
Situasi di luar bangunan membuat Khalid terpojok sehingga niatnya untuk membawa Cut pergi ke tempat yang sudah direncanakan harus tertunda. Menjelang malam, ia kembali dengan membawakan sebungkus nasi dan air minum untuk Cut. Ia semakin tersudut ketika Cut harus ke kamar mandi seperti sekarang.
“Dek, kalau kamu masih menyayangi Abu, Umi dan Rendra maka kamu harus tenang.” Secara perlahan walau takut, Khalid membuka ikatan itu satu persatu.
Setelah selesai dari kamar mandi, Cut disuguhkan bungkusan nasi yang tadi ia bawa. Dengan lahap serta rasa lapar yang amat sangat, Cut menikmati nasi bungkus itu tanpa sisa. Khalid tersenyum senang melihat gadis pujaan hatinya kini tepat di depan matanya.
Di dalam ruangan di salah satu gedung yang sudah lama tidak dipakai. Mereka menghabiskan hari sambil menunggu keadaan kembali tenang. Hari berganti tanpa terasa sudah tiga hari mereka menghabiskan waktu di dalam gedung tersebut. Cut masih saja enggan membuka mulut. Jika ada yang berbicara, hanya Khalid sendiri yang mencurahkan isi hatinya. Sementara Cut tetap diam tanpa kata sama seperti saat bersama Rendra.
Khalid yang mengetahui kondisi Cut dari Dokter Widia juga tidak memaksa Cut untuk menjawab apa yang ia tanyakan. Seperti saat ini, Cut terbangun di tengah malam setelah bermimpi buruk. Khalid yang tidak pernah tidur saat malam sampai terkejut ketika Cut mengerang seperti orang kesakitan.
“Cut....Cut....bangun!” begitulah Khalid membangunkan Cut sambil menepuk pipinya.
Nafasnya naik turun seperti orang yang sedang berlari jauh. Dalam diamnya, ia hanya menatap Khalid sesekali seakan ingin mengatakan banyak hal.
“Apa mimpimu sangat buruk? Kamu bisa cerita, Abang siap mendengarkan.” Cut masih tetap diam, Khalid memberikan segelas air minum yang langsung habis diminum dalam detik itu juga.
Khalid mengusap bahu Cut pelan, “Tidurlah kembali! Itu Cuma mimpi.”
Cut kembali merebahkan badannya membelakangi Khalid yang masih duduk di sana. Air matanya jatuh perlahan. Mimpinya begitu buruk sampai membuatnya ketakutan sampai menangis dalam diam.
__ADS_1
Keesokan harinya, Dokter Widia ditemani sang suami harus menjalani pemeriksaan di kantor sang suami. Tindakannya membantu Khalid ternyata berbuntut panjang. Sang suami sendiri tidak bisa berbuat banyak karena ini murni kesalahan istrinya. Karena berhubungan dengan pemberontak negara, sang suami juga ikut diperiksa untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan suami Dokter Widia dalam kasus ini.
Setelah menjawab semua pertanyaan, Dokter Widia dan sang suami akhirnya bisa bernafas lega. Selama tiga hari, mereka harus berada dalam pengawasan pihak keamanan karena dicurigai ikut membantu pemberontak.
Alasan Dokter Widia membantu Khalid tentu saja tidak bisa diterima begitu saja. di zaman konflik saat ini, apa pun bisa terjadi. Tidak ada kepercayaan yang hakiki karena pada kenyataannya banyak anggota TNI atau polisi yang memilih membelot dengan beragam alasan.
Siapa saja bisa menjadi pembelot baik dari militer, para pejabat maupun pegawai negeri. Sangat banyak pegawai negeri yang diam-diam memberikan bantuan kepada para pemberontak.
Akhir masa tugas semakin dekat tapi Rendra belum juga mendapat kabar baik tentang hilangnya Cut. Keberadaan Khalid masih menjadi misteri apalagi tidak ada yang tahu pasti wajahnya seperti apa. Sampai sebuah kabar baik datang dari satuan intel. Berdasarkan gambaran yang di dapat dari Dokter Widia. Mereka berhasil membuat ilustrasi wajah sang pemberontak yang selama ini dicari seantero Aceh.
