CUT

CUT
Pikiran Tidak Di Tempat...


__ADS_3

Hari-hari Cut dan Faisal sebagai orang tua baru sangat membahagiakan terlebih karena sang


putra yang selalu menjadi pusat perhatian. Sang mertua juga sangat menyayangi


Cut hingga semua kebutuhan dan perawatannya setelah melahirkan terpenuhi dengan


baik. Faisal sendiri begitu senang ketika melihat orang tuanya yang sangat bahagia.


Keinginannya untuk pindah rumah setelah sang istri melahirkan sirna


sudah dengan alasan dari kedua orang tuanya yang tidak ingin berpisah dengan


sang cucu. Faisal hanya bisa pasrah menerima permintaan mereka, sementara di


sudut hatinya yang lain ia juga memikirkan tentang Shinta yang menghilang setelah


mengajukan surat pengunduran diri dari rumah sakit tempat mereka bekerja.


Faisal sudah menghubungi kedua temannya namun hasilnya nihil. Kedua temannya seakan kompak


menutupi keberadaan Shinta. Hampir seluruh kenalan Shinta dihubungi namun


hasilnya tetap sama. Shinta seakan hilang ditelan bumi baginya. Faisal yakin


teman-temannya mengetahui keberadaan Shinta tapi mereka merahasikannya.


“Abang lagi mikirin apa?” pertanyaan Cut berhasil menyadarkan Faisal dari lamunannya.


“Eh, tidak. Abang tidak memikirkan apa-apa. Is mana?”


“Lagi main sama Bapak dan Ibuk. Abang kenapa melihat Cut seperti itu?”


“Ti-tidak ada. Hanya ingin melihat istri Abang saja. Apa tidak boleh?”


“Boleh kok, lebih dari lihat juga boleh,”


“Kenapa kamu jadi nakal setelah melahirkan?” Cut mengedikkan bahunya lalu tersenyum dan


mendekatkan wajahnya pada sang suami yang tengah berbaring di tempat tidur.


Cup…


Cut yang dulu malu-malu kini berubah menjadi istri yang sangat nakal. Perubahan hormon semasa hamil


hingga telah melahirkan masih tetap sama. Hal itu juga yang membuat hubungan rahasia Faisal dan Shinta bermasalah. Faisal yang terbiasa dengan berhubungandengan Cut dengan segala kenakalan dan sifat liarnya memmbuat Faisal tidak lagi memperhatikan Shinta yang sering berada di sampingnya saat mereka bekerja.


Shinta dibakar api cemburu apalagi saat membaca pesan dari Cut yang begitu romantis atau


mencuri dengar setiap perbincangan mereka di telepon. Hingga, suatu malam saat


keduanya dinas malam, Shinta menemui Faisal di kamar jaga lalu meminta Faisal untuk mengakui perasaan yang sebenarnya.


“Cium aku jika kamu masih mencintaiku!”


Lelah untuk berdebat panjang di tengah malam apalagi mereka berdua sedang piket, Faisal


langsung mencium Shinta di pipinya. Namun, Shinta menggeleng dan menunjuk ke arah bibirnya dengan jari. Faisal yang berharap untuk dapat segera menyelesaikan perdebatan ini segera memenuhi permintaan sang kekasih gelap. Namun, tindakannya justru memperpanjang hingga keduanya melakukan kegiatan


terlarang secara kilat namun justru meninggalkan jejak yang berubah menjadi janin tanpa mereka sadari.


“Abang melamun lagi. Ada apa sih? Cut perhatikan, Abang sering sekali melamun semenjak hari


akikah Is. Ada apa?” tanya Cut setelah menunaikan kewajiban dalam cara yang berbeda karena dia masih dalam masa nifas.

__ADS_1


“Abang kehilangan kontak dengan Wira dan Hendri. Makanya, Abang terus memikirkan mereka.”


Cut mengangguk seraya tersenyum, “Nanti mereka pasti akan menghubungi Abang. Mungkin mereka sedang sibuk.”


“Mungkin.”


Keduanya menghabiskan waktu di kamar sementara sang putra tengah menjadi pusat perhatian


dari nenek, kakek serta om dan tentenya.


“Lihat, kamu sudah cocok nimang bayi, menikahlah!” Kak Julie hanya mencibir perkataan ibunya


yang terus menerus menyuruhnya menikah.


“Kamu juga, Di. Apa kamu tidak iri melihat adik kalian tidur ada yang menemani? Berapa kali


lagi Ibuk harus mengganti bantal guling buat kalian?”


“Buk, aku beli sendiri ya!” sahut Kak Julie cepat.


