CUT

CUT
Ini Mimpi Kan???


__ADS_3

Di saat Anggia sibuk melakukan pendekatan dengan seorang mahasiswi yang menjadi incaran sang sahabat kakaknya, Dwi. Orang tuanya justru sibuk mempersiapkan acara lamarannya yang akan diadakan di sebuah hotel. Walaupun kedua keluarga bersepakat untuk menyerahkan semuanya pada WO tapi hal-hal yang menyangkut keperluan pribadi seperti gaun seragam dan kostum untuk calon mempelai juga mereka yang harus turun tangan.


Semua tindakan orang tua Anggia sangat rapi hingga sang anak tidak menaruh kecurigaan sedikitpun. Apalagi setelah seharian menghabiskan waktu untuk mendekati calon mempelai selanjutnya membuat tenaga Anggia terkuras habis. Hampir setiap hari ia keluar rumah untuk melakukan aksinya dan sudah dua minggu berjalan, dia masih gencar mendekati target bahkan sampai berkunjung ke rumah target. Anggia memang sangat totalitas dalam usahanya kali ini. Dia sudah bertekad untuk mendukung Kak Dwi untuk menyusul teman-temannya yang lain.  Dia paling tidak ingin melihat sahabat kakaknya menderita karena jomblo.


Akhir bulan ini menjadi waktu yang dipilih oleh kedua keluarga untuk mengejutkan Anggia dengan acara lamarannya. Saat ini, Orang tua Anggia sedang melihat beberapa daftar menu makanan yang dikirim oleh pihak WO.


“Lihat apa sih, Ma? Serius banget.” Anggia tanpa permisi langsung mengintip dari belakang kepala orang tuanya.


“Ini, Mama lagi lihat-lihat menu kiriman dari WO. Mama kan sudah bisa melihat-lihat untuk persiapan Kakakmu nanti supaya bisa disesuaikan dengan buget kita, ya Pa?”


“Iya, Ma.” Jawab sang Papa singkat.


“Memang acaranya kapan, Ma?”


“Belum pasti tapi kami akan melakukan semua persiapan terlebih dulu. Pihak besan juga sudah setuju.”


“Sini aku lihat menunya!” Anggia mengambil ponsel lalu mencatat menu yang ia inginkan tanpa bertanya pada orang tuanya.


“Kenapa kamu langsung mencatat? Kami perlu lihat juga.”


“Percaya deh sama aku. Pilihanku ini tidak kaleng-kaleng dan tidak akan membuat malu keluarga kita. Aku sudah mencicipi menu ini semua dan aku tahu mana yang enak dan tidak.”


“Kapan kamu mencobanya?”


“Adalah!” tidak mungkin Anggia mengatakan pada orang tuanya jika selama ini dia kerap kali mengikuti temannya ke pesta untuk mencicipi berbagai menu pesta dan yang pastinya dia mendapat undangan untuk itu. Hobi terpendamnya adalah mencicipi setiap menu di pesta orang karena dia berencana membuka katering setelah lulus kuliah.


Ibu Anggia tersenyum kecil melirik sang suami yang ikut tersenyum. “Tapi ini untuk acara lamaran bukan untuk resepsi.” Celutuk sang Ayah.


Anggia berhenti menulis lalu melihat kedua orang tuanya. “Ma, karena ini acaranya Kakak aku sendiri, boleh tidak kalau aku ambil alih untuk dekor dan menunya?”


Gleg…


Hanya satu yang membuat orang tua Anggia menahan salivanya dengan susah, mereka takut kalau kejutan ini akan ketahuan.


“Em, bagaimana ya? Kami sudah menyerahkan ini pada WO.”


“Bilang sama WOnya kalau untuk dekor dan menu, aku akan mengambil alih tapi tetap dengan bantuan mereka. Ayolah, Ma. Aku ingin sekali mendekor untuk lamaran Kakak. Aku pastikan setelah ini akan banyak tawaran yang datang untukku mendekor acara orang. Mama dan Papa tidak akan malu, aku pastikan itu!"


"Baiklah! Kami serahkan padamu dan jangan sampai membuat kami malu.”


“Mama dan Papa siapkan saja bugetnya.”


“Aduh, aku lupa!” kening kedua orang tuanya berkerut. “Aku kan masih ada misi yang belum terselesaikan.” Lalu ia langsung menghubungi seseorang melalui ponselnya.

__ADS_1


“Kak, mau dapat duit jajan gak?”


