
Dua hari sudah Iskandar berada di Aceh untuk melihat kondisi sang nenek. Ini adalah hari ke tiganya di sana dan pagi ini dokter memberikan kabar gembira kepada mereka. “Ibu Murni sudah boleh pulang, kesehatannya begitu cepat membaik setelah kedatangan cucu. Sepertinya kehadiran cucu laki-lakinya membuat Ibu Murni merasa bersemangat kembali dan ingin segera sembuh.
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Kak Julie, Bang Adi dan Iskandar. Sementara Ibu Murni hanya tersenyum kecil. Tangannya terus menggenggam tangan sang cucu. Mungkin benar yang dikatakan oleh dokter jika kesembuhan Ibu Murni dipengaruhi oleh kehadiran Iskandar.
“Ayo, Bu kita pulang!” ucap Kak Julie.
“I-ibu mau pul-ang ke ru-mah Is-kan-dar.” Lirih Ibu Murni membuat Kak Julie dan Bang Adi terdiam menatap satu sama lain.
“Is bi-lang ma-u me-nga-jak I-bu me-laam-ar se-or-ang ga-dis.”
Tanta dan Omnya kompak menatap Iskandar penuh tanya. Sementara yang ditatap justru menggaruk tenguknya. Ia tidak tahu jika perkataannya mampu membuat sang nenek bangun dari tidurnya selama dirawat.
“Is, bisa jelaskan ini pada kami?” tanya Om Adi.
“Is ingin bawa Nenek dan Kakek ke Surabaya. Insya Allah, Is mau melamar seorang gadis dan Is ingin Nenek dan Kakek ikut hadir di sana.”
“Ne-nek ma-u.” Lirih Ibu Murni.
Kak Julie meminta Iskandar untuk bicara di luar. Iskandar tahu ini tidak akan mudah tapi ia tetap ingin membawa sang nenek bersamanya. Kak Julie tampak frustasi, “Kenapa kamu meminta itu pada Nenek? Kamu tahukan bagaimana keadaan Nenek? Aceh-Surabaya itu jauh, Iskandar.”
“Tenang, Kak. Kita diskusikan dulu sama dokter.” Sela Bang Adi.
Mereka bertiga menjumpai dokter yang merawat ibunya. “Kesehatan Ibu Murni saat ini sangat bergantung pada hatinya. Jika hatinya bahagia, maka kesehatannya juga bahagia. Di usia sepuh seperti ini, kebahagiaan dari keluarga terdekat adalah hal yang penting. Biarkan beliau bahagia di usianya yang tidak lagi muda. Insya Allah, kesehatannya juga akan membaik.”
Akhirnya setelah melalui proses panjang, Ibu Murni dan Pak Fahri pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Satu-satunya tempat tujuan mereka adalah rumah utama milik Bapak Wicaksono. Bapak WIcaksono sendiri sudah lama mengizinkan rumahnya untuk ditempati. Apalagi, beliau sering menginap bersama di vila milik sahabatnya. Bapak Wicaksono menyukai suasana tenang di kebun the bersama para sahabatnya.
Wulan melihat hari ini seisi rumah kelihat sibuk. Si Bibik juga sibuk di dapur sementara ibu mertuanya bersama-sama dengan Anugrah dan Rendra terlihat merapikan kamar bawah di dekat tangga. “Bik, ada acara apa sih?” tanya Wulan mendatangi si bibik di dapur.
“Keluarga dari Aceh akan berkunjung kesini.”
“Keluarga dari Aceh?” tanyanya lagi.
“Ibu itu orang Aceh. Yang akan datang ke sini adalah kakek dan nenek dari Den Iskandar.” Jawaban Bibik membuat Wulan tampak berpikir keras. Ia bingung dengan penjelasan Bibik yang menurutnya tidak jelas.
“Orang tua yang akan datang ke sini itu mantan mertua Ibuk dari suami pertamanya. Den Iskandar itu anak dari suami pertama Ibuk sebelum menikahi Bapak.” Wulan mulai paham, “Lalu suami pertama itu kemana?”
“Hilang. Saat itu kan gempa dan stunami jadi banyak warga Aceh yang hilang dan meninggal. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib ayah dari Den Iskandar itu sampai sekarang.”
“Bik, sudah siap?” tanya Cut yang baru datang. Wanita itu tampak kelelahan tapi tidak mengeluh sedikitpun walau dalam keadaan pincang. Wulan selalu memperhatikan wanita itu diam-diam. Kesabaran Cut dalam mengurusnya sudah membuktikan sesabar apa wanita bergelar ibu mertuanya itu.
