CUT

CUT
Nenek Rewel...


__ADS_3

Setelah Iskandar tinggal di pesantren, Ibu Yetti sangat sering mengunjungi kediaman Rendra. Sebagai anak, Rendra tentu senang karena saat ia pergi tugas. Ibunya ada di sana menemani sang istri. Namun, apa yang Rendra pikirkan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada kenyataannya. Cut tertekan karena setiap apa yang dilakukannya selalu salah. Sebagai seorang ibu, Cut kadang lengah karena banyaknya pekerjaan rumah tangga. Dulu saat hamil, ia sempat dimanjakan dengan kehadiran asisten rumah tangga. Namun, setelah melahirkan sang asisten jutru harus pulang kampung dan setelah itu Rendra tidak berniat lagi mencari asisten rumah tangga setelah rumah disebelahnya mengalami kejadian mengerikan.


Sang asisten ternyata lalai bermain Hp hingga anak balita itu meminum cairan pencuci lantai. Kejadian tersebut cukup menghebohkan penghuni komplek yang kebanyakan para tentara. Dari kejadian itu akhirnya, Rendra tidak mau memakai jasa asisten rumah tangga. Karena Cut sendiri juga tidak setuju dengan rencana itu.


“Jangan berikan nasi seperti ini. Dia masih balita, buatkan saja dia bubur yang agak kasar tambah sayur biar sehat.”


“Baik, Ma.” Ibu Yetti bermain dengan sang cucu sementara Cut sedang membuat bubur yang disarankan oleh Ibu mertua karena Anugrah sedang tidak nafsu makan. Efek tumbuh gigi membuat Anugrah malas makan hingga sang nenek meradang.


“Sebagai ibu, kita harus kreatif dan cerdas untuk mesiasati apa saja supaya anak mau makan. Jangan terima saja saat dia tidak mau makan padahal dia sedang membutuhkan banyak asupan gizi.”


“Iya, Ma.”


“Jangan iya-iya saja. Kamu harus banyak belajar dan bertanya jika tidak tahu. Merawat dan mendidik anak tidak boleh asal. Salah-salah nanti malah jadi seperti Iskandar. Mama tidak mau keturunan Rendra tantrum sepert itu. anak-anak Mama dulu sangat patuh dan penurut. Mereka tidak pernah berkelahi seperti Iskandar.”


“Ma, Iskandar sudah berubah semenjak di pesantren. Jangan menyakahkan dia terus, Cut yang salah. Dia tidak tahu apa-apa.”


“Baguslah kalau kamu mengerti. Itu mainan Iskandar kalau sudah dipakai kamu cuci pakai sabun dan jangan taruh sembarang begitu. Itu kan kotor dan banyak kuman. Nanti dia masukkan ke mulut dan kamu tidak melihatnya.”


Cut menghela nafasnya sesaat. Hatinya mempertanyakan sejak kapan ibu mertuanya berubah seperti sekarang. Selesai membuat bubur untuk Anugrah, Cut menaruh dalam mangkuk lalu membawanya ke hadapan ibu mertuanya. Ibu Yetti mengaduk-ngaduk bubur tersebut lalu mengambil satu sendok kecil kemudian menyuapi sang cucu yang sudah didudukkan dalam pangkuannya.


Anugrah memakan sedikit lalu melepehnya. Ibu Yetti menghela nafasnya karena sang cucu masih belum mau makan dari pagi. Anugrah lalu menunjukkan ke arah roti yang terletak di atas meja makan. Roti yang biasa Cut kasih ke Anugrah kalau malam-malam anak itu ingin makan selain nasi.


Dengan bahasa dan telunjuknya, Anugrah menunjuk ke arah toples. “Cucu nenek mau itu? tidak boleh, Nak. Itu tidak sehat.”


“Pindahkan toples itu dari sana. Anugrah tidak boleh makan roti-roti seperti itu.”


“Iya, Ma.” Cut pasrah mengikuti semua perintah ibu mertuanya.


Lagi asyik-asyiknya Ibu Yetti menggendong Anugrah tiba-tiba hidungnya mencium aroma tidak sedap lalu dengan cepat Ibu Yetti memanggil menantunya.

__ADS_1


“Cut, Anugrah pup ini. Cepat bersihkan!”


Setelah menyerahkan Anugrah pada ibunya, Ibu Yetti langsung menuju kamar tamu untuk mandi dan berganti pakaian. Sudah seminggu, Ibu Yetti kerap ke rumah dan selalu membawa baju ganti dengan alasan takut Anugrah muntah dibajunya. Rendra dan Cut tidak mempermasalahkan hanya saja semakin kesin. Ibu Yetti semakin memerintah ini dan itu. Cut sangat tertekan tapi dia tidak bisa bercerita banyak pada sang suami.


Rendra senang karena ibunya sangat menyayangi Anugrah dan perhatian pada istrinya. Namun, satu yang Rendra tidak tahu, jika tidak boleh ada dua ratu dalam satu rumah. Kesibukannya sehari-hari lalu malamnya bermain dengan anak jika tidak ada tugas membuat Rendra semakin sedikit memiliki waktu bersama sang istri bahkan ketika di kamar. Keduanya sama-sama kelelahan sehingga mereka mengahabiskan waktu sekenanya saja.


Seperti malam ini, setelah menidurkan sang anak. Cut kembali ke ranjang  dan kembali mendapat tugas untuk menidurkan bayi besar. Jiwa dan raganya lelah tapi sebisa mungkin dia tetap melakukan kewajibannya.


