CUT

CUT
Yang Tersimpan...


__ADS_3

Berita tewasnya Khalid sampai juga ke telinga Cut. Ia menatap datar pada layar televisi yang meliput pemakaman Khalid di Pulau Breuh. Cut menatap lekat pada kedua bayi merah yang ikut tersorot kamera para pencari berita. Seluruh keluarga juga mengetahui hal tersebut dan mereka juga turut berduka.


“Dia pergi meninggalkan anak yang masih merah. Sama seperti Ilham.” ucap Umi pada Abu yang ikut menonton berita tersebut.


“Sudah janji, Umi. Kita juga akan meninggal hanya waktu saja yang kita tidak tahu kapan dan bagaimana. Semoga saja kita pergi dalam keadaan Husnul Khatimah.


“Amin.”


Kehamilan Cut memasuki usia 7 bulan. Hari ini, setelah berembuk bersama. Cut dipulangkan ke rumah Mak Cek Siti untuk menjalani acara 7 bulanan. Faisal dan keluarga besarnya akan datang ke kediaman Cut dengan membawa berbagai barang seperti, bu kulah, kue khas Aceh, lauk pauk berbagai macam dan rujak.


Kedua calon orang tua duduk berdampingan lalu keduanya diselimuti oleh kain sarung. Seorang tetua sepuh akan menyiram air di atas kepala mereka sambil membaca beberapa doa.


Setelah prosesi siraman, kedua calon orang tua akan berganti baju kemudian bergabung bersama keluarga yang lain. Selanjutnya, seorang tetua akan menepung tawari kembali keduanya. Acara terakhir adalah sungkeman di mana, setiap anggota keluarga yang datang dari pihak Faisal akan memberikan salam tempel kepada Cut. Sedangkan dari sang mertua, Cut dipasangkan sebuah gelang emas langsung oleh sang mertua.


2 bulan menjelang kelahiran, Cut sering sekali terbangun di tengah malam. Jika ada Faisal, ia akan meminta Faisal menemaninya namun saat ini Faisal tengah piket malam. Cut membuka kaleng biskuit di atas meja kamarnya. Sambil membaca buku tentang kehamilan yang Faisal belikan.


Bayi di dalam perut terus bergerak seakan sedang bermain bola dan itu berhasil membuat Cut mengaduh tiba-tiba.


“Kamu merindukan ayah ya? Ayo kita telepon!”


Cut mengambil ponsel yang selama dua bulan ini menjadi sarananya berkomunikasi dengan suami kalau Faisal sedang bekerja. Faisal membelikan ponsel pada Cut supaya ia mudah menghubunginya. Mengingat saat ini adalah waktu-waktu genting menjelang pernikahan. Walaupun masih dua bulan lagi tapi Faisal tetap merasa khawatir.


Tut....


Tut....


“Ayahmu sepertinya sedang ada pasien atau lagi tidur.” ucap Cut pada bayi dalam perutnya.


Cut melihat jam yang tertera di ponselnya. “Jam 1 malam, apa ayahmu sudah tidur? Biasanya dia akan menghubungi kita.” gumam Cut.


Selama ini Faisal memang sering menelepon Cut jam satu malam jika ia sedang dinas karena Cut selalu terjaga tepat jam satu malam. Sudah menjadi kebiasaan jika Cut juga kerap sekali menghubungi sang suami di jam tersebut.


“Kita telepon lagi ya?”


Tut....


Tut.....


“Hallo.” suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon.

__ADS_1


“Kamu siapa? Kenapa Hp Dokter Faisal sama kamu?” tanya Cut masih dalam keadaan terkejut.


“Oh, maaf. Dokter Faisal sedang di kamar mandi. Ini siapa? Nanti saya sampaikan pada beliu.”


“Bilang saja, Cut menelpon.”


“Oh, baik.”


Tut...


Belum reda rasa terkejut karena yang mengangkat telepon sang suami seorang wanita kini cut kembali terkejut karena ulah wanita tersebut yang langsung mengakhiri pembicaraan mereka tanpa salam.


Keesokan harinya...


Faisal kembali ke rumah setelah selesai jam dinas malam pukul 07.30. Cut sendiri sudah bangun dari awal. Ia selalu berjalan pagi atau menyiram tanaman di pagi hari supaya badannya tetap bugar walaupun sedang hamil.


Begitu melihat motor sang suami memasuki halaman rumah, Cut langsung mematikan kran air lalu menghampiri sang suami dengan perasaan bahagia penuh senyum. “Assalamualaikum, Ayah.” ucap Cut lalu mencium tangan sang suami penuh takzim.


“Walaikumsalam, kamu habis menyiram tanaman?” tanya Faisal yang memperhatikan penampilan sang istri dari bawah ke atas.


