
Keberangkatan Iskandar tinggal dua hari lagi. Hari ini adalah hari terakhir Iskandar tinggal di rumah orang tuanya. Teman-temannya sudah berdatangan sejak pagi. Beberapa dari mereka memberikan kenang-kenangan untuk Iskandar sebagai tanda persahabatan. Selepas zuhur, ia akan dijemput dengan bus oleh pihak pondok lalu menetap semalam kemudian esoknya lagi baru berangkat ke Yaman. Ibu Yetti dan Bapak Wicaksono juga turut hadir walaupun semalam ia sudah marah-marah di sana. Beberapa orang tua dari teman-teman kompleknya juga ikut datang untuk sekedar memberikan ucapan selamat termasuk Mama Anita ibu dari Adit.
Cut tidak menyangka jika rumahnya akan ramai seperti ini karena Iskandar tidak mengatakan apa-apa. dan Cut pikir, sang putra sudah melakukan perpisahan sendiri dengan teman-temannya. Jadilah ia menyambut tamu seala kadarnya. Sesekali, Iskandar melirik ke arah ibu dan ayahnya. Ia ingin melihat bagaimana interaksi mereka setelah kejadian semalam. Tapi, yang dikhawatirkan oleh Iskandar tidak terjadi. Ibu dan ayahnya terlihat seperti biasa, baik dalam menyambut tamu yang merupakan para tetangga.
“Selamat ya, Buk Rendra. Kami turut senang anak komplek kita ada yang belajar ke luar negeri.” Ucap Ibu Beno.
“Iya, Buk. Lebih bangga lagi karena Iskandar berteman dengan anak-anak kita. Semoga salehnya bisa ketularan ya!” harap Ibu Deni.
“Terima kasih, ibu-ibu. Saya tidak menyangka jika pagi ini akan kedatangan tamu yang sangat berarti dalam hidup Iskandar. Terima kasih banyak ibu-ibu karena sudah memperhatikan Iskandar. Saya sampai terharu. Saking tidak menduga ini akan terjadi, saya sampai tidak menyiapkan apa-apa untuk menjamu tamu. Kemarin kamu menghabiskan waktu sepanjang hari sampai telat pulang. Hampir jam sepuluh malam kami baru tiba di rumah saking asyiknya main.”
“Dari semua penghuni komplek, kita harus mengucapkan banyak terima kasih pada Ibu Edo yang sudah bersusah payah menjadi UGD dadakan untuk anak-anak.” ucap Ibu Deni yang disetujui oleh semua ibu-ibu yang hadir.
Mama Adit tersenyum kecil, “Yanga penting anak-anak bahagia, ibu-ibu. Kebetulan di rumah juga ada alat dan obat jadi untuk mengobati mereka bukan sesuatu yang sulit.”
“Silakan dicicip bu, maaf hanya seadanya begini.” Ucap Cut kembali.
Para ibu-ibu perlahan mulai meninggalkan kediaman Cut karena hari sudah menjelang siang. Kue-kue yang dibawa oleh ibu-ibu disajikan kembali oleh Cut karena yang ada di rumah hanya air mineral ukuran kecil satu kotak dan satu toples keripik. Kue yang ibu Yetti bawa juga turut meramaikan piring walaupun niat hati ingin memberi untuk sang cucu namun apadaya. Di depan para ibu-ibu persit mantan tempatnya bernaung dulu. Ia tidak mau citranya menjadi buruk hanya karena kue seharga beberapa puluh ribu tersebut.
Semua pakaian Iskandar sudah ia siapkan jauh-jauh hari tanpa melibatkan ibunya. Ia sudah paham bagaimana mengatur barang bawaannya. Apalagi ia sempat berbicara dengan para sahabat till jannah melalui ponsel sang ibu sebelumnya.
“Is, jangan lupakan kami ya!” ucap Adit yang sudah mewek duluan. Seorang ustad sudah mengkonfirmasi pada Cut jika bus sudah masuk area komplek.