“Uang jajan apa?” tanya Nur Cahyani yang merupakan target incaran Dwi.


“Mau bantu aku buat dekor ruangan untuk acara lamaran Kakakku?”


“Oke!”


“Besok kita bertemu untuk membicarakan secara rinci.”


Setelah memutuskan panggilannya, ia menatap orang tuanya dengan senyum penuh kemenangan. “Sekali dayung dua pulau terlampauli.” Kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala.


“Kamu sibuk menjodohkan orang, kamu sendiri bagaimana?” pancing sang Mama.


“Aku? Aku biasa saja. Aku sedang menabung banyak pahala karena berhasil membuat mereka menikah.”


“Kamu sendiri tidak ingin menikah? Menikmati hari-hari indah bersama suami itu sangat menyenangkan. Ya kan, Pa?”


“Iya, Ma. Seperti kita, ya? Bangun pagi sudah ada yang memberikan morning kiss lalu mau tidur lagi dan tidur berpelukan itu sangat menyenangkan, ya Ma?”


“Iya, Pa.”


“Ma, Pa, tidak usah menjelaskan padaku apa yang dilakukan oleh suami-istri. Aku tidak tertarik saat ini. Menikah itu bukan seperti sinetron. Mana ada bangun tidur langsung ciuman. Apa tidak bau itu mulut? Iiii…menjijikkan sekali.” Gerutu Anggia dengan tingkah jijiknya.


Dengan semangat 45 mengalahkan pahlawan di masa lalu, Anggia menyiapkan acara lamaran untuk sang kakak bersama Nur. “Kak, kakak mau bunganya seperti apa?” tanya Anggia pada sang Kakak.


Dua minggu waktu yang diperlukan oleh tim WO dan juga Anggia untuk menyiapkan acara lamaran sang kakak. Dan selama itu pula, seperti pepatah yang sudah pernah ia ucapkan di depan orang tuanya. Nur Cahyani akhirnya berakhir ke dalam pelukan Dwi karena usahanya yang tiada henti mendekatkan mereka. “Aku tidak menyangka jika dosen pembimbingku adalah sahabat Kakakmu, Dek.”


“Dan Kak Dwi juga menyukai Kakak.” Nur tersipu. Ia tidak menduga jika selama ini dosen tersebut menaruh hati padanya.


“Kapan mau disahkan?” tanya Anggia tanpa basa-basi saat keduanya tengah menikmati luluran di sebuah spa untuk menyambut acara lamaran sang Kakak.


“Mungkin setelah aku selesai sidang. Karena kalau sekarang nanti penilaian skripsiku dikira hasil merayu dosen.”


“Nanti juga akan dikira begitu lah setelah sidang kakak malah menikah dengan dosen pembimbingnya. Pasti teman-teman Kakak mengira hal serupa cuma mau sampai kapan memikirkan perkataan orang? kita hidup untuk diri sendiri kenapa harus memikirkan orang lain yang tidak tahu menahu tentang kita.”


“Makasih ya, Dek. Kalau kamu tidak mendekatiku mungkin selamanya aku tidak akan tahu perasaan Pak Dwi.”


“Kakak sih tidak peka.”


“Tapi Pak Dwi memang tidak pernah menunjukkan gelegat aneh makanya Kakak tidak tahu menahu tentang perasaan dia. Kakak bukan dukun, Dek.”


“Berarti Kak Dwi itu profesional. Dia tidak mencampur adukkan jam kuliah dengan cinta. Bagus itu. lalu apa Kak Dwi sudah mengucapkan cintanya sama Kakak atau langsung mengajak nikah?”

__ADS_1


“Pak Dwi bilang ingin menjadikan Kakak istri lalu dia bertanya apa Kakak mau?”


“Jawaban Kakak?”


“Ya mau lah! Hanya gadis bodoh yang menolak pria tampan dan mapan, alim lagi. Di mana lagi bisa dapat yang begitu.”


“Kalau Kakak segampang itu mau, kenapa tidak dari dulu saja? Tidak perlu aku harus turun tangan.”


“Kakak tidak tahu kalau dia suka. Kakak tidak mau mencintai dan mengejar orang yang sama sekali tidak melihat Kakak. Lebih baik dicintai dari pada mencintai.”


“Benar juga ya?” Anggia jadi memikirkan tentang sesuatu hingga ia mencoba memejamkan mata lalu menarih nafas dalam-dalam. Percintaannya terlalu rumit dan tidak ada titik terang.