Dua minggu menjelang berakhirnya tugas, Rendra terus memantau pencarian Khalid dari berbagai sumber. Namun, hasilnya masih nihil sampai sebuah petunjuk mengarahkan mereka ke salah satu gedung yang sudah lama kosong. Gedung lama asrama haji adalah gedung yang jarang dikunjungi oleh orang-orang. Apalagi di saat situasi konflik seperti sekarang. Tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan di sana.
Para tentara langsung bergerak cepat mengepung gedung dan menerobos masuk saat itu juga. Setelah satu jam menyisir setiap sudut gedung, para tentara kembali harus menelan pil pahit. Orang yang mereka cari ternyata sudah tidak ada. Gedung itu kosong dan hanya tersisa abu bekas obat nyamuk, bungkusan nasi serta puntung rokok yang berserakan.
“Bagaimana?” tanya Rendra melalui HT.
“Kosong.” jawab Wahyu.
Di tempat lain, seorang wanita tengah menikmati embusan angin laut yang menerpa wajahnya. Laut biru terhampar luas di depannya saat ini. Semalam, ia dan Khalid pergi meninggalkan gedung yang selama beberapa kali mereka tinggali. Setelah merasa aman, Khalid mengajaknya pergi semalam. ia hanya mengikuti dalam diam. Fisiknya terlalu lelah. Ia sudah siap jika maut menjemputnya.
__ADS_1
Sesekali, ia menutup mata mencoba menikmati embusan angin laut serta birunya air laut yang cukup menenangkan saat dipandang mata.
Khalid tersenyum kecil saat melihat gadis yang ia cintai sedang menikmati suasana saat ini. Walaupun sedikit bising dengan suara mesin bot nelayan yang membawa mereka. Perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu lama, satu jam kemudian mereka tiba di sebuah pulau kecil.
“Terima kasih, Pak. Semoga Allah melimpahkan rezekinya untuk Bapak sekeluarga.” Ucap Khalid saat mereka sampai.
“Sama-sama. Di jaga baik-baik adiknya. Semoga dia cepat sembuh.” balas sang nelayan.
“Amin, terima kasih.” Keduanya meninggalkan sang nelayan di pinggir pantai.
Khalid berjalan diikuti oleh Cut menyusuri jalan setapak pulau tersebut. Pulau Breuh adalah salah satu pulau kecil yang berada di seputar perairan Aceh. Masyarakat pulau tersebut kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan petani garam. Penduduk pulau Breuh tidak sampai dua ratus orang. Mereka adalah warga asal pulau tersebut yang enggan pindah ke kota Banda. Di sana juga banyak kebun kelapa yang menjadi sumber penghasilan warga setempat. Khalid membawa Cut ke rumah kepala desa setelah sebelumnya bertanya pada warga.
“Kasihan sekali Dek Cut harus mengalami kejadian buruk tersebut. Untuk sementara, menginap saja di rumah saya. Kebetulan, anak saya sedang berkuliah di Kota Banda. Kalau libur semester baru dia pulang. Kadang tidak pulang karena banyak kegiatan di kampus. Rumah ini terlalu besar buat kami berdua ditambah dua orang adiknya.”
“Berapa sebulan, Pak?” tanya Khalid ragu. Ia tidak memiliki cukup uang untuk merantau. Selama ini ia hidup dari beberapa orang yang setia memberikan bantuan padanya. Orang-orang yang mengetahui siapa dia.
“Sudah, tidak perlu membayar. Kamu bantu saya saja di ladang. Saya sudah tidak sanggup kalau mengurusnya sendiri. Anak-anak masih kecil tidak mungkin saya suruh mengurus ladang. Bagaimana?”
“Terima kasih banyak kalau begitu, Pak.”
__ADS_1
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...