
Di sebuah butik di pusat kota…
“Ma, bantu Papa!”
“Tapi Mama mau bantu Wulan dulu, Pa.”
“Mama bukan pembantu dia!”
“Pa,-“ rengek Cut.
Sementara Wulan semakin benci saja melihat sikap Rendra padanya. “Dia bilang tadi tidak mau ikut, kenapa Mama memaksanya? Biarkan saja dia.”
“Pa, jangan begitu. Bagaimana juga dia tetap menantu kita.”
“Ck, dia saja tidak mau dianggap menantu kenapa Mama yang susah.”
“Pa,-“
“Sudah, biarkan dia diurus suaminya! Sini, bantu Papa!”
Pegawai butik melongo melihat sikap satu keluarga yang menurutnya aneh. Dua pasang suami istri dalam kondisi berbeda. Yang satu manja dan penuh cinta sementara yang satu lagi dingin sedingin kutub utara. Tak ada cinta maupun kemesraan dari keduanya. Mereka seperti makhluk asing yang tak saling mengenal. Seorang pegawai butik datang, “Ini Mbak gaun yang tadi Ibu minta untuk Mbak.”
Wulan melihat gaun itu sekilas, “Cantik.” gumamnya, kemudian kembali membuang muka.
“Mbak mau mencobanya biar kami bantu?”
“Tidak usah!”
“Dan ini jas untuk suami Mbak.” Sang pemilik jas hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar sambil melihat ponselnya. Sang kakak belum memberi kabar lalu beberapa teman SMAnya sudah mengunggah foto-foto sakral Doni dan Tiara di atas altar. Beberapa dari mereka juga mengirim pesan menghibur padanya. Ya, mereka akhirnya tahu alasan Anugrah putus dengan Tiara.
Pakian sudah di dapat, Anugrah dan Wulan tidak ada yang mau mencoba. Sebelum pulang, mereka kembali menjemput Bibik dan saat si Bibik masuk ke dalam mobil maka seketika itu juga aroma dari ketiga bunga yang dibeli itu menguar ke dalam mobil.
“Bik, aku kok merasa horor ya?” tanya Anugrah.
“Masak sih, Den? Tapi memang iya. Tadi saja, Bibik sempat ditanya sama yang jualan. “Mau buat sajen ya, Mbak?”
“Lalu Bibik jawab apa?”
“Iyain saja lah, Buk dari pada berlanjut. Walaupun nanti dibilang, hari gini masih percaya tahayul. Tapi ya memang begitu keadaanya kan, Buk.” Cut tersenyum getir. Ide suaminya paling tidak masuk akal kali ini. Namun, apa boleh buat. Ia hanya bisa mengikuti untuk kebaikan anak dan menantunya.
Sesampai di rumah, masing-masing dari mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Beberapa menit kemudian, Wulan kembali keluar lalu melihat si Bibik yang tengah sibuk menaruh kemenyan dalam wadah diitambah dengan bunga-bunga.
“Bik, buat apa sih semua ini.”
“Eh, Non. Kenapa ke sini?” Si Bibik berlagak panik takut ketahuan. Ah, ternyata si Bibik pemain peran handal dan patut diberik gelar juga bonus.
__ADS_1
“Non, mau dibantu memakai pakaian pesta?” Bibik mendorong kursi roda Wulan ke kamar. Selama ini, Wulan diam-diam selalu meminta bantu sama Bibik untuk menghindari bantuan dari Cut. Cut sendiri tahu apa yang menantunya perbuat dan dia memilih diam.
“Bik, Bibik belum menjawab pertanyaanku tadi?” tanya Wulan saat Bibik mengeringkan rambutnya.
“Non, rambutnya ini cantik dan wangi. Shampo pilihan Ibuk memang gak kaleng-kaleng ya. Udah seperti yang artis pakai.”
“Bik, jangan mengalihkan pembicaraan. Buat apa bunga-bunga tadi?”
“Ouh, itu untuk melapangkan jalan jodoh Bibik, Non. Saya bukan Non Wulan yang beruntung bisa menikah dengan Den Anugrah yang ganteng dan baik banget itu. Kasihan sekali nasib Den Anugrah itu. Kalau Bibik punya hak, Bibik ingin melarangnya pergi ke pesta itu.”
“Kenapa?” Wulan penasaran padahal niatnya ingin tahu tentang bunga kini dia justru penasaran dengan topik lain. Ah, si Bibik memang pandai mengalihkan isu.
