
Aisyah duduk di ruang tamu menunggu kepulangan sang ayah seorang diri sementara penghuni rumah yang lain sudah terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi sang ayah belum juga kembali.
Aisyah masih setia menunggu hingga pukul setengah satu suara mobil sang ayah memasuki garasi mulai terdengar. Aisyah langsung bangkit dari duduknya, ia bergegas membuka pintu untuk sang ayah walaupun ia tahu ayahnya membawa kunci sendiri.
“Assalamualaikum, kenapa belum tidur?” ucap sang ayah yang terlihat letih.
“Walaikumsalam, gimana kondisi pasien VVIP itu?”
“Sudah berpulang tadi jam 11 malam. Usianya sudah tua dan anak-anaknya tidak mau lagi memasang alat penopang hidup setelah melewati masa kritis tadi. Tidurlah! Besok kita bicarakan masalah Iskandar.” Ayah dari Aisyah berjalan lebih dulu di kamar. Sementara Aisyah kembali menatap layar ponselnya.
“Kemana dia? Kenapa pesanku belum dibalas juga?” gumam Aisyah lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sementara orang yang Aisyah tunggu juga sedang berada di rumah sakit. Kondisi sang nenek tiba-tiba menurun dan setelah mendapat penanganan dari dokter, kondisinya kembali membaik hanya saja Ibu Murni tidak mau jauh-jauh dengan sang cucu.
“Bapak sudah kalah pamor sama cucu.” Gurau Rendra. Setelah kondisi Ibu Murni dinyatakan membaik, para anggota keluarga sudah kembali ke rumah. Hanya Iskandar dan Kak Julie yang masih menemani di sana.
“Is, apa tidak sebaiknya kamu percepat saja acara lamarannya? Ibuk sangat ingin hadir di acara lamaran kamu. Kita tidak pernah tahu kapan tapi waktu itu pasti akan datang. Tante ingin melihat kebahagiaan orang tua Tante untuk yang terakhir kalinya. Kamu dengar sendiri kan penjalasan dokter tadi? Tante bahkan rela melajang hanya untuk menjaga mereka.”
Iskandar menatap sang tante dengan pandangan berbeda. Mungkin karena ini pertama kalinya ia mendengar alasan kenapa tantenya belum berkeluarga. Padahal dari segi fisik dan keuangan, tantenya sudah melebih cukup.
Tanpa pikir panjang, Iskandar langsung mengambil ponsel yang sejak tadi dalam mode senyap. Banyak pesan masuk dari Aisyah dan tema-temannya serta para mahasiswa.
“Assalamualaikum, Ai. Maaf karena baru sekarang membalas pesanmu. Saya di rumah sakit, nenek saya kembali masuk rumah sakit tapi sekarang sudah membaik. Saya punya permintaan, tolong tanyakan pada orang tuamu. Apa bisa keluarga saya datang untuk melamar dalam waktu dekat? Nenek saya sangat ingin melihat saya menikah. Saya takut tidak bisa mengabulkan permintaannya. Tolong kabari saya secepatnya, assalamualaikum calon makmum.”
Tidak ada balasan dari Aisyah karena sang calon makmum sudah terlelap dalam dunia mimpi. Dan begitu suara azan subuh berkumandang, suara Aisyah mengedor-ngedor kamar orang tuanya mengalahi hebohnya suara kokok ayam di pagi hari.
Begitu pintu kamar orang tuanya terbuka, Aisyah langsung memperlihatkan pesan yang Iskandar kirim untuknya jam dua dini hari.
Kedua orang tuanya saling menatap dalam diam. “Boleh ya, Pa, Ma. Kasihan Nenek, kemarin juga beliau sempat mengatakan hal yang sama waktu Aisyah berkunjung ke rumah mereka.” Celutuk Aisyah tanpa sadar.
Kedua orang tuanya menatap lekat ke arah sang putri, “Kamu sudah pergi ke rumahnya?” tanya sang ayah.
