CUT

CUT
Pelukan...


__ADS_3

Suasana dalam gedung hening setelah kata ‘Sah’ terucap dari para saksi dan tamu yang hadir untuk menyaksikan acara sakral Iskandar. Suara derap langkah berjalan ke arahnya membuat Aisyah semakin menundukkan kepala. Ia tidak sanggup lagi mengangkat wajahnya, ia tidak mau melihat pria yang ia cintai berjalan melewatinya untuk menjemput wanita lain.


Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki, Aisyah memutuskan berbalik badan. Ia ingin pergi meninggalkan ruangan itu dengan sesegera mungkin. Ia tidak mau melihat Iskandar dengan istrinya. Ia tidak sanggup!


“Aisyah!” suara itu seperti angin berembus di telinga wanita yang hancur hati dan perasaannya.


“Aisyah!!!” Suara Iskandar menggema di antara keramaian orang. Semua terdiam menatap mempelai laki-laki yang menaikkan beberapa oktaf suaranya. Begitu juga dengan langkah kaki Aisyah juga ikut terhenti.


“Apa lagi, Mas? Urusan kita telah selesai. Aku sudah menunaikan tugasku untuk mengantar wanita lain untukmu. Apa lagi yang kau inginkan, Mas? Berapa banyak lagi kau ingin menyakiti hatiku? Aku tahu kita sedarah tapi bisakah tidak melibatkanku dalam pernikahanmu? Aku belum bisa menganggapmu Kakakku. Tolong, biarkan aku pergi!” Aisyah tidak lagi menahan emosi dan perasaannya. Ia menatap Iskandar yang sedang berjalan ke arahnya bahkan melewati Dita yang masih berdiri di sana.


“Jadi kamu akan pergi meninggalkan suamimu bahkan di hari pernikahan kita?” suara Iskandar sudah melemah seperti langkahnya yang ikut berhenti tepat di depan Aisyah.


Mata keduanya bertemu, di saat yang sama Iskandar justru tersenyum lembut menatap Aisyah yang masih bercadar sementara Aisyah? Dia menatap bingung pada pria di depannya itu.


“Kamu tidak ingin mencium tangan suamimu?” Iskandar mengulurkan tangannya.


“Mas, candamu sangat tidak lucu.” Aisyah berbalik hendak pergi tapi tangannya langsung dicekal oleh Iskandar.


“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AISYAH YANG WALINYA DIWAKILI WALI HAKIM KEPADA SAYA DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SALAT DAN SATU SET PERHIASAN EMAS DIBAYAR TUNAI!!!”


Aisyah membeku, kata yang tertangkap di indra dengarnya adalah wali hakim. Dia menatap Iskandar penuh tanya. “Kita tidak sedarah. Nanti akan diceritakan oleh Papa. Jadi apa kamu akan mengabaikan tugas pertamamu sebagai seorang istri?”


Aisyah belum sepenuhnya sadar, ia menatap Dita, “ Lalu, dia?” tunjuk Aisyah.


“Dialah yang jadi adik sedarah bukan kamu.” Aisyah masih mencerna satu per satu ucapan Iskandar hingga dia tersadar akan sesuatu.


“Kamu mengerjaiku, Mas? Dan mereka juga?” Aisyah mengedarkan pandangan pada orang tua, kakak dan beberapa orang yang dekat dengan keluarga mereka. Ia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


“Jadi selama ini kamu mengerjai aku, Mas?” dada Aisyah naik turun, emosi dan rasa malu telah mengalahkan rasa bahagia karena ia pada akhirnya menika dengan Iskandar. Tapi rasa sakit dan hancur yang selama ini berkabung dalam dirinya membuat Aisyah marah.


“Kamu jahat banget, Mas. Aku hampir tidak punya muka untuk kembali menatapmu. Apa kamu tahu, aku bersusah payah ke sini untuk melihatmu menikah walau sebenarnya aku tidak mau. Aku berdiam diri di kampung supaya bisa melupakanmu. Kamu tega banget sama aku, Mas!” Iskandar dengan cepat melangkah lalu memeluk istrinya.


“Maaf, saya sengaja supaya kamu tidak akan melupakan pernikahan kita dengan mudah. Untuk sekarang, berhentilah menangis dan protes. Ada pimpinan pesantren saya yang sekarang melihat kita. Apa kamu tidak ingin mencium tangannya? Buku nikah kita juga perlu tanda tanganmu.” Iskandar melerai pelukannya lalu menyeka air mata sang istri.


“Ayo!” Ia menggenggam tangan Aisyah lalu membawanya ke meja akad. Semua bertepuk tangan dan lantunan lagu Barankallah dari Maher Zain mengalun indah mengiringi proses penandatanganan buku nikah lalu Iskandar dan Aisyah mencium tangan Abah. Tidak lupa, sebelum mencium tangan seorang wanita. Abah sudah lebih dulu melapisi tangannya dengan kain supaya tidak bersentuhan langsung.


Mereka melanjutkan sungkeman pada Cut dan Rendra. “Selamat ya, Nak. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua.” Ucap Cut saat Aisyah mencium tangannya.