“Tidurlah, Sayang! Abang juga ngantuk sekali. Seharian ini sangat melelahkan.”


Rendra tertidur setelah menyelesaikan olahraga malam mereka. Sedangkan Cut, dia terus memikirkan nasib rumah tangganya. Ingin cerita tapi pada siapa? Dia tidak mungkin menghubungi keluarganya di Aceh. Mereka juga punya kehidupan masing-masing. Cut menatap nanar langit-langit kamar, hatinya sulit digambarkan. Seminggu ini kehidupannya terasa berjalan lama dan jauh hingga ia lelah.


Lagi, Cut memilih bungkam menyimpan semuanya sendiri. Ia berusaha berpikir positif bahwa ibu mertuanya sangat menyayangi Anugrah. Pikiran positif yang coba ia bangun malah tidak mampu mengusir pikiran negatif yang selama ini bersarang di kepalanya.


Setiap kata pedas yang keluar dari mulut ibu mertua seperti pisau yang sedag mengiris dengan sengaja kulitnya.


Hari ini adalah hari minggu dan keluarga Cut berencana mengajak Anugrah jalan-jalan ke kebun binatang. Saat hendak memasuki barang-barang, mobil ibu mertua sudah berhenti di depan mobil Rendra.


“Jalan-jalan nenek ke Zoo.”


“Eh…tidak boleh, Sayang. Anugrah masih balita jangan kamu bawa ke kebun binatang. Kita kan tidak tahu binatang di sana terkena penyakit atatu tidak.”


“Sekarang lagi musim flu burung apa kamu tidak takut membawa Anugrah kemana-mana? Dia itu masih kecil, imun tubuhnya belum sekuat orang dewasa. Nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana?”


Rendra tidak bisa mengabaikan perkataan orang tuanya. Perkataan seorang ibu sudah ia anggap seperti doa. Cut tersenyum getir saat sang suami membatalkan rencana mereka.


“Maaf, Sayang. Kita bisa pergi ke tempat lain kapan-kapan.”


Rencana liburan gagal dan hendak pergi ke tempat lain juga tidak bisa karena ibu mertuanya sudah berada di rumah mereka untuk menghabiskan waktu bermain dengan sang cucu. Apa yang bisa Cut lakukakan saat seperti ini?

__ADS_1


Dia akan membuat beberapa kudapan untuk ibu mertuanya. Kembali berkutat di dapur karena ini lah tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Cut melihat bagaimana bahagianya Anugrah bermain bersama ayah dan neneknya. Di sisi lain, ia juga tengah memikirkan Iskandar. Sudah lama ia ingin menjenguk sang putra tapi apa daya. Suaminya mengatakan jika mereka tidak bisa menjenguknya dalam waktu dekat. Supaya Iskandar terbiasa tanpa bertemu dengan mereka.


Hari berganti bulan lalu berganti menjadi tahun. Sudah setahun Iskandar berada di pesantren sementara sang ibu belum juga menjenguknya sampai sekarang. Beberapa kali Cut pernah mengajak sang suami namun karena nasehat ibunya. Rendra mengurungkan niatnya untuk menjenguk Iskandar.


“Mama bilang kita harus membiarkannya dulu di sana sampai dia benar-benar berubah. Kalau kita menjenguknya, dia akan berulah lagi.”


“Tapi, Mama sangat merindukannya. Dia anak kita, Pa. kita harus tahu keadaanya.” Sahut Cut dengan wajah memelasnya.


“Ini sudah setahun kita meninggalkannya di sana tanpa sekalipun menjenguk. Bukannya menjadi baik, dia malah mengira kita benar-benar membuangnya.” Lanjut Cut kembali.


“Sayang, kita harus sabar. Kalau ada apa-apa, Ustad akan menghubungi kita. Kamu tenang saja ya?”


“Mama tidak bisa tenang, Pa. Sudah setahun aku tidak melihatnya. Bagaimana aku tenang? Mungkin kamu bisa tenang karena dia bukan anak kandungmu.”


Cut mulai emosi. Selama setahun hidup menderita dalam aturan ibu mertuanya membuat emosi Cut yang sudah terpendam lama kini mulai meledak.


“Sayang, kenapa kamu bilang begitu?”


“Sudah cukup selama ini aku bertahan. Aku capek menghadapi rumah tangga seperti ini. Rumah tangga kita tapi ibumu yang mengatur. Aku capek karena kamu justru lebih mendengar ibumu tanpa peduli keinginanku.”


Rendra menatap sang istri lekat. Untuk pertama kalinya Cut mengungkapkan kekesalan hatinya setelah setahun memendam erat dalam lubuk hatinya.


Suara tangisan Anugrah menyadarkan keduanya. Cut segera berlari ke  kamar untuk menenangkan sang putra.


“Baiklah kalau kamu mau menjenguk Iskandar. Bersiaplah! Kita berangkat sebentar lagi.” Ucap Rendra lembut.


Sejujurnya, dia dilema saat ini. Ungkapan sang istri menyadarkannya jika apa yang selama ini pikir dan lihat berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh sang istri. Di kamarnya, Cut terisak seraya menenangkan Anugrah. Ini adalah pertama kalinya dia bersuara pada sang suami. Kesabaran Cut sudah habis saat mengingat bagaimana sakitnya perlakuan ibu mertuanya.


“Maafkan Cut, Bang.”

__ADS_1


***


__ADS_2