Ia tidak terima karena selama ia bekerja, segela kebutuhan pribadi bahkan perlengkapan kamarnya


selalu ia beli sendiri. Berbeda dengan adiknya Juliadi. Ibu Murni masih


mengurus semua keperluannya kecuali pakaian.


Sementara itu, di sebuah rumah di pulau jawa. Seorang pria tengah duduk menikmati secangkir


kopi di halaman belakang rumah orang tuanya. Rendra memilih pulang ke rumah


orang tuanya karena sang istri tengah dinas ke luar kota. Ia sedang libur


sejenak setelah menyelesaikan tugas di Papua.


Rendra yang sedang merokok segera mematikan rokoknya. “Tidak, Pa.”


Seakan bisa membaca gelegat sang putra, Bapak Edy tersenyum kecil lalu berkata, “Sebagai


orang tua, kami merasa senang jika bisa menjadi pendengar keluh kesah anak-anaknya.


Dengan begitu kami masih merasa dibutuhkan oleh kalian. Papa tidak memaksa jika


kamu enggan bercerita, kamu tahu dimana harus mencari Papa, kan?.”


“Makasih, Pa. Maaf, Rendra belum bisa cerita ke Papa,” Bapak Edy Wicaksono menepuk pundak


sang putra lalu pergi meninggalkan Rendra seorang diri.


Sementara sang ibu dan kedua adik kembarnya hanya memperhatikan dari balik jendela. Semenjak kepulangan


Rendra ke rumah, seluruh anggota keluarganya bertanya-tanya tentang perubahan


sikap Rendra kala kedua orang tuanya bertanya tentang keberadaan sang istri.


“Seharusnya kita tidak mengirim foto itu untuk Kakak,”


“Foto apa?” Reni kelepasan bicara hingga membuat sang ibu penasaran


“Tidak, Ma.” Reni langsung berlari menuju kamar diikuti oleh tatapan tajam dari saudara kembarnya,


Rudi.


“Adikmu kenapa dan foto apa yang dia maksud?”

__ADS_1


“Mama seperti tidak tahu Reni saja, sudahlah Rudi mau ke kamar dulu. Dan Mama jangan ngintip


Kakak terus! Sana ajak dia bicara, siapa tahu Kakak mau cerita sama Mama.”


Tok…tok…


“Dek, aku masuk ya?” tanya Rudi.


“Aku udah tidur.”


“Kalau tidur kok bisa ngejawab?”


“…”


Ceklek…


“Udah, jangan pura-pura. Aku Cuma mau ingatin supaya kamu hati-hati kalau bicara. Jangan seperti tadi.”


Reni yang bersembunyi di bawah selimut tiba-tiba membuka selimutnya, “Sorry, habisnya aku kesal


melihat Kak Rendra. Tiap ada masalah sama perempuan dia selalu diam begitu. Bukannya


segera menyelesaikan  ini malah kemari dan bikin kita menyesal.”


“Hust…jaga bicaramu! Jangan sampai Kak Rendra dengar. Kita juga akan menyesal kalau sampai


menyembunyikan ini dari dia. Apa kamu tega melihat Kakak kita dikhianati sama


istrinya?”


“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita ciduk aja tuh perempuan?”


“Heiii, tenang! Jangan sembarang bertindak. Biar Kak Rendra sendiri yang menyelesaikan masalah rumah


tangganya. Kita sebagai penonton harap menunggu dengan sabar dan tenang.”


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan tersebut di


balik pintu kamar Reni. Bapak Edy hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam


setelah mendengar pembicaraan dari kedua anak kembarnya.


Ia tidak menyangka jika sang putra sulung harus mengalami pahitnya memiliki istri tidak


setia. Sebagai seorang yang pernah aktif di kemiliteran, Bapak Edy juga pernah


melihat beberapa temannya yang mengalami hal serupa saat masih bertugas dulu. Mengetahui


sang istri selingkuh saat pulang tugas rasanya lebih sakit dari pada terkena


peluru. Malu dan marah bercampur aduk hingga beberapa teman Bapak Edy memilih melarikan


diri dengan mabuk-mabukan atau tidak percaya lagi akan pernikahan sehingga


mereka hanya bermain-main saja dengan wanita.


“Halo, bisa bantu saya?”


***


Hi guyssss...jangan lupa mampir ke karya baru aku ya!!! DENDAM SI PETUGAS PAJAK.


atau klik langsung di profil aku...favoritkan dan tinggalkan jejak kalian melalui LIKE dan KOMEN...

__ADS_1


MAKASIH...


__ADS_2