“Kamu sudah makan?” tanya Cut setelah meminum air dingin dari kulkas.
Wulan mengangguk kecil, “Nanti ada Kakek dan Nenek dari Kakak Anugrah yang akan datang. Mereka akan tinggal di sini bersama kita. Kamu tidak keberatan kan?”
“Kenapa wanita ini menanyakan pendapatku? Memangnya kalau aku bilang keberatan apa dia mendengarkan? Dasar wanita aneh.”
“Wulan, kenapa kamu malah melamun?” Wulan kembali tersadar. Ia memutar kursi rodanya lalu menjauh dari sana tanpa memberikan jawaban.
“Bik, saya perhatikan isi kulkas makin hari makin banyak saja camilan dan minuman kemasan. Apa Anugrah selalu memakan semua ini?”
“Iya, Buk.”
“Anak itu selalu saja menyukai makanan instan. Apa dia juga membeli mie instan?” Bibik gelagapan. Selama Anugrah sakit, Cut kembali rewel dengan makanan Anugrah. Sebelumnya ia mulai membiarkan tapi setelah kecelakaan. Cut sudah mulai cerewet dengan putra bungsunya itu. Anugrah memang terkenal nakal soal makanan. Dia sangat menyukai makanan kemasan padahal sebelum kecelakaan dia selalu menjaga makanan dan rajin olahraga untuk menjaga bentuk badan. Tapi sekarang, ia seperti acuh begitu terhadap badannya.
“Bik, tolong ingatkan Anugrah. Bibik kan bestienya kalau kata anak jaman sekarang.” Bibik tersenyum, “Dia itu baru mengalami kecelakaan dan semua tulang-tulangnya perlu asupan makanan sehat bukan makanan kemasan begini. Apa Wulan juga memakan ini?”
__ADS_1
Deg…
Wulan yang sedang mencuri dengar ikut terkejut saat namanya di sebut. “Ti-tidak tahu, Buk. Selama ini yang sering membawa makanan ke kamar Non Wulan itu Ibuk.” Kilah Bibik.
“Iya juga ya! Ah, saya sudah tua nih, Bik. Sudah harus banyak-banyak berzikir. Kalau kata orang julid, sudah bau kubur.” Gurau Cut.
“Umur tidak menjadi patokan, Buk. Banyak juga yang masuk kubur saat muda.” Balas si Bibik. Mereka tertawa bersama.
“Bik, tapi tolong ingatkan Anugrah ya! Kalau tidak mau dengar, Bibik sembunyikan saja mie instan atau makanan instan yang dia beli.
Nah, yang diancam Anugrah kenapa Wulan yang panik. Tentu, ia akan terkena imbasnya jika si Bibik benar-benar menjalankan titah sang ibu mertua. Mobil memasuki rumah, semua orang sudah berdiri menyambut kedatangan tamu jauh. Bibik mengajak Wulan untuk ikut menyambut mereka.
“Assalamualaikum,” ucap mereka serentak.
Cut dan Rendra menghampiri sepasang suami istri yang terlihat sepuh itu. Mereka bersalaman lalu saling berpelukan. “Selamat datang di rumah kami, Pak, Buk. Semoga perjalananya menyenangkan.” Ucap Rendra.
“Kami senang apalagi mau ketemu calon cucu mantu.” Ucap Pak Fahri sementara Cut dan Rendra hanya saling menatap dalam diam. Mereka tidak ingin bertanya lebih jauh tentang itu.
“Selamat datang, Kak.” Ucap Cut pada Kak Julie.
“Adi, Reni tidak ikut?” tanya Rendra pada adik iparnya.
“Tidak, dia harus menghadiri acara sekolah anak-anak. Aku juga tidak bisa lama.” Ucap Bang Adi pada kakak iparnya.
“Apa ini calon istri Iskandar? Cantik sekali kamu, Nak.”
Nah, terjawab sudah apa yang dipikirkan oleh Cut dan Rendra. “Ini istri Anugrah, Buk, Pak.” Jawab Cut membuat Ibu Murni dan Pak Fahri bingung, “Kapan nikahnya? Kenapa tidak ada yang memberitahu kami?”
“Belum dibuat resepsi, Pak. Nikahnya juga baru.” Ucap Rendra.
“Sebelum ke sini kami sudah makan. Bapak sama Ibu istirahat saja ya!” pinta Kak Julie. Cut dan Rendra mengantar kedua orang tua itu menuju kamar yang sudah disiapkan. Dan benar saja, belum lama terbaring. Kedua orang tua itu sudah terlelap akibat kelelahan menempuh perjalanan jauh.
