
Kediaman Bapak Fahri berangsur sepi setelah acara tahlilan selesai dilaksanakan. Keluarga Shinta masih di sana karena menunggu waktu untuk berbicara dengan Dita yang terlihat sibuk membantu membereskan rumah bersama Iskandar dan Aisyah.
“Kakak sangat berbeda ya, Ma?” Ucap Tiara.
Doni menggeleng pelan ke arah sang istri. “Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya dan aku juga tetap menginginkan maaf darimu, Shinta. Maaf atas luka dan penderitaan yang sudah kuberikan di masa lalu. Aku tahu, permintaan maafku tidak akan bisa menghapus luka dihatimu. Aku ingin berdamai denganmu, Shinta. Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menghampiri. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari, Shinta. Selama ini aku hidup di atas rasa penyesalanku di masa lalu. Aku telah menyakiti Cut, Iskandar, kamu dan Dita. Aku bahkan tidak sempat meminta maaf pada mertuaku yang meninggal saat tsunami. Aku sudah mendatangi rumah keluargamu sehari setelah kejadian tsunami. Aku sudah meminta maaf pada orang tuamu atas semua kesalahanku pada mereka dan padamu. Aku sudah menerima dengan lapang semua kemarahan dan kebencian orang tuamu padaku. Aku juga akan menerima kebencianmu terhadapku. Tapi, aku akan selalu meminta maaf padamu, Shinta. Aku sudah mendapat hukumannya. Perkataanmu memang benar, aku tidak dipercaya lagi oleh tuhan untuk memiliki anak. Kamu benar, Shin. Aku tidak pantas menjadi seorang ayah.” Toni meremas lembut tangan istrinya. Di depannya ada Faisal sang masa lalu sang istri. Tidak ada rasa cemburu yang menghinggapi hati Toni. Pria itu justru merasa prihatin dengan kisah cinta kedua anak manusia itu.
Sementara Ayu sudah meneteskan air matanya melihat sang suami menunduk menahan isak mengingat masa lalunya. Shinta menatap lekat pria yang pernah mencuri hatinya hingga membuatnya hampir kehilangan semangat hidup karena perbedaan keyakinan.
“Apakah sakit, Fais?” tanya Shinta menatap lekat pria itu. Senyum sinisnya menghiasi wajah wanita yang masih sangat cantik meski sudah memiliki cucu.
“Sakit sekali, Shin. Lebih sakit dari dibedah tanpa dibius.” Jawab Fais tersenyum getir.
“Aku tahu kamu masih ingin balas dendam, bukan?” Shinta tertawa kecil.
“Apa kamu takut?”
“Tidak. Aku hanya khawatir jika suami dan anakmu akan menuduhmu belum move on denganku karena kamu masih berniat balas dendam padaku.” Mata Shinta melotot membuat Faisal tertawa.
“Lihatlah suamimu, aku tahu dia lebih sempurna. Dari dulu pria pilihanmu selalu yang terbaik hanya denganku saja kamu terjebak dalam kesulitan. Kalau dia bukan yang terbaik tidak mungkin majalah bisnis sampai mencetak berita tentang pengusaha sukses dengan dokter cantik yang selalu membuat iri siapa saja yang melihatnya.
Baik Toni maupun Shinta terkejut mendengarnya. “Kamu?” Shinta tidak mampu melanjutkan lagi kata-katanya.
“Aku terkejut saat pertama kali melihat foto kalian di majalah bisnis yang tidak sengaja aku buka saat sedang di pesawat. Setelah itu, aku mencoba mencari tahu tentangmu dan Toni termasuk anak kalian. Dan sayangnya, kalian tidak pernah mengekspos wajah anak-anak kalian dan aku juga tidak menyangka kalau anakku masih hidup. Aku mengunjungi makamnya, Shin. Jadi makam siapa yang aku kunjungi saat itu bersama Wira?”
“Itu makam anak orang lain. Itu adalah salah satu pembalasan dendamku padamu.”
“Kamu berhasil, Shin. Aku hampir kehilangan arah jika saat itu Wira tidak mengajakku bergabung dengan para relawan menuju Aceh hingga akhirnya aku bertemu istriku.”
