CUT

CUT
Meminang Pemuda...


__ADS_3

Suara deburan ombak laut di bawah terangnya purnama semakin mempercantik pemandangan malam dari sebuah jendela yang terbuka menghadap pantai. Wajah yang lembut serta rambut yang halus ikut terkena embusan angin pantai yang menyejukkan.


 


Banyak hal yang sedang Cut pikirkan. Ia mulai merindukan orang tua serta keponakannya. Seminggu setelah perdebatan di pinggir pantai bersama Khalid tempo hari, kenangannya bersama Halimah serta pembicaraan mereka selama di hutan. Perjuangan orang tua Halimah saat menyelamatkannya terus bergulir satu persatu mengusik batinnya yang telah lama kosong.


 


Semilir angin malam kembali menggugah jiwanya yang telah lama hampa dikarenakan berbagai kejadian pahit yang menimpanya. Keputusan Khalid membawanya ke pulau Breuh memang tepat walaupun harus membuat orang tua Cut didera kesedihan yang amat sangat. Tapi, pulau Breuh adalah tempat yang tepat untuk Cut. Di sana tidak pernah terdengar suara letupan senjata, jeritan orang ketakutan atau teriakan dari pihak-pihak pemegang senjata.


 


Pulau itu hanya diduduki oleh orang-orang kampung yang sehari-hari bekerja di ladang atau menjadi nelayan. Mereka benar-benar hidup dalam damai tanpa memikirkan apa yang terjadi pada orang-orang di luar pulau. Mereka hanya memikirkan berapa jumlah uang yang akan mereka bawa pulang setelah menjual hasil ladang atau berapa banyak hasil kebun pinang, kakao, kelapa, pisang, dan sayur-sayuran lain terjual di ibukota provinsi.


 


“Kak Cut belum tidur?” tanya Putro Tari memasuki kamar.


 


Selama tinggal di pulau, Cut tidur sekamar dengan Putro Tari. Keuchik Banta sengaja menyuruh Cut untuk tidur sekamar dengan Putro Tari karena Putro Tari dianggap masih kecil. Sedangkan Putro Ceudah selaku sang kakak harus terbiasa tidur sendiri sebagai persiapan jika nanti menikah. Apalagi kedua anak perempuan tersebut sering tidak akur.


 


“Kamu sendiri habis dari mana?” tanya Cut sambil menutup kembali jendela kamar mereka.


 


“Mendengar pembicaraan orang tua.” jawab Putro Tari santai.


 


“Mendengar atau mencuri dengar?” sindir Cut yang dibalas dengan senyuman malu-malu oleh Putro Tari.


 


Cut pernah memergoki Putro Tari beberapa kali sedang mencuri dengar pembicaraan kedau orang tuanya atau para tamu yang datang ke rumah mereka.


 

__ADS_1


“Kenapa kamu sangat suka mengintip pembicaraan orang tuamu?” tanya Cut penasaran.


 


Putro Tari menghela nafas sesaat, “Kakak, sebagai anak kita harus tahu apa yang mereka bicarakan. Dengan begitu kita akan tahu masalah apa yang sedang mereka alami.  Mereka tidak akan pernah berbagi dengan kita jika memiliki masalah karena bagi mereka kita hanya anak kecil. Padahal, anak kecil yang mereka anggap sudah bisa mencetak anak kecil yang lain.”


 


Cut hanya menganggukkan kepala seraya tertawa kecil. Putro Tari adalah anak yang ceria dengan selalu bertutur kata semaunya. Ia cukup segan dengan ayah dan ibunya. Hubungan dengan kakaknya juga ibarat anjing dan kucing. Hanya kepada Cut, ia bisa bersikap manja dan menceritakan semua isi hatinya. Termasuk tentang perasaannya kepada Khalid.


 


“Kak Cut,” panggilnya merengek seperti seorang anak kecil.


 


Jika Putro Tari sudah memanggilnya begitu, Cut sudah tahu jika akan ada permintaan yang akan keluar dari mulut Putro Tari dan itu pasti berkaitan dengan Khalid. Selama sebulan ini, permintaan Putro Tari untuk dijodohkan dengan Khalid sangat intens. Berbagai alasan sudah Cut berikan tapi Putro Tari tetap tidak mau menyerah.