“Benar kata Mama, aku terlalu memikirkan hubungan orang sementara hubunganku sendiri tidak jelas. Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan laki-laki lain juga tidak ada yang menarik buatku. Apa aku gabung di aplikasi kencan saja? Siapa tahu bisa bertemu laki-laki yang cocok.” Seraya memejamkan mata, pikiran Anggia terus berkecamuk sampai terlelap.


Di kediaman Rendra, keluarga Cut sudah berkumpul semua. Iskandar juga membawa orang tua Aisyah ke sini bersama Mak Cek Siti, Pak Cek Amir, Mae dan Faris. Mereka ingin mengantar Teuku menuju pelaminan. Tanpa sepengetahuan Anggia, keluarga besar kedua belah pihak telah mempercepat acara pernikahan seminggu setelah itu karena mengingat keluarga yang sudah datang jauh tidak bisa tinggal lebih lama untuk menunggu hari akad. Beruntungnya karena keluarga Anggia sangat pengertian hingga undangan tersebar dengan cepat berkat bantuan teman-teman Ari.


Tibalah di hari H. Anggia sudah mengenakan pakaian dengan warna yang sesuai dengan pilihannya. Dia juga membuat model pakaian sendiri sehingga gaunnya begitu berbeda dari yang lain dan itulah tujuan terselubung dari orang tuanya yang menyuruh Anggia untuk merancang pakaiannya sendiri untuk hari istimewa sang kakak. Tanpa curiga, Anggia menuruti perintah sang ibu dan begitu melihat dirinya di cermin, Anggia merasa takjub.


“Ma, kenapa aku merasa pakaianku terlalu berlebihan ya?”


“Berlebihan bagaimana?” tanya Mama dengan mimik penasaran.


“Ini tidak seperti baju seragam yang lain walaupun warnanya sama. Ini seperti aku yang akan menikah. Kira-kira gaun calon kakak ipar bagaimana ya? Apa lebih dari ini? Kalau tidak, aku yakin orang-orang akan menganggapku sebagai mempelai wanita dengan baju ini.” Karena ibunya memberikan keleluasaan untuk merancang baju sendiri, alhasil baju rancangan Anggia sangat mewah nan elegan dengan kain brokat dengan tambahan payet di begian dada dan lengan walaupun ditutupi dengan kain penutup dada yang berasal dari kerudung tapi tetap saja penampilan Anggia sangat cantik khas pengantin.


Teuku sudah bersiap dengan pakaian resmi. Hari ini, Teuku pakaian khas Aceh berwarna hitam dengan lambang pintu Aceh bagian depan berwarna kuning emas hingga semakin menambah kesan gagah dan mewah apalagi Teuku juga melilitkan kain songket di bagian pinggang dan peci bergambar rencong berwarna kuning emas. Teuku benar-benar menjelma menjadi raja sehari.


“Pak Dokter menjelma menjadi Teuku Umar dari Aceh hari ini.” Celutuk Rendra. Keduanya berpelukan, “Selamat ya!” ucapnya lalu menepuk pundak sang dokter beberapa kali.


“Terima kasih, Om.”


Cut meneteskan air mata saat melihat betapa gagahnya sang keponakan. “Kamu sangat mirip almarhum ayahmu.” Kesedihan Cut semakin menjadi karena semalam ia bermimpi melihat keluarganya kembali. Tanpa kata, mereka hanya memberikan senyuman padanya. Abu dan Uminya tersenyum bahagia bersama Bang Ilham, istri dan anak pertama mereka.


“Ma, sudah! Air matamu membasahi bajunya.” Cut mengurai pelukannya. Ia tersenyum bahagia menatap sang keponakan yang telah kembali ke pelukannya.


Gedung tempat acara…


Orang tua Anggia memasuki gedung tapi yang anehnya, ayah dan ibunya malah mengapit dirinya bukannya sang kakak yang berjalan di samping sang ibu.


“Ma, posisinya salah!” protes Anggia namun diabaikan oleh orang tuanya. Anggia baru tersadar begitu melihat siapa yang berdiri di bagian depan bangku untuk mempelai pria. Anggia langsung menoleh pada sang ibu dan ayah namun sayang, langkah kakinya sudah berada tepat di depan keluarga Teuku dan pria itu tersenyum penuh arti padanya. Senyuman yang mengerikan menurut Anggia.


“Ma, ini mimpi kan?”


 

__ADS_1


***


Kira-kira ini mimpi bukan?


__ADS_2