Saat ini mereka sedang menunggu bus di depan rumah. Beberapa tetangga ikut keluar untuk melepaskan kepergian Iskandar.
“Alah si Adit, Is pulang lagi nanti kalau dia dah jadi ustad. Kenapa pake nangis segala. Kita kan bisa telepon kalau rindu sama dia.” Ucap Beno.
“Telepon tidak seseru balapan.” Sahut Adit lalu kembali memeluk Iskandar.
Dalam hati, Iskandar sangat senang tapi memikirkan sang ibu. Rasanya, ia tidak ingin pergi. Ia takut meninggalkan ibunya. Bahkan setelah kejadian semalam, ibu dan ayahnya tidak terlihat dekat. Ibunya seakan menghindari sang ayah. Senyum ibunya juga terlihat dipaksakan tapi Iskandar tidak bisa berbuat banyak.
“Belajar yang rajin ya! Ingat, jangan sungkan telepon Kakek bila kamu butuh sesuatu!”
Iskandar mengangguk, “Iya, Kek. Terima kasih.” Ia mencium tangan sang kakek lalu Bapak Wicaksono membalas dengan sebuah pelukan yang membuat Iskandar menitikkan air mata.
__ADS_1
“Nek, maafin semua kesalahan Is, ya!” Ibu Yetti mengangguk kecil lalu Iskandar juga melakukan hal yang sama namun ia tidak mendapatkan balasan yang sama seperti sang kakek. Ibu Yetti tidak memberikannya pelukan dan itu membuat dadanya sedikit perih.
“Maafin semua kesalahan Is, Pa. Is titip Mama, Pa.”
“Belajar yang rajin di sana. Kabari kalau kamu sudah sampai dan hubungi Papa kalau kamu ada apa-apa ya!” Rendra memeluk sang putra sambung erat lalu ia mencium kening Iskandar sekilas.
Anugrah berdiri di antara ayah dan ibunya. Hingga membuat Iskandar harus berpamitan pada sang adik terlebih dulu. Ia mengulurkan tangannya pada sang adik namun hanya dilihat oleh Anugrah. Dan betapa terkejutnya Iskandar saat sng adik tiba-tiba memeluknya erat lalu terdengarlah suara tangisan Anugrah dalam pelukan sang kakak.
Hanya butuh waktu seminggu untuk Anugrah melihat bagaimana kakaknya. Walaupun datar dan terkadang cuek tapi seminggu ditinggal berdua dengan sang kakak. Ia tidak pernah kelaparan dan yang lebih penting, ia dapat memakan mie instan terenak bikinan sang kakak.
“Hei, cucu Nenek kenapa menangis begini? Kakak kamu kan pergi belajar bukan pergi selamanya. Nanti juga pulang lagi kalau sudah sukses.”
Perkataan sang nenek seperti angin lalu untuk Anugrah. Buktinya, ia tetap mendekap sang putra hingga sang ibu mendekati mereka dan ikut berpelukan bersama.
“Jaga diri baik-baik ya, Sayang! Jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Jangan pergi sendiri. kita tidak tahu daerah orang seperti apa.”
“Iya, Ma. Mama juga jangan banyak pikiran. Jaga kesehatan, Mama kalau mau Is tenang di sana. kalau Mama sampai kenapa-kenapa, Is akan pulang dan tidak akan belajar lagi.”
“Kamu ya, mau pergi juga masih sempat ngancam Mama.” Cut menjewer pelan telinga sang putra lalu kembali memeluknya.
“Hei, tetap peluk Kakak! Jagain Mama ya, kalau kamu sayang sama kakak. Maka jangan biarkan nenek memarahi mama. Ingat, kamu ada itu karena mama yang lahirin bukan nenek. Patuh sama mama karena surga kamu ada dibawah telapak kaki mama.” Anugrah berbisik pada sang adik yang masih setia memeluknya.
