
Babak baru kehidupan Cut dimulai. Hari berganti hari ia jalani sebagai adik dari Khalid. Pulau Breuh tidak pernah terjadi kontak senjata karena di sana tidak ada tentara atau para pemberontak. Pulau bukan tempat yang layak untuk dijadikan tempat perkumpulan para pemberontak karena tidak memiliki jalan untuk melarikan diri. Di sana juga tidak ada kantor pemerintahan maupun pos-pos aparat keamanan.
Itulah alasan yang mendasari Khalid untuk membawa Cut ke sana. sudah seminggu mereka hidup sebagai saudara kandung di sana. untuk mengurangi kecurigaan warga, Khalid sengaja mengaku bahwa ia dan Cut adalah adik abang korban konflik. Orang tua mereka sudah meninggal terkena peluru saat kontak senjata. Adiknya saat ini sedang sakit maka, ia sengaja membawa adiknya ke sana karena di sana tidak ada perang.
Warga kampung menyambut baik kehadiran keduanya. Istri kepala desa juga menyukai Cut walaupun ia masih tetap diam. Cut sendiri larut dalam kebahagiaannya sendiri selama berada di sana. setiap pagi, siang ataupun sore ia selalu pergi ke tepi pantai. Melihat anak-anak bermain bersama dengan tawa yang khas adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buat Cut.
Khalid juga mulai melupakan tujuannya di masa lalu. Ia ingin memulai kehidupan baru di sana bersama Cut walaupun, ia tidak bisa memiliki Cut sebagai istri. Ia akan tetap menunggu sampai Cut sehat dan kembali seperti dulu.
Jika Cut dan Khalid sedang bahagia dengan caranya masing-masing justru berbanding terbalik dengan Rendra yang sedang mengemas barang-barangnya. Ia terus memikirkan Cut yang masih hilang tanpa jejak.
“Masih memikirkan dia?” tanya Wahyu.
“Kamu sudah tahu jawabannya, Yu. Bagaimana aku bisa kembali jika nasib dia tidak jelas di luar sana. apa dia masih hidup atau tidak? Apa pria brengsek itu menyakitinya? Rasanya kepalaku mau pecah setiap kali memikirkan laki-laki brengsek itu. Lihat sekali dia dalam bersembunyi.”
“Aku dengar dia punya ilmu untuk membuat kita tidak bisa menemukannya.”
“Ah....aku tidak percaya sama yang begitu. belum sial saja dia. Kalau nanti sialnya datang, pasti dengan mudah kita tangkap walaupun dia memiliki ilmu membelah diri.”
“Sudahlah, sebentar lagi kita akan menaiki kapal lalu kembali ke tempat asal. Yang tidak bisa dibawa maka tinggalkanlah!”
“Yu, dia bisa dibawa tapi waktu belum memungkinkan.”
“Nah, itu dia. Jika jodoh sudah datang akan ada saja jalannya. Seberapa kuat pun kamu menahannya tetap tidak akan berhasil. Itulah takdir jodoh. Begitu juga dengan hubungan kalian. Bisa jadi ini adalah petunjuk yang Alah berikan supaya kalian bisa menjalankan hidup dengan pasangan masing-masing.”
__ADS_1
Rendra tidak lagi menjawab pernyataan Wahyu tapi pelan-pelan ia mulai mencerna sedikit demi sedikit kata-kata yang keluar dari mulut rekannya.
“Apa kali ini saya harus benar-benar menyerah, Cut?” batin Rendra.
Hilangnya Cut untuk kedua kali membuat Abu dan Umi syok berat. Umi sering menangis dan tertekan sehingga berat badannya mulai turun. Abu juga sering terbangun di tengah malam lalu menangisi sang putri setiap kali berdoa. Doa supaya sang putri dapat kembali dengan selamat. Namun, sampai sekarang belum ada kabar dari pihak militer.
Hari yang ditunggu oleh kebanyakan tentara sudah di depan mata. Gurat kebahagiaan menyelimuti setiap hati para abdi negara yang sudah bertugas selama lebih kurang setahun. Mereka yang meninggalkan sang istri, anak, orang tua bahkan kekasih. Kini dapat berbahagia karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan orang-orang yang selalu menunggu dengan doa yang tak kunjung putus.