“Yang menikah itu sahabat dan mantan pacar Den Anugrah. Mereka hampir menikah tapi batal saat lamaran karena beda agama. Si cewenya tidak mau mengikuti Den Anugrah jadi malam itu mereka resmi putus.” Cerita Bibik penuh penghayatan.
“Lalu sahabatnya itu?”
“Mereka itu sudah berteman, aduh gimana ya Bibik ceritanya. Den Anugrah, Den Doni sama Non Tiara itu awalnya hanya berteman. Mereka bertiga berteman dari kelas satu sampai kelas dua. Nah, pas naik ke kelas tiga baru lah Den Anugrah menyatakan cinta dan ternyata Non Tiara juga cinta sama dia. Gayung bersambut kalau kata orang-orang. Tapi yang namanya jodoh kita tidak pernah tahu ya, Non. Buktinya, yang menjadi istri Den Anugrah malah Non Wulan yang dipertemukan oleh keadaan yang jauh dari kata romantis. Tidak ada lamaran atau pacara jangankan mesra-mesraan. Hadeuh, Bibik aja yang lihat kalian bikin gemas. Saking gemasnya sampai mau karungin kalian berdua lalu dikirim ke pulau Komodo.”
“Bibik makin lama makin ngaco ya. Aku tanya apa eh, jawabnya apa. Ujung-ujungnya ngeselin.”
“Suka-suka Bibik, Non. Ini sudah beres, Non mau pakai baju sekarang?”
“Boleh deh, Bik.”
Bibik mendudukkan Wulan di atas tempat tidur, “Non kok tambah berat sih padahal jarang makan.” keluh si Bibik lagi.
“Gak kebalik? Non sering ngambil camilan di kulkas diam-diam ya?” Selidik si Bibik.
“E-enggak. Bibik tuduh aku maling?”
“Biasa aja reaksinya gak perlu melotot begitu. Non suka berlebihan dalam bersikap padahal Bibik kan tanyanya baik-baik. Ya kalau memang Non ambil juga tidak masalah kan itu milik suami Non Wulan sendiri. Itu artinya Den Anugrah sebagai suami sudah menafkahi Non Wulan walaupun nafkahnya berupa jajanan dan minuman kemasan. Secara tidak langsung, Non Wulan juga sudah menerima Den Anugrah sebagai suami.” Semakin kesal dan menyesal saja Wulan mendengar perkataan si Bibik.
“Non, Bibik mau bicara serius ini. Tolong di dengar ya!” Bibik berjongkok di depan Wulan yang sedang duduk menatap dirinya. Posisi mereka berhadapan dan sorot mata si Bibik menatap Wulan lekat tidak seperti biasanya.
“Apa sih, Bik?”
“Non, Bibik harap dengan sangat untuk tidak menunjukkan kebencian Nona pada keluarga ini nanti di sana. Jangan permalukan mereka, Non. Sungguh, kalau Non Wulan tahu bagaimana keadaan Ibu dulu saat masih ada Nyonya. Non tidak akan menyesali semua hinaan dan caci maki Non pada Ibuk. Andai Non tahu seperti apa kesedihan Ibuk, bagaimana diam-diam Ibu turun untuk melihat kondisi Nona. Memilih tidur di luar kamar Nona supaya bisa langsung terjaga kalau Nona butuh apa-apa. Padahal, Ibu itu tidak pernah meninggalkan Bapak di kamarnya tapi sebulan penuh Ibu memilih tidur di luar kamar Nona meninggalkan suaminya. Non boleh benci mereka tapi jangan di depan orang lain. Cukup rumah ini saja yang mendengar caci maki, Nona. Semoga Almarhum Ibu Nona bahagia melihat sikap Nona yang membelanya dengan cara begini.”
Jleb…
Perkataan Bibik sangat tajam dan halus menusuk relung hati Wulan. Ini pertama kalinya Bibik berbicara sedekat ini dengan Wulan. Selama ini, Bibik selalu memperhatikan setiap tingkah dan perbuatan Wulan pada keluarga majikannya itu. Ada sedih dan miris ketika melihat bagaimana Wulan mencaci maki Anugrah dan Cut secara terang-terangan. Bibik juga sangat sedih harus melihat cucu tersayang keluarga Wicaksono berubah menyedihkan setelah kejadian itu. Anugrah yang biasanya ceria dan sering bergurau dengannya sudah berbeda semenjak kecelakaan itu.