“Aku diusir orang tuaku sesaat setelah mantan istriku meminta talak. Hidupku juga hancur, Shinta. Aku bahkan kehilangan masa-masa indah bersama anakku. Tapi kamu, kamu masih berkesempatan melihatnya tumbuh besar. Sementara aku? Aku kehilangan itu semua, Shin. Bahkan aku sudah menganggap anakku meninggal terbawa tsunami. Aku bahkan tidak pernah menginjak tanah Aceh lagi karena rasa bersalahku pada mereka.”
“Apakah penderitaanku belum cukup memuaskanmu, Shin? Aku siap kalau kamu masih ingin membalasku. Asalkan aku bisa mendapat maafmu, aku rela menerima pembalasanmu jika itu bisa membuatmu bahagia.” Kali ini Toni meremas sedikit lebih kuat tangan istrinya membuat Shinta menoleh padanya.
Di balik pintu, Dita memperhatikan bagaimana orang tuanya saling meluapkan kemarahan terpendam dari masa lalu mereka. Air matanya perlahan turun menyaksikan ayah kandungnya dengan kerelaan hati meminta maaf pada ibunya. “Yang sabar dan teruslah berdoa semoga mereka bisa saling memaafkan dan menerima masa lalu sebagai sebuah pembelajaran.” Ucap Iskandar pada sang adik. Ia menepuk pelan bahu Dita sebagai bentuk penguatan.
“Kak, bagaimana reaksi Mama jika setelah ini aku mengatakan akan memeluk Islam? Apa kisah mereka akan berulang padaku, Kak? Aku tidak sekuat, Mama. Aku pasti hancur jika Mama memisahkanku dengan Kak Dika.” Iskandar melirik adiknya.
“Apa kamu cinta mati sama sahabatku?”
“Kak, apa pun yang terjadi. Kami harus menikah, Kak. Aku sudah memberikan sesuatu yang berharga untuknya.”
“APAAAAA???”
__ADS_1
Semua mata tertuju pada pria yang tengah berdiri di dekat pintu karena suaranya yang menggelegar.
“Bagaimana kalian bisa melalukannya? Ya Allah ya rabbi, apa yang sudah kalian lakukan? DIKAAAA.” Dika yang sedang membantu di belakang bersama Teuku ikut terkejut lalu berjalan menghampiri mereka. Para anggota keluarga sudah mengelilingi Iskandar yang terlihat sangat marah. Wajahnya sudah memerah dengan tangan terkepal.
Shinta dan Faisal yang sempat bernostalgia ikut masuk ke dalam bersama yang lain.
“Ada apa ini, Is?” tanya Faisal. Cut dan Rendra ikut menghampiri mereka.
“Ada apa ini, Nak?” tanya Cut melihat putranya tiba-tiba emosi.
“Dika, kamu harus bertanggung jawab. Malam ini juga kamu harus menikahi Dita.”
“APAAAA.”
Semua orang terkejut tidak kecuali Dita dan Dika.
“Ada apa ini? Punya hak apa kamu menyuruh Dita menikah?” Shinta mulai emosi.
“Tante, apa Tante mau Dita mengulangi hal yang sama seperti yang Tante alami dulu dengan Papaku?”
“Apa maksudmu?” Shinta dan Faisal bertanya bersamaan.
“Mereka sudah mengulang apa yang kalian perbuat dulu. Dosa itu terulang lagi.”
Plak...
“Apa kamu sudah kehilangan ide sampai menggunakan cara licik itu untuk menikahi anak saya?”
Pak Fahri memegang dadanya, ia seperti kembali ke masa lalu. Kak Julie langsung membawa ayahnya menjauh dari sana.
“Dosa apa maksudmu, Is? Kenapa kalian menatapku seperti aku telah berbuat kesalahan besar. Dita, apa ini? Kenapa ibumu menamparku?”
“Saya sempat berpikir kalau kamu laki-laki baik tapi kamu sama saja dengan laki-laki lain. Memanfaatkan kesempatan untuk keuntunganmu sendiri.”
“Ma, cukup! Kenapa Mama menuduh Mas Dika seperti itu. Kakak juga kenapa membuat heboh seluruh rumah?”
“Tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik. Sebenarnya ada apa ini?” suara Rendra menengahi.
“Is, jawab Nak! Ada apa ini? Kenapa kamu semarah ini sama Dika dan adikmu?” tanya Cut mengusap punggung anaknya.
“Ma, apa aku harus mengatakan dengan lantang kalau mereka sudah mengulang dosa masa lalu yang dilakukan Papa dan Tante Shinta?”
