
Sudah menjadi rahasia umum jika orang Indonesia itu terkenal ramah dan hangat. Begitu juga dengan para prajurit yang mewakili Indonesia dalam misi kemanusiaan di daerah perang. Para pengungsi korba perang baik anak-anak maupun wanita terlihat dengan mudah berinteraksi dengan prajurit asal Indonesia. Entah kemampuan itu berasal dari dalam diri setiap prajurit atau sesuatu yang dibentuk sebelum mereka ditugaskan. Yang terpenting mereka selalu berhasil mengayomi setiap anak-anak di sana. Begitu juga yang terjadi dengan Anugrah. Para pengungsi tersebut berinteraksi dengan menggunakan bahasa isyarat karena mereka tidak mengerti bahasa inggris atau bahasa lainnya.
“Kamu terlihat nyaman bergaul dengan mereka, A.” ucap salah satu prajurit.
Anugrah tersenyum seraya kembali menendang bola ke arah gawang. Sesampainya di sana, Anugrah seakan lepas kontrol. Ia tidak henti-hentinya bermain dengan para anak-anak di sana hingga membuat teman-temannya terheran-heran melihat tingkahnya.
Beberapa orang wanita masuk lengkap dengan jas putih mereka. “Saatnya pemeriksaan rutin.” Ucap salah satu dari mereka dalam bahasa Inggris. Seseorang memanggil Anugrah untuk masuk ke dalam tenda. Baju kaos yang digunakannya sudah basah dengan keringat apalagi daerah tempat mereka ditugaskan adalah daerah panas.
Anugrah tersenyum lalu duduk di depan salah satu dokter untuk pengambilan sampel darah. Mereka yang bertugas di daerah perang akan rutin mendapat pemeriksaan kesehatan oleh dokter dibawah naungan PBB.
“Salam kenal! Saya Merlyn. Kami baru tiba kemarin.” Ucapnya setelah mengambil sampel darah milik Anugrah.
Ehem…
Beberapa prajurit yang berkumpul di sana saling lirik seraya tersenyum melihat salah satu dokter wanita di sana mengulurkan tangannya pada Anugrah.
“Lajang mah bebas,” celutuk salah satu prajut.
“Kamu bisa memanggilku, A”
“Sangat pendek, apakah itu nama samaranmu?”
“Namaku Anugrah dan kamu bisa memanggilku A, seperti yang lain.”
“Oke, A. Sampai jumpa.”
Setelah kepergian dokter tersebut, para prajurit langsung melanjutkan godaan mereka terhadap Anugrah. “Siapa tadi yang mengatakan lajang mah bebas? Bukannya di sini kita lajang semua?” sindir Anugrah menaik turunkan alisnya.
Para petugas perdamaia hari ini akan mengunjungi salah satu desa di daerah perang. Mereka akan membawa para penduduk desa menuju kamp-kamp pengungsian yang sudah disiapkan oleh PBB. Truk yang membawa pasukan dikawab oleh beberapa arteleri serta mobil-mobil pengawal bersenjata lengkap. Anugrah duduk bersama para medis yang diikutsertakan dalam misi ini. Sebuah truk putih dengan lambang palang merah. Anugrah dibekali sebuah senjata AK 47 ditangannya.
Anugrah tahu kalau sepasang mata tengah menatapnya namun ia fokus melihat ke luar. Fisiknya memang tidak lagi sempurna tapi insting dan matanya masih sempurna seperti sebelumnya. Sesekali ia meneropong ke luar untuk melihat situasi. Jiwa tentara masih mlekat kuat dalam dirinya walaupun sudah lama ia tidak pernah terjun ke medan tempur.
“Arah jam 10, waspada!” ucapnya pada saluran komuikasi mereka.
Sebuah mobil melaju kencang dari arah jam 10. Jaraknya masih cukup jauh tapi tetap saja mereka perlu waspada. Ini adalah negara perang, serangan bisa terjadi kapan dan dimana saja. Dalam waktu empat menit, sebuah rudal berhasil meledakkan sebuah truk kosong yang akan digunakan untuk mengangkut penduduk desa.
