nunggu setahun setelah itu langsung berobat dan alhamdulilah seperti yang Kak Cut lihat sekarang.” Tukas anak perempuan Mak Wa yang sudah hamil besar itu.


Melihat bagaimana hasil kerja obat itu, Cut sangat antusias. Dia kembali bersemangat untuk hamil hingga dia meminta alamat pengobatan itu pada Mak Wa. Cut tidak bisa berlama-lama di sana takut Rendraa akan curiga. Setelah mendapatkan alamat serta sisa ramuan obat yang telah dikonsumsi oleh anak Mak Wa tersebut. Cut bergegas kembali ke rumah tentunya dengan mengendap-ngendap kembali.


“Dari mana, Cut?”


Gleg…


Cut tertangkap basah. Cut lupa jika dia menikahi laki-laki berstatus prajurit yang sudah banyak melintang di dunia peperangan dengan mengendap-ngendap sama seperti yang ia lakukan saat ini.


Cut berusaha tersenyum walaupun terlihat jelas jika dia sedang mencoba berbohong. “D-dari rumah Mak Wa depan.” Jawab Cut berusaha menyembunyikan obat-obat tadi.

__ADS_1


Tentu saja pergerakan sekecil apapun tidak akan luput dari sorot mata Rendra. “Kenapa harus mengendap-ngendap seperti maling?”


“Hehehe…maaf. Ayo, masuk! Banyak nyamuk di luar.”


Cut mengalihkan pertanyaan sang suami dengan menarik satu tangan sang suami untuk mengikutinya masuk. Rendra paham isi hati istrinya, dia juga tidak mungkin memperkeruh keadaan untuk bertanya lebih dalam. Dia akan memantau sejauh mana istrinya akan bertindak. Selama ini, Cut tidak pernah melakukan hal aneh-aneh. Rendra mulai penasaran seberapa nekat istrinya ini. Maka, ia pun  mengikuti permainan sang istri.


Malam mulai larut. Para penghuni sudah mulai memasuki kamar masing-masing. Begitu juga dengan pasangan yang dari siang tadi sudah dipajang begitu lama di atas pelaminan. Mereka bahkan sudah sampai ke alam mimpi masing-masing saking lelahnya. Sementara di kamar yang lain, Rendra sudah memejamkan mata bersama Iskandar yang sudah tidur lebih dulu. Cut yang tadi ikut tidur kini secara perlahan membuka matanya lalu melirik sang suami. Cut menggerakkan tubuhnya pelan-pelan lalu turun dari tempat tidur.


Cut keluar dari kamar lalu mengambil baskom kecil berisi air dan bunga-bunga yang wangi di dalamnya. Satu botol air minum juga ia bawa ke kamar. Sampai di kamar, ia mengambil tempat di sudut menghadap barat. Ia membuka kertas lalu mulutnya mulai komat kamit dengan kusyuk. Rendra tersenyum kecil saat berhasil mengintip kegiatan sang istri yang menurutnya lucu.


“Ah…kamu seperti dukun saja kalau bertingkah seperti itu. Ingin sekali saya memakanmu malam ini.” Rendra membatin seraya tersenyum lucu.


Rendra hampir mengerang saat tangan sang istri mengusap lembuh kejantanannya. “Kamu harus bertanggung jawab, Sayang. Saya tidak akan melepaskanmu setelah ini.” Batinnya.


Cut mengusap tangan yang sudah ia celupkan dalam baskom tadi sebanyak tujuh kali. Lalu bergegas keluar. Cut kembali ke kamar dengan sebuah botol minum kosong. Lalu botol air minum yang ia bacakan doa tadi ia tuang ke dalam botol kosong kemudian menaruhnya di samping tempat tidur. Rendra mulai menggerakkan badannya.


“Sayang, Abang kayaknya mimpi basah. Lihat ini celananya basah juga. Tapi kalau mimpi seharusnya ingat. Nih, Abang malah tidak ingat.” Cecar Rendra panjang lebar.


“Ya sudah, Abang tidur lagi saja.”

__ADS_1


Hemmppp…


“Tidak bisa. Dia minta kamu.” Bisik Rendra di telinga sang istri lalu mulai mencumbunya dengan liar hingga Cut kualahan menghadapi sang suami yang malam ini terasa berbeda. Saat Rendra dengan rakusnya melahap setiap inci kulit leher dan dadanya. Cut kembali teringat, “Apa mungkin ini efek obat itu?” batinnya.


Malam panas yang seharusnya milik pasangan pengantin justru berganti menjadi milik mereka walaupun Cut harus menutup wajahnya dengan bantal di atas karpet karena ada Iskandar di tempat tidur. Jika di rumahnya, ia akan memasuki kamar yang lain tapi ini rumah orang. Rendra sendiri begitu bringas malam ini karena menahan kesal akibat ulah istrinya yang mempercayai hal-hal di luar logika. Cukup lama mereka melakukannya sampai tiga kali dalam berbagai posisi. Cut benar-benar takjub dengan kekuatan sang suami yang luar biasa malam ini. Jika dulunya mereka akan menjeda sesaat untuk beristirahat tapi kali ini. Rendra melakukannya tanpa jeda.


Menjelang azan subuh, Rendra berhenti. Hari ini badannya remuk redam setelah seharian mengikuti acara resepsi sang adik dan malamnya harus melihat sang istri yang berlagak seperti dukun dan sekarang malah juniornya minta terus bekerja tanpa jeda. Rendra tepar di atas karpet sampai subuh. Cut membangunkannya jam lima lewat supaya sang suami sedikit segar namun kenyataannya setelah mandi dan salat subuh. Rendra kembali tidur hingga terbangun jam sembilan pagi saat semua orang sudah sarapan.


Ia turun dengan wajah segar tapi tidak menutup wajahnya yang masih terlihat mengantuk. “Yang pengantin baru siapa yang kerja siapa?” celutukan itu berasal dari Riko. Tentu saja, pemuda ini tidak akan takut pada siapapun dalam berucap. Dia melindungi dirinya dengan memangku Iskandar.


Rendra mengedarkan pandangan mencari-cari sang istri, “Kak Cut pergi sama Intan. Katanya ada yang mau dibeli.” Ucap Reni menyadari jika sang kakak sedang mencari istrinya. Jiwa prajuritnya melekat kuat hingga Rendra pun mengajak Adi untuk berbicara di luar rumah.


“Cut pergi ke dukun untuk hamil. Apa kamu bisa membantuku?”


“Apa???”


 


***

__ADS_1


__ADS_2