CUT

CUT
Pemicu...


__ADS_3

“Kamu juga mendapat amanah untuk menjaga putra dari Ilham yang sekarang pasti kehilangan Ceceknya. Kamu yang dulu menyuapi, merawat, menjaga bahkan berkorban untuknya saat terkurung di dalam gua. Di saat nenek dan kakeknya berduka karena kehilangan ayah, ibu serta abangnya. Kamu hadir untuk menggantikan mereka. Apa kamu tidak mau menemaninya sampai besar? Apa kamu akan membiarkan dia hidup jauh dari kasih sayang serta perhatian kamu? Dia akan tumbuh menjadi anak dengan karakter berubah-ubah. Kadang ia nakal, manja, banyak tingkah hanya sekedar ingin menyita perhatian kamu. Namun, saat kamu tidak ada di sisinya, bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Abu dan Umi sudah tua, fisik mereka tidak lagi kuat untuk mencarinya jika bermain terlalu jauh. Memanggilnya supaya segera pulang ke rumah karena hari sudah sore atau mengambil rapornya ke sekolah saat ia mulai masuk sekolah.”


 


“Apa kamu tidak ingin mengambil peran itu? Badan kamu masih cukup sehat untuk mengambil semua tanggung jawab itu. Tapi jika kamu seperti ini apa yang dapat orang tuamu lakukan? Mereka hanya bisa menangis di malam hari ketika mengingat apa yang sudah terjadi dengan anak-anak mereka. Jika boleh memilih, mereka pasti memilih hidup bahagia dengan anak dan cucunya. Namun, kehidupan tidak memberikan pilihan seperti yang kita mau. Apa mereka tidak menderita? Mereka adalah orang yang paling menderita dengan semua keadaan ini tapi mereka berusaha untuk kuat walaupun di tengah malam mereka terjaga lalu menangis meratapi nasib. Mereka bertahan seraya menguatkan diri untuk kamu dan cucunya. Apa kamu tidak kasihan pada mereka?”


 


“Sampai kapan kamu bersembunyi di sini? Mencoba bahagia sendiri sementara orang tuamu terus berdoa supaya kamu kembali. Kamu dan Rendra adalah sumber kekuatan mereka untuk menjalani hidup yang berat ini. Kalian sumber kekuatan mereka, jika kamu atau Rendra tidak ada. Saya tidak yakin mereka sanggup bertahan. Mereka sangat mengharapkan kamu bisa kembali seperti dulu. Dan masih ada kerabat serta seorang laki-laki yang juga sangat berharap kamu untuk sembuh. Pria berbaju loreng yang namanya disematkan pada nama Teuku Rendra Muhammad Nur. Masih adakah sedikit kenangan di hati kamu tentang dia? Banyak yang menginginkan kesembuhan kamu. Bahkan, pria yang pernah dijodohkan oleh Ilham mungkin juga masih berharap kamu menerima cintanya.”


 


“Begitulah cara kerja cinta yang mampu memperbudak seorang pria. Karena rasa cintanya, Khalid rela mati demi menemui kamu. Bisa jadi, dia juga sedang memperhatikan kamu dari kejauhan. Dia masih berharap kamu mau menikah dengannya, menerima cinta dan kasih sayangnya. Hidup bersamanya dalam rasa ketakutan setiap saat seperti yang kakak ipar kamu rasakan. Begitu juga dengan Rendra, demi menjumpai keluarga kamu, dia menyamar menjadi pengemis di pasar. Para pria yang pantang menyerah, bukan?”


 


“Hidup memang tidak memberikan pilihan tapi kamu bisa memilih cinta mana yang akan kamu terima. Kamu bisa mempertimbangkan baik buruknya dari setiap pilihan yang kamu buat. Dua pria tersebut sama-sama menunggumu. Mungkin Khalid sudah kamu tolak, bagaimana dengan Rendra? Dia juga butuh jawaban dan masih menunggu jawaban itu. Kamu harus keluar dari persembunyian ini lalu hadapi mereka satu persatu. Kumpulkan kekuatan selagi kamu di sini supaya kelak kamu tidak lagi kembali ke sini untuk bersembunyi. Jangan menyiksa Rendra dengan terus menunggu jawabanmu. Dia adalah laki-laki yang memegang teguh janjinya. Kakak takut jika dia akan terus menunggumu tanpa sadar umurnya terus bertambah. Dia juga berhak bahagia. Sangat jarang ada laki-laki yang mau menunggu seorang gadis seperti dia.”