“I-iya. Mas Iskandar bilang keluarganya meminta aku untuk ke sana jadi ya aku ikuti saja. Lagian keluarga mereka menerima aku dengan baik. Tidak sama kayak keluargaku saat Mas Is kemari. Sudah diintrogasi terus dikasih the asin lagi. Tidak ada sambutan hangat apalagi ramah. Kalau keluarga Mas Is, mereka hangat dan ramah lalu mereka juga menyiapkan berbagai makanan hanya untuk menyambutku yang masih berstatus calon menantu.” Sang ibu mengulum senyum melirik suaminya.
“Jadi bagaimana, Pa? Mas Iskandar butuh jawaban ini.” Tanya Aisyah kembali.
Sang ayah hanya bisa menghela nafasnya, “Katakan padanya untuk datang sabtu depan jam 10 pagi sekalian kita jamu mereka seperti mereka menjamu kamu.” Aisyah meloncat-loncat dan langsung memeluk sang ibu.
“Makasih, Papa, Mama. Kalian memang the best.” Ia segera membalas pesan dari Iskandar sambil berlalu menuju kamar.
“Tidak terasa ya? Akhirnya kita harus melepasnya juga.” Lirih sang ibu.
“Setelah Aisyah, kita juga akan kehilangan Rendra. Papa sepertinya belum siap, Ma.” Sahut sang suami.
Matahari sudah kembali menampakkan diri. Tirai jendela di bukan sedikit supaya cahaya matahari bisa menembus kamar yang sedang ditempati oleh Ibu Murni.
__ADS_1
Ting…
“Mas, Papa bilang mereka akan menunggu keluarga Mas hari sabtu jam 10 seperti keluarga Mas Is yang menunggu kedatanganku dulu. Kita akan makan siang bersama.”
Dreet…
Iskandar langsung membalas pesan dari Aisyah, “Kamu minta mahar berapa?” balasan dari Iskandar membuat Aisyah tersenyum senang. Ditanya begitu bagi seorang perempuan pasti sesuatu yang WOW.
Dreet…
Iskandar langsung menghubungi Aisyah. “Assalamualaikum, sudah salat subuh, Ai?” tanyanya begitu Aisyah menjawab panggilannya.
“Walaikumsalam. Sudah, Mas.” Lirih Aisyah. Sebenarnya ia merasa malu kalau harus membahas masalah mahar dengan Iskandar.
“Jadi kamu minta mahar apa?” Aisyah masih terdiam, ia bingung mau menjawab apa.
“Kalau bingung, tanyakan saja sama orang tuamu. Hubungi saya jika sudah punya jawabannya! Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam,”
Tutt…
Pagi itu, Aisyah kembali membuat kehebohan di dalam rumahnya. Saat orang tuanya baru turun untuk sarapan, Aisyah kembali menunjukkan ponselnya pada sang ayah. “Kali ini apalagi?” tanya sang ayah dengan nada malas lalu mengambil ponsel Aisyah dan membaca isi pesan tersebut.
“Mahar, Ma.” Jawab sang ayah.
Keduanya kembali menatap sang putri. “Kamu mau mahar berapa? Putuskan saja sendiri jangan kami. Nanti calon suamimu pikir bahwa kami yang memintanya.”
“Aku bingung, Pa, Ma.”
“Minta saja duit satu milyar.” Celutuk sang kakak yang baru keluar dari kamarnya.
“Gak ah, Kak. Nanti aku dikira matre.”
“Lalu kenapa kamu tanya kami? Kami juga tidak tahu. Urusan mahar kami serahkan semuanya sama kamu.” Ucap sang ayah lalu menyerahkan kembali ponsel ke tangan sang putri.
Ting…
“Aku tidak tahu mau minta mahar apa dan berapa. Tapi aku tahu kalau kamu memang menyayangiku kamu pasti memberikan mahar yang menggambarkan perasaanmu padaku.” Balas Aisyah lalu ia kembali bergumam, “Selamat berbingung ria, Mas Iskandar.”
“Kamu balas apa, Nak?” tanya sang ibu.
Aisyah mengatakan apa yang ia balas pada ibunya lalu sang kakak malah bercelutuk, “Bagaimana kalau dia memberikanmu seperangkat alat salat?”
“Tidak apa-apa. Aku akan menerimanya dengan ikhlas. Toh, setelah itu aku juga akan menikmatinya juga.” Aisyah tidak mau terpengaruh oleh usilan sang kakak.