“Satu lagi, pantau Papa. Tante-tente yang sering ke rumah sama Nenek itu mau merebut papa dari mama. Tugas kamu untuk menyelidiki dan menghancurkan rencana mereka. Kamu tidak mau mama dan papa pisah kan? Kalau mereka sampai pisah, maka selamanya kamu tidak akan aku anggap sebagai adik.”
“Bukannya tante itu teman papa?” balas Anugrah sambil berbisik dan masih dalam posisi berpelukan hingga membuat teman-teman Iskandar bingung melihatnya. Bahkan, ingus Anugrah ada yang menempel di baju Iskandar.
“Kemarin aku dan Mama lihat Papa lagi di café sama tente itu. kamu cari cara supaya Papa tidak bisa keluar sesuka hati. Kalau papa bicara lama-lama di telepon, kamu dekati biar Papa tidak bisa bicara lagi. kalau kamu kekurangan ide, minta tolong sama teman-temanku. Mereka tahu apa yang harus kamu kerjakan. Kamu ngerti kan? Kalau gak ngerti, batalin aja niatmu masuk tentara. Aku percaya sama kamu dan jangan kecewakan aku!”
Anugrah menepuk sedikit keras pundak sang adik lalu mengurai pelukannya. Isakan yang tadi terdengar kini telah usai dan berganti dengan tatapan lekat keduanya. Anugrah mengangguk pelan lalu tersenyum.
Iskandar mencium tangan ibunya lalu memeluk erat sang ibu kembali. cut berkali-kali menghadiahi sang putra dengan kecupan di pucuk kepalanya. Ia juga tidak bisa menahan air matanya apalagi saat melihat bus yang menjempur Iskandar sudah berhenti di depan rumah mereka.
Seorang ustad turun, “Assalamualaikum,”
__ADS_1
“Walaikumsalam,” jawab mereka serentak.
“Wah, rame ya! Berarti kamu baik makanya rame yang antar. Kalau orang jahat, waktu meninggal aja rame yang antar.” Ustad tersebut mencoba mengganti suasana.
“Hari ini saya sudah melihat banyak sekali orang yang menangis karena melepas kepergian salah satu orang yang mereka cintai. Tapi yakinlah, di akhirat nanti. Kalian yang menangisinya akan berbahagia karena bisa jadi, teman yang kalian tangisilah yang membantu di padang mahsyar nantinya. Jadi tolong didoakan saja semoga ilmu yang dipelajari oleh Iskandar bisa bermanfaat untuk orang banyak nantinya ya!”
Mereka semua mengangguk lalu memeriksa berkas-berkas milik Iskandar, “Kalau tinggal baju bisa beli atau pinjam punya teman. kalau paspor dan visa yang tinggal bisa gagal berangkat. Jadi, kita periksa dulu ya!” gurau sang Ustad.
“Anak-anak, salim dan minta doa dulu sama orang tua Iskandar!”
Para santri yang sudah berada di dalam bus turun satu persatu lalu secara bergiliran mencium tangan orang tua Iskandar serta nenek dan kakeknya. Sahabat till jannah juga sudah berada dalam rombongan tersebut. Iskandar juga memperkenalkan teman-teman kompleknya dengan sahabat till jannah. Mereka saling berjabat tangan lalu berpelukan ala remaja pria.
“Is, pergi Ma. Assalamualaikum.” Ia kembali mencium dan memeluk sang ibu, papa, nenek dan kakek lalu yang terakhir sang adik.
“Ingat pesan Kakak!” bisiknya kembali pada sang adik sebelum melepas pelukannya. Iskandar juga memeluk teman-temannya sekilas hingga akhirnya ia menaiki bus yang akan membawanya menjemput masa depan.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam!” ucap mereka serentak lalu bus yang mereka naiki mulai berjalan pelan hingga menghilang dari pandangan
“Akan aku buktikan pada kakak kalau aku bisa menjalankan misi ini!”
***
C : Ibumu seperti apa?
R : ya seperti manusia lah,
C : Oh, aku pikir seperti ...???
Tolong berikan jawaban ya PEMBACAHHH...
__ADS_1
aku tunggu!!!