Para dokter mulai ketakutan. Mobil berhenti lalu membalas serangan. Mereka keluar dari truk lalu tiarap di jalan. Para prajurit dengan sigap menyerang balik mobil yang ternyata di dalamnya terdapat beberapa kawanan pemberontak dengan senjata lengkap.
__ADS_1
Anugrah mendekati truk yang sedang terbakar untuk mencari supir truk tersebut. Supir truk terlempar ke luar tapi kondisinya tidak terlalu baik. Anugrah kembali merayap di antara hujaman peluru untuk meminta dokter menyelamatkan tapi sayang kontak tembak semakin sengit hingga suara ledakan kembali muncul dan kali ini menghantam mobil yang ditumpangi para prajurit.
Anugrah melirik sekilas ke arah para tenaga medis yang tampak tenang di atas pasir. Mereka memang sudah dibekali terlebih dahulu sebelum dikirim ke daerah perang.
“Ledakkan mobil mereka!”
Dan suara ledakan kembali terjadi. Seorang prajurit berhasil meledakkan mobil tersebut lalu rentetan suara bedil masih saling bersahutan hingga akhirnya para pemberontak itu ditemukan tewas dengan kondisi tertembak parah.
Anugrah membantu para petugas media untuk mengobati beberapa prajurit yang terluka terkena tembakan dan ledakan. Dokter Merlyn dengan sigap membantu. Semua pasukan yang terluka dimasukkan ke dalam truk lalu dengan sigap para medis mengobati mereka.
Mereka adalah dokter-dokter dengan jiwa tangguh yang tidak kenal takut. Tidak mudah untuk menjadi petugas medis di misi kemanusiaan PBB ini. Mereka harus menyelesaikan tes masuk yang sangat ketat untuk mengantongi izin tugas.
“Alkohol!”
Dokter Merlyn membasuh semua alatnya lalu melakukan bedah dadakan untuk mengambil peluru di dada seorang prajurit. Usianya cukup muda untuk melakukan tugas selihai itu. Sebuah helikopter datang menjemput para prajurit yang terluka. Beberapa prajurit pengganti sudah turun lebih dahulu dari heli lalu berganti dengan prajurit yang terluka. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju desa tujuan. Di atas mereka ada heli yang ikut memantau perjalanan mereka untuk menghindari serangan seperti tadi.
Anugrah melirik dokter Merlyn sekilas. Dokter itu sedang menyandarkan badannya di dinding truk. Ia kelihatan lelah tapi beginilah risiko menjadi petugas medis di daerah perang.
“Dokter baik-baik saja?”
Perjalanan mereka akhirnya tiba di sana, “Pakai masker dan sarung tangan!” sebelum mengunjungi desa ini, tim medis sudah lebih dulu melakukan cek darah pada setiap pengungsi dan hal yang sangat mengejutkan mereka adalah banyak dari wanita dan anak-anak di sana menderita HIV akibat perkosaan yang sering dilakukan oleh para pemberontak terhadap para wanita. Anak-anak yang lahir kebanyakan hasil dari perkosaan itu sendiri hingga tidak jarang jika mereka juga ikut terkena dampak dari penyakit yang dibawa oleh para pemberontak itu.
“Pakai ini!” pinta Dokter Merlyn pada Anugrah. Kamu akan duduk di dalam truk yang sama dengan kami.
“Terima kasih!” Anugrah memakai masker medis tersebut lalu kembali menaiki truk yang mengangkut warga desa yang selama ini terkurung dalam ketakutan. Warga desa yang lain sudah lebih dulu diamankan oleh prajurit PBB. Desa mereka adalah desa yang terletak dalam zona hitam di mana banyak pemberontak yang sering tinggal di sana karena letakknya cukup jauh dari jangkauan.