“Ini semua tidak akan terjadi jika Iskandar tidak mengatakan yang tidak-tidak pada mereka.” Kak Julie mengeluarkan kekesalannya. Sementara Cut melirik ke arah Iskandar.
“Ada apa ini, Is? Kenapa kamu membuat Tantemu kesal?” tanya Rendra.
“Dia mengatakan pada Ibu akan melamar seorang gadis dan dia minta Ibu untuk cepat sembuh supaya dapat membawa Ibu menemui calon istrinya.” Kini semua mata tertuju pada Iskandar yang semenjak tadi sedang melihat ponselnya.
“Dia sepertinya tidak memerlukan kita lagi, Ma.” Ucap Rendra yang membuat Iskandar menatapnya penuh rasa bersalah.
“Bukan begitu, Pa, Ma. Aku hanya ingin Nenek cepat sembuh dan hanya itu yang terpikir saat itu.”
“Jadi kamu hanya main-main saja mengatakan itu pada orang tuaku?” tanya Kak Julie emosi.
“Orang tua Tante, Nenek-Kakekku juga.” Balas Iskandar tak kalah sengit.
“Aku seperti de javu.” Ucap Bang Adi menatap Cut. Yang ditatap ikut mengangguk.
“Seperti inilah ayahnya dulu kalau sudah bertemu Kak Julie.” Ucap Cut membuat Rendra menatap kesal ke arah sang istri. Sementara Wulan hanya menyaksikan dalam diam interaksi keluarga di depannya ini.
“Sudah, malu sama istri Anugrah. Kalian seperti anak kecil saja.” Bang Adi menengahi.
“Jadi, katakan pada kami. Apa gadis itu benar nyata atau fiksi?” tanya Rendra tegas.
“Ada, Pa. Cuma belum sempat aku kenali-“
__ADS_1
“Ketemu dimana?” tanya Rendra lagi.
“Kenapa Bapaknya yang kepo? Dasar keluarga aneh.” Batin Wulan.
“Di kampus, Pa.”
“Dosen?” Iskandar menggeleng.
“Mahasiswa?” Iskandar mengangguk.
“Kamu memacari mahasiswamu?” Kali ini Cut yang bersuara.
“Tidak, Ma. Kami tidak pacaran. Dia salah satu mahasiswa bimbinganku. Dia sudah selesai sidang dan tinggal menunggu wisuda.” Jelas Iskandar.
Mereka kompak menganggukkan kepala. “Lalu kapan kita akan melamarnya?”
“Belum tahu, Ma. Dia masih sibuk memperbaiki skripsinya.”
“Bawa dia kemari! Kami ingin mengenalnya sekalian ajak makan siang bersama hari minggu.” Iskandar mengangguk.
“Insya Allah kalau dia mau.”
Kak Julie dan Bang Adi pergi meninggalkan mereka untuk beristirahat. Tinggallah di sana Iskandar, Cut dan Rendra. Wulan sendiri memilih untuk ke kamarnya. Cut memberitahukan Iskandar tentang Dita yang ingin bertemu dengannya. Iskandar tidak menolak, ia juga ingin tahu tentang sosok Dita itu seperti apa sampai membuat neneknya masuk rumah sakit.
“Is minta nomer ponselnya, Ma.” Cut menyerahkan nomer ponsel Dita yang tersimpan di ponselnya pada Iskandar dan pemuda itu langsung menghubungi gadis itu.
“Hallo, siapa ini?” tanya Dita di seberang sana.
“Ini aku, Iskandar.”
“Iskandar? Oh, Iskandar anaknya Papa Faisal?”
“Hem, Mama bilang kamu ingin bertemu. Kamu dimana?”
“Yap, aku sekarang di Surabaya. Kamu?”
“Bagaimana kalau kita bertemu nanti sore di café dekat kampusku? Nanti aku kirimkan lamat pastinya.”
“Oke!”
Setelah salah ashar, Iskandar langsung pergi menujuc café tempat pertemuannya dengan Dita. Iskandar mengedaran pandangan untuk mencari sosok yang katanya sudah menunggunya.
“Aku sudah sampai, kamu dimana?”
“Disini!” Teriak seorang gadis seraya melambaikan tangan ke arah pintu masuk.
“Dita?”
“Iskandar?”
***
LIKE...KOMEN...SHARE...VOTE...
Makasih....
__ADS_1