Kapal milik TNI sudah bersiap untuk berangkat setelah sebelumnya dilakukan upacara sebagai bentuk perpisahan untuk mereka yang selama ini sudah berjuang membasmi pemberontak. Dari sekian hati yang bahagia hanya satu hati yang kembali dengan kehampaan serta kekecewaan.
Rendra yang berharap bisa membawa sang kekasih kali ini justru harus menahan kekecewaan. Harapannya hilang dibawa angin laut. Ia kembali dengan tas ranselnya. Andai bisa, ia memilih untuk tidak pulang. Ia akan mencari Cut sendiri. Tapi keinginan tinggal sekedar ingin tanpa bisa mewujudkannya.
Abu dan Umi sudah kehilangan semangat saat Cut menghilang. Tidak banyak yang bisa Rendra katakan saat itu. Melihat wajah kedua orang tua tersebut sudah membuat Rendra sedih.
“Maafkan saya, Abu, Umi. Saya gagal menjaga Cut hingga Khalid berhasil membawanya lagi.”
“Sudah, Nak. Ini bukan salah kamu. Semua ini sudah ada yang atur, kita hanya bisa pasrah sambil berdoa semoga suatu hari nanti Cut dapat kembali dengan selamat dan sehat.” Jawab Abu.
“Amin. Kalau begitu saya pamit dulu, Abu, Umi. Suatu hari jika Allah menakdirkan kita bertemu. Insya Allah kita pasti bertemu.”
Abu hanya mengangguk kemudian Rendra menyalami tangan tersebut lalu pergi. Setelah meninggalkan kawasan pasar, Rendra kembali mengunjungi seseorang yang selama ini cukup dekat dengan Cut.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Dokter.” ucap Rendra saat bertamu ke rumah Dokter Widia yang terletak di asrama Kodam.
Setelah kejadian kemarin, suami Dokter Widia memutuskan untuk tinggal di perumahan militer kodam. Sang suami takut jika para pemberontak itu datang lagi. Walaupun mendapat penolakan di awalnya tapi berkat usaha bujuk rayu Dokter Widia.
“Walaikumsalam. Dari mana tahu alamat saya?” tanya Dokter Widia.
“Tidak sulit untuk menemukan alamat, Dokter. Anak sekolah saja bisa menemukan alamat ini dengan mudah apalagi saya."
“Dokter, ada hal serius yang ingin saya tanyakan. Selama ini, Dokter sangat dengan Cut dan mengenal Cut sangat dekat. Kira-kira, dari yang Dokter lihat. Apa dia memiliki perasaan buat saya?”
Dokter Widia tertawa kecil, "Saya bukan tuhan yang bisa mengetahui isi hati seseorang. Selama ini dia tidak pernah mengungkit kamu atau Rendra. Yang saya takutkan adalah dia berusaha lepas dari kalian berdua.”
“Apa maksud, Dokter?”
“Jika dia memiliki perasaan buat kamu pasti dia akan berusaha untuk bangkit saat bersama dengan kamu. Orang yang ia harapkan, rindukan atau bahkan cintai. Tapi, kenyataannya kan tidak. Dia tetap diam seribu bahasa dengan kamu atau pun dengan Khalid.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap Rendra lesu.
Dokter Widia hanya bisa menghela nafasnya. Ada rasa kasihan pada kedua pemuda tersebut namun, profesi keduanya sama-sama tidak menguntungkan mereka dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Di pulau seberang, seorang gadis bersama dengan dua anak perempuan sedang mengutip buah kelapa yang baru dipetik oleh Khalid. Hampir sebulan mereka tinggal di sana. cut menanam beberapa sayuran yang dibantu istri Kepala Desa tersebut. Khalid sendiri mengurus ladang dan beberapa ternak. Setiap sore menjelang magrib, Khalid datang dengan gumpalan besar rerumputan untuk sapi dan kerbau.
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1