CUT

CUT
Teman???


__ADS_3

Pasangan suami istri tidak selamanya menggulirkan semangat dan hasrat yang membara selama dalam menjalani pernikahan. Ada satu masa di mana keduanya atau salah satu merasa jenuh dan lelah menghadapi pernikahan ditambah dengan faktor dari luar yang ikut andil dalam mahligai pernikahan itu sendiri. Saat-saat jenuh dan lelah mungkin saja sedang merasuki sepasang suami istri Cut dan Rendra. Ditambah dengan banyaknya campur tangan ibu mertua tentu saja semakin memperkeruh suasana atau justru menjadi pemicu tumbuhnya konflik yang sebenarnya tidak pernah terbesit.


Banyaknya tuntutan yang seharusnya tidak dilontarkan oleh ibu mertua kadang justru menjadi bola liar yang akan merusak hubungan suami istri. Di sinilah peran ilmu dan kedewasaan masing-masing dalam menghadapi gelombang yang menimpa bahtera bernama rumah tangga.


Setelah sekian bulan merasa hambar dan dingin di atas ranjang karena banyaknya tekanan yang diterima dari luar. Kini, keduanya kembali merasakan panasnya gairah percintaan. Mereka kembali meneguk nikmatnya bercinta layaknya pasangan baru menikah. Tanpa tangisan anak ataupun suara lainnya. Hanya ada waktu berdua, bercinta dan bercinta.


Udara menjelang siang sudah mulai terik tapi tidak  berlaku bagi suami istri yang sedang dimabukkan oleh secuil nikmat surga. Seolah tidak bosan dan lelah, mereka terus mengulang hingga azan zuhur benar-benar menghentikan keduanya. Senyuman manis tidak luput dari kedua pasangan sehabis bercinta. Mereka merasa sangat bahagia hingga beban masalah yang selama ini bersarang dipundak masing-masing seolah hilang begitu saja.


“Sudah, Bang. Jangan dilanjutkan nanti dimarahi komandan gara-gara telat.” Cut mencegah tangan nakal sang suami yang hendak merayap dalam dalam bajunya. Cut sedang mengancing seragam suaminya namun tangan nakal itu tidak pernah berhenti menggodanya. Apalagi, saat ini Cut hanya menggunakan handuk pakaian tidur transparan dengan belahan dada yang sangat rendah.


“Ini balasannya karena kamu tadi sudah membuat saya diolok-olok orang kantor gara-gara bekas lipstik kamu di sini.”


Rendra menggigit pipi sang istri gemas karena Cut memberikan banyak ciuman di wajah dan leher sang suami hingga membuat sang suami mengerang tertahan.


“Kamu menyuruh saya pergi tapi malah membuat saya tidak ingin. Katakan! Maumu apa, Sayang” dengan bergaya seperti seorang penjahat, Rendra mengukung sang itri ke dinding dengan wajah dibuat-buat jahat hingga membuat Cut tergelak. Selama ini Rendra tidak pernah memarahi Cut makanya, saat Rendra membuat wajahnya seperti itu. ia justru tergelak karena merasa lucu.


“Udah, udah. Cut nyerah.”


Rendra tidak berhenti menggelitik pinggang Cut hingga membuat Cut tertawa sampai mengeluarkan air mata.


“Cepat tumbuh, Nak. Papa ingin bertemu kamu 9 bulan lagi.


“Abanggggg.”


Cut protes saat dengan tangan Rendra mengusap lembut perutnya.


“Maafin Mama ya? Dia begitu karena belum percaya pada kita. Dia takut kita tidak bisa menjaga dan merawat Anugrah dengan baik.” Rendra menatap sang istri lekat.


Cut mengangguk pelan, “Jangan diambil hati perkataannya. Orang tua memang begitu. Sulit untuk menerima pembaharuan. Nanti kamu kalau tua juga begitu.” Lanjut Rendra yang membuat  Cut mengerucutkan bibirnya. Disamakan dengan sang mertua rasanya ia tidak rela.


Setelah berpamita, Rendra langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan, ia terus tersenyum hingga sampai ke  kantor pun wajah bahagianya sulit disembunyikan.


“Ehem… pengantin yang sedang puber memang beda ya?” goda Wahyu.


“Iri? Pulang sana!”


“Aku mau tanya serius, bisa jelaskan pemandangan tadi di warung ketoprak?”


“Ouh…ya begitu. Saling sapa jika bertemu. Tidak lebih.”

__ADS_1


“Apa Cut tahu?”


Rendra menggeleng, “Kami tidak lebih dari itu. Aku rasa tidak perlu memberitahukannya. Yang ada, malah menjadi masalah baru dalam rumah tangga kami.”


Wahyu mengangguk paham. “Orang tua kami masih bersahabat. Aku juga tidak mau membencinya. Kami sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.”


