CUT

CUT
Dokter Widia...


__ADS_3

Sepasang mata mengawasi dibalik dinding beton rumah sakit. Ia mencengkeram kuat gagang sapu di tangannya. Kebencian, amarah serta rasa cemburu jelas terlihat di wajahnya.


 


“Terima kasih, Dokter.” ucap Rendra saat keluar dari ruang kontrol. Satu jam lebih ia habiskan untuk berbicara banyak hal pada Cut namun tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut sang gadis.


 


“Jangan berterima kasih. Jika kehadiran kamu bisa membuatnya kembali, justru saya yang harus berterima kasih. Tapi sepertinya belum ada hasil, wajahmu cukup jelas memberi tahu saya.” ucap Dokter Widia dengan sedikit senyum.


 


“Tidak mudah menghadapi pasien seperti Cut. Kamu harus banyak bersabar dan cukup waktu untuk menunggu.” sambung Dokter Widia.


 


“Masa tugas saya tinggal sebulan lagi. Saya tidak tahu bagaimana ke depannya. Jika kondisi Aceh masih seperti sekarang, sangat sulit untuk saya bisa kemari.”


 


“Jadi, kamu akan menyerah?” tanya Dokter Widia.


 


“Saya tidak tahu, Dokter.”


 


“Kalau memang tidak bisa, jangan dipaksakan. Ikuti saja saran yang Abu berikan kemarin. Carilah gadis lain di Jawa sana! Jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Cinta memang harus diperjuangkan tapi logika harus diutamakan.”


 


“Terima kasih, Dokter. Kalau begitu saya pamit dulu.” keduanya berjabat tangan lalu Rendra keluar meninggalkan gedung rumah sakit dengan perasaan hampa.


 


Tok...tok....


 


“Saya masuk ya?”


 


Ceklek...


 


“Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Dokter Widia seraya duduk di bangku yang diduduki oleh Rendra tadi.


 


“Dia sepertinya sedih. Walaupun dia tidak mengatakannya pada saya, tapi raut wajahnya jelas menggambarkan kesedihan yang terlalu dalam. Dasar pria bodoh! Begitu banyak gadis di Jawa sana tapi dia masih saja memikirkan kamu. Dia rela menunggu kamu hanya untuk kata ‘iya’. Kalau saya jadi dia, mungkin sekarang sudah punya dua anak. Buat apa menunggu yang tidak pasti. Tampan, pangkat tinggi, cerdas sudah cukup jadi modal untuk memikat hati setiap wanita di luar sana. Bukannya larut dalam cinta yang tidak jelas. Apalagi dengan gadis yang putus asa dengan kehidupannya sendiri. Jangankan mengurus suami, diri sendiri saja tidak sanggup diurus. Pikirannya saja tidak sanggup ia kontrol sendiri. Bagaimana mau mengurus rumah tangga apalagi menjadi istri seorang prajurit.”


 


“Kak, Cut mau ke dapur.”


 


“Silakan, tempat kamu memang di sana. Kamu lebih bahagia menghabiskan waktumu bersama kompor dan panci. Mereka tidak akan menceramahi kamu seperti saya. Nikmatilah masa muda kamu di dapur itu.”


 


Cut meninggalkan Dokter Widia tanpa sepatah kata. Ia pergi dalam diam. Sementara Dokter Widia terlihat kesal dengan segala upaya yang sudah ia lakukan namun Cut masih enggan membuka diri.


 


“Dokter.”


 


“Apalagi?” Dokter Widia kaget saat melihat pria lain memasuki ruangan tersebut.


 


“Kamu!”


 

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kalau ada yang melihat atau mengenali wajah kamu?”


 


“Kalau tentara itu bisa kemari kenapa saya tidak? Saya juga ingin menemuinya.” Dokter Widia memijat pelipisnya. “Saya seperti ibu-ibu dengan dua anak laki-laki yang berebut mainan. Jika kamu ingin menemuinya, jangan sekarang! Dia baru menemui Rendra, tidak baik jika dalam sehari dia menemui kalian berdua. Besok saja datang lagi kemari!”


 


“Dokter, saya tidak tahu apa besok masih bisa kemari. Izinkan saya untuk bertemu dia hari ini. Saya janji tidak akan berbuat macam-macam.”


 


“Bagaimana kalau dia histeris lalu berteriak? Para perawat pria akan datang lalu kamu akan berhadapan dengan dokter serta saya akan terkena masalah karena membiarkan kamu menemuinya.”