“Terima kasih, Ma karena sudah mengizinkan Aisyah menjadi bagian dari keluarga Mama. Semoga Aisyah bisa menjadi menantu dan istri yang baik buat Mas Is.” Aisyah melirik kesal pada sang suami di sampingnya.


Saat Iskandar mencium tangan ibunya  Cut langsung menarik sang anak dalam pelukannya. “Bahagia selalu dan setialah pada istrimu!” ucap Cut lalu melerai pelukannya.


“Maafkan semua kesalahan Iskandar, Ma.” Cut menggelengkan kepala lalu tersenyum pada putranya.


“Pa,” Rendra langsung memeluk putra sambungnya. “Maafkan Papa kalau belum sempurna menjadi ayah buat kamu.”


“Papa, ayah terbaik yang aku punya. Terima kasih sudah merawat dan menjagaku selama ini dan maafkan aku yang sudah banyak melukai hati Papa.” Rendra semakin erat memeluk putranya itu seraya menepuk punggung Iskandar beberapa kali.

__ADS_1


Tidak jauh dari sana, Anugrah menyeka air matanya saat melihat bagaimana ayah dan ibunya memeluk Iskandar. Kakaknya sudah memberikan kebahagiaan dan kebanggaan yang belum bisa ia berikan. Bahkan pernikahannya dengan Wulan hanya dihadiri oleh petugas KUA.


Kesedihan Anugrah tidak luput dari penglihatan Wulan. Gadis yang masih bercadar itu mengambil segelas air lalu berjalan mendekati sang suami. Anugrah menatap gadis bercadar itu dengan seutas senyum lalu mengambil gelas dan meneguknya sampai tandas.    


Setelah sungkeman dengan Cut dan Rendra serta Bapak Wicaksono, mereka melanjutkan sungkeman pada Papa Faisal dan Ibu Ayu. Saat sungkeman dengan mereka, wajah Aisyah langsung berubah apalagi momen yang seharusnya haru menjadi lucu karena Faisal tersenyum mengejek saat melihat Aisyah bersimpuh di depannya.


Mata Aisyah menatap kesal pada ayah dan ibunya itu. “Selamat ya Pak, Buk, sudah membuat saya malu di hari istimewa saya sendiri.”


Lagi-pagi Faisal tertawa, “Harusnya kamu marah sama suamimu bukan sama kami. Kami ini hanya mengikuti permintaan suamimu.” Jawab Faisal tersenyum lebar.


“Mama juga! Mau-maunya disuruh akting kayak sinetron ikan terbang. Apa kata rektor dan para dosenku. Untung teman-temanku tidak datang. Kalau mereka lihat pasti aku akan dikatai ratu drama.”


“Nanti lanjut lagi kalau kamu mau protes. Sungkem dulu, tukang fotonya sudah capek tunggu!” Seru Iskandar.


Aisyah mencibir suaminya lalu mencium tangan Mama Ayu, “Maafin Aisyah ya kalau selama ini banyak buat salah tapi aku yakin salahku dikit dari pada Kak Rendra. Makasih juga karena sudah merawat dan menjagaku selama ini. Aku sayang Mama!” Aisyah tersenyum lalu memeluk sang ibu. Ia tidak lagi menangis karena air matanya sudah kering dari tadi.


“Dokter Faisal, tolong dimaafkan ya! Aisyah masih kesal sama Papa. Papa ketawa saja  biar orang-orang lihat!” gerutu Aisyah saat hendak mencium tangan sang ayah.


Iskandar mencium tangan ibu sambungnya seraya berucap, “Terima kasih, Ma. Sudah menjaga jodohku dan bersusah payah melakukan drama ini.” Lagi-lagi Aisyah melirik kesal pada sang suami.


“Menatap suami itu pakai cinta biar berkah dan berpahala.” Sindir Mama Ayu tersenyum kecil.


“Semoga bahagia, Nak.” Ucap Mama Ayu.


“Pa,”


Setelah sungkeman ke Papa Faisal, Iskandar melanjutkan sungkeman ke pihak utama yaitu kakek dan neneknya.


Ibu Murni langsung memeluk Aisyah penuh suka cita. “Semoga berbahagia dan cepat diberi cicit untuk Nenek ya!” ucapnya membuat Aisyah tersenyum malu.


“Nek, aku sudah menunaikan janjiku kan? Membawa Nenek ke acara lamaran sampai ke pernikahanku.” Ucap Iskandar lalu memeluk neneknya penuh kasih.


“Kamu memang cucu terbaik Nenek. Selamat ya! Semoga bahagia dan cepatlah beri Nenek cicit!”


“Amin. Terima kasih, Nenek.”


“Selamat ya! Kamu dapat dua sekaligus. Dapat istri dan Papa kandungmu. Kami sudah lama tidak melihat Papamu tertawa seperti hari ini. Dia pasti sangat bahagia karena telah bertemu denganmu dan menikahkan kalian.” Ucap Pak Fahri.


“Semoga pernikahan Is menjadi penyambung silaturrahmi kedua keluarga. Terima kasih juga untuk doa-doanya, Kek.”