“Hheheheh.”


“Tadi malam kamu telepon aku?” tanya Faisal terkejut.


“Iya, yang angkat perawat.”


Deg...


“Dia tidak memberitahukan Ayah?” tanya Cut kembali dengan nada manja.


“Oh, mungkin dia lupa.” jawab Faisal seraya tersenyum kaku.


“Kalian ini romantis sekali. Sudah panggil ‘Ayah’ tapi aku kok merasa geli ya?” ucap Kak Julie yang baru turun dari lantai atas.


Cut tersenyum malu-malu sementara Faisal lebih memilih pergi meninggalkan kakak perempuannya yang suka ikut campur. Faisal yang tadinya berpikir setelah Cut hamil ia bisa langsung pindah tetapi malah sebaliknya. Kamarnya yang dulu berada di atas kini harus pindah ke bawah karena kehamilan Cut. Alasan itu juga yang dipakai oleh kedua orang tuanya untuk menahan Faisal pindah ke rumah sendiri. Alhasil, Faisal tetap tinggal bersama kedua orang tua dan kedua kakak yang menyebalkan.


Sementara itu, di sebuah hotel mewah di pulau Bali. Seorang wanita cantik tengah menikmati lembutnya belaian kekar tangan seorang pria yang tidak lain adalah rekan satu kantornya. Sang wanita menutupi tubuhnya dengan selimut dalam pelukan sang pria setelah percintaan gila mereka.


“Bagaimana suamimu? Apa dia belum pulang tugas?” tanya si pria sambil mengusap punggung polos wanitanya.

__ADS_1


“Minggu depan dia baru kembali. Tunanganmu bagaimana?” tanya Risma.


Ya, dia adalah Risma. Wanita yang sudah dinikahi oleh Rendra selama satu tahun. Delapan bulan lebih Rendra sudah bertugas di Papua. Hidup jauh dari sang suami hingga perasaan kesepian dan butuh kehangatan membuat Risma dengan mudah luluh dengan kehadiran Indra yang memiliki karakter lembut dan mampu mengayomi Risma dengan baik. Indra sendiri sudah memiliki tunangan yang sedang kuliah di Inggris.


Sering menghabiskan waktu bersama di kantor atau sesekali mereka pergi tugas ke luar daerah membuat keduanya semakin dekat hingga dua bulan lalu saat mereka ke Batam mewakili kantor pusat. Kejadian tidak terduga itu terjadi, mereka yang saat itu memenuhi ajakan rekan dari kantor cabang menuju klub untuk berpesta setelah menyelesaikan pekerjaan, tiba-tiba Indra mengajaknya berdansa dan saat itu suasana sangat intim bagi keduanya.


Saling membutuhkan membuat keduanya hanyut dalam malam yang indah diiringi lembutnya suara musik dengan tatapan keduanya menyatu dalam gerakan pinggang dan kaki yang terus bergerak ke kiri dan kanan. Untuk pertama kalinya, Indra memberanikan diri mencium bibir ranum milik Risma yang berstatus istri orang. Tidak ada penolakan atau sambutan dari Risma.


“Maaf,”


Indra pergi meninggalkan Risma setelah mengucapkan kata ‘maaf’


Pikiran dan hasrat Risma tidak sejalan. Ia pergi menyusul Indra dengan rasa penasaran yang amat dalam.


“Ndra, tunggu!” Risma menarik lengan Indra yang tengah berjalan. Keduanya saling berhadapan kembali.


“Maaf, Ris! Aku tidak bermaksud melakukannya tapi jujur saja, aku juga tidak bisa mengabaikan naluriku sebagai seorang pria normal yang sedang berdekatan dengan wanita cantik seperti kamu. Ditambah dengan suara musik seperti mendukung aku untuk melakukannya.” ucap Indra panjang lebar.


Cup...


Indra terdiam bercampur kaget saat Risma mendekat lalu menciumnya sekilas.


“Ris, jangan mempermainkanku!” suara tegas Indra membuat Risma tersenyum malu-malu.


Seakan mengerti, Indra mendekat lalu mencium Risma kembali dan Risma juga membalas ciuman tersebut hingga suasana lorong menuju pintu keluar klub menjadi milik mereka berdua tanpa peduli orang lain yang melewati mereka.


“Kamu harus bertanggung jawab!”


***


Hai...gaessss


welcome back... aku kembali setelah sekian purnama.


Masih dalam suasana lebaran, jadi aku mau mengucapakan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Buat kalian yang merayakannya.


Ini karya baru aku, silakan mampir jangan lupa favotitkan serta like dan komen. makasih...


love kalian semua...😚

__ADS_1



__ADS_2