 


“Pikirkanlah semua perkataan saya baik-baik. Pikirkan dengan tenang, saya ada di tempat biasa jika kamu mau bicara. Saya masuk dulu. Ingat, pelan-pelan saja!” Dokter Widia mengusap pelan bahu Cut lalu pergi meninggalkan Cut dalam diamnya.


 


Matahari mulai meninggi, seorang laki-laki menghentikan sebuah mobil yang baru keluar dari gerbang rumah sakit. “Masuklah!” ucap Dokter Widya.


 


Walau sedikit ketakutan, namun keyakinan mampu mengatasi rasa takutnya saat Khalid duduk di dalam mobilnya.


 


“Berapa lama kamu memantau kami?” tanya Dokter Widya.


 


“Dokter tidak takut sama saya?” tanya Khalid


 


“Kamu mau membunuh saya? Silakan, jika itu membuat kamu bahagia. Apalah arti nyawa saya di mata kamu.” Jauh dari lubuk hati Dokter Widia, ia merasa takut.

__ADS_1


 


“Apa wajah saya sekejam itu? Saya hanya ingin mengetahui keadaan Cut.”


 


“Dia baik, seperti yang kamu lihat tapi jiwanya tidak. Dia depresi berat, jiwanya tidak sanggup menahan perasaan yang berkecamuk oleh banyaknya kejadian yang ia lihat. Ketakutan, kemarahan yang tidak terlampiaskan membuat jiwanya terganggu.”


 


“Dia juga belum bicara seperti biasa bahkan sama orang tuanya juga tidak. Dia lebih suka bicara dengan bunga-bunga yang ia tanam di halaman. Saya rasa kamu sudah melihat bagaimana reaksinya jika berhadapan dengan bunga-bunga itu.”


 


“Apa penyakitnya masih bisa disembuhkan?” tanya Khalid penasaran.


 


“Bisa atau tidak semua tergantung dia. Saya hanya membantu supaya dia mau meluapkan segala yang ia rasakan. Namun, sampai sekarang ia masih diam ketika saya ajak bicara. Kadang air matanya yang bicara sementara bibirnya tetap diam.”


 


“Kenapa Dokter tidak menanyakan siapa saya? Apa Dokter tahu siapa saya?”


 


 


“Apa jawaban saya cukup memuaskan kamu? Saya takut akan terkena masalah jika kamu terlalu lama dalam mobil saya.”


 


Saat hendak turun dari mobil Dokter Widia, “Apa saya bisa menemuinya di dalam?” tanya Khalid.


 


“Apa kamu yakin dia mau menemuimu? Itu terlalu berisiko untuk kamu dan pasien lainnya. Jika Cut histeris lalu berteriak, para penjaga akan datang dan jika kamu tertangkap bagaimana?”


 


“Kenapa Dokter membantu saya?”

__ADS_1


 


“Saya tidak membantu pemberontak, saya membantu seorang pria yang sedang memperjuangkan cintanya. Walaupun jika diketahui oleh tentara saya bisa terkena masalah.”


 


“Terima kasih, Dokter.” Khalid keluar dari mobil Dokter Widia dengan perasaan bercampur aduk.


 


Setelah Khalid menghilang, Dokter Widia merebahkan dirinya di jok mobil seraya mengambil nafas dalam-dalam. Sepanjang hidupnya menjadi dokter, baru kali ini ia berurusan dengan para pemberontak.


 


Tok....tok....tok....


 


“Dokter tidak apa-apa?” tanya penjaga gerbang yang tidak sengaja melihat seorang laki-laki turun dari mobil yang ia tahu milik Dokter Widia.


 


“Hah...tidak Pak. Saya hanya beristirahat sebentar.”


 


“Tadi, saya sempat melihat ada laki-laki yang turun dari mobil Dokter.”


 


“Oh itu, salah satu keluarga pasien. Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak.”


 


“Silakan, Dok. Hati-hati di jalan!”


 


“Terima kasih, Pak.”


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2