Setelah memeriksa semua tempat dan dinyatakan bersih, iring-iringan kendaraan kembali berjalan meninggalkan desa. Tidak ada senyum yang terpancar dari wajah para wanita penduduk desa. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Bertahun-tahun hidup dalam perang seolah mereka terbiasa dengan semua perlakukan yang diterima selama ini. Mereka digilir oleh setiap pria berbeda tanpa ampun. Anak-anak terlahir tanpa tahu yang mana ayahnya. Hidup mereka tidak ubahnya seperti budak.
Jika saat pergi kondisi truk masih kosong dan mereka bisa duduk sedikit menjauh tapi berbeda dengan saat ini. Truk sudah dipenuhi oleh para penduduk desa dan satu truk lagi sudah hancur terkena serangan rudal. Kini mereka harus berhimpit-himpitan hingga posisi Dokter Merlyn begitu dengan Anugrah. Seolah alam memberikan restunya pada mereka walaupun dalam keadaan yang tidak biasa.
“Andai tidak ada senjata mungkin perang tidak akan pernah ada di dunia ini.” Ucap Dokter Merlyn.
“Andai tidak ada senjata maka Dokter tidak akan berada di sini dengan jarum suntik dan pisau bedah.” Balas Anugrah membuat Dokter Merlyn tersenyum di balik maskernya.
“Dan kita tidak akan bertemu.” Mata keduanya bersitatap.
“Ya, tanpa perang kita tidak akan bertemu.” Ulang Anugrah.
__ADS_1
Tap…
Setetes darah keluar dari sela rambut Anugrah. Dokter Merlyn segera memeriksa kepala pria di dekatnya itu tanpa aba-aba.
“Kamu terluka.”
“Hanya luka kecil.”
Dokter Merlyn tidak menjawab, tangannya dengan cekatan membersihkan darah dengan kain kasa kemudian memberikan obat lalu memberikan plaseter yang sudah diberi obat di sana. “Ada lagi yang luka?”
“Anugrah menggeleng!”
Perjalanan itu berlalu begitu panjang hingga langit mulai gelap. Anugrah menatap bintang bertaburan dengan indah. Untuk sejenak pikirannya melayang jauh ke tanah air. Tiba-tiba sosok Wulan melintas di kepalanya membuat Anugrah menghela nafasnya.
“Sejauh apa lagi aku harus pergi untuk melupakanmu?”
“Kamu merindukan seseorang?” pertanyaan Dokter Merlyn membuat Anugrah tersenyum menatap manik mata sang dokter di bawah temaram cahaya bulan.
“Keluarga saya ada di Indonesia. Tentu saja saya merindukan mereka. Bagaimana dengan Dokter?”
“Saya sedang lari dari rasa kecewa”
“Apa rasa kecewa itu tidak menghampirimu ke sini?” Dokter Merlyn tersenyum, “Dia tertinggal jauh di samudra pasifik.”
“Kamu single atau sedang menjalin hubungan?” Anugrah tersenyum getir lalu menggeleng pelan dan kembali menatap langit.
Mereka kembali terdiam satu sama lain. Sebagian dari pengungsi yang kebanyakan anak-anak sudah tertidur. Setelah menempuh perjalanan panjang penuh ketegangan, akhirnya kami sampai ke kamp pengungsian. Para relawan medis dan prajurit langsung membantu para pengungsi turun dan mendata mereka satu persatu. Para petugas medis juga langsung mengambil sampel darah dari setiap pengungsi yang baru datang. Kemudian mereka yang sudah didata akan mengikuti petugas untuk diarahkan ke kamp pengungsian lain tempat mereka akan tinggal.
“Tunggu!” Dokter Merlyn mencekal lengan Anugrah.
“Tolong ikut saya!”
Mau tidak mau Anugrah mengikuti dokter tersebut dan ternyata dibawa ke ruang pemeriksaan. “Saya buka atau kamu buka sendiri?”
“Hah?”
***
__ADS_1