
Ibu dan anak itu kembali melanjutkan perjalanan mereka hingga tidak terasa azan zuhur sudah berkumandang. “Kita salat dulu, habis itu kita lanjut kembali, ya!” Iskandar mengangguk.
Sebuah mesjid di jantung kota menjadi pilihan mereka setelah mendengar suara azan. “Mama gak takut Nenek marah?” keduanya hendak bersiap untuk kembali berjalan menikmati hari libur berdua.
“Kenapa harus takut? Mama kan tidak pergi dengan laki-laki lain. Mama pergi dengan laki-laki kesayangan Mama. Itu ada gerobak mie ayam. Kita makan yok!” ajak Cut dan tentu saja sang putra langsung mengiyakan.
“Ma, katanya gak boleh makan mie.” Sindir Iskandar.
Cut sedikit tergelak, “Yang tidak boleh itu mie instan. Kalau ini kan bukan buatan pabrik. Ini lebih sehat.”
“Ma, konsep Mama salah. Bukan buatan pabrik atau manusianya tapi kandungan dari mie instan itu sendiri. dan kalau bicara sehat, mie buatan manusia juga belum tentu sehat. Apa Mama lihat proses pembuatan sampai tempatnya? Tidak kan?”
“Iihhhh…kamu gemesin banget sih kalau cerewet begini. Anak siapa sih ini pintar banget kayak Papa.” Kali ini Iskandar yang menautkan alisnya.
“Papa kamu itu orang pintar makanya dia jadi dokter. Kalau Mama, lulus SD saja tidak.”
“Ustad bilang sekolah hanya formalitas. Ilmu itu bisa didapat dari mana saja. Bahkan perkataan orang gila saja bisa jadi ilmu jika baik dan bermanfaat karena kita tidak boleh melihat penampilan seseorang tapi apa yang dia sampaikan.”
Cut tersenyum lebar, “Mama seperti punya anak ustad.”
“Aminnnn…”
“Insya Allah ya, makanya nanti belajar yang rajin. Mama selalu berdoa supaya kamu sukses dikemudian hari.”
“Insya Allah.”
“Kak, Mama boleh tanya sesuatu? Sebenarnya sudah lama Mama ingin bertanya tapi tidak pernah ketemu waktu yang pas.”
“Mama mau tanya apa?” Iskandar ikut penasaran.
“Kakak gak suka ya sama Anugrah? Kakak jujur aja, Mama gak akan marah kok. Dan ini hanya antara kita saja, Papa juga tidak perlu tahu.”
Iskandar menatap sang ibu lama, “Kakak punya alasan kenapa tidak suka sama dia walaupun sebenarnya dia gak salah.”
“Lalu alasan Kakak apa?”
__ADS_1
“Ngikut teman-teman. Mereka bilang adik itu makhluk paling menyebalkan di dunia ini. Buktinya benar, setelah Anugrah mulai besar. Is yang selalu kena marah, dia yang jatuh Is juga yang salah padahal dia jatuh karena mainannya sendiri.”
Iskandar menutupi perihal sebenarnya. Dia sudah besar saat ini hingga mampu membaca situasi yang terjadi antara ibunya dengan sang nenek.
“Tapi kamu sayang kan sama Anugrah?”
Kali ini Iskandar hanya mengangguk kecil. Dia bingun harus menjawab apa karena sejujurnya dia sendiri tidak tahu apakah selama ini dia menyayangi sang adik atau tidak.
“Kamu mirip Papamu, irit bicara.”
“Diam itu emas, Ma.”
Keduanya kembali terlibat perbincangan dan setelah menghabiskan mie ayamnya. Ibu dan anak tersebut kembali berjalan menyusuri jalan di depan deretan toko hingga secara tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
“Itu,-“ ucap Iskandar terpotong saat ia mengikuti arah pandangan sang ibu yang membuatnya berhenti tiba-tiba tanpa alasan.
“Bukannya itu tante yang datang sama Nenek ke rumah?” tanya Iskandar lagi.
Dada Cut panas seakan ada lava panas yang akan meledak dalam dirinya. Ia mempererat genggaman tangannya pada sang putra hingga membuat Iskandar menatapnya.
“Ayo, Ma. Kita pergi saja. Masih banyak jajanan yang belum kita coba.”
Setelah menyelesaikan salat ashar, mereka kembali melanjutkan berkeliling walaupun suasana tidak sama seperti tadi. Iskandar bisa merasakan jika saat ini jiwa ibunya tidak bersamanya. Walaupun Cut sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi perasaannya saat ini tapi tetap saja bayang-bayang sang suami yang tengah tertawa riang bersama mantan istrinya terus menari dalam benaknya.
Iskandar memilih sate padang untuk makan malam mereka. Ponsel Cut mulai berdering namun sang pemilik enggan untuk mengangkatnya hingga di panggilan ke empat, Cut langsung mematikannya.
“Ma, Papa telepon ya?” tanya Iskandar.
“Biarkan saja! Untuk apa Papamu menghubungi Mama? Di sampingnya sudah ada wanita lain.”