__ADS_1
Di rumah sakit, Iskandar sudah menyampaikan berita bahagia itu pada sang nenek dan benar saja, Ibu Murni seakan mendapat keajaiban hingga kesehatannya begitu cepat membaik. “Is kasih mahar apa untuk Aisyah?” tanya Ibu Murni saat mereka di perjalanan pulang dari rumah sakit.
“Menurut Nenek baiknya apa?” tanya Iskandar lagi.
“Kalau mengikuti adat kita maka maharnya sudah pasti emas. Tapi kalau adat orang jawa apa biasanya. Kita gabung saja.” ucap Kak Julie memberi pendapat. Ibu Murni tersenyum lalu mengangguk.
“Julie, nanti kamu pergi dengan Cut untuk membeli barang-barang seserahan. Beli yang bagus dan harus sesuai dengan Aisyah. Kalau bisa ajak dia sekalian jadi sudah pasti pas saat kita beli.”
Akhirnya, hari-hari menjelang acara lamaran, rumah Bapak Wicaksono kembali ramai dan riuh. Anugrah dan Wulan yang sudah pindah pun tidak ketinggalan. Ibu Murni sendiri yang menghubungi Anugrah untuk memintanya pulang.
“Apa kamu menunggu Nenek mati baru mau pulang ke sini? Nenek tunggu kalian di rumah, jangan lupa bawakan istrimu! Wulan, kamu juga pulang, Nenek tidak menerima alasan apa pun!”
Tuttt…
Iskandar menatap kedua orang tuanya yang sedang tersenyum kecil melihat Anugrah tidak berani membantah perintah sang nenek. Sementara di kamarnya, Anugrah baru selesai membantu Wulan mandi.
“Apa kamu mau pulang?” Wulan mengangguk.
“Kita bawa apa? Biasanya adik akan memberi hadiah bila kakaknya menikah.” Tanya Wulan.
Anugrah tampak berpikir, “Aku tidak tahu soal itu.”
“Aku pernah melihat saat di rumah tetangga tapi dari kakak perempuan ke adik perempuan. Tapi kalau ini aku juga bingung.” Wulan tampak berpikir.
“Apa kita kasih saat mereka menikah saja?”
“Baiklah, ayo siap-siap. Kita berangkat setelah magrib saja. Kamu mau pakai baju apa?”
“Biar aku ambil sendiri! Cukup bantu aku mendekati lemari.” Kondisi Wulan sudah berkembang sangat pesat hingga saat di dalam rumah dia tidak memerlukan kursi roda lagi. Kondisinya memang meningkat tapi proses untuk kesembuhannya jutru membuat jarak keduanya semakin dekat secara fisik.
Anugrah harus memapah Wulan saat berada di dalam rumah. Dokter menyarankan Wulan untuk mulai belajar jalan di dalam rumah dengan bantuan Anugrah. Seperti saat ini, sebelah tangan Wulan berada di bahu Anugrah sementara sebelah tangan Anugrah harus merangkul pinggang Wulan. Intimnya kedekatan yang terjalin di anatara ke duanya belum mampu merubah perasaan masing-masing untuk saling terbuka tentang apa yang ada di hati. Wulan sedikit menunduk untuk menggapai dalaman dan seketika keduanya justru hampir jatuh saat Anugrah kurang sigap memopang tubuh Wulan.
Bibir Wulan tepat berada di pipi Anugrah saat keduanya limbung ke depan dan untung saja tidak sampai terjatuh ke dalam lemari. Gelenyar aneh kembali muncul dalam diri masing-masing. “Sudahlah, biar aku yang ambil. Tidak perlu malu, aku sudah sering melihat bahkan mencucinya.”
Tidak ada jawaban dari Wulan, selama ini mereka memang melakukan kontak fisik tapi tidak ada adegan ciuman seperti tadi. Ini adalah sesuatu yang memalukan untuk Wulan karena bibirnya yang mendarat di pipi Anugrah.
“Jangan berpikir lebih! Itu hanya kecelakaan.” Ucap Wulan datar.
“Ck, aku juga tidak mengharapkannya.”
***
LIKE, KOMEN DAN VOTE YA....makasih....
__ADS_1