Iskandar melerai pelukannya lalu mereka diarahkan kembali ke depan untuk menyematkan cincin pernikahan setelah berpelukan dengan Om Adi dan Tante Julie.


Iskandar berdiri berhadapan dengan Aisyah. Ia menatap manik mata Aisyah lekat lalu sebelah tangannya mengambil tangan Aisyah dan memasangkan cincin indah di jari manis istrinya itu lalu dilanjutkan oleh Aisyah dan diakhiri dengan Aisyah mencium tangan sang suami dan di saat yang sama, sebelah tangan Iskandar diletakkan di pucuk kepala Aisyah.


Acara selanjutnya adalah berfoto bersama lalu pemberian ucapan selamat dari tamu undangan.


Anugrah datang bersama Wulan. Pria itu langsung memeluk sang kakak erat. “Selamat, Kak.” Ucapnya namun sayang, balasan sang kakak justru membuat Anugrah terdiam beberapa saat dalam pelukannya kakaknya.

__ADS_1


“Pikirkan kembali ucapanku sebelum kamu menyesal!” ia menepuk beberapa kali punggung adiknya lalu melepas pelukan mereka.


“Selamat, Kak.” Ucap Anugrah tanpa menyentuh tangan Aisyah. Begitu juga sebaliknya, Wulan tidak bersalaman dengan Iskandar tapi ia memeluk Aisyah.


“Selamat ya, Kak. Maaf karena ikut membohongi Kakak.” Ucap Wulan setelah melerai pelukannya.


“Aku tahu kamu hanya korban!” jawab Aisyah melirik sang suami namun yang dilirik malah pura-pura tidak tahu.


Setelah berfoto, Teuku dan Anggia datang memberikan selamat. Bukannya selamat yang didapatkan Iskandar melainkan kekesalan dari Anggia. “Aku gak nyangka Kak Iskandar senorak itu. Mau nikah aja pakai drama, bagaimana nasib rumah tangga kalian nantinya? Pasti penuh drama juga. BTW, selamat karena sudah memenangkan pemeran pria terpopuler hari ini.” Setelah puas mencibir, Anggia langsung menghampiri Aisyah. Gadis itu memeluk Aisyah seraya berbisik, “Kalau aku jadi Kakak. Aku akan membalas mengerjainya setelah ini.” Anggia tersenyum licik menatap Aisyah.


“Selamat semoga langgeng sampai tua.” Ucap Teuku lalu memeluk sepupunya sekilas.


“Selamat, Ai. Kita tidak bisa lagi berpelukan ya?” seloroh Teuku membuat Aisyah membalas dengan anggukan kepala.


“Semoga cepat nyusul ya!” ucap Aisyah pada Anggia membuat gadis bercadar itu langsung menggeleng panik.


“Aku menunggu Pangeran Mateen dari Brunai, Kak.” Ucapnya lalu melanggeng pergi meninggalkan Teuku.


Sahabat till jannah datang dan tatapan Iskandar langsung tertuju pada tangan sang adik yang melingkar indah di lengan sahabatnya.


“Sorry, Is. Dia maksa!” ucap Dika yang tahu arah pandangan sahabatnya.


“Aku ini pengantin yang ditinggalkan di hari pernikahan. Wajar kalau aku mencari yang lain.” Ucap Dita santai lalu tanpa aba-aba, ia segera memeluk Iskandar.


“Selamat ya, Kak. Doakan aku juga supaya bisa menikahi Dika.” Bisiknya membuat Iskandar melepaskan pelukan mereka lalu menatap sang adik lekat.


“Jangan kaget begitu. Aku kan hanya berharap dan siapa tahu terkabul.” Ucap Dita santai lalu memeluk Aisyah. “Sekarang gak cemburu lagi kan sama aku?” Aisyah tersenyum dibalik cadarnya sementara Dita sudah membuka cadarnya dari tadi.


Para sahabat till jannah memeluk Iskandar bergantian seraya memberikan doa terbaik untuk mereka.


Tidak jauh dari sana, Ibu Murni, Pak Fahri, Bang Adi dan Kak Julie ikut tersenyum menatap adik mereka. “Sudah lama kita tidak melihat dia tertawa selepas ini, Kak.” Ucap Bang Adi.


“Fais sudah bahagia, Pak. Ibuk sudah lega bisa melihatnya bahagia kalaupun ajal menjemput. Ibuk sudah tenang karena rasa bersalah Ibuk sudah hilang.” Kak Julie yang mendengarnya ikut terkeju.


“Ibuk gak mau lihat cicit?” tanyanya kesal karena ibunya sudah membahas kematian.


Di balik cadarnya, Aisyah mengingat kembali apa yang Anggia bisikkan lalu menatap gadis itu dari jauh. Jempol Anggia terangkat kepada Aisyah dengan seutas senyum dibalik cadarnya.


Iskandar melirik sang istri dan arah tatapannya hingga ujung bibirnya tertarik kecil.


“Kita lihat pembalasanmu, Sayang!”


 


 


***

__ADS_1


Pagiiii....


__ADS_2