 


Bagaimana Cut mau menjodohkan Putro Tari jika ia dan Khalid saja tidak bicara bahkan untuk melihat wajah Khalid ia tidak mau. Walaupun tinggal satu atap, ia dan Khalid jarang bicara. Apalagi, semua orang di pulau itu tahu keadaan Cut, sehingga tidak aneh jika orang-orang melihat sepasang saudara kandung tidak saling bicara.


 


 


Cut memilih tidur, ia membalikkan badannya membelakangi Putro Tari yang masih menunggu jawabannya. “Tidurlah! Kakak mengantuk.”


 


“Ihhhh,,, Kak Cut. Selalu tidur kalau aku lagi bertanya.” tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Cut. Ia memilih diam. “Bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu? Jika nyawa kedua orang tuaku yang menjadi taruhannya.” batin Cut seraya mendekap erat bantal guling dalam pelukannya seperti mendekap kedua orang tuanya.


 


Suasana subuh diramaikan oleh suara ayam berkokok dan deburan ombak di pantai. Para laki-laki dan perempuan semua bersiap menuju surau untuk melaksanakan ibadah salat subuh berjamaah. Salat subuh di pulau masih berjalan seperti biasa. Jika di kampung, masyarakat lebih memilih salat di rumah karena keadaan. Berbeda dengan keadaan di pulau, semua berjalan seperti tidak ada perang di sini. Mereka yang sering pergi ke kota tahu bagaimana keadaan di daerah lain sehingga mereka amat menjaga pulau dari para pendatang.


 


Tidak ada orang yang mau ke pulau mereka. Siapa yang sanggup tinggal di pulau dengan keadaan seadanya. Anak-anak laki-laki yang sudah sekolah ke kota malah tidak mau kembali ke pulau dengan berbagai alasan. Mereka yang sudah merasakan enaknya tinggal di kota walaupun dengan ketakutan akan terjadinya kontak senjata sewaktu-waktu bisa terjadi namun tidak menyurutkan keinginan bagi anak-anak pulau untuk terus menetap di kota.

__ADS_1


 


Populasi penghuni pulau semakin lama semakin berkurang sehingga para tetua-tetua yang mendiami pulau berpikir untuk mencari jodoh secepatnya untuk putri-putri mereka. Di sinilah Khalid berada bersama para tetua serta penduduk laki-laki lainnya untuk bermusyawarah tentang kelanjutan kehidupan mereka di pulau.


 


Musyawarah tersebut diadakan setelah salat subuh di surau kampung. Para wanita serta anak-anak sudah diperbolehkan pulang terlebih dahulu.


 


“Kita sudah turun temurun menghuni pulau ini dan kebanyakan dari kita masih satu nasab. Tidak mungkin kita menikahkan mereka. Bagaimana dengan Banta Husna, Keuchik?” tanya salah seorang sepuh.


 


Keuchik Banta menghela nafasnya sesaat. “Saya minta maaf karena sepertinya Banta Husna tidak ingin menikah. Saya juga heran sama anak itu. Saya rasa keputusan untuk menyekolahkannya di kota adalah satu kesalahan. Dia mengatakan dalam suratnya jika ia sudah mulai bekerja dan akan mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar Aceh. Ia juga tidak mengatakan akan kembali ke pulau dalam waktu dekat. Saya rasa percuma saja jika menunggu. Lebih baik kita mencari orang lain saja.”


 


“Bagaimana dengan kamu, Khalid? Apa Keuchik Banta sudah menjodohkannya dengan Ceudah?”


 


Uhuk...


 


Khalid tersedak saat tengah meminum kopinya. Ia menatap Keuchik yang tengah tersenyum ke arahnya diikuti beberapa sepuh yang lain.


 


“Jika Khalid mau, saya dengan senang hati menikahkan mereka. Khalid bukan anak saya jadi saya tidak bisa memaksanya. Apalagi keberadaannya di sini bertujuan untuk menyembuhkan adiknya. Mungkin jika Cut sudah sembuh, ia akan kembali ke keluarganya.” ujar Keuchik Banta. Para sepuh pun mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan Keuchik Banta.


 


“Nak Khalid, apa kamu mau dijodohkan dengan Keumala?” Khalid terkejut begitu juga dengan Keuchik Banta.


***


LIKE...KOMEN....LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2