CUT

CUT
Kamu...


__ADS_3

Pemimpin negeri berganti tapi kondisi negeri ini masih tidak ada perubahan. Presiden pengganti setelah presiden sebelumnya telah memberikan izin operasi militer melawan anggota separatis pada tengah malam. Ia juga menerapkan darurat militer selama enam bulan di Aceh. Sebanyak 30.000 tentara dan 12.000 polisi dikirim oleh Pemerintah Indonesia.


 


Tidak ada lagi orang asing yang tergabung dalam LSM karena semua lembaga bantuan diperintahkan untuk menghentikan operasinya dan meninggalkan wilayah Aceh.


Halaman depan koran selalu dipenuhi dengan berita penembakan, pembakaran sampai penemuan mayat tidak dikenal. Abu tidak lagi membeli koran di ruko karena khawatir jika Cut melihatnya.


 


Abu dan Umi menyemangati diri dengan terus tersenyum atau berbicara pada sang putri bahkan hal-hal yang selama ini tidak pernah diperbincangkan. Kehadiran Mae sendiri cukup berperan dalam membangkitkan suasana di ruko.


 


Pak Cek Amir sekeluarga akhirnya mengetahui tentang kondisi Cut saat tanpa sengaja Pak Cek Amir mengunjungi ruko Abu dan di sana hanya ada Mae. Pak Cek Amir sangat terkejut ketika mengetahui kondisi keponakannya. Mak Cek siti yang ikut bersama suaminya sampai menangis sambil memeluk Cut.


 


“Maafkan saya, Kak. Saya tidak tahu kalau Kakak sedang mengalami masalah seperti ini. Kami terlalu larut dalam kesedihan sampai lupa memikirkan kerabat.” Ucap Mak Cek Siti.


 


“Syuttt... jangan menangis. Cut tidak boleh mendengar kamu menangis. Kita harus bahagia di depannya supaya perasaannya tidak tertekan lagi.” bisik Umi.


 


“Alhamdulillah cepat disadari dan langsung mendapat perawatan. Kalau saja tidak ada yang menyarankan kami untuk membawanya ke rumah sakit mungkin kondisinya sekarang lebih parah.”


 


“Sekali lagi, saya minta maaf Bang. Saya tidak tahu kalau Abang sedang susah. Saya hanya memikirkan diri sendiri.” Ucap Pak Cek Amir penuh penyesalan.


 


“Sudah. Kami memahami bagaimana perasaanmu. Kita lupakan masa lalu, sekarang yang harus kita hadapi adalah masa depan. Anak-anak masih membutuhkan kita. Kalau kita lemah bagaimana dengan mereka.” Jawab Abu.


 


“Sudah sejauh mana perkembangannya, Bang?”


 


“Alhamdulillah dia sudah bisa tidur walaupun karena pengaruh obat. Tapi lebih baik dari pada menangis tiap malam. Sudah mulai makan walaupun sedikit. Saat terapi juga sudah mau memperhatikan lawan bicara walaupun tidak menjawab seperti biasa. Alhamdulillah,  banyak sekali perubahan yang kami rasakan sekarang.”


 


Cut melewatkan hari demi hari dengan terapi dan pengobatan. Abu dan Umi selalu setia menemani Cut saat menjalani terapi. Setiap sore, Abu dan Umi mengajak Cut, Mae serta Rendra ke taman kota yang tidak jauh dari area pasar. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk sekedar berbincang hal yang ringan-ringan sambil menikmati camilan.


 


“Abu, Mae di ruko saja ya?” pinta Mae.


 


Abu tahu kenapa Mae tidak mau ikut ke taman kota. Rendra yang sangat aktif bergerak membuat Mae tidak bisa duduk tenang.


 


“Kalau Bang Mae tidak ikut nanti Dek Rendra tidak ada yang jaga. Abu sama Umi sudah tua. Kami tidak sanggup lagi mengejar Rendra.” gurau Abu.


 

__ADS_1


Dengan langkah lunglai ia mengikuti di belakang sambil menggendong Rendra yang terus menarik-narik telinganya. Rendra kecil menghabiskan kesehariannya dalam asuhan Mae semenjak Cut sakit.


 


Layaknya ayah dan anak, Rendra selalu mengikuti Mae ke mana saja. Bahkan, Mae harus pergi diam-diam jika ingin lepas dari Rendra.


 


“Dek Rendra, nanti duduk diam sebentar ya? Abang mau santai sambil makan gorengan.” Benar saja seperti yang Mae bilang. Rendra duduk diam sebentar kemudian ia memilih pergi membawa bolanya.


