
Cut terkesiap menatap lapangan luas di depannya. Ya, di sinilah keduanya berhenti. Rendra menggenggam tangan Cut lalu duduk di salah satu sudut. ia mengeluarkan buku yassin kecil dalam saku bajunya.
“Saya ingin meminta izin langsung pada Abu dan Umi. Saya juga mau kamu berjanji di depan mereka jika keputusanmu ini tidak akan berubah sampai saya kembali ke sini untuk menjemputmu.”
Cut tidak menyangka jika Rendra akan mengajaknya ke kuburan massal yang sempat ia datangi dulu setelah keluar dari rumah sakit.
Setelah membaca yassin, keduanya masih berada di sana. Menatap lapangan luas yang di dalamnya dikubur ribuan jenazah korban tsunami.
“Abu, Umi, Allah yang menjadi saksinya. Saya akan kembali ke sini untuk menikahi Cut setelah pengajuan kami diterima. Jika saya tidak kembali maka saat itu mungkin saya sudah tidak bernyawa. Doakan kami, Abu, Umi. Doakan kami supaya pernikahan kami lancar dan kami dapat menemukan Rendra kecil kembali.”
Setelah mengucapkan janjinya, Rendra menatap Cut lalu, “Ucapkan janji yang sama seperti yang saya lakukan!”
Cut menatap Rendra sekilas seraya menghela nafasnya. “Saya janji akan menunggu Abang kembali ke sini.”
Rendra menatap Cut lekat. Sejujurnya, ia ingin menikahi Cut secara agama untuk mengikat hubungan keduanya tapi berbagai pendapat membuat dia urung menjalankan rencana tersebut. Apalagi, Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti tidak mau mengikat keponakan mereka tanpa status hukum yang jelas dari negara.
“Jika kamu melanggar janjimu, maka kamu akan menjadi anak durhaka, Cut.”
Cut menggelengkan kepalanya, dia bingung melihat Rendra dengan tingkahnya yang sedikit berlebihan menurut Cut. Rendra harus mengakui jika dia cukup gusar meninggalkan Cut kembali dan satu-satunya jalan hanya ini. Membawa Cut ke depan orang tuanya.
Setelah dari kuburan massal, Rendra tidak langsung membawa Cut kembali ke rumah. Berhubung waktunya bersama Cut hanya tinggal hari ini, dia langsung membawa Cut berkeliling melihat berbagai pemandangan tepi laut yang sudah mulai bersih dari puing-puing. Mobil berdiri tidak jauh di pinggir pantai. Keduanya duduk seraya menatap laut lepas yang indah berwarna biru. Tidak ada yang menyangka jika keindahan laut tersebut pernah membawa bencana bagi warga pesisir Aceh beberapa bulan yang lalu. Keganasan ombaknya membuat ratusan ribu orang kehilangan nyawa, keluarga dan harta benda lainnya.
__ADS_1
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing dalam beberapa menit hingga suara Rendra memecahkan keheningan dari keduanya. Cut gugup saat menyadari jika Rendra tengah menatapnya. Cut sedikit bergeser hingga membelakangi Rendra namun dengan cepat Rendra mencegahnya. “Hanya ini kesempatan saya berdua dan menatapmu lama. Setelah dari sini, kita akan berjauhan dan saya tidak bisa lagi melihat wajahmu sampai kita menikah nantinya.”
“Katakan sesuatu untuk membuat saya tenang saat kembali ke Jawa! Jujur saja, saya seperti orang trauma akibat kita yang selalu kandas sebelum memulai.”
“Saya tidak kemana-mana sampai Abang datang nanti saya tetap masih di sini. Kecuali, saya meninggal.”
“Ssssttt…jangan ucapkan itu. Kita belum menikah, saya tidak mau menjadi duda sebelum menikahimu.”
Cut tersenyum kecil, “Sekarang juga sudah duda, apa bedanya?”
“Beda, karena saat ini saya sedang mengalami CLBK. Cinta lama bersemi kembali.”
Cut hanya menggelengkan kepalanya. Tingkah Rendra selalu berubah-ubah seperti saat ini. Kadang dia menjadi pria yang sangat serius tapi sesaat kemudian berubah menjadi sedikit konyol.