 


“Biarkan dia tenang dulu. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan tadi. jangan terlalu memaksa pikiran dia untuk menerima kalian sekaligus. Aduh...saya jadi pusing kalau kamu begini. Tolong, dengarkan saya! Datang saja besok, saya akan menyiapkan semuanya. Jika kamu bisa bertahan selama ini kenapa kamu tidak bisa bertahan sehari lagi.”


 


“Ya sudah, saya pegang kata-kata Dokter.”


 


Khalid keluar dari ruangan kontrol dan tanpa sengaja menabrak bahu seorang pria yang juga hendak memasuki ruang kontrol tersebut.


 


Tok...tok...


 


“Apa lagi? Saya bilang besok.”


 


“Kamu?” Dokter Widya semula berpikir jika itu adalah Khalid.


 


“Ada apa, Dokter? Kenapa reaksinya seperti melihat hantu.” tanya Rendra.


 


 


“Kelihatannya sangat penting sampai kamu harus kembali lagi.”


 


“Apa boleh kalau saya membawa Cut keluar sebentar?”


 


“Tidak! Itu terlalu berisiko. Saya tidak mau terkena masalah gara-gara kamu.”


 


“Sebentar saja, Dok. Saya ingin membawanya menikmati suasana pantai. Siapa tahu dia akan bicara sama saya.”


 


“Tidak boleh, Pak Rendra. Terima kasih.” Dokter Widia kali ini benar-benar harus bersikap tegas seperti ibu-ibu beranak dua. Setelah meninggalkan Rendra sendiri di ruang kontrol, Dokter Widia sempat melihat pria yang ia yakini sebagai Khalid sedang mengintip dari jendela ruang perawat.


 


“Mereka berdua benar-benar seperti anak-anak. Huhhhh...” Dokter Widia mencoba bersikap tenang kembali. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya.


 


Hari menjelang sore, para dokter dan perawat yang sudah selesai piket beranjak meninggalkan rumah sakit. Petugas jaga, perawat serta dokter ganti sudah siap menggantikan jadwal piket malam.


 


Hump...hump...


 


Cut berontak saat sebuah tangan menutup mulut dan sebelah tangan yang lain menarik badannya ke belakang. Setelah berusaha melawan akhirnya Cut jatuh pingsan oleh pengaruh obat bius.

__ADS_1


 


“Kamu milikku, Cut Zulaikha.”


 


Kring...kring.....


 


Kring....kring....


 


“Halo, dengan siapa?”


 


“Maaf, Pak. Ini dari rumah sakit. Ada berita penting untuk Dokter Widia.”


 


“Sebentar, saya panggil dulu.”


 


“Ma...Ma...bangun, ada telepon dari rumah sakit. Katanya penting.”


 


“Iya, ada apa?”


 


“Maaf, Dokter. Pasien Cut hilang dari kamarnya.”


 


“Apa??? Saya ke sana sekarang. Hubungi Dokter Zul, dan polisi sekarang juga!” Dokter Widia berlari menuju kamarnya untuk mengambil kerudung lalu kunci mobil.


 


“Papa antar.” Dokter Widia mengangguk.


 


Sepasang suami istri itu pun segera menuju rumah sakit jiwa di tengah malam yang sepi. Kali ini perjalanan Dokter Widia terbilang mulus tanpa hambatan karena menggunakan mobil dinas sang suami yang berprofesi sebagai anggota provos.


 


“Benar-benar berjiwa pemberontak.” gerutu Dokter Widia dalam perjalanan ke rumah sakit.


 


“Maksud Mama siapa?”


 


“Nanti Mama cerita selengkapnya.”


 


Mobil melaju cukup kencang sampai tidak terasa sudah memasuki halaman rumah sakit. Walaupun penegakan hukum di Aceh tidak berjalan baik tapi kasus hilangnya pasien rumah sakit jiwa seperti Cut tetap dilaporkan ke pihak berwajib.


 


Dokter Widia melihat beberapa salah satu pihak berwajib langsung menghubungi seseorang melalui HT begitu mengetahu latar belakang Cut. Dokter Widia semakin gelisah tatkala dirinya harus menjawab berbagai pertanyaan dari polisi. Sang suami yang merasakan gelagat aneh sang istri kemudian meminta izin untuk berbicara dengan sang istri lebih dulu.


 


Polisi yang melihat KTA dari suami Dokter Widia langsung memperbolehkan mereka bicara berdua. Di sinilah Dokter Widia menunduk takut tatkala diinterogasi langsung oleh sang suami.


 


“Ma...” tanpa perlu bertanya, cukup memanggil seperti itu saja Dokter Widia langsung mengatakan yang sebenarnya kepada sang suami.


 


 

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN...LIKE....KOMEN


__ADS_2