“Ma, bicarakan baik-baik. Siapa tahu itu hanya teman apalagi nenek juga mengenalnya.”
“Sudahlah, jangan dibahas lagi! Biar Mama yang pikirkan. Pokoknya kamu fokus saja pada belajarmu nanti. Mama tidak mau kamu pergi sia-sia. Tetapkan hati kamu sebelum berangkat. Kalau pergi berarti harus gia belaar kalau hanya mau main-main lebih baik tidak usah berangkat sama sekali. Biar beasiswa ini diberikan kepada santri yang lain saja.”
“Ma, Is tidak pernah pulang saat libur biar bisa dapat beasiswa. Ini Mama malah menyuruh berhenti.”
__ADS_1
Perdebatan kecil di antara keduanya bisa sedikit menghilangkan pikiran Cut tentang Rendra dan Risma. Sementara di rumah, Ibu Yetti, Anugrah dan Rendra tengah kebingungan karena sang istri dan putra sulung mereka belum kebali sementara jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Pa, Adek takut. Jangan-jangan ada apa-apa sama Mama.” Anugrah sudah merengek karena Mamanya belum pulang.
“Sebelum Mama pergi, Cut tidak bilang apa-apa sama Mama atau Adek?”
“Tidak, Cut tidak bilang apa-apa. Lagian kami pergi lebih dulu dari mereka.” Cerita Ibu Yetti.
Mendekati jam sepuluh barulah Cut dan Iskandar tiba di rumah. Baru membuka pintu, Rendra dan Ibu Yetti sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Kamu dari mana jam segini baru pulang? Kenapa panggilanku tidak dijawab?” keluh Rendra.
“Istri yang baik itu kalau pergi izin sama suami. Kalaupun tidak izin minimal kasih kabar lagi dimana jangan tau-taunya pulang malam begini. Apa kata orang kalau melihat tingkah kamu begini? Kalau sempat kamu hamil, orang-orang bisa curiga sama pemilik bayi dikandunganmu karena ulahmu seperti ini.”
“Nak, kamu langsung istirahat ya! Adek juga masuk ke kamar ya!” titah Cut lembut pada kedua putranya. Cut masuk ke dalam lalu menaruh beberapa paper bag di atas sofa.
“Maaf, Ma. Aku tinggal dulu ya! Capek banget bawa Iskandar jalan-jalan.” Cut pergi meninggalkan mertua dan suaminya di ruang tamu. Ia tidak mau bertengkar dengan mereka di depan anak-anak. Walaupun mereka sudah berada di kamar tapi mereka pasti mendengar pertengkaran orang tuanya.
“Lihat istri kamu! Semakin hari sifatnya semakin baik saja. Apa dia sering pulang malam begini? Jangan terlalu kendor sama istri takutnya kamu malah tidak punya harga diri jadi suami. Sudah, Mama mau pulang dulu. Ajarin istrimu sopan santun sama Mama. Sifat berandalan memang susah dihilangkan.”
Ibu Yetti mengambil tas lalu keluar dari rumah sang putra. Beliau begitu jengkel karena sang mantu yang tidak menghiraukan nasehatnya. Rendra yang merasa diabaikan segera ke kamar menemui sang istri.
“Apa ini, Cut? Kamu tidak pernah pulang selarut ini sebelumnya? Kamu sedang memberontak padaku?” terlihat sekali jika Rendra sangat kesal hingga bicaranya pun berbeda dari biasanya.
Sementara Cut memilih memejamkan matanya karena malas untuk berdebat apalagi ia sudah capek. Kakinya juga pegal seharian berkeliling.
“Cut, Abang tahu kamu tidak tidur. Abang tunggu penjelasan kamu dan kenapa panggilan Abang tidak kamu jawab?”
“Sudah malam, jangan ganggu tidur anak-anak!”
Rendra mengerang saat mereka kekesalannya kembali diabaikan. Ia keluar meninggalkan Cut yang sebenarnya sedang menahan tangis. Dadanya bergemuruh, emosinya meluap-luap ingin dituntaskan namun ia masih menahan diri karena mengingat anak-anaknya terutama Iskandar yang sebentar lagi akan berangkat. Ia tidak mau memberikan kenangan buruk yang akan menggangu kosentrasinya belajar nanti.
Di kamar masing-masing, kedua anaknya sama-sama belum tidur. Melihat bagaimana ketakitan sang ayah. Anugrah takut jika orang tuanya akan bertengkar tapi nyatanya tidak. Sampai Anugrah terlelap, ia tidak mendengar sedikitpun suara gaduh atau pertengkaran dari kamar Mamanya. Begitu juga dengan Iskandar, ia sempat khawatir takut ibunya mengamuk pada sang ayah. Nyatanya, malam ini mereka tidur dalam damai.
Sementara Rendra memilih duduk di teras sambil menyesap kopi dan rokoknya. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja apalagi setelah diabaikan oleh sang istri semakin membuatnya murka.
__ADS_1
“Hallo, kamu belum tidur?”
***