“Saya harus bagaimana menurut Abang?”
Pertanyaan balik dari Cut semakin membuat Rendra gemas rasanya ingin mencium Cut dengan brutal. Namun, dia hanya bisa berhayal tentang itu semua karena kenyataanya Rendra tidak mampu melakukannya saat ini.
“Cut Zulaikha, mulai detik ini saya akan menghitung berapa kali kamu meledek saya dan bersiaplah ketika kita menikah nanti. Kamu akan lihat bagaimana pembalasan saya.”
Rendra tersenyum nakal seraya menaik turunkan sebelah alisnya. Cut langsung membuang mukanya ke lain arah. Berbicara dengan Rendra benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Cut selalu berdebar jika berdekatan seperti saat ini. Cut yang sudah pernah menikah tentu tahu kemana arah gurauan Rendra tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba, Rendra menarik sebelah tangan Cut. Ia menggenggam erat tangan tersebut dengan mata sendu. “Saya sangat takut kehilangan kamu lagi. Jangan tinggalkan saya kali ini! berjanjilah pada saya, Cut!”
Kekhawatiran Rendra jelas terlihat hingga membuat Cut yang tadinya membuang muka kini menatap sang calon suami dengan tatapan hangat. “Saya tidak kemana-mana. Saya masih harus mencari Rendra kecil sembari menunggu Abang menjemput ke sini. Tapi, jika boleh memiliki keinginan, saya sebenarnya berat untuk pergi meninggalkan keluarga di sini. Hanya mereka yang saya punya saat ini. Seharusnya saya memang tidak menikah dulu. Banyak hal yang harus saya pikirkan. Apalagi ada Iskandar. Apa Abang mau menerimanya? Dia bukan anak Abang dan keluarga Abang pasti tidak akan setuju dengan pernikahan ini.”
“Satu hal yang tidak saya perjelas dari Abang sebelumnya adalah restu dari keluarga Abang bagaimana? Apa mereka setuju Abang menikah dengan janda anak satu dengan kondisi cacat serta rahim bermasalah?” Kali ini Cut memberanikan diri menatap manik mata Rendra.
“Jangan bicarakan ini lagi, Cut. Kita sudah bertunangan dan akan menikah. Saya tidak mau kamu memikirkan apa-apa lagi selain pernikahan kita. Orang-orang pernah mengatakan pada saya jika godaan bagi mereka yang akan menikah lebih besar sampai ada yang bisa batal sehari sebelum hari H. Saya tidak mau itu terjadi, Cut. Jadi, berhenti mengatakan keinginan-keinginan kamu yang sudah tidak bertempat itu. Kita pasti akan bertemu dengan Rendra. Dan mengenai keluargamu. Mereka yang pertama memberi restu. Saya tidak bertanya padamu Cut tapi pada mereka terlebih dahulu. Sekarang kamu paham kan?”
Cut mengangguk pelan lalu berkata, “Seharusnya saya juga seperti itu. Bertanya dulu pada orang tua Abang baru menerima Abang.”
“Ayo, kita pulang.”
Rendra mengakhiri pembicaraan secara sepihak lalu melajukan mobil menuju ke kediaman Pak Cek Amir. Dia menghindari pembahasan karena sejujurnya ia sendiri takut memikirkan reaksi orang tuanya nanti. Tapi apapun yang terjadi, ia sudah bertekad untuk mempertahankan Cut sampai ke pelaminan.
Cut tersenyum getir, kini dia mengerti jika apa yang dipikirkannya benar. Rendra tidak meminta restu atau belum memberitahukan tentang hubungan mereka pada orang tuanya. Sesampainya di rumah, Cut segera turun lalu menemui Iskandar yang sedan bermain bersama Intan. Setelah berbincang sesaat, Rendra memutuskan untuk kembali ke markas.
Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir saling mengkode dengan mata saat melihat perubahan dari wajah Cut. “Ada apa, Nak?” tanya Mak Cek Siti.
“Apa pertunangan ini bisa dibatalkan?”
“???”
__ADS_1
***