Mereka mengakhiri perbincangan lalu kembali ke meja masing-masing.


Ting…


Sebuah pemberitahuan masuk di ponsel Rendra.


“Aku senang melihat Mas bahagia seperti sekarang.”


Rendra pun membalas, “Mas??? Kenapa memanggil seperti dulu lagi?”


“Entah, mungkin karena kurang nyaman, secara kita juga tidak sebaya.”


“Tapi saya suka kamu panggil nama. Kita seperti teman.”


“Kalau ‘Mas’ kenapa? Apa itu membuatmu mengingat masa lalu?”


“Aku kerja dulu kalau begitu. Terima kasih, Rendra.”


“Sama-sama, Risma.”


Sementara itu, di pondok pesantren yang cukup jauh dari sana. Anak-anak sedang bergumul dengan panasnya sinar matahari. Mereka sedang membantu Abah memotong padi. Salah satu keahlian yang dimiliki oleh anak-anak di sini adalah mereka mampu dan tahu cara menanam padi sampai proses memanennya.


Abah mengajarkan banyak hal untuk santrinya terutama bidang keahlian. Karena mereka akan menjadi laki-laki dan imam yang akan menanggung nafkan keluarga. Penting untuk anak laki-laki memiliki semua keahlian itu.


Hari berlalu dan berganti tanpa terasa sudah tiga bulan dan mereka belum juga dikarunia anak kembali. Hampir tiap malam mereka bercinta tapi belum juga ada tanda-tanda. Keduanya bahkan sudah memeriksa diri ke dokter dan semuanya baik.


Ibu mertua yang mengetahui keadaan Cut hampir tiap minggu datang dengan berbagai ramuan herbal. Ibu Yetti begitu gigih untuk menimang cucu kembali hingga ia mencari dimana saja ada pengobatan alternatif berupa obat herbal atau jamu demi kehamilan Cut.


Dengan berbagai rasa dan aroma, Cut terpaksa meminum apa saja yang dibawa ibu mertuanya. Tidak jarang, ia bahkan langsung memuntahkan semua yang masuk dalam perutnya dan harus mengulang kembali sampai benar-benar masuk. Ibu Yetti mengawasi sendiri pengobatan menantunya. Ia bahkan menyiapkan obat-obat tersebut dengan tangannya sendiri sampai jenis makanan yang harus dipantang oleh cut.


“Bang, Cut sudah gak sanggup lagi.” Lirih Cut saat keduanya hendak tidur.


“Sabar, Sayang. Jangan buat Mama kecewa. Mama akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kita mendapatkan adik untuk Anugrah.”

__ADS_1


“Bang, Cut rindu Iskandar. Kapan kita mengunjunginya lagi?” tiba-tiba Cut sangat merindukan putranya itu.


"Apa kamu siap menemuinya? Jangan sampai seperti dulu. Kita jauh-jauh ke sana tapi kamu malah tidak mau bertemu dengannya.”


“Insya Allah. Kali ini, Cut mau bertemu dengannya. Kapan kita pergi ke sana?”


Rendra menimang-nimang sesaat, “Minggu depan ya?”


Cut mengangguk lalu tersenyum. Rendra membalas senyum sang istri dengan senyum nakal yang sangat menggoda. Cut paham arti senyuman itu.


“Saatnya kita mencoba lagi.”


Dan keduanya kembali melakukan usaha untuk memiliki anak kembali. Tidak ada ranjang dingin dan hambar lagi. Hampir setiap malam, ranjang itu selalu panas karena aksi keduanya untuk memperolah anak. Rendra terbangun tengah malam lalu memakai celana pendek dan kaos yang tergeletak di lantai. Ia keluar dan seperti biasa, duduk di teras sambil mengisap rokok dan segelas kopi.


Rendra membuka akun media sosialnya untuk menemaninya menghabiskan waktu sambil merokok. Ia melihat beberapa orang yang berteman dengannya sedang aktif. Salah satu diantaranya adalah Risma. Semenjak hari itu, keduanya telah berteman di aplikasi jejaring pertemanan tersebut.


“Hai… belum tidur?” sapa Risma.


“Sudah bangun, kamu sendiri kenapa belum tidur?”


“Pulang kerja ketiduran dan ini juga baru bangun. Mau tidur lagi sudah susah.” Balas Risma.


“Oh…”


“Istri sama anak apa kabar?”


“Baik. Semua sehat.”


“Syukurlah."


“Teman aku penasaran sama istri kamu.” Tulis Risma kembali.


“Kenapa?”


“Dia lihat kamu langsung pulang setelah menerima pesan dari dia. Teman aku pikir bilang, bahagianya wanita yang jadi istri kamu karena baru menerima pesan saja kamu langsung bergegas pulang.”


“Hahahaha… sampaikan ucapan terima kasihku pada temanmu.”


***

__ADS_1


 


__ADS_2