__ADS_1
“Kakak menuduhku tidur sama Mas Dika?”
“APAAA?” Dika terkejut mendengar perkataan Dita.
“Is, aku memang mondok beberapa tahun tapi aku tidak sebejat itu sampai meniduri adikmu. Bagaimana bisa kamu menuduhku melakukan zina begitu?”
“Iya, kenapa Kakak menuduh Mas Dika sekeji itu?” Iskandar menatap adiknya. “Kamu sendiri yang mengatakan jika kamu sudah memberikan sesuatu yang berharga pada Dika. Apalagi kalau bukan itu?”
Dita menepuk keningnya sendiri. “Bukan itu maksudnya. Kakak salah paham.” Semua orang terlihat kebingungan.
“Aku memang menyerahkan sesuatu yang berharga tapi bukan itu. Kami hanya berciuman tidak lebih itu pun karena aku penasaran dengan rasanya. Wajar kan kalau aku penasaran ingin merasakan juga.” Ucap Dita tanpa dosa.
Iskandar mundur beberapa langkah. Ia tidak menduga jika dirinya akan salah mengartikan perkataan sang adik.
“Mama harus minta maaf sama Mas Dika!” Dika mengusap wajahnya kasar.
“Lebih baik kalian nikahkan saja mereka. Jangan sampai Dita mengulang kesalahan kalian.” Ucap Kak Julie.
“Ma,” Toni memanggil sang istri.
“Kamu ikut Mama pulang ke hotel.”
“Tidak mau! Aku masih mau bersama Kakek.”
Shinta tersenyum sinis, “Lihatlah Fais! Dia sudah menjadi anakmu sekarang. Kamu sudah berhasil mengambilnya dariku.”
“Shinta, selamanya dia akan tetap jadi anakmu. Aku tidak akan mengambilnya darimu. Tapi apakah aku akan menolaknya saat dia datang padaku seperti saat dia berada di perutmu? Jangan minta aku melakukan itu, Shinta. Aku sudah melakukan kesalahan dengan menolaknya saat dalam kandunganmu. Aku tidak ingin menolaknya lagi, Shinta. Aku juga ingin memberikan kasih sayangku yang tidak seberapa ini untuknya. Tolong izinkan aku, Shin.”
“Ma, Papa Faisal sudah meminta maaf. Papa bahkan melupakan ego dan harga dirinya hanya untuk mendapatkan maaf dari Mama. Apa terlali sulit untuk kalian berdamai? Kalau Mama menyayangiku, berdamailah dengan Papa. Aku senang memiliki banyak orang yang menyayangiku. Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari Kakek dan Nenek. Aku juga ingin merasakan kasih sayang mereka seperti yang Tiara rasakan selama ini. Ma, tolong! Demi aku. Aku hanya ingin bahagia, apa terlalu berat untuk Mama melihatku bahagia? Apa aku yang harus menerima kebencian kalian? Ini sangat tidak adil untukku.” Dita sudah berlutut di depan ibunya seraya meraung.
Cut tidak tega melihat gadis itu lalu ia membawa Dita ke salah satu kamar. “Istirahatlah!” Cut keluar meninggalkan Dita lalu kembali menghampiri mereka. “Teruskan saja egomu! Aku harap mental Dita tidak terganggu dengan tindakanmu. Maaf, aku tahu dia anakmu tapi aku tidak akan menutup mata saat dia menganggapku bagian dari keluarganya.” Cut pergi ke dapur lalu mengambil segelas air dan kembali masuk ke dalam kamar Dita. Gadis itu masih saja menangis di atas tempat tidur.
“Ma, ayo kita pulang. Besok kita akan bicarakan lagi dengan perasaan tenang.” Ajak Toni lalu menghampiri Dika. “Maafkan atas kelakuan Mama Dita ya!” Dika mengangguk pelan.
“Is, saya tahu kamu sangat menyayangi Dita tapi jangan gegabah melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal kemudian. Minta maaflah sama temanmu! Dia pria yang baik, saya yakin itu.” Ucap Toni lalu berpamitan pada Pak Fahri.
“Biarkan Dita tidur di rumah Kakeknya. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tuaku.” Ucap Toni saat keluar dari rumah Pak Fahri.
“Kamu tahu soal itu?”
Toni mengangguk lemah, “Makanya aku memberikan kasih sayang lebih sebagai gantinya tanpa kalian tahu.”
__ADS_1
***
Malam....