 


“Banyak sekali tentaranya ya, Abu. Apa  tidak apa-apa kita membawa Cut kemari?” tanya Umi.


 


Taman kota adalah tanah kosong dengan hamparan rumput hijau yang luas. Tanah itu terletak di tengah-tengah areal perkantoran dan bangunan-bangunan penting lainnya. Taman kota merupakan tanah wakaf mesjid raya Baiturrahman. Namun, hak pakainya dipegang oleh Kodam. Letaknya sendiri tepat di depan rumah Pangdam di sebelah barat.


 


Rumput serta kebersihan taman ini cukup terjaga karena hak pakai dipegang oleh TNI. Jadi, mereka selalu membersihkan taman ini. Apalagi setiap ada kegiatan, mereka selalu mengadakannya di sini.


 


“Mae, Rendra mana?” tanya Abu begitu menyadari sang cucu sudah tidak terlihat lagi de depannya.


 


Mae yang sedang menikmati pisang goreng langsung bergegas mencari Rendra. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk Mae mengeluarkan jurusnya yang sudah lama ia tahan karena Cut sakit.


 


“Rendraaaa......”


 


 


“Rendraaaaaa......”


 


Mae yang terus mencari tanpa sadar memasuki kawasan para tentara yang sedang berbaris. Dan...


 


Rendra sedang bermain bola di depan para tentara yang sedang mendengarkan pengarahan. Mae menyadari jika ia salah tempat, dengan kikuk ia berjalan pelan untuk mengambil Rendra.


 


“Maaf Pak Tentara, Adek saya pergi tidak bilang-bilang. Rendra, ayo pergi!”


 


“Tunggu!” Mae yang sudah menggendong Rendra tiba-tiba terkejut saat disuruh berhenti.


 


Seorang tentara yang sedang memberikan pengarahan tadi pun mendekati Mae. “Tadi kamu panggil nama anak ini Rendra, benar?”


 

__ADS_1


“Benar Pak. Nama adek saya ini Rendra.” Tentara tersebut menatap wajah Mae lekat seolah mengenalnya. Ia juga menatap Rendra kecil dengan saksama.


 


“Ya tuhan, semoga ini benar.”


 


“Apa kalian dari Kampung Sagoe?”


 


“Bapak tahu dari mana kampung kami? Bapak pernah tugas di sana ya?”


 


“Di mana Abu, Umi dan Cut?” bukannya menjawab, Rendra malah menanyakan keluarga Abu. Dengan perasaan bingung, Mae menunjuk ke arah keluarga Abu duduk.


 


“Ayo, kita ke sana!”


 


Rendra mengikuti Mae dengan kebahagian yang terpancar di wajahnya. Diikuti oleh beberapa anak buahnya, Rendra mendatangi keluarga tersebut dengan penuh semangat.


 


“Abu...”


 


“Assalamualaikum...”


 


Abu dan Umi terkejut melihat sosok yang sudah lama tidak mereka lihat. Rendra bersalaman dengan Abu dan Umi. Saat hendak bersalaman dengan Cut, Rendra harus menelan kekecewaan. Cut menatap Rendra dengan tatapan kosong seakan tidak kenal. Rendra mengernyit heran dengan berjuta pertanyaan di benaknya.


 


Abu menarik tangan Rendra menjauh dari Cut. “Nak, Cut yang sekarang bukan lagi Cut yang dulu kamu temui. Dia sekarang sakit, jiwanya terganggu. Dia menderita depresi berat sampai harus melakukan terapi dan berbagai pengobatan. Abu tidak tahu apa dia masih mengingat kamu atau tidak karena barang-barang kami di kampung sudah habis terbakar. Rumah kami di kampung sudah dibakar orang. Dan yang kami bawa waktu kemari hanya apa yang kamu berikan sewaktu di Kabupaten Utara.”


 


“Abu tinggal di mana?”


 


“Di ruko depan pasar ikan, tidak jauh dari sini.”


 


“Kalau begitu nanti saya ke tempat Abu. Saya pamit dulu sekarang karena masih ada tugas.” Rendra kembali menyalami tangan Abu lalu pergi dengan segudang pertanyaan dan kekhawatiran.


 


Abu kembali ke tempat semula. “Semoga ini menjadi jawaban untuk doa-doa kita, Umi.” seakan mengerti dengan maksud dari ucapan sang suami. Umi mengangguk pelan seraya menatap sang putri.


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE..KOMEN...


like yang banyak donk...


__ADS_2