“Sudah beres, Non. Sebentar lagi Bapak dan Ibu pasti akan turun.” Ucap Bibik lalu pergi meninggalkan Wulan yang masih terdiam di kamarnya.
Setelah kepergian sang majikan, Bibik yang berada di ambang pintu tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. “Ih, kok jadi gini. Ini gara-gara Bapak. Aku temui Kang Bakso aja di depan sampai mereka pulang. Nyonya, saya pergi dulu. Tolong jaga rumah.” Ucap Si Bibik entah pada siapa.
__ADS_1
“Kamu masih mau ke Aceh?” tanya Rendra saat mereka dalam perjalanan.
“Ingin tapi sepertinya sulit dapat izin, Pa.”
“Kamu baik-baik saja? Kamu bisa membelokkan mobilnya kalau kamu ragu.”
“Aku sudah janji sama Doni, Pa.”
“Baiklah, terserah kamu saja. Kita sebentar saja di sana. Setelah memberi ucapan selamat dan bertemu dengan keluarga Doni, kita langsung pergi.”
“Gak makan dulu, Pa. Mama lapar ini.” Tanya Cut sambil memegang perutnya.
“Kita makan di luar malam ini, Ma. Selama Papa hidup, Mama tidak akan pernah kelaparan.”
“Terima kasih,” ucap Cut lalu mencium pipi sang suami dari samping.
“Ma, Pa, bisa lihat tempat gak?” protes Anugrah. Ia paling malas jika orang tuanya bermesraan di depannya. Kakaknya juga selalu menggerutu jika tiap pergi bersama, orang tua mereka malah bermesraan seperti sekarang.
“Iri? Bilang, Bos!!!”
Anugrah tidak lagi menanggapi perkataan ayahnya. Mobil sudah memasuki area parkir, Rendra mengangkat Wulan lalu mendudukkannya di kursi roda. “Dek, dorong kursi roda istrimu!” bukan tanpa sebab Rendra menggendong Wulan. Ia tidak mau putranya yang memiliki masalah dengan tulang selepas kecelakaan harus mengangkat beban berat. Oleh sebab itu, Rendra masih mengangkat Wulan turun dari mobil ataupun sebaliknya.
Sepanjang perjalanan sampai tiba di tempat acara, Wulan terus memikirkan kata-kata sang Bibik. Jika kemarin dia masih mencaci setiap kali melihat Anugrah kini justru sebaliknya. Sepanjang koridor menuju tempat acara, Wulan diam saja saat Anugrah mendorong kursi rodanya. Ballroom tempat diselenggarakan acara resepsi pernikahan Doni dan Tiara terlihat mewah. Rendra dan Cut berjalan di depan dan mereka langsung disambut oleh teman-teman SMA Anugrah.
“Om, Tante, apa kabar?” sapa mereka kompak.
“Baik, kalian makin tampan dan ganteng saja.” puji Cut.
“Silakan Tante, Om, kami mau nyapa teman lama dulu.” Rendra dan Cut memperhatikan interaksi teman-teman SMA Anugrah saat melihat gadis di kursi roda yang Anugrah dorong. Saat hendak menyapa Anugrah mereka dikejutkan dengan sosok cantik di atas kursi roda.
Dari atas panggung, beberapa pasang mata tertuju pada tamu yang baru memasuki ruang acara. Pandangan mereka menyimpan makna tersendiri. “Dia benar-benar datang, Don.” Lirih Tiara menggenggam tangan Doni.
“Dia sudah katakan jauh-jauh hari kalau akan datang saat kita menikah. Sambut dia dengan senyum, Ra. Dia bukan musuhmu tapi temanmu.” Nasehat Doni pada sang istri. Sementara di bawah, teman-teman Anugrah bertanya-tanya tentang sosok di depan mereka.
“A, ini siapa?” bukan bertanya kabar tapi justru menanyakan siapa Wulan. Mereka tahu jika Anugrah tidak punya adik perempuan jadi pikiran mereka pasti sudah berselancar ria saat melihat ada gadis bersama Anugrah.
“Hai, kami teman SMA Anugrah, kamu?” tanya salah satu dari mereka pada Wulan seraya mengulurkan tangannya. Wulan bingung harus menjawab apa, ia menerima uluran tangan itu.
“Saya-“
“Ini Wulan, istriku!”
***
Up jam 03.43 dini hari.... Kita lihat lolos jam berapa...
__ADS_1
LIKE, KOMEN, SHARE, VOTE....